Berikut adalah kelanjutan cerita komedi romantis yang kocak dan penuh drama ini:
Bagian 2: Misteri di Balik Aroma “Limbah Nuklir”
Aku turun dari bus di stasiun MRT Ayala dengan tubuh limbang. Sisi kanan blus kerjaku terasa seperti baru saja dicelupkan ke dalam kuah sup bawang yang basi, tapi hatiku masih berbunga-bunga. Sepanjang jalan ke kantor, orang-orang di sekitarku pelan-pelan menjauh, mengira aku yang belum mandi tiga hari. Cuek aja. Mereka tidak tahu kalau bau ini adalah bukti kedekatanku dengan kembaran Richard Gutierrez.

Sampai di kubikel kantor, sahabatku, Joy, langsung mengendus udara dengan ekspresi ngeri.
“Astaga, Natalia! Kamu habis pelukan sama tempat sampah EDSA ya? Bau banget!” pekik Joy sambil menutup hidungnya dengan tisu.
“Ssst! Jangan sembarangan,” bisikku sambil tersenyum misterius. “Ini adalah aroma cinta. Tadi di bus, aku bersandar di bahu cowok yang gantengnya fiksi banget. Mirip Richard Gutierrez, Joy! Cuma… ya gitu, maslahat penciuman agak dikorbankan.”
Joy menatapku seolah aku sudah kehilangan akal sehat. “Ganteng sih ganteng, Nat. Tapi kalau baunya bisa merusak lapisan ozon begini, itu namanya bencana alam, bukan romansa!”
Plot Twist di Jam Makan Siang
Keesokan harinya, CEO baru di perusahaan kosmetik tempatku bekerja sebagai staf pemasaran dijadwalkan datang. Kabarnya, dia adalah putra pemilik saham terbesar yang baru pulang dari Filipina setelah menyelesaikan proyek besar. Seluruh staf diwajibkan berkumpul di ruang rapat utama.
Aku sudah berganti pakaian—tentu saja dengan blus yang wangi bunga lavender, karena blus “Richard” kemarin sudah terpaksa aku karantina di mesin cuci setelah hampir membuat kucingku pingsan.
Pintu ruang rapat terbuka. Manajer kami masuk bersama seorang pria setinggi 180 cm dengan setelan jas pas badan berwarna biru gelap.
Jantungku rasanya mau copot.
Rahang tajam itu. Hidung mancung itu. Tatapan mata yang bikin lutut lemas itu.
Dia adalah cowok bus EDSA kemarin!
“Selamat siang semuanya. Perkenalkan, ini adalah Pak Richard Sebastian, CEO baru kita,” ucap Manajer memperkenalkan pria itu.
Aku langsung merosot di kursi, mencoba bersembunyi di balik punggung Joy. Gila! Cowok sekaya dan seganteng dia naik bus umum yang penuh sesak? Dan yang lebih penting… bagaimana kalau dia ingat wajah cewek yang kemarin bersandar di bahunya sambil menahan mual?
Rahasia yang Terbongkar
“Baiklah, saya rasa itu saja untuk perkenalan hari ini. Terima kasih,” tutup Pak Richard setelah memberikan pidato singkat. Suaranya yang berat dan maskulin kembali membuatku merinding.
Namun, saat dia berjalan melewati barisanku, langkahnya terhenti. Dia mengendus udara sedikit, lalu menatapku langsung. Matanya sedikit membelalak, lalu sebuah senyuman tipis yang sangat menawan terukir di wajahnya.
“Kamu… cewek di bus kemarin, kan?” tanyanya di depan semua orang.
Seluruh ruangan mendadak hening. Joy menyenggol lenganku dengan heboh.
“E-eh, iya, Pak. Selamat siang,” jawabku terbata-bata, wajahku pasti sudah merah merona.
Richard terkekeh pelan, lalu mendekat dan berbisik, “Saya minta maaf soal kemarin ya. Mobil saya mogok, dan saya harus buru-buru ke lokasi syuting iklan produk baru kita. Sialnya, saya baru saja menyelesaikan tantangan ‘Guerilla Marketing’ di mana saya harus memakai tiruan formula deodoran kompetitor yang gagal total selama 24 jam.”
Dia menatapku dengan tatapan jenaka. “Formula itu justru memicu keringat berlebih dan bau ekstrem. Saya benar-benar kasihan melihatmu kemarin sampai mau muntah, tapi kamu malah nekat bersandar di bahu saya. Kamu… sangat berani.”
Akhir yang… Wangi?
Wajahku rasanya mau meledak karena malu. Jadi, semua bau mematikan itu bukan karena dia jorok, melainkan karena eksperimen produk saingan?!
Richard kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah botol sampel parfum kecil yang sangat elegan. Dia meletakkannya di mejaku.
“Ini sampel parfum varian pria terbaru kita yang belum rilis. Sebagai permintaan maaf karena sudah meracuni paru-parumu kemarin,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata. “Dan… karena kamu sudah merasakan versi ‘terburuk’ dari saya, bagaimana kalau nanti malam kamu melihat versi terbaik saya di jam makan malam?”
Joy di sebelahku langsung menahan pekikan histerisnya, sementara aku hanya bisa mengangguk pelan dengan otak yang mendadak blank.
Ternyata, bertahan di tengah badai bau ketek level kiamat kemarin membawa berkah yang luar biasa. Pelan-pelan, aku mencium botol parfum pemberiannya. Wanginya sangat mewah dan maskulin—persis seperti masa depanku bersamanya.
