Saya tidak menangis karena sadar air mata tidak akan mengubah situasi. Di tanah rantau ini, saya harus menjadi wanita yang kuat. Saya menarik napas dalam-dalam, membersihkan meja makan, lalu mencuci piring sendirian. Aling Maria sengaja melewati dapur beberapa kali sambil mendengus keras, menunjukkan kekesalannya. Saya mengabaikannya.
Malam harinya, Ricardo pulang kerja dengan wajah ditekuk. Dia sama sekali tidak menyapa saya. Di meja makan, suasananya begitu mencekam. Aling Maria terus-menerus mengambilkan lauk untuk Ricardo sambil menyindir, “Makan yang banyak, Nak. Cari uang itu susah, tidak seperti orang yang cuma tahu menyimpan uang dan pelit pada keluarga sendiri.”

Ricardo melirik saya dengan tatapan dingin, berharap saya akan meminta maaf atau menyerah. Namun, saya tetap tenang dan menghabiskan makanan saya.
Sebelum tidur, Ricardo akhirnya membuka suara. “Nene, besok adalah ulang tahun pernikahan sepupuku, Juan. Kita harus datang ke restoran di pusat kota. Mama minta kita yang bayar seluruh tagihannya sebagai hadiah.”
Saya menghentikan gerakan saya yang sedang menyisir rambut. “Kenapa harus kita? Bukankah itu acara keluarga besar mereka?”
“Kamu ini kenapa sih?” suara Ricardo mulai meninggi. “Sejak menikah, kenapa kamu jadi perhitungan sekali? Uang maharmu kan ada! Apa salahnya menyenangkan keluarga saya sekali-sekali?”
“Ricardo, itu uang pegangan dari orang tuaku untuk masa depanku, bukan dana sosial untuk keluarga besarmu,” jawab saya tegas namun tenang.
Dia mendengus kencang, membalikkan badannya membelakangi saya, dan langsung tidur tanpa sepatah kata pun. Pada saat itulah, rasa cinta yang saya bangun selama tiga tahun perlahan-lahan mulai terkikis.
3
Keesokan malamnya, kami pergi ke restoran tersebut. Ada sekitar lima belas orang kerabat Ricardo yang hadir. Mereka memesan makanan-makanan mahal tanpa ragu. Aling Maria duduk di tengah-tengah, tampak sangat bangga dan beberapa kali berbisik kepada saudaranya sambil melirik ke arah saya.
Saat makanan selesai dan pelayan mengantarkan tagihan, Aling Maria langsung berteriak dengan suara sengaja dikeraskan, “Nene, menantuku yang cantik, tolong bayar tagihannya ya! Kamu kan bawa uang banyak dari Manila!”
Semua mata tertuju pada saya. Ricardo menatap saya penuh tuntutan, seolah berkata, ‘Jangan permalukan aku di sini.’
Saya tersenyum manis, menerima map tagihan dari pelayan, dan melihat jumlahnya: ₱45,000. Sebuah angka yang tidak masuk akal untuk makan malam biasa, jelas mereka sengaja memanfaatkan momen ini.
Saya mengeluarkan dompet, mengambil kartu kredit saya, lalu menyerahkannya kepada pelayan. Namun, sebelum pelayan itu pergi, saya berkata dengan cukup keras agar terdengar oleh semua orang:
“Ma, malam ini saya bayar dulu menggunakan kartu saya. Tapi besok, tolong masing-masing keluarga transfer bagiannya ke rekening saya, ya? Ricardo bilang kita harus hidup hemat, jadi sistemnya split bill saja.”
Suasana restoran langsung hening seketika. Wajah Aling Maria berubah dari merah menjadi pucat karena malu. Ricardo langsung berdiri dari kursinya dengan rahang mengeras.
“Nene! Apa-apaan kamu ini?!” bisik Ricardo dengan nada marah yang ditahan.
“Kenapa? Bukankah kita harus transparan soal keuangan? Kamu sendiri yang bilang cari uang itu susah,” jawab saya dengan tatapan polos.
Malam itu, perjalanan pulang ke rumah terasa seperti di dalam lemari es. Begitu tiba di dalam kamar, Ricardo meledak. Dia mencengkeram bahu saya dengan kasar.
“Kamu benar-benar keterlaluan! Kamu mempermalukan ibuku dan aku di depan seluruh keluarga! Kamu tahu tidak, mereka mengira aku menikahi wanita kaya dari Manila, tapi ternyata kamu pelitnya setengah mati! Cuma uang kecil begitu saja kamu hitung!”
“Uang kecil?” saya menepis tangannya dengan kuat. “Kalau itu uang kecil, kenapa ibumu tidak membayarnya sendiri? Ricardo, sadarlah. Kamu menikahiku karena mencintaiku, atau karena kamu mengira keluargaku bisa dijadikan mesin ATM untuk keluargamu?”
“Kalau bukan karena kamu punya uang, untuk apa aku repot-repot pacaran jarak jauh dan terbang ke Manila setiap bulan?!” teriak Ricardo tanpa sadar.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Detik itu juga, topeng Ricardo yang selama tiga tahun ini tampak begitu sempurna, hancur berkeping-keping di depan mata saya.
Dia tertegun, menyadari bahwa dia baru saja membongkar niat aslinya.
4
Saya melangkah mundur, menatap pria yang dulu sangat saya puja. Ternyata, perjuangannya terbang ke Manila setiap bulan bukanlah demi cinta, melainkan sebuah investasi untuk mendekati putri dari keluarga Torres yang terpandang.
“Jadi, itu alasan utamanya,” kata saya, suara saya bergetar bukan karena sedih, melainkan karena menahan amarah yang teramat sangat.
“Nene, bukan begitu maksudku… aku cuma emosi…” Ricardo mencoba meraih tangan saya, tapi saya menghindar.
Malam itu, saya tidur di sofa ruang tamu. Aling Maria yang mendengar keributan kami bahkan tidak mencoba menengahi. Dia justru keluar dari kamarnya dan bergumam, “Kalau tahu wataknya begini, lebih baik dulu Ricardo menikah dengan anak tetangga sebelah.”
Keesokan paginya, saat Ricardo pergi bekerja dan Aling Maria sedang keluar berbelanja, saya memutuskan untuk memeriksa beberapa dokumen di laci kerja Ricardo. Entah mengapa, insting saya mengatakan ada yang tidak beres.
Di laci paling bawah, di dalam sebuah amplop cokelat, saya menemukan selembar surat perjanjian investasi. Jantung saya berdegup kencang saat membaca isinya.
Itu adalah surat perjanjian investasi atas nama Ricardo Santos dan seorang wanita bernama Janine. Nilai investasinya adalah ₱1,5 juta. Dan yang membuat darah saya berdesir hebat adalah tanggal perjanjian itu ditandatangani: Satu minggu sebelum pernikahan kami.
Ricardo sudah berutang kepada ‘kenalan’ ibunya sebesar ₱1,5 juta untuk berinvestasi, dan dia berencana menggunakan uang mahar saya untuk melunasi utang tersebut!
Lebih parahnya lagi, di bagian bawah dokumen, terlampir foto profil Janine. Wanita itu bukan sekadar rekan bisnis—saya mengenalnya dari media sosial Ricardo sebagai mantan kekasihnya yang katanya ‘sudah putus’.
Tiba-tiba, ponsel saya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk:
“Halo Nene, saya Janine. Kurasa Ricardo belum memberi tahumu. Uang ₱1,5 juta itu sangat kami butuhkan untuk bisnis bersama kami. Lagipula, Ricardo bilang kamu punya banyak uang, jadi tolong segera cairkan maharmu. Jangan mempersulit suamimu sendiri.”
Saya menggenggam ponsel itu erat-erat hingga buku-buku jari saya memutih. Kebenaran yang menjijikkan ini akhirnya terbuka sepenuhnya.
5
Saya duduk di lantai ruang kerja, memandangi bukti-bukti di tangan saya. Rasa sakit hatiku mendadak hilang, digantikan oleh rasa hormat dan kekaguman yang luar biasa kepada Papa.
Jika waktu itu saya menuruti ego saya dan pamer dengan mengatakan bawa uang ₱15,5 juta, maka keluarga Santos dan Janine pasti sudah merancang skenario yang lebih besar untuk menguras seluruh harta saya. ₱1,5 juta adalah umpan yang dipasang Papa untuk menguji kedalaman hati mereka, dan mereka langsung memakannya bulat-bulat dalam waktu tiga hari.
Saya menarik napas dalam-dalam, lalu menelepon Papa.
“Pa,” kata saya begitu panggilan tersambung. “Semua tebakan Papa benar. Mereka sudah meminta uang itu, dan saya sudah tahu untuk apa uang itu sebenarnya.”
Di seberang telepon, suara Papa tetap tenang, seolah beliau sudah memprediksi segalanya. “Anakku, sekarang kamu tahu kenapa Papa memintamu berbohong? Orang yang tulus tidak akan menanyakan berapa isi dompetmu di hari-hari pertama pernikahan.”
“Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang, Pa?”
“Uang ₱15,5 juta di ATM-mu itu mutlak milikmu. Papa sudah memblokir akses penarikan tunai di atas ₱10,000 dari wilayah Davao untuk kartu itu demi keamananmu. Sekarang, kembalilah ke Manila. Papa sudah mengirim pengacara keluarga kita ke Davao. Dia akan tiba sore ini untuk mengurus pembatalan pernikahan kalian.”
“Baik, Pa. Saya pulang.”
Saya menutup telepon, berdiri, dan langsung mengemas seluruh pakaian saya ke dalam koper. Saya tidak meninggalkan surat amarah, tidak ada air mata, dan tidak ada drama.
Saat saya berjalan keluar membawa koper, Aling Maria baru saja pulang dari pasar. Dia terkejut melihat saya membawa koper besar.
“Mau ke mana kamu? Mau mogok kerja dan pulang ke rumah orang tuamu karena bertengkar dengan Ricardo? Dasar manja!” teriaknya ketus.
Saya berhenti di depan pintu, menatapnya dengan senyum paling dingin yang pernah saya miliki.
“Aling Maria, beri tahu anakmu, Ricardo… investasi ₱1,5 jutanya dengan Janine silakan dilanjutkan sendiri. Dan satu hal lagi,” saya mendekat lalu berbisik di telinganya, “Mahar saya yang sebenarnya bukan ₱1,5 juta. Tapi ₱15,5 juta. Dan sepeser pun dari uang itu, tidak akan pernah menyentuh lantai rumah ini.”
Wajah Aling Maria langsung membeku. Sebelum dia sempat mencerna kata-kata saya atau berteriak histeris, saya sudah melangkah keluar, masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu, dan pergi menuju bandara.
Di dalam taksi menuju penerbangan kembali ke Manila, saya memblokir nomor Ricardo, ibunya, dan seluruh keluarga Santos. Saya memandang ke luar jendela, melihat kota Davao yang perlahan menjauh. Pernikahan tiga hari ini memang sebuah kesalahan, tetapi kebohongan kecil Papa adalah penyelamat hidup saya yang sesungguhnya.
