Tangisku semakin keras hingga seluruh restoran mendadak sunyi. Orang-orang berhenti makan dan menoleh ke arah kami. Dua anak kecil yang selama ini hidup di jalanan hanya saling berpandangan dengan wajah bingung.
Anak yang kupanggil Lucas perlahan mendorong bahuku.
“Maaf, Bu… mungkin Ibu salah orang. Kami memang Lucas dan Leo, tapi kami tidak punya mama.”
Kalimat itu menghantam dadaku lebih keras daripada apa pun.
Aku menggenggam kedua pipi mereka.
“Kalian punya. Kalian punya Mama. Mama sudah mencari kalian selama lima tahun.”
Leo menggeleng pelan.
“Om Surya bilang Mama kami sudah mati.”
Nama itu membuat seluruh tubuhku membeku.
Surya.
Nama itu tidak asing.
Surya Wijaya adalah mantan kepala keamanan keluarga kami. Lima tahun lalu, tepat setelah insiden penculikan, ia menghilang tanpa jejak. Polisi menganggapnya ikut menjadi korban karena mobil yang terbakar juga membawa identitasnya.
Ternyata selama ini dia masih hidup.
Aku segera menghubungi kepala pengawalku.
“Rudi. Tutup seluruh restoran. Jangan biarkan siapa pun membawa kedua anak ini pergi.”

Kurang dari lima menit, belasan pengawal berpakaian sipil memenuhi area restoran. Para tamu mulai berbisik-bisik.
Lucas dan Leo langsung ketakutan.
“Kami tidak mencuri…”
“Kami hanya lapar…”
Aku memeluk mereka lagi.
“Tidak ada yang akan menyakiti kalian lagi.”
Aku membawa mereka ke rumah sakit terbaik di Jakarta malam itu juga.
Hasil pemeriksaan membuat seluruh ruangan hening.
Kedua anak itu mengalami malnutrisi berat.
Bekas luka lama memenuhi tubuh mereka.
Beberapa tulang rusuk pernah patah.
Mereka juga memiliki bekas sundutan rokok di lengan.
Dokter menatapku dengan wajah berat.
“Bu Olivia… mereka sering mengalami kekerasan.”
Aku hampir tidak mampu berdiri.
Selama lima tahun aku hidup di rumah mewah, sementara anak-anakku bertahan hidup dengan memungut makanan dari tempat sampah.
Saat mereka dimandikan untuk pertama kalinya dengan air hangat, Lucas tiba-tiba menangis.
“Sakit…”
Perawat bingung.
Setelah diperiksa, ternyata punggungnya dipenuhi bekas cambukan yang sudah mengering.
Leo memeluk kakaknya sambil ikut menangis.
“Om Surya marah kalau Kak Lucas tidak dapat uang.”
Aku mengepalkan tangan hingga kukuku menembus kulit.
Malam itu juga aku memerintahkan seluruh tim investigasi Pratama Group mencari Surya.
Namun hasil yang datang justru lebih mengejutkan.
Surya sudah meninggal dua tahun lalu karena overdosis alkohol.
Artinya selama dua tahun terakhir ada orang lain yang mengendalikan semuanya.
Aku membuka kembali seluruh berkas penculikan yang selama ini kusimpan.
Satu nama terus muncul.
Armand Pratama.
Adik ipar almarhum suamiku.
Selama lima tahun terakhir dialah yang mengambil alih hampir seluruh saham perusahaan dengan alasan aku mengalami depresi setelah kehilangan anak.
Aku mulai menyusun semua potongan puzzle.
Jika anak-anakku benar-benar meninggal, maka garis keturunan keluarga Pratama akan berakhir.
Setelah aku, seluruh aset perusahaan akan jatuh kepada Armand.
Motifnya sangat jelas.
Aku tidak melapor kepada polisi.
Belum.
Aku ingin bukti yang tidak bisa dibantah.
Tiga hari kemudian Lucas mulai sedikit pulih.
Ia memanggilku untuk pertama kalinya.
“Ma…”
Satu kata itu membuat seluruh rasa sakitku selama lima tahun seolah terbayar.
Ia menyerahkan sebuah kalung kecil yang selama ini disembunyikannya di dalam bajunya.
“Ini selalu Mama pakaikan ke aku.”
Aku mengenali liontin itu.
Di dalamnya masih tersimpan foto keluarga kami.
Air mataku kembali jatuh.
“Kenapa kamu tidak pernah membuangnya?”
Lucas tersenyum lemah.
“Aku takut lupa wajah Mama.”
Aku memeluknya erat.
Hari berikutnya Leo berkata pelan.
“Aku ingat sesuatu.”
Aku segera duduk di samping tempat tidurnya.
“Waktu mobil berhenti, Om Surya tidak sendirian.”
“Dengan siapa?”
Leo menutup mata berusaha mengingat.
“Ada laki-laki tinggi. Dia pakai jas hitam. Di tangannya ada cincin bergambar kepala singa.”
Jantungku langsung berdetak kencang.
Aku mengenal cincin itu.
Cincin eksklusif yang hanya dimiliki anggota Dewan Direksi Pratama Group.
Dan hanya ada satu orang yang selalu memakainya.
Armand.
Aku tersenyum untuk pertama kalinya sejak menemukan anak-anakku.
Permainan baru saja dimulai.
Seminggu kemudian aku mengadakan rapat direksi terbesar dalam sejarah perusahaan.
Semua media nasional hadir.
Armand duduk dengan santai di kursi wakil komisaris.
Ia tersenyum ketika melihatku datang seorang diri.
“Kak Olivia kelihatannya sudah jauh lebih sehat.”
Aku membalas senyumannya.
“Terima kasih.”
Rapat baru berjalan sepuluh menit ketika layar raksasa di belakangku menyala.
Bukan laporan keuangan.
Melainkan rekaman CCTV lama yang baru berhasil dipulihkan oleh tim forensik digital kami.
Video itu memperlihatkan Surya menerima koper penuh uang.
Lalu Armand muncul dan menyalaminya.
Ruangan langsung gempar.
Wajah Armand berubah pucat.
“Itu editan!”
Aku mengangkat tangan.
“Lanjutkan.”
Video berikutnya memperlihatkan Surya membawa dua anak kecil keluar dari mobil beberapa menit sebelum kendaraan itu dibakar.
Tangisan memenuhi ruang rapat.
Semua direktur berdiri.
Armand berteriak.
“Itu fitnah!”
Saat itulah pintu ruang rapat terbuka.
Lucas dan Leo masuk sambil menggenggam tangan masing-masing.
Mereka mengenakan pakaian rapi untuk pertama kalinya setelah lima tahun.
Lucas menunjuk Armand.
“Itu orangnya.”
Leo mengangguk.
“Dia yang bilang kalau Mama tidak sayang lagi sama kami.”
Armand mundur beberapa langkah.
“Kalian… kalian masih hidup?”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Seluruh ruangan mendadak sunyi.
Ia baru saja menghancurkan dirinya sendiri.
Tak seorang pun sebelumnya mengatakan bahwa anak-anak itu adalah korban penculikan.
Namun reaksinya menunjukkan bahwa ia sudah mengetahui semuanya.
Polisi yang sejak tadi menunggu di luar langsung masuk.
Armand mencoba kabur, tetapi berhasil diborgol sebelum mencapai pintu.
Saat digiring keluar, ia menoleh kepadaku dengan mata penuh kebencian.
“Kau sudah menang.”
Aku menggeleng pelan.
“Bukan aku.”
Aku memandang kedua anakku yang kini berdiri di sampingku.
“Yang menang adalah dua anak kecil yang tidak pernah berhenti percaya bahwa suatu hari mereka akan menemukan jalan pulang.”
Beberapa bulan kemudian, kehidupan kami perlahan kembali normal.
Lucas dan Leo mulai bersekolah.
Mereka masih sering terbangun karena mimpi buruk, tetapi kini setiap kali membuka mata, mereka tahu aku selalu berada di samping mereka.
Aku menjual restoran tempat kami bertemu kepada yayasan keluarga.
Bangunan itu kuubah menjadi rumah makan gratis bagi anak-anak jalanan.
Di pintu masuknya hanya ada satu kalimat sederhana.
“Tidak ada anak yang boleh meminta makan dengan rasa malu.”
Karena aku tahu, terkadang sebuah permintaan kecil dari dua anak yang kelaparan bukan hanya menyelamatkan hidup mereka.
Permintaan itu juga bisa mengembalikan hati seorang ibu yang telah hilang selama lima tahun.
