Malam itu, suasana rumah keluarga Santoso terasa kian mencekam. Rizky tidak menyapaku sama sekali. Dia tidur memunggungi diriku, napasnya berat menandakan kejengkolan yang belum padam. Aku berbaring menatap langit-langit kamar yang asing, menyadari betapa cepat topeng kehangatan seorang pria bisa terkelupas hanya karena godaan lembaran uang. Pria yang dulu berlutut penuh cinta di hadapan teman-teman kantorku di Jakarta kini terasa seperti sosok asing yang dingin dan penuh perhitungan.
Hari-hari berikutnya berjalan bak neraka yang terselubung ramah tamah palsu. Ibu Maria mulai melancarkan aksi sindiran halus namun menusuk. Ketika kerabat mereka datang berkunjung, Ibu Maria sengaja berbicara keras di ruang tamu agar aku mendengarnya dari dapur. Dia bercerita betapa dermawannya keluarga Santoso yang memberikan seserahan dua miliar rupiah, sementara menantu Jakarta mereka teramat pelit memegang uang bawaan satu setengah miliar untuk masa depan keluarga. Mereka membuatku merasa seperti benalu yang tak tahu diri.

Namun aku bertahan. Nasihat Papi terus bergema di kepalaku. Aku memantau lalu lintas rekeningku secara berkala, memastikan simpanan sebesar Rp15,5 miliar itu aman di bank nasional yang hanya bisa diakses menggunakan verifikasi biometrik milikku.
Satu bulan berlalu, strategi keluarga Santoso berubah. Melihat sikap dingin tak mempan menggoyahkan pendirianku, Rizky mendadak kembali bersikap manis. Dia membawakanku martabak kesukaanku, memelukku dari belakang, dan berbisik lembut memohon maaf atas sikap kasar ibunya. Dia mengaku sedang terdesak karena proyek kontraktor milik keluarganya sedang kekurangan modal usaha sebesar Rp1,5 miliar. Jika modal itu tidak disetor minggu ini, proyek proyek perumahan mereka akan disita bank dan nama baik keluarga Santoso akan hancur.
Rizky bahkan berlutut di depanku, persis seperti hari saat dia melamarku. Bedanya, kali ini air matanya terasa amis oleh manipulasi.
“Neng, tolong aku kali ini saja. Aku janji, dalam enam bulan uang Rp1,5 miliar milikmu akan kukembalikan beserta keuntungannya. Ini demi masa depan kita juga,” ratapnya penuh iba.
Aku menatap matanya dalam-dalam. Ada rasa iba yang sempat menyusup, namun peringatan Papi membentengiku. Aku teringat pesan Papi agar tidak lemah oleh rasa kasihan. Aku pun pura-pura mengalah dan berkata, “Baiklah, Ky. Tapi aku tidak bisa langsung mencairkannya tunai. Aku harus mentransfernya ke rekening perusahaan proyekmu secara resmi lengkap dengan surat perjanjian utang-piutang di depan notaris.”
Mendengar kata notaris, waut wajah Rizky mendadak berubah agak tegang, namun dia dengan cepat mengangguk setuju. “Boleh, tidak masalah! Besok kita ke notaris dan bank.”
Keesokan harinya, kami pergi ke salah satu cabang bank utama di kota Medan. Rizky dan Ibu Maria ikut mengantarku hingga ke pintu kantor bank. Wajah Ibu Maria berbinar penuh kemenangan, seolah-olah mangsa yang mereka intai akhirnya masuk ke dalam perangkap.
“Neng, Ibu tunggu di luar ya. Kirim semuanya sampai habis, jangan disisa-sisa,” bisik Ibu Maria penuh penekanan sebelum aku masuk.
Aku melangkah ke dalam bank sendirian. Di meja teller, aku tidak menarik uang Rp1,5 miliar seperti yang mereka duga. Sebaliknya, aku meminta customer service untuk mengecek seluruh asetku dan menyiapkan pemindahan dana besar-besaran kembali ke rekening Papi di Jakarta, menyisakan hanya beberapa juta untuk ongkos jalanku. Namun sebelum aku menyelesaikan transaksi tersebut, seorang manajer bank berjas rapi menghampiriku dengan raut wajah panik.
“Selamat pagi, Ibu Prawira. Bisakah Ibu ikut saya sebentar ke ruangan VIP? Ada hal sangat penting yang harus kami sampaikan terkait rekening keluarga Anda.”
Aku mengerutkan dahi lalu mengikutinya ke ruang rapat pribadi. Di sana, manajer bank menunjukkan sebuah dokumen legalitas pemblokiran rekening dan salinan berkas hukum yang membuat jantungku berdegup kencang.
“Ibu Prawira, sejam yang lalu tim hukum dari Jakarta dan kepolisian setempat berkoordinasi dengan bank kami. Kami baru saja menerima instruksi resmi untuk membekukan seluruh transaksi luar yang melibatkan keluarga Santoso,” terang sang manajer.
“Maksudnya bagaimana, Pak?” tanyaku bingung.
Manajer itu membalikkan layar komputernya ke arahku. “Keluarga Santoso, termasuk Ibu Maria dan suami Anda, Rizky Santoso, saat ini sedang dalam penyelidikan aktif kepolisian atas kasus penipuan investasi bodong berkedok proyek perumahan dan tindak pidana pencucian uang. Modus operandi mereka adalah menargetkan wanita-wanita dari keluarga berada di luar daerah untuk dinikahi, lalu menguras seluruh uang bawaan dan harta mereka dengan alasan investasi atau modal usaha.”
Pikiranku mendadak kosong. Darahku seakan berhenti mengalir.
“Apa?” bisikku lirih, tak percaya pada apa yang baru saja kudengar.
“Benar, Bu. Rizky Santoso sebenarnya sudah pernah menikah secara siri dua kali sebelumnya di kota lain. Semua mantan istrinya ditipu hingga bangkrut menggunakan pola yang persis sama. Seserahan dua miliar rupiah yang mereka pamerkan saat pernikahan Ibu itu sebenarnya adalah uang hasil kejahatan dari korban sebelumnya yang sengaja diputar untuk memikat keluarga Ibu.”
Pernyataan itu menghantamku bagaikan godam berat. Seluruh kenangan manis selama tiga tahun berpacaran, momen LDR, dan aksi berlututnya yang dramatis di kantor Jakarta seketika berubah menjadi lelucon kejam yang dirancang sangat rapi. Mereka tidak pernah mencintaiku. Dari awal, aku hanyalah target operasi finansial mereka.
“Lalu… bagaimana dengan Papi?” tanyaku dengan suara gemetar.
Manajer bank itu tersenyum tipis. “Ayah Anda, Bapak Prawira, sudah mencurigai rekam jejak keluarga Santoso sejak awal rencana pernikahan Anda. Beliau menyewa detektif swasta dan tim hukum terbaik untuk menyelidiki latar belakang Rizky. Papi Anda sengaja menyetujui pernikahan ini dan mengirimkan uang Rp15,5 miliar ke rekening Anda untuk memancing keluar seluruh jaringan penipuan mereka hingga ke akar-akarnya.”
Air mataku menetes deras. Sekarang segalanya menjadi sangat terang benderang. Perintah Papi agar aku hanya mengaku punya uang Rp1,5 miliar bukanlah karena beliau cemas atau pelit. Papi sedang memasang umpan kecil untuk menguji seberapa cepat serigala-serigala itu akan menunjukkan taringnya. Papi tahu, jika aku mengaku punya Rp15,5 miliar, mereka mungkin akan menggunakan cara yang lebih berbahaya atau nekat untuk merebut seluruh harta itu. Angka Rp1,5 miliar adalah batas kesabaran dan tes ketamakan yang dirancang Papi untuk melindungiku sekaligus menjebak mereka.
“Polisi sudah bersiap di luar gedung bank ini, Bu. Kami mohon Ibu tetap tenang dan berada di ruangan ini demi keselamatan Ibu,” tambah manajer bank itu lembut.
Dari balik kaca transparansi satu arah ruang VIP, aku dapat melihat ke arah area parkir luar bank. Di sana, Rizky dan Ibu Maria sedang berdiri bersedekap dengan senyum lebar di wajah mereka, menungguku keluar membawa bukti transfer modal usaha yang mereka impikan.
Beberapa detik kemudian, tiga mobil polisi berwarna hitam mendadak berhenti dan mengepung posisi mereka. Beberapa petugas berseragam dan berpakaian preman keluar dengan cepat, mengacungkan surat penangkapan, lalu memiting tangan Rizky dan Ibu Maria di tempat.
Wajah Rizky yang semula penuh percaya diri berubah menjadi pucat pasi seketika. Dia berteriak kebingungan saat borgol besi mengunci kedua pergelangan tangannya. Ibu Maria menjerit histeris, meronta-ronta di atas aspal parkiran sambil memanggil nama anaknya. Kejadian itu berlangsung begitu cepat, disaksikan oleh orang-orang yang melintas di depan bank.
Aku berdiri rapat di balik kaca, memperhatikan pria yang pernah kubayangkan akan menjadi pendamping hidupku selamanya. Tidak ada lagi rasa sedih atau patah hati yang tersisa di dadaku, yang ada hanyalah rasa lega yang teramat sangat dan rasa syukur atas perlindungan seorang ayah.
Ponsel di genggamanku bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Papi.
Aku mengangkat telepon itu dengan tangan yang masih gemetar, lalu menempelkannya ke telinga.
“Neng?” suara Papi yang berat dan hangat terdengar di seberang sana.
“Pi…” suaraku tercekat di tenggorokan, tak sanggup menahan tangis keharuan.
“Semuanya sudah selesai, Neng. Pengacara Papi dan polisi sudah mengamankan mereka. Sekarang, keluar dari bank itu, ada mobil jemputan Papi yang menunggu di pintu samping. Pulanglah ke Jakarta, Nak. Rumah kita selalu terbuka untukmu.”
Aku mengusap air mata di pipiku, menatap ke arah luar di mana Rizky dan ibunya sedang diseret masuk ke dalam mobil tahanan kepolisian. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan hembusan kebebasan yang nyata untuk pertama kalinya dalam satu bulan terakhir.
“Iya, Pi. Neng pulang sekarang.”
Aku mematikan sambungan telepon, membalikkan badan, dan melangkah mantap meninggalkan ruangan itu. Aku berjalan menuju pintu keluar tanpa pernah menoleh lagi ke belakang. Uang mungkin bisa membeli kebohongan dan sandiwara gila dari orang-orang yang tamak, namun kasih sayang tulus dan ketajaman intuisi seorang ayah adalah perlindungan terbaik yang tidak akan pernah bisa dinilai dengan rupiah sebesar apa pun.
