Musuh bebuyutanku — Ethan Santos — mabukuk berat hingga salah merangkak dan tidur di atasku.

—”Ya, aku sudah di bandara. Aku hanya sedang menunggu perwakilan dari Ramirez Group,” suara rendah, bariton, dan penuh otoritas alami milik Ethan Santos terdengar sangat jelas di antara hiruk-pikuk suasana lobi kedatangan, menusuk tepat ke gendang telingaku dan membuat jantungku seolah melompat ke tenggorokan.

Pria itu masih berdiri di sana, menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang biasa ia gunakan untuk menatap para pesaing bisnisnya di ruang rapat. Tidak ada sedikit pun perubahan pada dirinya, kecuali aura dominan dan arogan yang kini terasa semakin pekat dan berbahaya. Mengingat kembali malam terkutuk tiga tahun lalu di mana musuh bebuyutanku itu mabuk berat, salah merangkak, dan berakhir tidur di atasku membuat sekujur tubuhku merinding seketika. Keesokan paginya, dengan tanpa dosa dia menelepon teman-temannya dan mengeluh bahwa perempuan itu kabur tanpa sempat ia lihat wajahnya, sementara aku yang duduk di meja sebelah hanya bisa mengunyah roti panggang sambil menertawakan kebodohannya dalam hati. Dan sekarang, setelah enam tahun kami saling bersaing sengit di dunia korporat, takdir yang kejam justru mempertemukan kami kembali di detik pertama aku menginjakkan kaki di Jakarta.

“Tentu saja aku akan mengurusnya sendiri, kau tahu aku tidak suka membuang waktu dengan orang-orang bodoh,” lanjut Ethan di ujung sambungan telepon, nadanya terdengar acuh tak acuh namun penuh tekanan.

Aku menelan ludah dengan susah payah, mengeratkan dekapanku pada Nata yang masih terlelap pulas di bahuku. Bocah kecil itu sama sekali tidak tahu bahwa ibunya sedang berjuang menahan kepanikan tingkat dewa hanya beberapa meter dari musuh bebuyutan keluarga kami. Skenario terburuk melintas di kepalaku. Jika Ethan menyadari keberadaanku di sini, atau lebih buruk lagi, jika dia melihat Nata dan menyadari kemiripan wajah bocah itu dengan garis rahangnya yang tegas, habislah sudah riwayatku. Hidup tenang yang kubangun di Bali selama tiga tahun terakhir akan hancur lebur dalam hitungan detik, dan aku pasti akan menjadi bahan ejekan abadi bagi pria arogan tersebut.

Tanpa berpikir panjang, aku segera berbalik arah, berniat menyelinap kembali ke dalam kerumunan penumpang untuk mencari pintu keluar alternatif. Namun, dunia seolah bersekongkol melawan langkahku. Tiba-tiba saja, seorang petugas bandara dengan ramah menyapa sambil menunjuk ke arahku.

“Permisi Nyonya, sepertinya tas jinjing Anda tertinggal di atas troli pemeriksaan tadi,” teriak petugas itu dengan suara yang cukup lantang untuk menarik perhatian orang-orang di sekitar.

Sialan.

Langkahku terhenti seketika. Dalam pecahan detik berikutnya, aku merasakan bulu kudukku berdiri. Suara langkah kaki tegas dengan pantulan sepatu kulit mahal di lantai marmer bandara terdengar mendekat dengan kecepatan yang mengerikan. Aku bisa merasakan tatapan tajam dan dingin menusuk punggungku, seolah ada predator yang baru saja menemukan mangsanya di padang rumput.

“Kira-kira, siapa wanita bodoh yang berani mengabaikan panggilanku di bandara ini?” suara dingin itu tiba-tiba bergema tepat di belakang telingaku, begitu dekat hingga hembusan napasnya yang beraroma mint menyentuh tengkukku.

Aku mematung. Otakku berputar keras mencari alasan, namun lidahku mendadak kelu. Perlahan, aku memutar tubuhku menghadapnya, memasang ekspresi paling datar dan angkuh yang kubisa, meniru persis gaya dingin yang biasa ia tunjukkan kepadaku di ruang dewan direksi.

Ethan Santos berdiri tepat di hadapanku. Tinggi badannya yang jangkung membuatku harus mendongak sedikit untuk menatap matanya. Pria itu menyipitkan mata, mengamati penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menyelidik yang penuh rasa curiga. Namun, fokusnya tiba-tiba bergeser ketika Nata yang merasa terganggu oleh keributan kecil itu mulai menggeliat dalam gendonganku. Bocah kecil itu menguap lebar, membuka matanya yang besar dan bulat, lalu menatap tajam ke arah Ethan dengan alis yang sedikit mengernyit.

Suasana di sekitar mendadak sunyi senyap, seolah waktu berhenti berputar. Ethan terpaku di tempatnya, menatap wajah Nata dengan mata yang membelalak lebar, sementara urat-urat di pergelangan tangannya terlihat semakin menonjol karena cengkeramannya pada ponsel yang hampir terlepas dari genggamannya. Pria yang biasanya selalu memiliki jawaban atas segala hal itu kini tampak kehilangan suaranya, memandang bergantian antara wajahku dan wajah bocah berusia tiga tahun yang sedang menatapnya dengan tatapan sinis persis seperti dirinya.

“Hai, Paman yang sombong,” gumam Nata dengan suara parau khas bangun tidur, menunjuk tepat ke arah jas rapi Ethan.

Aku tersenyum tipis, menatap lurus ke dalam mata musuh bebuyutanku yang kini tampak pucat pasi, lalu berbisik pelan tepat di telinganya saat melewatinya.

“Selamat datang kembali di neraka, Ethan.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang