Sepulang kerja di tengah hujan deras, aku mendapati uang untuk operasi ibuku telah lenyap, bahkan perhiasan warisan keluarga kami pun sudah digadaikan. Namun ketika tanpa sengaja kubuka ponsel pacarku, sebuah pesan membuat seluruh tubuhku gemetar: “Besok pagi, bawa dia ke sini sebagai pembayaran.”

Pesan di layar ponsel Carlo hanya terdiri dari beberapa kata, tetapi rasanya seperti tangan dingin yang mencengkeram tengkukku.

Bos ingin bertemu langsung dengan pacarmu.

Aku menatap layar itu sampai huruf-hurufnya terasa kabur.

Di luar, hujan masih menghantam atap kontrakan kami di kawasan padat Jakarta Timur. Air mengalir dari celah pintu, membentuk genangan kecil di lantai. Bau rokok, bir, dan makanan berminyak masih memenuhi ruangan.

Namun tiba-tiba semua itu terasa jauh.

Yang bisa kudengar hanya detak jantungku sendiri.

Carlo merebut ponselnya dari lantai.

“Kamu salah paham.”

Aku menatapnya.

“Foto itu diambil kemarin saat aku bekerja.”

“Ana, dengarkan dulu.”

“Mereka mengikutiku?”

Carlo tidak menjawab.

Aku mundur satu langkah.

Untuk pertama kalinya selama dua tahun mengenalnya, aku tidak melihat pacarku di hadapanku.

Aku melihat seseorang yang bisa menjual apa saja demi satu taruhan lagi.

Tabunganku.

Perhiasan ibuku.

Identitasku.

Mungkin sekarang, aku sendiri.

“Berapa utangmu sebenarnya?”

Carlo mengusap wajah kasar-kasar.

“Bukan urusanmu.”

“Berapa?”

Ia membanting ponselnya ke kasur.

“Delapan puluh juta.”

Lututku hampir kehilangan tenaga.

Delapan puluh juta rupiah.

Jauh lebih besar daripada uang operasi Ibu yang ia ambil.

“Dari mana?”

“Awalnya cuma lima juta.”

Ia mulai berjalan mondar-mandir.

“Terus aku kalah. Aku pinjam lagi buat balikin. Kalah lagi. Ruben bilang ada orang yang bisa kasih modal. Aku cuma perlu menang sekali, semuanya selesai.”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

Itulah kalimat yang selalu diucapkan penjudi.

Cuma perlu menang sekali.

“Tapi kamu tidak pernah menang.”

Carlo berhenti.

“Aku hampir menang.”

“Hampir tidak mengembalikan uang Ibu.”

“Aku bisa memperbaiki semuanya besok.”

Aku tertawa kecil.

“Dengan membawaku ke bosmu?”

Wajahnya berubah.

“Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu.”

“Tapi kamu akan membawaku.”

“Aku cuma perlu bicara dengan mereka.”

“Lalu kenapa mereka memotretku diam-diam?”

Carlo terdiam.

Jawaban itu sudah cukup.

Aku mengambil koperku lagi.

Kali ini Carlo berdiri di depan pintu.

“Kamu tidak boleh pergi.”

“Menjauh.”

“Mereka tahu tempat kerja kamu. Mereka tahu rumah sakit tempat ibumu dirawat. Kalau kamu pergi dan bikin masalah, semuanya malah lebih buruk.”

Aku menatapnya.

“Kamu mengancam ibuku?”

“Aku memperingatkanmu.”

“Tidak ada bedanya.”

Aku meraih gagang pintu.

Carlo mencengkeram lenganku lagi.

Refleks aku mengambil kaleng bir kosong dari meja dan menghantamkannya ke tangannya.

Ia mengumpat dan melepaskanku.

Aku berlari keluar tanpa koper.

Tanpa payung.

Tanpa membawa pakaian.

Hanya dengan tas kerja yang masih tergantung di bahuku.

Aku berlari menembus hujan.

Carlo meneriakkan namaku dari belakang.

“Ana!”

Aku tidak berhenti.

Gang sempit itu sudah tergenang hampir setinggi betis. Sandalku beberapa kali nyaris terlepas, tetapi aku terus berlari sampai mencapai jalan raya.

Sebuah minimarket masih buka.

Aku masuk dengan napas terengah-engah.

Kasir yang sedang mengepel lantai langsung menatapku.

“Mbak, tidak apa-apa?”

Aku tidak mampu menjawab.

Aku hanya meminta izin menggunakan toilet.

Di dalam bilik sempit, aku mengunci pintu dan akhirnya menangis.

Bukan karena uang.

Bukan karena perhiasan.

Bukan bahkan karena utang.

Aku menangisi diriku sendiri yang selama ini terus mencari alasan untuk memaafkan Carlo.

Aku mengingat semua tanda yang sengaja kuabaikan.

Uang yang hilang.

Kebohongan kecil.

Amarahnya ketika ditanya.

Janji yang selalu terdengar meyakinkan setelah ia melakukan kesalahan.

Aku menyebutnya cinta.

Padahal sebagian besar waktu, itu hanya ketakutanku untuk memulai hidup dari nol.

Setelah tangisku reda, aku menelepon satu-satunya orang yang terpikir olehku.

Dewi.

Teman kerjaku.

Ia mengangkat pada dering kedua.

“Ana?”

Mendengar suaranya membuat pertahananku runtuh lagi.

“Wi, aku butuh bantuan.”

Dua puluh menit kemudian, Dewi datang bersama kakaknya, Arif, yang bekerja sebagai pengemudi ojek online.

Aku menceritakan semuanya di dalam mobil mereka.

Ketika mendengar soal pinjaman online atas namaku, Arif langsung menggeleng.

“Kita ke polisi sekarang.”

“Aku harus ke rumah sakit dulu.”

Dewi menggenggam tanganku.

“Ibumu aman malam ini?”

Aku mengangguk.

“Operasinya tiga hari lagi.”

“Kalau begitu polisi dulu. Kalau Carlo benar-benar memberikan datamu ke orang-orang itu, kamu tidak bisa sendirian.”

Malam itu kami mendatangi kantor polisi.

Aku menunjukkan foto bukti gadai yang sempat kuambil dengan ponselku, riwayat panggilan penagih, dan tangkapan layar pesan Ruben yang untungnya sempat kurekam sebelum melarikan diri.

Petugas bernama Pak Damar mendengarkan dengan serius.

Ketika membaca pesan tentang membawaku sebagai pembayaran, ekspresinya berubah.

“Besok mereka meminta Anda datang?”

Aku mengangguk.

“Jangan datang sendiri.”

“Aku tidak berniat datang.”

Pak Damar menatapku beberapa detik.

“Kalau Anda bersedia bekerja sama, pertemuan itu bisa membantu kami mengidentifikasi siapa yang berada di belakang jaringan ini.”

Aku langsung menggeleng.

“Tidak.”

Dewi memegang bahuku.

Pak Damar tidak memaksa.

“Kami bisa mencari cara lain. Yang paling penting malam ini Anda jangan kembali ke kontrakan.”

Aku menginap di rumah Dewi.

Tapi aku tidak tidur.

Pukul tiga pagi, ponselku menerima puluhan panggilan dari Carlo.

Lalu pesan.

Ana, aku minta maaf.

Aku akan mengembalikan semuanya.

Tolong jangan bikin keadaan tambah rumit.

Kemudian satu pesan lain.

Mereka tahu kamu ke polisi.

Darahku seperti berhenti mengalir.

Beberapa detik kemudian masuk sebuah foto.

Ibu.

Sedang tidur di ranjang rumah sakit.

Foto itu diambil dari balik pintu kamar.

Tanganku gemetar hebat.

Aku langsung menelepon rumah sakit.

Perawat memastikan Ibu baik-baik saja.

Namun seseorang memang sempat datang beberapa jam sebelumnya dan mengaku sebagai saudara.

Pagi itu polisi mengirim petugas berpakaian sipil ke rumah sakit.

Aku akhirnya menerima rencana Pak Damar.

Aku akan datang menemui Ruben.

Bukan sendirian.

Sebuah alat perekam kecil dipasang di balik kerah bajuku. Beberapa petugas akan berada tidak jauh dari lokasi.

Ruben mengirim alamat sebuah bengkel ayam di pinggiran Bekasi.

Carlo menjemputku di dekat sebuah SPBU.

Ketika melihatku, wajahnya tampak lega.

“Kamu datang.”

Aku memandangnya.

“Karena Ibu.”

“Aku tahu.”

Ia membuka pintu mobil.

Sepanjang perjalanan kami tidak berbicara.

Aku duduk sejauh mungkin darinya.

Akhirnya Carlo berkata pelan.

“Aku tidak pernah bermaksud membuat semuanya seperti ini.”

Aku menatap jalan.

“Tapi kamu tetap melakukannya.”

“Aku panik.”

“Kamu memalsukan dataku saat panik?”

Ia diam.

“Kamu menggadaikan kalung almarhum ayahku saat panik?”

“Ana.”

“Dan kamu menyerahkanku pada orang yang memotretku diam-diam?”

Carlo menggenggam setir lebih kuat.

“Aku tidak akan menyerahkanmu.”

“Lalu kenapa aku ada di mobil ini?”

Ia tidak mampu menjawab.

Tempat yang kami datangi bukan arena sabung ayam besar seperti bayanganku.

Hanya sebuah bangunan tua di belakang bengkel, dikelilingi pagar seng tinggi.

Ruben menunggu di depan.

Tubuhnya kurus, mengenakan jaket hitam.

“Kalian telat.”

Carlo langsung menunduk.

“Bos di mana?”

“Di dalam.”

Aku mengikuti mereka.

Jantungku berdebar keras.

Di ruangan belakang ada seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun duduk di kursi plastik.

Dua orang berdiri di belakangnya.

Pria itu menatapku dari kepala sampai kaki.

“Kamu Ana?”

Aku tidak menjawab.

Ia tersenyum.

“Pacarmu punya utang besar.”

“Itu utangnya.”

“Tapi pinjaman atas namamu.”

“Dibuat tanpa izin saya.”

Pria itu menoleh kepada Carlo.

“Katanya pacarmu penurut.”

Aku melihat Carlo.

Ia tidak menatapku.

Pria itu meletakkan sebuah map di meja.

“Gampang sebenarnya. Tanda tangani beberapa dokumen. Utang Carlo berkurang.”

Aku membuka map.

Ada beberapa formulir pinjaman baru atas namaku.

Nilainya ratusan juta rupiah.

Aku menelan ludah.

“Kalian mau memakai identitas saya lagi?”

“Tidak perlu banyak tanya.”

Aku mendorong map itu kembali.

“Saya tidak akan tanda tangan.”

Ruangan mendadak sunyi.

Pria itu bersandar.

“Carlo.”

Carlo akhirnya menatapku.

Ada ketakutan di wajahnya.

“Ana, tanda tangan saja.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu yang selama ini masih tersisa di dalam hatiku.

Mungkin jauh di bagian paling bodoh dari diriku, masih ada harapan bahwa Carlo benar-benar membawaku ke sana hanya untuk bicara.

Bahwa di saat terakhir ia akan melindungiku.

Ternyata tidak.

Ia benar-benar memilih utangnya.

“Aku pernah membayar kontrakanmu ketika kamu tidak bekerja,” kataku pelan.

Carlo mengerutkan kening.

“Apa?”

“Aku membelikan obatmu setelah kecelakaan. Aku memasakkan makanan. Aku percaya ketika kamu bilang sedang cari kerja.”

“Ana, bukan sekarang.”

“Aku bahkan masih mengingat Carlo yang membawakanku taho setiap pagi.”

Ia menunduk.

“Tapi ternyata orang itu sudah lama hilang.”

Pria di kursi membentak.

“Cukup.”

Salah seorang di belakangnya bergerak mendekatiku.

Saat itulah dari luar terdengar suara keras.

“Polisi! Jangan bergerak!”

Semuanya terjadi dalam hitungan detik.

Ruben mencoba lari melalui pintu belakang.

Salah satu pria menjatuhkan meja.

Carlo berdiri membeku.

Beberapa polisi masuk.

Pria yang mereka panggil bos berusaha meraih ponsel di meja, tetapi segera diamankan.

Aku mundur ke sudut ruangan, seluruh tubuhku gemetar.

Carlo menatapku seolah baru memahami apa yang terjadi.

“Kamu menjebakku?”

Aku menatapnya.

“Tidak, Carlo.”

Air mataku jatuh.

“Kamu menjebak dirimu sendiri sejak pertama kali mengambil uang yang bukan milikmu.”

Penyelidikan kemudian mengungkap sesuatu yang bahkan tidak pernah kubayangkan.

Ruben dan pria yang mereka sebut bos bukan hanya bandar judi ilegal.

Mereka menggunakan para penjudi yang terlilit utang untuk mencari identitas anggota keluarga dan pasangan mereka, lalu membuat pinjaman ilegal dengan data-data tersebut.

Puluhan korban ditemukan.

Sebagian bahkan tidak tahu namanya sudah digunakan untuk berutang.

Carlo ternyata telah memberikan fotokopi KTP-ku tiga bulan sebelumnya.

Jauh sebelum ia mengambil uang operasi Ibu.

Artinya semua itu bukan keputusan panik dalam satu malam.

Ia sudah merencanakannya.

Itulah kenyataan yang paling menyakitkan.

Carlo ditahan bersama beberapa orang lainnya.

Melalui bantuan hukum, laporan polisi, dan bukti pemalsuan identitas, pinjaman atas namaku akhirnya masuk proses sengketa sehingga penagihan kepadaku dihentikan.

Tetapi masalah terbesar tetap ada.

Operasi Ibu.

Uangnya sudah hilang.

Siang sehari sebelum batas pembayaran, aku duduk di lorong rumah sakit sambil menatap tagihan di tangan.

Aku bahkan mempertimbangkan menjual ponsel dan berhenti dari kontrakan.

Tiba-tiba seorang petugas administrasi memanggilku.

“Mbak Andrea?”

Aku berdiri.

“Ya.”

“Deposit operasinya sudah masuk.”

Aku menatapnya kebingungan.

“Dari siapa?”

Petugas itu menyerahkan bukti pembayaran.

Aku membaca nama pengirimnya.

Bukan Dewi.

Bukan keluarga kami.

Tertulis nama seseorang yang tidak kukenal.

Siti Rahmawati.

Aku pikir ada kesalahan.

Sampai seorang perempuan tua menghampiriku di lorong.

Ia mengenakan seragam sederhana sebuah perusahaan katering.

“Kamu Ana?”

Aku mengangguk.

Perempuan itu tersenyum.

“Saya ibunya Carlo.”

Aku membeku.

Selama dua tahun bersama Carlo, aku hanya pernah mendengar bahwa ibunya meninggalkannya sejak kecil.

Perempuan itu menahan air mata.

“Carlo bilang ke semua orang kalau saya sudah tidak peduli padanya. Sebenarnya saya yang pergi karena bertahun-tahun ayahnya berjudi dan memukul saya. Carlo memilih ikut ayahnya.”

Ia menyerahkan sebuah amplop.

Di dalamnya ada surat gadai yang sudah dibubuhi cap lunas.

Anting dan kalung Ibu sudah ditebus.

Aku tidak mampu berkata-kata.

“Saya dengar semuanya dari polisi,” katanya. “Saya tidak bisa mengubah apa yang anak saya lakukan. Tapi saya tidak mau ada ibu lain kehilangan kesempatan hidup karena kesalahannya.”

“Bu, uang sebanyak ini…”

“Saya menjual motor saya.”

Aku langsung menggeleng.

“Saya tidak bisa menerima.”

Ia menggenggam tanganku.

“Kalau begitu anggap sebagai utang. Bayar saat kamu mampu. Tidak perlu kepada saya.”

“Lalu kepada siapa?”

Perempuan itu tersenyum sambil menangis.

“Kepada orang lain yang suatu hari membutuhkan pertolonganmu.”

Operasi Ibu berjalan dua hari kemudian.

Aku duduk di luar ruang operasi selama hampir lima jam.

Ketika dokter akhirnya keluar dan mengatakan semuanya berjalan baik, kakiku langsung lemas.

Aku menangis di pelukan Dewi.

Bukan karena semua masalah sudah selesai.

Hidupku masih berantakan.

Aku kehilangan tabungan.

Aku harus mencari tempat tinggal baru.

Proses hukum masih panjang.

Dan seseorang yang pernah menjadi rumah bagiku kini berada di balik jeruji.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa hidupku kembali menjadi milikku.

Beberapa bulan kemudian Carlo mengirim surat dari tahanan.

Ia meminta maaf.

Katanya ia berubah.

Katanya jika aku masih mengingat Carlo yang dulu membawakanku taho, mungkin suatu hari aku bisa memberinya kesempatan.

Aku membaca surat itu satu kali.

Kemudian memasukkannya kembali ke amplop.

Aku tidak membakarnya.

Aku juga tidak membalasnya.

Aku hanya menyimpannya sebagai pengingat.

Bukan tentang Carlo.

Tentang diriku sendiri.

Bahwa kebaikan seseorang di masa lalu tidak memberinya izin untuk menghancurkan masa depan kita.

Bahwa cinta tanpa rasa aman bukanlah rumah.

Dan bahwa terkadang keberanian terbesar bukan bertahan bersama orang yang pernah kita cintai.

Melainkan menerima kenyataan bahwa orang itu sudah berubah, lalu memilih menyelamatkan diri sebelum terlambat.

Pagi berikutnya, sebelum berangkat bekerja, aku membeli dua gelas taho dari pedagang di depan rumah sakit.

Satu untukku.

Satu untuk Ibu.

Ibu mencicipinya sambil tersenyum.

“Tumben beli taho.”

Aku duduk di samping ranjangnya.

Dulu aroma taho selalu membuatku mengingat Carlo.

Pagi itu tidak lagi.

Aku tersenyum dan menggenggam tangan Ibu.

“Cuma ingin mulai kebiasaan baru, Bu.”

Di luar jendela, hujan yang turun hampir seminggu akhirnya berhenti.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku tidak takut menghadapi pagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang