AYAHKU MENIKAH LAGI. SEMUA ORANG MENGIRA IBU TIRIKU AKAN MENYIKSAKU

Ketika pintu rumah terbuka, perempuan itu melangkah masuk dengan gaun sederhana berwarna krem dan membawa sekotak kue. Wajahnya memang tenang, bahkan terkesan dingin, persis seperti yang dibicarakan orang-orang. Namun matanya tidak keras. Ada kelelahan yang samar, seolah ia sudah melewati banyak hal dalam hidup.

Ayah tersenyum canggung.

“Nina, ini Bu Maya.”

Aku menelan ludah, lalu menunduk pelan.

“Halo, Bu…”

Perempuan itu menatapku beberapa detik sebelum tersenyum tipis.

“Halo, Nina. Terima kasih sudah mau menyambut saya.”

Bukan pelukan hangat seperti yang kubayangkan. Bukan sapaan penuh tawa. Tetapi suaranya lembut, dan entah kenapa itu membuatku sedikit lega.

Hari-hari pertama terasa aneh.

Bu Maya tidak banyak bicara. Ia bangun lebih pagi dariku, menyiapkan sarapan, lalu bekerja dari rumah sebagai penerjemah. Ia tidak pernah memaksaku memanggilnya “Mama”. Ia juga tidak pernah mencoba menggantikan ibuku.

“Nina,” katanya suatu malam, “kamu boleh memanggil saya apa pun yang membuatmu nyaman.”

Aku hanya mengangguk.

Tetangga mulai memperhatikan.

“Lihat, kan? Ibu tirinya cuek.”

“Pasti aslinya galak.”

Mereka tidak tahu kalau setiap pagi bekalku selalu dibuatkan Bu Maya. Mereka juga tidak tahu bahwa ketika aku lupa membawa payung, ia rela menerobos hujan hanya untuk mengantarkannya ke sekolah.

Ia tidak banyak bicara.

Ia hanya selalu ada.

Namun masalah sebenarnya datang beberapa bulan kemudian.

Di sekolah, ada tiga siswi yang hampir setiap hari menggangguku.

Mereka tahu ibuku meninggalkanku.

Mereka menjadikan itu bahan lelucon.

“Eh, hati-hati. Nanti ibu tirinya juga kabur.”

“Kasihan banget, ya. Nggak ada yang benar-benar sayang sama dia.”

Aku mencoba diam.

Aku berpikir kalau aku tidak melawan, mereka akan bosan.

Ternyata aku salah.

Suatu siang mereka membuang isi tasku ke lantai kantin. Buku-bukuku basah oleh minuman. Jepit rambut pemberian ibuku diinjak hingga patah.

Aku hanya berdiri memunguti semuanya sambil menahan tangis.

Saat pulang, Bu Maya langsung melihat mataku yang bengkak.

“Kamu menangis?”

“Tidak.”

Ia tidak bertanya lagi.

Malam itu, ketika kupikir semua sudah selesai, ia mengetuk pintu kamarku.

“Boleh saya masuk?”

Aku mengangguk.

Ia duduk di samping tempat tidur sambil membawa jepit rambut yang sudah direkatkan dengan sangat rapi.

“Ayahmu bilang ini sangat berharga buatmu.”

Aku memeluk jepit itu erat-erat.

“Ada yang mengganggumu di sekolah?”

Aku tidak bisa lagi menahan air mata.

Semua cerita yang kusimpan selama berbulan-bulan keluar begitu saja.

Bu Maya tidak memotong ucapanku.

Ia hanya mendengarkan.

Setelah aku selesai menangis, ia berkata pelan, “Besok saya ikut ke sekolah.”

Aku panik.

“Jangan, Bu. Nanti mereka makin mengejekku.”

Ia menatapku dengan tenang.

“Kalau seseorang menyakiti anak di rumah ini, mereka juga sedang berurusan dengan saya.”

Itulah pertama kalinya aku mendengar ia menyebutku sebagai anak di rumah ini.

Keesokan paginya ia datang ke sekolah mengenakan kemeja putih sederhana.

Ia tidak berteriak.

Ia tidak mengamuk.

Ia meminta bertemu wali kelas, guru BK, dan kepala sekolah sekaligus.

Dengan suara yang sangat tenang, ia menunjukkan foto-foto buku rusak, rekaman suara ejekan yang ternyata sempat direkam temanku, serta laporan yang selama ini tidak pernah ditindaklanjuti.

“Saya tidak datang untuk mencari musuh,” katanya. “Saya datang supaya tidak ada anak lain yang mengalami hal yang sama.”

Beberapa orang tua murid yang kebetulan berada di sekolah mulai berkumpul.

Tiga siswi itu akhirnya dipanggil.

Orang tua mereka semula membela mati-matian.

“Namanya juga anak-anak.”

Bu Maya hanya tersenyum tipis.

“Kalau begitu, mari kita lihat rekaman CCTV kantin.”

Ruangan mendadak sunyi.

Rekaman itu memperlihatkan semuanya dengan jelas.

Tidak ada yang bisa menyangkal lagi.

Hari itu, ketiga siswi tersebut mendapat sanksi, sementara pihak sekolah akhirnya meminta maaf kepadaku karena mengabaikan laporan sebelumnya.

Dalam perjalanan pulang, aku duduk diam di mobil.

“Bu…”

“Ya?”

“Kenapa Ibu membelaku?”

Ia tampak heran.

“Karena itu memang seharusnya.”

“Tapi aku bukan anak kandung Ibu.”

Ia menghela napas pelan.

“Lalu memangnya kasih sayang selalu ditentukan oleh darah?”

Aku tidak bisa menjawab.

Sejak hari itu, sesuatu di antara kami berubah.

Aku mulai memanggilnya “Bu” tanpa rasa canggung.

Kadang kami memasak bersama.

Kadang ia membantuku belajar Bahasa Inggris.

Rumah yang dulu terasa sunyi perlahan menjadi hangat.

Namun kejutan terbesar datang hampir setahun kemudian.

Suatu sore seseorang mengetuk pintu rumah.

Ketika kubuka, aku membeku.

Ibuku.

Ia berdiri di sana dengan koper kecil dan senyum yang terasa asing.

“Nina… Mama pulang.”

Jantungku berdetak sangat cepat.

Ayah yang melihat dari ruang tamu langsung terdiam.

Ibuku mulai menangis.

Ia berkata hidupnya di luar negeri tidak berjalan sesuai harapan. Pria yang dibelanya ternyata meninggalkannya. Ia ingin memperbaiki semuanya dan memulai hidup baru bersama kami.

Aku menatap wajah yang dulu sangat kurindukan.

Aneh.

Aku tidak lagi merasa ingin berlari memeluknya.

Saat itulah Bu Maya keluar dari dapur.

Tetangga yang melihat dari luar pagar mulai berbisik.

“Nah, sekarang pasti perang.”

Semua orang menunggu Bu Maya marah.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

Ia berdiri di depanku.

Bukan untuk menghalangi ibuku.

Melainkan melindungiku.

Dengan suara tenang ia berkata, “Keputusan ada di tangan Nina. Tidak seorang pun boleh memaksanya.”

Ibuku mencoba mendekat.

“Nina, Mama minta maaf.”

Air mataku jatuh.

“Aku memaafkan Mama.”

Wajahnya langsung berbinar.

“Tapi memaafkan bukan berarti semua bisa kembali seperti dulu.”

Tangisnya pecah.

“Aku pernah menunggu Mama bertahun-tahun. Setiap ulang tahun, setiap Hari Ibu, setiap kali sakit, aku berharap pintu itu terbuka dan Mama pulang.”

Aku menoleh kepada Bu Maya.

“Yang berdiri di sampingku saat semua orang menghakimiku bukan Mama.”

Suaraku mulai bergetar.

“Yang datang ke sekolah saat aku dihina bukan Mama.”

Aku menggenggam tangan Bu Maya.

“Yang mengajariku kalau aku layak dicintai juga bukan Mama.”

Bu Maya mencoba melepaskan tangannya, tetapi aku menggenggamnya lebih erat.

“Selama ini aku kehilangan seorang ibu.”

Aku tersenyum sambil menangis.

“Ternyata Tuhan tidak mengembalikannya. Tuhan mengirimkan seseorang yang sama sekali tidak kuduga.”

Untuk pertama kalinya sejak tinggal bersama kami, Bu Maya menangis.

Ia memelukku erat.

Pelukan itu hangat.

Aman.

Persis seperti yang selama ini kucari.

Saat itulah aku sadar, menjadi seorang ibu bukan soal siapa yang melahirkanmu. Menjadi ibu adalah tentang siapa yang memilih tetap berdiri di depanmu ketika seluruh dunia sedang menunjukmu dengan jari. Dan perempuan yang dulu dianggap semua orang akan menjadi ibu tiri yang kejam, justru menjadi orang pertama yang membuatku percaya bahwa keluarga sejati dibangun oleh kasih sayang, bukan oleh hubungan darah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang