Suara sirene tim SAR yang meraung-raung di kejauhan memecah keheningan malam di lereng gunung yang dingin itu. Hujan turun semakin lebat, mengubah jalur pendakian menjadi aliran lumpur yang licin. Aku terbaring di atas bebatuan basah, napasku tersengal-sengal, dan kesadaranku perlahan-lahan mulai memudar. Namun, di dalam saku jaketku, tombol kecil dari perekam suara itu terasa begitu hangat, menjadi satu-satunya bukti nyata atas kebusukan orang-orang yang selama ini kucintai.

Tidak lama kemudian, sorot lampu senter yang kuat menembus kabut tebal. Beberapa anggota tim SAR berseragam oranye berlari mendekat dengan tandu dan peralatan darurat. Seorang petugas medis berlutut di sisiku, memeriksa denyut nadi dan kadar oksigen di tubuhku yang sudah sangat mengkhawatirkan.
“Cepat! Pasang oksigen medis yang asli! Korban mengalami hipotermia berat dan kekurangan oksigen akut!” seru petugas itu dengan panik.
Masker oksigen segera dipasang di wajahku. Aliran udara segar yang murni masuk ke paru-paruku, memberikan kelegaan instan yang membuat mataku kembali terbuka lebar. Aku ditarik ke atas tandu, diselimuti dengan selimut tebal tahan panas, dan dibawa turun menuju posko utama di kaki gunung. Sepanjang perjalanan di dalam tandu, aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pikiranku hanya dipenuhi oleh satu hal: keadilan.
Sesampainya di posko utama, suasana tampak sangat sibuk. Beberapa polisi dan anggota tim penyelamat sedang mencatat laporan. Di sudut ruangan yang hangat, terlihat Rafael dan Mikaela sedang duduk berdampingan sambil memegang segelas teh hangat yang diberikan oleh panitia. Wajah Rafael tampak sedikit gelisah, sementara Mikaela bersandar di bahunya dengan pura-pura ketakutan.
Begitu melihatku datang dengan dibantu oleh petugas SAR, ekspresi wajah Rafael berubah dari cemas menjadi kesal. Dia segera bangkit dan menghampiriku dengan langkah lebar, melupakan fakta bahwa ada banyak orang di sekitar mereka.
“Kamu ini benar-benar suka membuat drama, ya!” bentak Rafael begitu dia berada di hadapanku. “Hanya karena masalah sepele di jalur pendakian, kamu sengaja membuat seluruh tim panik dan memanggil tim SAR? Kamu tahu berapa banyak biaya dan tenaga yang terbuang sia-sia karena kebohonganmu?”
Mikaela ikut berdiri di belakangnya, menatapku dengan mata yang dibuat-buat seolah berkaca-kaca. “Iya, Kak. Tadi kami sangat mengkhawatirkanmu, tapi ternyata Kakak baik-baik saja dan sengaja membuat keributan seperti ini. Padahal kami sudah lelah mendaki.”
Beberapa anggota panitia majalah perjalanan yang mendengarkan ucapan Rafael mulai berbisik-bisik. Pandangan mereka terhadapku berubah menjadi sinis dan meragukan. Di mata mereka, aku terlihat seperti seorang perempuan egois yang iri pada hubungan profesional antara Rafael dan mahasiswi magang tersebut.
Aku perlahan bangkit dari dudukku, melepaskan selimut tebal yang menutupi tubuhku, lalu menatap tajam ke arah Rafael. Suaraku yang tadinya serak kini sudah kembali normal berkat oksigen murni.
“Benar-benar lelucon yang luar biasa, Rafael,” ucapku dingin, membuat langkah Rafael terhenti.
Rafael mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”
“Kamu bilang aku berpura-pura? Kamu bilang aku mencari perhatian?” Aku melangkah mendekatinya, membuat Rafael tanpa sadar mundur satu langkah karena sorot mataku yang tidak biasa. “Kamu dengan sengaja menukar tabung oksigen medisku dengan gas helium hanya untuk membuatku terlihat konyol di depan perempuan ini. Kamu merampas kotak obatku, mengabaikan penyakit ketinggian yang aku derita, dan membiarkanku mati di tengah badai.”
Mendengar kata-kataku, wajah Rafael langsung memucat. Namun, dia segera menutupinya dengan kemarahan buatan. “Jangan mengarang cerita! Siapa juga yang menukar tabung oksigenmu? Jangan mempermalukan diri sendiri di depan umum!”
“Betul, Kak! Jangan memfitnah Kak Rafael!” sahut Mikaela dengan nada tinggi, mencoba mencari pembelaan dari orang-orang di sekitar.
Pak Darto, pemandu pendakian senior yang tadi ikut bersama kami, tiba-tiba melangkah maju dari kerumunan. Dia menatap Rafael dengan tatapan penuh kekecewaan. “Anak muda, dari awal aku sudah memperingatkanmu bahwa tindakanmu itu berbahaya. Kamu memang menukar tabung itu, aku melihatnya sendiri saat kalian istirahat di pos pertama, tapi kamu membentakku agar aku diam.”
Rafael mendelik marah ke arah Pak Darto. “Tutup mulutmu! Orang tua pikun sepertimu tahu apa!”
“Dia mungkin pikun di matamu, tapi bagaimana dengan ini?”
Aku merogoh saku bagian dalam jaketku, mengeluarkan perekam suara mini berwarna hitam, lalu menekan tombol putar. Dalam sekejap, suara tawa melengking yang konyol menggema di dalam posko utama yang mendadak sunyi senyap.
“Ya ampun! Suaranya kayak karakter kartun!”
Suara tawa Mikaela terdengar jelas memenuhi ruangan. Disusul oleh suara tawa Rafael yang terbahak-bahak mengejek.
“Lihat ekspresinya! Lucu banget!”
Wajah Rafael seketika berubah menjadi pucat pasi seperti mayat hidup. Seluruh darah di tubuhnya seolah menguap. Dia menatap perekam di tanganku dengan mata melotot tidak percaya.
Rekaman itu terus berputar, memperdengarkan dengan jelas setiap kata yang mereka ucapkan di lereng gunung. Suara Rafael yang mengakui bahwa dia memberikan tabung oksigen asli kepada Mikaela karena gadis itu lebih lemah. Suara Mikaela yang berpura-pura polos. Hingga suara benturan keras saat Rafael mendorongku hingga kepalaku menghantam batu, serta suara saat dia mematikan alat darurat dan meninggalkanku sendirian di tengah hujan.
Semua orang di posko utama tertegun. Para panitia majalah menatap Rafael dan Mikaela dengan tatapan jijik dan penuh kemarahan. Beberapa petugas kepolisian yang ikut mendampingi tim SAR langsung melangkah maju dan berdiri di sisi kiri dan kanan Rafael.
“Rafael, kamu bersama rekanmu ini harus ikut kami ke kantor polisi untuk dimintai keterangan atas percobaan pembunuhan berencana dan kelalaian yang membahayakan nyawa seseorang,” ucap seorang petugas polisi dengan suara tegas sambil menunjukkan lencananya.
Mikaela langsung menangis histeris. Dia mencoba meraih tangan Rafael, tetapi Rafael sendiri sudah gemetar ketakutan, tidak mampu berkata apa-apa. Kakinya melemas, dan dia hampir jatuh berlutut di lantai jika saja tidak ditahan oleh petugas kepolisian yang langsung memborgol kedua pergelangan tangannya.
Saat mereka digiring keluar posko menuju mobil patroli, Rafael menoleh ke arahku untuk terakhir kalinya. Di dalam matanya terpancar penyesalan yang sangat mendalam, memohon agar aku menarik kembali tuduhan tersebut. Namun, aku hanya menatapnya datar, tanpa ada rasa iba sedikit pun tersisa di hatiku.
Beberapa bulan kemudian, studionya benar-benar bangkrut. Reputasi yang selama ini dia bangun dengan susah payah hancur seketika dalam satu malam akibat rekaman suara berdurasi sepuluh menit itu. Hukum menjatuhkan hukuman yang setimpal atas perbuatan keji yang nyaris merenggut nyawaku.
Aku berdiri di balkon studionku yang baru, menghirup udara segar pagi hari dengan bebas. Di tanganku tergenggam kamera profesional kesayanganku, siap menyambut lembaran hidup baru yang jauh lebih cerah, tanpa bayang-bayang pengkhianatan dari masa lalu.
