Dari pintu dapur, aku memperhatikan Kakek. Tangannya sedikit gemetar saat memotong talas untuk membuat sayur asem.
Ini sudah ke seratus kalinya Kakek melakukan hal ini selama beberapa bulan terakhir, meskipun Kakek tahu saat ia mendekati meja makan, mungkin hanya tatapan sinis atau pertanyaan “Siapa kamu?” yang akan menyambutnya dari Nenek.
“Kek, biar aku saja yang lanjutkan,” bisikku.
Kakek hanya tersenyum, senyuman lelah namun penuh keyakinan.
“Tidak apa-apa, Cucu. Ini makanan kesukaan Nenekmu. Kalau dia mencium aroma asam segar ini, siapa tahu ingatannya bisa kembali, walau cuma sebentar.”
Setelah selesai memasak, Kakek memetik setangkai mawar kuning segar dari halaman—bunga favorit Nenek sejak masa mudanya. Kakek merapikan pakaiannya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
Aku mengikutinya, hanya mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit.

“Kamu sudah bangun, Sayang?” sapa Kakek dengan lembut. Ia meletakkan bunga mawar itu di atas meja samping tempat tidur.
“Aku memasakkan sayur asem untukmu. Masih hangat.”
Nenek menoleh. Namun tidak ada binar di matanya. “Siapa kamu? Kenapa kamu selalu ada di sini? Aku kan sudah bilang, aku tidak kenal kamu! Cepat keluar!”
Sangat menyakitkan melihatnya. Nenek menepis tangan Kakek hingga sedikit kuah terpercik dari nampan. Namun Kakek tidak marah sedikit pun. Ia berlutut perlahan-lahan untuk menyapu dan membersihkan lantai.
“Maaf ya, aku tinggalkan makanannya di sini. Makan yang banyak, ya.”
Malam demi malam, pemandangan yang sama terus terulang. Kadang Nenek memanggilnya pencuri; kadang Nenek mengusirnya seperti orang asing. Namun setiap pagi, Kakek tetap bangun lebih awal untuk memetik bunga dan menanak nasi sendiri.
Hingga hari itu tiba.
Saat itu makan siang, dan seperti biasa, Kakek menyajikan sayur asem yang masih hangat. Nenek duduk di depan jendela, tatapannya tampak jauh menerawang. Saat Kakek mendekat sambil membawa setangkai mawar kuning, sejurus kemudian waktu seolah berhenti.
Nenek menatap bunga mawar itu. Kemudian, ia beralih menatap wajah Kakek. Lama sekali. Seolah ada sesuatu yang sedang ia gali dari dalam pikirannya yang sudah lama terkunci.
“Mas?” panggil Nenek pelan. Panggilan kesayangan Nenek untuk Kakek sewaktu mereka masih muda.
Kakek terkejut. Mangkuk di tangannya hampir saja terjatuh. “Ada apa, Sayang?”
“Lama sekali kamu memasak… aku sudah lapar,” kata Nenek, diselingi senyuman—senyuman tulus yang hanya pernah ia berikan kepada Kakek.
“Lalu mawar ini, kenapa cuma satu tangkai? Bukankah sudah kubilang, aku mau buket bunga?”
Kakek patung di tempatnya berdiri. Air mata yang sudah ditahannya selama berbulan-bulan, seketika tumpah tak terbendung.
Kakek tidak bisa berkata-kata. Ia terisak keras, bukan karena sedih, melainkan karena akhirnya, wanita yang sangat dicintainya telah kembali pulang.
Nenek mendekat, memegang pipi Kakek yang basah oleh air mata, dan tanpa ragu sedikit pun, mencium bibir Kakek. Sebuah ciuman yang penuh dengan kenangan, seolah waktu tidak pernah berlalu, seolah ia tidak pernah hilang.
Aku terduduk di lantai luar pintu, ikut menangis sambil tersenvum. Di dunia yang perlahan-lahan mulai melupakan, Kakek membuktikan bahwa cinta adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh penyakit apa pun.
Hati mereka kembali menyatu, di antara harumnya mawar kuning dan aroma asam segar dari sayur asem favorit Nenek.
Siang itu terasa sangat hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rumah tua kami kembali dihiasi gelak tawa. Nenek makan dengan sangat lahap, melahap setiap sendok sayur asem buatan Kakek sambil sesekali memuji keahlian memasak pria di hadapannya. Kakek tidak pernah melepaskan pandangannya dari Nenek. Tatapannya begitu dalam, seolah takut jika ia berkedip, wanita yang amat dicintainya itu akan kembali menghilang ke dalam kegelapan penyakitnya.
Sore harinya, Nenek meminta Kakek membawanya jalan-jalan ke taman belakang. Kakek dengan sigap menggandeng tangan Nenek, jemari mereka saling bertautan erat seperti pasangan muda yang baru dimabuk asmara. Mereka duduk di kursi kayu di bawah pohon mangga, menikmati angin sore yang berembus pelan. Nenek menyandarkan kepalanya di bahu Kakek, menceritakan kembali kenangan masa lalu mereka saat pertama kali bertemu di stasiun kereta puluhan tahun yang lalu.
Semua hal yang diceritakan Nenek sangat mendetail. Ia mengingat nama tempat, tanggal, bahkan warna baju yang dikenakan Kakek waktu itu. Kakek mendengarkan sambil tersenyum lebar, sesekali mengusap lembut rambut Nenek yang telah memutih seluruhnya. Aku memperhatikan mereka dari balik jendela ruang tamu, merasa bersyukur atas keajaiban yang akhirnya menyapa keluarga kami.
Ketika malam mulai melingkupi kota, Kakek membantu Nenek berbaring di tempat tidur. Nenek memegang erat tangan Kakek, seolah enggan berpisah meski hanya untuk tidur.
“Mas,” bisik Nenek halus, suaranya sangat tenang.
“Iya, Sayang? Aku di sini,” jawab Kakek sambil mengecup punggung tangan Nenek.
“Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih karena sudah bersabar menyayangiku, bahkan saat aku lupa siapa diriku sendiri.”
Kakek tersenyum haru. “Aku akan selalu ada di sini, tidak akan ke mana-mana.”
Nenek mengangguk pelan, lalu memejamkan matanya dengan napas yang teratur dan raut wajah yang sangat damai. Kakek membisikkan doa, mencium keningnya, lalu ikut berbaring di sampingnya sambil memeluk pinggang wanita yang menjadi belahan jiwanya itu.
Keesokan paginya, matahari terbit membawa sinar keemasan yang menembus celah jendela. Aku terbangun lebih awal untuk membantu Kakek menyiapkan sarapan. Namun, saat melewati kamar mereka, aku melihat pintu terbuka lebar. Suasana di dalam begitu hening.
Kakek duduk di tepi tempat tidur, menggenggam erat tangan Nenek. Wajah Kakek tampak begitu tenang, tanpa ada lagi tangisan atau raut lelah. Di atas meja samping tempat tidur, kelopak mawar kuning kemarin telah gugur sepenuhnya, menyebarkan aroma wangi yang lembut di seluruh ruangan.
Aku mendekat dengan langkah ragu. “Kek…?”
Kakek menoleh padaku, tersenyum amat manis. “Nenekmu sudah tertidur lelap, Cucu. Kali ini, dia tidak akan pernah lupa lagi padaku.”
Aku tertegun. Mengerti maksud ucapan Kakek, dadaku seketika bergemuruh hebat dan air mata menyengat mataku. Dokter yang datang sejam kemudian mengonfirmasi bahwa Nenek telah berpulang dengan sangat tenang dalam tidurnya.
Saat itu juga, aku baru menyadari sebuah kebenaran yang menggetarkan jiwa. Momen ajaib kemarin siang—saat Nenek mendadak mengingat segalanya, mengenali Kakek, menagih buket mawar, dan mencium bibirnya—bukanlah sekadar keajaiban biasa. Itu adalah kebangkitan terakhir dari jiwanya, sebuah fenomena kejelasan sesaat sebelum perpisahan abadi. Nenek mengumpulkan seluruh sisa memorinya yang tersisa di ambang batas hayat hanya untuk satu tujuan: mengucap perpisahan dan memberikan ciuman terakhir kepada cinta sejatina, agar Kakek tahu bahwa cintanya tidak pernah sia-sia.
