IPARKU MEMINJAM MOBILKU UNTUK MENGHADIRI SEBUAH PERNIKAHAN. SAAT DIKEMBALIKAN, MOBIL ITU BERSIH MENGILAP SEPERTI BARU, TAPI BAGIAN BAWAHNYA MENDADAK BERTAMBAH BERAT 82 KILOGRAM. SESAAT SETELAH MOBIL DIANGKAT DI HIDROLIK BENGKEL, AKU MENERIMA VIDEO PUTRIKU DICULIK—DAN SESUATU YANG TERSEMBUNYI DI BAWAH MOBIL ITU MEMULAI HITUNG MUNDUR KEMATIAN.

Adrian menatap layar pemindai tanpa berkedip. Angka merah itu terus bergerak turun, seolah setiap detik sedang mengikis harapan terakhirnya.

01:47:31.

01:47:30.

Pak Lando memandangnya dengan wajah pucat.

“Itu bukan sekadar sensor biasa. Ada modul elektronik di dalam sana.”

Adrian menarik napas panjang. Selama bertahun-tahun bekerja di unit keamanan pelabuhan, ia pernah melihat berbagai jenis alat penyelundupan. Sebagian hanya menggunakan ruang rahasia. Sebagian lain memasang sistem pelacak agar barang bisa dipantau dari jauh. Namun hanya organisasi besar yang berani memasang perangkat penghitung waktu seperti ini.

Ponselnya kembali bergetar.

Sebuah pesan baru muncul.

“Kami bisa melihatmu. Turunkan mobil. Berangkat sekarang.”

Adrian perlahan mengangkat kepala.

“Pak Lando, di bengkel ini ada kamera yang terhubung internet?”

“Ada.”

“Matikan semuanya.”

Tanpa bertanya lagi, Pak Lando segera mencabut sambungan listrik kamera CCTV.

Adrian kemudian mengambil obeng kecil dari meja kerja.

Ia tidak membuka kompartemen itu.

Sebaliknya, ia melepaskan lampu rem belakang sebelah kanan.

Di balik rumah lampu terdapat modul GPS tambahan yang tidak pernah ia pasang.

Sebuah alat pelacak.

Ia tersenyum tipis.

“Yang mereka lihat bukan hanya lokasi mobil.”

Dengan hati-hati ia memindahkan GPS itu ke sebuah mobil pikap tua yang sudah lama rusak di sudut bengkel.

Mesin mobil tua itu dinyalakan oleh salah satu mekanik senior yang baru kembali dari makan siang.

Mobil tua itu langsung melaju keluar menuju arah timur.

Sementara itu, Adrian menutup kembali lampu belakang Hilux miliknya.

Lima menit kemudian, ponselnya berbunyi lagi.

“Kau patuh. Teruskan menuju Pier 4.”

Mereka benar-benar mengikuti sinyal GPS palsu.

Adrian tidak membuang waktu.

Ia menghubungi satu-satunya orang yang masih ia percaya.

Bukan polisi.

Melainkan mantan komandannya, Kolonel Arif Prasetyo, yang kini bekerja sebagai penasihat keamanan pelabuhan.

Adrian hanya mengucapkan satu kalimat.

“Operasi Black Cargo mungkin kembali.”

Di ujung telepon, suara Arif langsung berubah serius.

“Kau yakin?”

“Mereka menggunakan kompartemen rahasia, penculikan, dan hitung mundur.”

Hening beberapa detik.

“Lima belas menit. Aku akan datang.”

Namun Adrian tahu ia tidak memiliki lima belas menit untuk menunggu.

Ia membuka lagi video yang dikirim Ramon.

Kali ini ia tidak melihat Mika.

Ia memperhatikan bayangan pada kaca jendela van.

Di sana tampak pantulan papan reklame berwarna biru bertuliskan sebagian huruf.

“…RAYA…”

Kemudian suara azan terdengar samar.

Di belakang terdengar kereta melintas.

Adrian langsung mengenali lokasi itu.

Daerah pergudangan dekat jalur kereta di kawasan Tanjung Priok.

Bukan Pier 4.

Ramon sengaja memberinya tujuan palsu.

“Pak Lando.”

“Apa?”

“Kalau mereka ingin mobil ini tiba di pelabuhan, berarti isi kompartemen jauh lebih penting daripada aku.”

“Jadi?”

“Kalau begitu mereka pasti belum berani membunuh Mika.”

Pak Lando mengangguk pelan.

“Kau mau menyelamatkan anakmu dulu.”

“Tepat.”

Mereka melaju menuju kawasan pergudangan menggunakan mobil lain.

Hilux sengaja ditinggalkan di bengkel dengan pintu terkunci.

Selama perjalanan, timer terus berjalan.

01:18:42.

Ketika tiba di kawasan gudang tua dekat rel kereta, Adrian mematikan mesin.

Ia mengamati sekitar.

Gudang tampak kosong.

Namun ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Van abu-abu.

Nomor pelatnya sama seperti di video.

Adrian mendekat melalui deretan kontainer.

Suara Ramon terdengar dari dalam gudang.

“Aku sudah bilang dia pasti akan datang.”

Suara lain menjawab.

“Kalau mobil belum tiba sebelum timer habis, kita semua mati.”

Adrian membeku.

Mereka juga takut pada penghitung waktu itu.

Artinya mereka bukan orang yang mengendalikan bom tersebut.

Mereka hanya kurir.

Perlahan ia mengintip melalui celah dinding.

Mika duduk di kursi dengan kedua tangan diikat.

Namun kondisinya masih baik.

Di sampingnya berdiri Ramon.

Wajah pria itu jauh berbeda dibanding biasanya.

Penuh ketakutan.

Seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka di pipi mengarahkan pistol kepada Ramon.

“Bilang lagi ke iparmu.”

Ramon menelan ludah.

“Aku… aku sudah melakukan semuanya.”

“Lalu kenapa mobilnya belum datang?”

Ramon tidak menjawab.

Pria itu menamparnya keras.

Adrian akhirnya memahami semuanya.

Ramon memang bersalah.

Tetapi ia juga sedang dipaksa.

Saat Adrian sedang mencari posisi terbaik untuk menyerang, ponselnya bergetar.

Pesan baru.

“Kau ada di luar gudang. Jangan bergerak.”

Adrian langsung mengangkat kepala.

Mereka memiliki pengintai.

Terdengar suara senapan dikokang dari belakang.

“Buang ponselmu.”

Adrian perlahan mengangkat kedua tangan.

Seorang pria muncul dari balik kontainer.

Namun sebelum sempat mendekat, suara sirene kereta menggelegar.

Kereta barang melintas tepat di samping gudang.

Getaran keras membuat pria itu menoleh sesaat.

Kesempatan itu dimanfaatkan Adrian.

Ia memutar tubuh, merebut pistol lawannya, lalu menjatuhkannya dengan satu hantaman siku.

Suara tembakan memecah udara.

Orang-orang di dalam gudang panik.

Adrian menerobos masuk.

“Papa!”

Mika menangis histeris.

Pria bertubuh besar langsung menarik Mika dan menjadikan gadis kecil itu sebagai tameng.

“Berhenti!”

Adrian membeku.

Pistol mengarah tepat ke kepala putrinya.

Timer di ponsel kini menunjukkan.

00:42:11.

Pria itu tersenyum.

“Mobilmu berisi sesuatu yang nilainya lebih dari lima puluh juta dolar.”

Adrian tidak menjawab.

“Kau tahu apa itu?”

“Tidak.”

“Itu benar.”

Pria itu tertawa.

“Karena kau hanya dipilih menjadi kurir tanpa sadar.”

Ramon tiba-tiba berteriak.

“Adrian! Jangan dengarkan dia! Di bawah mobil itu bukan narkoba!”

Semua orang menoleh.

Pria bertubuh besar langsung menembak Ramon di bahu.

Ramon terjatuh sambil meringis.

“Diam!”

Dengan sisa tenaga, Ramon tetap berbicara.

“Aku dipaksa! Mereka menculik Elena dan anak-anakku lebih dulu! Mereka bilang hanya perlu meminjam mobilmu beberapa hari!”

Air mata mengalir di wajahnya.

“Aku tidak pernah tahu mereka juga akan menculik Mika.”

Adrian melihat ketakutan yang nyata di mata iparnya.

Untuk pertama kalinya, ia percaya bahwa sebagian perkataan Ramon benar.

Tiba-tiba terdengar ledakan kecil dari luar.

Kolonel Arif akhirnya datang bersama tim keamanan pelabuhan.

Baku tembak pun pecah.

Suasana berubah kacau.

Dalam kekacauan itu, Adrian berlari menerjang pria bertubuh besar.

Peluru menghantam tiang besi.

Percikan api berhamburan.

Mika berhasil terlepas.

Pak Lando yang diam-diam mengikuti dari belakang segera menarik Mika keluar gudang.

Adrian bergulat dengan pria itu hingga keduanya jatuh dari tangga besi.

Pistol terpental.

Pria bertubuh besar mengambil pisau lipat.

Namun sebelum sempat menusuk, Ramon yang bahunya berlumuran darah menjatuhkan dirinya ke arah pria tersebut.

“Kabur, Adrian!”

Pisau itu justru menancap di dada Ramon.

Adrian meraung marah.

Dengan satu pukulan keras, ia melumpuhkan lawannya hingga tak sadarkan diri.

Beberapa menit kemudian seluruh gudang berhasil dikuasai.

Mika memeluk ayahnya sambil menangis tanpa henti.

Sementara Ramon terbaring bersimbah darah.

“Aku… minta maaf…”

Air mata Adrian ikut jatuh.

“Kenapa tidak bilang dari awal?”

“Mereka… bilang akan membunuh keluargaku…”

Ramon tersenyum lemah.

“Lindungi kakakmu…”

Matanya perlahan tertutup.

Ambulans datang beberapa menit kemudian.

Ramon berhasil diselamatkan meski harus menjalani operasi panjang.

Namun semuanya belum selesai.

Timer masih berjalan.

00:18:54.

Tim penjinak bom segera menuju bengkel.

Kompartemen rahasia akhirnya dibuka menggunakan robot.

Semua orang menahan napas.

Yang ditemukan bukan narkoba.

Bukan senjata.

Melainkan enam belas balok logam hitam berisi server penyimpanan data terenkripsi.

Di salah satunya terpasang bahan peledak dan penghitung waktu.

Seorang ahli forensik digital langsung terkejut.

“Ini bukan barang selundupan biasa.”

“Apa isinya?”

“Data.”

“Data apa?”

“Identitas lengkap jaringan penyelundupan internasional. Rekening, transaksi, pejabat yang disuap, jalur distribusi, semuanya.”

Kolonel Arif menatap Adrian.

“Mereka tidak sedang mengirim barang.”

“Mereka sedang berusaha mengambil kembali bukti.”

Tiga menit sebelum timer habis, bom berhasil dijinakkan.

Semua orang mengembuskan napas lega.

Beberapa bulan kemudian, jaringan penyelundupan terbesar di Asia Tenggara berhasil dibongkar.

Puluhan orang ditangkap.

Ratusan miliar rupiah aset disita.

Nama Adrian tidak pernah muncul di berita.

Ia memang tidak menginginkannya.

Yang terpenting baginya hanyalah Mika bisa kembali berangkat ke sekolah dengan senyum seperti biasa.

Suatu sore, ketika mereka sedang menyiram tanaman basil di halaman rumah, Mika tiba-tiba bertanya pelan.

“Papa…”

“Iya?”

“Kenapa orang jahat memilih mobil kita?”

Adrian memandang langit yang mulai memerah.

“Luka terbesar dalam hidup sering datang tanpa kita undang.”

“Tapi kenapa kita masih bisa bahagia sekarang?”

Adrian tersenyum sambil mengusap kepala putrinya.

“Karena yang menentukan akhir sebuah perjalanan bukanlah seberapa gelap jalannya, melainkan siapa yang tetap memilih berdiri di sisimu sampai akhir.”

Mika menggenggam tangan ayahnya lebih erat.

Di dalam rumah, televisi menyiarkan berita tentang terbongkarnya sindikat internasional.

Tak seorang pun tahu bahwa semua itu bermula dari sebuah pickup yang dikembalikan dalam keadaan terlalu bersih, dengan tambahan berat delapan puluh dua kilogram yang hampir merenggut seluruh keluarga mereka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang