Kakekku Ditangkap Sehari Sebelum Pernikahanku, dan Calon Suamiku Sendiri yang Memerintahkannya

Ruang interogasi itu mendadak terasa begitu menyesakkan ketika layar tablet di hadapanku menjadi hitam legam. Kegelapan menyelimuti ruangan, hanya ditemani oleh kilat samar dari luar jendela yang memantulkan bayangan muram di dinding besi. Aliran listrik yang terputus total bukan sekadar gangguan teknis; itu adalah sinyal perang.

Miguel, pria yang tadinya berdiri tegak dengan wibawa seorang komandan, kini melangkah mundur setengah langkah. Napasnya memburu. Di dunia tempat ia hidup, taktik dan strategi adalah segalanya, namun malam ini, dalam hitungan detik, kendali itu telah lepas dari genggamannya. Ponsel di tangannya masih menyala redup, menampilkan kalimat ancaman yang terpampang jelas di layar.

Sebelum ia sempat meneriakkan perintah kepada anak buahnya, suara tembakan teredam terdengar dari lorong luar. Suasana markas yang tadinya sunyi mendadak kacau. Bunyi sirine darurat berderu memekakkan telinga, bersahutan dengan teriakan para petugas yang berlari ke sana kemari.

“Kapten! Sistem pertahanan kita lumpuh!” suara seorang perwira muda terdengar panik dari ambang pintu yang terbuka setengah. “Seluruh server data sandi transaksi lintas negara telah diakses dari luar. Dan… dan tahanan VIP di ruang medis darurat telah dievakuasi secara paksa oleh kelompok tak dikenal!”

Miguel menatapku tajam. Di dalam tatapan itu, keraguan yang tadinya ia sembunyikan kini pecah berkeping-keping. Selama empat tahun ia meyakini dirinya sebagai pemburu ulung, tetapi malam ini ia sadar bahwa ia hanyalah bidak catur dalam permainan yang jauh lebih besar.

“Althea,” panggilnya dengan suara parau, nyaris berbisik di tengah hiruk-pikuk di luar. “Siapa sebenarnya kakekmu? Dan siapa yang selama ini bersembunyi di balik nama Ernesto Santos?”

Aku berdiri dari kursi besi, mengabaikan suara rantai borgol yang berderit di pergelangan tanganku. Aku menatap pria yang pernah kucintai, pria yang berlutut di hadapanku empat bulan lalu sambil menyodorkan cincin perak murah, memintaku menjadi teman hidupnya. Air mata yang tadinya membakar pipiku kini telah mengering, menyisakan ketenangan yang dingin.

“Kau mengira empat tahun penyamaranmu adalah sebuah rahasia besar, Miguel?” kataku pelan, melangkah mendekatinya hingga jarak di antara kami tinggal beberapa jengkal saja. “Kau mengira kedatanganmu ke kampung pesisir itu adalah takdir yang kebetulan? Kau salah besar. Kakek tahu siapa kau sejak hari pertama kau menginjakkan kaki di dermaga.”

Miguel menegang. “Apa maksudmu?”

“Kakek adalah orang yang membiarkanmu masuk,” lanjutku dengan senyum tipis yang menyayat hati. “Karena hanya dengan cara itulah kami bisa menemukan siapa pengkhianat sebenarnya di dalam kesatuanmu. Orang-orang yang merampok tabungan hidup warga desa, orang-orang yang mencuci uang melalui jaringan gelap internasional—mereka bukanlah kakek yang lumpuh di kursi roda. Mereka adalah atasanmu sendiri yang selama ini membiarkanmu bermain-main sebagai pahlawan.”

Sebelum Miguel sempat mencerna pengakuanku, pintu ruang interogasi ditendang hingga terbuka lebar. Perwira wanita berambut pendek yang tadi menunjukkan foto kedekatan mereka muncul dengan napas tersengal, namun ekspresinya bukan lagi rasa ingin tahu—melainkan kepanikan mutlak.

“Kapten, kita terjebak,” ucapnya cepat. “Seluruh akses keluar markas telah dikunci dari pusat komando nasional. Perintah penangkapan baru telah dikeluarkan… bukan terhadap kakek perempuan ini, tetapi terhadap komandan tertinggi kita atas tuduhan konspirasi tingkat tinggi.”

Miguel mematung. Matanya melebar menatap rekan kerjanya, lalu kembali menatapku. Semua potongan puzzle yang selama ini ia kumpulkan runtuh dalam sekejap. Penyamarannya, misinya, lembur malamnya, hingga rasa cintanya yang tumbuh di tengah atap bocor—semuanya telah dirancang sedemikian rupa untuk membawanya tepat ke titik ini.

“Kau…” Miguel mengangkat tangan, ragu-ragu hendak menyentuh bahuku, namun ia mengurungkannya. “Kau sengaja membiarkan dirimu ditangkap malam ini?”

“Jika aku tidak melakukannya, bagaimana cara kita menarik tikus-tikus itu keluar dari sarang persembunyian mereka?” jawabku tenang, sambil mengangkat tangan yang terborgol. “Kunci borgol ini, Miguel. Jika kau masih memiliki sedikit saja keberanian seperti pria yang dulu berjanji melindungiku di bawah badai.”

Tanpa ragu lagi, Miguel merogoh saku seragamnya, mengeluarkan kunci kecil, dan membuka belenggu di pergelangan tanganku. Suara logam yang terlepas itu berdentang nyaring di tengah keheningan yang mendadak melingkupi ruangan.

“Kita kejar mereka,” ujar Miguel dengan tatapan penuh tekad, nyala api amarah dan tanggung jawab kembali berkobar di matanya. “Kakekmu masih hidup, dan aku bersumpah akan membawanya kembali.”

Malam itu, di bawah langit pesisir yang basah oleh sisa badai, mobil taktis hitam melesat menembus kegelapan jalanan kota. Di kursi belakang, aku menatap cincin perak yang tergeletak di telapak tanganku—cincin yang tadinya kubuang di lantai basah, kini kuambil kembali. Perang yang sebenarnya baru saja dimulai, dan lembaran hidupku yang lama telah benar-benar terbakar habis bersama debu masa lalu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang