Hujan masih menghantam flyover ketika borgol dingin mengunci kedua pergelangan tanganku.
Aku tidak melawan.
Bukan karena aku menyerah, melainkan karena tulisan merah yang terus muncul di depan mataku hanya mengatakan satu hal.
Diam.
Pria berseragam tim penyelamat berdiri di belakang dua polisi. Namanya tertulis di dada, Raka Pradana. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melihat mayat seorang perempuan dengan gelang pernikahan yang sama seperti miliknya.

“Aman, Pak,” katanya kepada polisi. “Saya kenal prosedurnya. Jangan biarkan tersangka menyentuh barang bukti lagi.”
Tersangka.
Kata itu terasa lebih menyakitkan daripada borgol.
“Aku bahkan tidak mengenal perempuan itu,” kataku.
Raka menatapku sejenak. Tidak ada keterkejutan di matanya.
“Semua pelaku bilang begitu.”
Pria berkemeja putih yang sejak awal mengaku sebagai kakak korban masih duduk di aspal sambil menangis. Namanya, menurut polisi, Denny. Ketika salah seorang petugas menanyakan identitas perempuan itu, Denny menjawab dengan suara bergetar.
“Namanya Laras. Adik saya.”
Tulisan merah muncul lagi.
Dia berbohong.
Laras tidak punya saudara laki-laki.
Aku menahan napas.
Seorang polisi bernama Inspektur Bima memasukkanku ke mobil patroli. Namun sebelum pintu ditutup, aku sempat melihat seorang petugas perempuan mengambil ponsel dari dalam tas korban.
Layar ponsel menyala.
Ada dua puluh tiga panggilan tak terjawab dari seseorang bernama Mama.
Aku tidak tahu mengapa, tetapi dada terasa sesak.
Beberapa jam kemudian aku duduk di ruang pemeriksaan sebuah kantor polisi di Jakarta Timur. Hujan belum berhenti. Bajuku basah, rambutku menempel di dahi, dan kartu izin dokter hewanku telah dimasukkan ke kantong barang bukti.
Bima duduk di depanku.
“Sidik jarimu ditemukan di gagang pintu SUV.”
Aku langsung menatapnya.
“Itu mustahil.”
“Kamu tadi masuk ke mobil itu.”
“Setelah mereka menyeret saya.”
“Dan kartu identitasmu ada di bawah tubuh korban.”
“Seseorang menaruhnya.”
“Pistol ditemukan di tubuh korban. Kamu punya penjelasan?”
Aku menggeleng.
“Periksa plastiknya.”
Bima mengerutkan kening.
“Apa?”
“Plastik yang membungkus pistol. Kalau mereka ingin menjebak saya, mereka membutuhkan sidik jari saya. Tapi saya tidak pernah menyentuh pistol itu.”
Bima terdiam.
Tulisan merah kembali muncul.
Dia belum sepenuhnya percaya kepadamu.
Tapi dia juga tidak percaya kepada Raka.
Aku menelan ludah.
“Periksa juga suhu tubuh korban.”
Ekspresi Bima berubah tipis.
“Apa maksudmu?”
“AC di SUV menyala maksimal. Mereka sengaja mendinginkan tubuh Laras supaya waktu kematiannya lebih sulit diperkirakan.”
Untuk pertama kalinya, Bima berhenti menulis.
“Bagaimana kamu tahu?”
Aku tidak mungkin mengatakan bahwa tulisan merah misterius memberi tahu semuanya.
“Saya dokter hewan. Saya terbiasa melihat perubahan tubuh setelah kematian.”
Itu tidak sepenuhnya bohong.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka.
Seorang petugas perempuan masuk membawa sebuah tablet.
“Pak, ada masalah dengan keterangan saksi.”
Dia memperlihatkan rekaman wanita tua yang merekam kejadian di flyover.
Dalam video itu terdengar Denny berteriak bahwa pistol jatuh dari tubuhku.
Namun ketika rekaman diperlambat, pistol ternyata sudah terlihat di lantai SUV sebelum aku masuk ke kendaraan.
Wajah Bima berubah.
“Panggil Denny.”
Petugas itu menggeleng.
“Dia hilang.”
“Apa?”
“Katanya mau ke toilet. Pintu belakang ditemukan terbuka.”
Jantungku berdetak kencang.
Tulisan merah muncul.
Dia tidak kabur.
Dia sedang dibungkam.
Lima belas menit kemudian, radio polisi berbunyi.
Seorang pria ditemukan tak sadarkan diri di gang belakang kantor polisi.
Denny.
Dia masih hidup, tetapi mengalami luka parah di kepala.
Sebelum ambulans membawanya pergi, dia sempat membuka mata.
Aku berdiri beberapa meter darinya ketika bibirnya bergerak.
“Raka…”
Bima mendekat.
“Apa?”
Denny menarik napas pendek.
“Raka membunuh Laras.”
Ruangan mendadak sunyi.
Lalu Denny pingsan.
Malam itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada perangkap terhadap seorang dokter hewan.
Polisi mulai memeriksa identitas Laras. Dia ternyata seorang akuntan berusia dua puluh sembilan tahun yang bekerja di sebuah perusahaan logistik swasta. Tidak ada catatan kriminal. Tidak ada saudara laki-laki bernama Denny.
Dan tiga bulan sebelumnya, Laras menikah secara sipil dengan Raka Pradana.
Bima mengusap wajahnya.
“Kalau Raka suaminya, kenapa Denny mengaku sebagai kakaknya?”
“Karena mereka butuh cerita sederhana,” jawabku. “Wanita hamil, kakak panik, dokter menolak menolong. Semua orang langsung marah.”
Bima menatapku.
“Kamu mulai terdengar seperti penyidik.”
“Saya hanya hampir dipenjara karena mereka.”
Pukul delapan pagi, hasil autopsi awal datang.
Laras diperkirakan meninggal antara pukul sembilan dan sebelas malam.
Jauh sebelum SUV itu sampai di flyover.
Penyebab kematiannya adalah benturan keras di belakang kepala.
Tidak ada tanda kecelakaan kendaraan.
Dan Laras memang tidak hamil.
Bima langsung memerintahkan penahanan terhadap Raka.
Namun dia sudah menghilang.
Teleponnya mati.
Alamat rumahnya kosong.
Lemari pakaian dibersihkan.
Seolah dia sudah merencanakan pelarian sebelum semua ini dimulai.
Aku akhirnya dibebaskan sementara karena bukti mulai mengarah ke orang lain.
Ketika keluar dari kantor polisi, ibuku sudah menunggu.
Begitu melihatku, ia langsung memelukku.
“Adrian, Ibu hampir mati ketakutan.”
Aku tertawa kecil meski tenggorokanku terasa berat.
“Aku juga.”
Ibuku menepuk lenganku.
“Kamu harus berhenti bekerja malam-malam begini.”
Aku ingin menjawab, tetapi tulisan merah tiba-tiba muncul.
Jangan pulang.
Mereka sedang menunggu di rumahmu.
Aku langsung membeku.
“Ibu datang sendiri?”
“Tidak. Pak Arman mengantar.”
Pak Arman adalah tetangga kami yang bekerja sebagai sopir.
“Mobilnya di mana?”
“Di parkiran depan.”
Aku menarik tangan ibuku.
“Kita jangan pulang dulu.”
Wajahnya berubah.
“Kenapa?”
“Percaya saja.”
Aku menelepon Bima.
Dua puluh menit kemudian polisi mendatangi rumahku.
Mereka menemukan pintu belakang terbuka.
Di kamar tidurku, seseorang menaruh tas berisi uang tunai hampir satu miliar rupiah serta beberapa dokumen keuangan atas nama Laras.
Perangkap kedua.
Kalau aku pulang lebih dulu, semua itu akan ditemukan seolah-olah aku terlibat langsung.
Namun kali ini pelaku membuat kesalahan.
Kamera CCTV tetangga merekam sebuah motor berhenti di depan rumah sekitar pukul enam pagi.
Pengendaranya mengenakan helm hitam dan jaket kurir.
Pelat motornya palsu.
Tapi ketika ia menoleh, kamera menangkap sebagian wajah.
Denny.
“Aneh,” kata Bima ketika melihat rekaman. “Dia ditemukan hampir mati di kantor polisi sekitar waktu yang sama.”
Aku menatap layar lebih dekat.
Tulisan merah muncul.
Bukan Denny.
Kembaran.
Aku hampir menjatuhkan kopi.
“Cari data keluarga Denny.”
Bima menatapku heran.
“Kenapa?”
“Dia mungkin punya saudara kembar.”
Pemeriksaan data kependudukan menemukan jawabannya.
Denny Saputra memiliki saudara kembar identik bernama Doni Saputra.
Keduanya pernah bekerja sebagai pengemudi di perusahaan logistik tempat Laras bekerja.
Doni dipecat setahun lalu karena pencurian barang.
Denny mengundurkan diri dua bulan kemudian.
Bima berdiri.
“Kita salah mengejar orang.”
Aku menggeleng perlahan.
“Tidak. Kita hanya belum tahu siapa yang memainkan siapa.”
Ketika Denny sadar di rumah sakit, polisi memperketat penjagaan.
Kali ini ia akhirnya bicara.
Laras menemukan transaksi fiktif bernilai puluhan miliar rupiah di perusahaan tempatnya bekerja. Uang itu dialihkan melalui perusahaan cangkang yang dikendalikan seorang direktur dan beberapa orang dalam.
Raka mengetahui temuan istrinya.
Awalnya Laras percaya suaminya akan melindunginya.
Ternyata Raka justru ikut dalam jaringan tersebut.
Ia menjadi penghubung yang mengatur kendaraan, dokumen palsu, bahkan memanfaatkan aksesnya sebagai anggota tim penyelamat untuk bergerak tanpa banyak dicurigai.
Laras berniat membawa bukti ke polisi.
Malam sebelum kematiannya, ia meminta bantuan Denny, mantan sopir perusahaan yang pernah melihat transaksi ilegal tersebut.
Namun Doni, saudara kembarnya, sudah direkrut Raka.
“Kenapa kamu ikut menjebak saya?” tanyaku ketika Bima mengizinkanku menemui Denny.
Wajahnya penuh lebam.
Denny menunduk.
“Karena mereka mengancam anak saya.”
“Jadi semua di flyover sudah direncanakan?”
Ia mengangguk.
“Mereka mencari orang yang kebetulan lewat sendirian. Harus seseorang dengan profesi medis supaya ceritanya masuk akal.”
“Lalu mereka melihat mobil saya?”
“Kotak peralatan dokter hewan terlihat dari kaca belakang.”
Aku mengepalkan tangan.
“Kenapa kartu izin saya sudah ada di bawah tubuh Laras?”
Denny mulai menangis.
“Doni mencurinya di SPBU sekitar satu jam sebelumnya.”
Aku teringat berhenti membeli kopi saat tengah malam. Seorang pria sempat menabrak bahuku di dekat kasir.
Saat itu aku menganggapnya kecelakaan.
Semua sudah dimulai jauh sebelum flyover.
“Tapi kenapa Raka ingin aku ditangkap?”
“Bukan cuma kamu.”
Denny memandang Bima.
“Raka butuh seorang tersangka yang tidak punya hubungan dengan Laras. Setelah polisi berhenti menggali, dia bisa menghancurkan semua bukti yang Laras simpan.”
“Di mana buktinya?”
Denny menggeleng.
“Itulah masalahnya. Tidak ada yang tahu.”
Tulisan merah muncul.
Laras meninggalkan petunjuk di tempat yang hanya suaminya abaikan.
Aku memikirkan foto barang bukti.
Tas mahal.
Pil putih.
Gelang pernikahan.
Ponsel.
Lalu aku teringat sesuatu.
Ketika pertama kali melihat tangan Laras menggantung dari kursi, kukunya tampak kotor oleh sesuatu berwarna cokelat.
Bukan darah.
Tanah.
Aku meminta Bima menunjukkan foto tubuh korban.
Di bawah kuku Laras memang ada sisa tanah dan serpihan kecil berwarna hijau.
Hasil laboratorium menyebutnya lumut.
“Rumah mereka punya halaman?”
“Tidak,” jawab Bima. “Apartemen.”
“Tempat kerjanya?”
“Gedung perkantoran.”
Tulisan merah muncul.
Tempat terakhir Laras merasa aman.
Kami memeriksa riwayat lokasi ponselnya.
Dua hari sebelum meninggal, Laras beberapa kali mengunjungi sebuah klinik hewan kecil di Bogor.
Aku terpaku.
“Kenapa akuntan pergi ke klinik hewan?”
Bima langsung menghubungi pemiliknya.
Jawabannya sederhana.
Laras membawa seekor anjing golden retriever bernama Milo ke sana.
Anjing itu milik ibunya.
Kami mendatangi klinik sore itu.
Dokter yang bertugas mengingat Laras.
“Dia datang sendirian. Kelihatannya takut. Dia bahkan bertanya apakah kami punya tempat penitipan hewan dengan loker pribadi.”
Kami memeriksa loker.
Nomor tujuh belas masih terkunci.
Di dalamnya hanya ada kantong makanan anjing, sebuah kalung hewan, dan flashdisk kecil berbentuk tulang.
Flashdisk itu berisi semuanya.
Rekening palsu.
Daftar nama.
Rekaman percakapan.
Bukti transfer.
Termasuk rekaman suara Raka.
“Kalau Laras buka mulut, habisi dia. Kita cari kambing hitam di jalan.”
Bima tidak berkata apa-apa selama hampir satu menit.
Kemudian ia memerintahkan operasi penangkapan.
Raka akhirnya ditemukan malam itu di sebuah gudang kosong dekat Pelabuhan Tanjung Priok.
Ia tidak sendirian.
Doni bersamanya.
Mereka berencana meninggalkan Jakarta menggunakan truk kontainer.
Ketika polisi mengepung gudang, Doni menyerah.
Raka mencoba kabur melalui pintu belakang.
Namun saat berlari melewati tumpukan peti, kakinya terpeleset.
Ia jatuh tepat di depan Bima.
Aku tidak berada di sana ketika dia ditangkap.
Tapi Bima mengirimkan satu foto kepadaku.
Raka duduk di lantai dengan tangan diborgol.
Gelang pernikahannya masih terpasang.
Beberapa minggu kemudian, aku menghadiri pemakaman Laras bersama ibunya.
Aku tidak mengenalnya.
Tetapi entah mengapa aku merasa perempuan itu telah menyeretku masuk ke dalam perjuangan terakhirnya.
Ibunya, Bu Ratih, memegang tanganku.
“Polisi bilang kalau Mas Adrian tidak bertahan malam itu, mereka mungkin menganggap kematian Laras sebagai kasus biasa.”
Aku menunduk.
“Saya sebenarnya hampir takut untuk melawan.”
“Tapi kamu tetap melakukannya.”
Aku menatap foto Laras di dekat bunga-bunga putih.
“Dia juga melakukannya.”
Sebelum pergi, Bu Ratih menyerahkan sebuah amplop.
Di dalamnya terdapat foto Laras bersama seekor golden retriever.
Di belakang foto ada tulisan tangan.
Kalau suatu hari aku tidak bisa pulang, jangan percaya pada orang yang paling keras menangis. Percayalah pada orang yang berani bertanya ketika semua orang sudah memilih jawaban yang mudah.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Tulisan merah yang selama berminggu-minggu selalu muncul di depan mataku tiba-tiba muncul sekali lagi.
Kali ini tidak merah.
Warnanya putih.
Kamu tidak lagi membutuhkanku.
Aku berdiri membeku.
Kemudian tulisan itu perlahan menghilang.
Sejak hari itu, aku tidak pernah melihat pesan aneh apa pun lagi.
Bertahun-tahun kemudian aku masih bekerja sebagai dokter hewan. Aku masih keluar malam jika ada sapi yang sulit melahirkan, anjing yang tertabrak kendaraan, atau peternak yang menelepon dalam keadaan panik.
Namun setiap kali seseorang memaksaku mengambil keputusan dengan cepat, menggunakan tangisan, amarah, rasa bersalah, atau kerumunan untuk memaksaku percaya pada satu cerita, aku selalu teringat flyover itu.
Aku teringat Laras.
Aku teringat pistol di balik perut palsu.
Dan aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di fakultas mana pun.
Bahaya tidak selalu datang dengan wajah seorang penjahat.
Kadang ia datang sambil berlutut di tengah hujan.
Menangis.
Memohon pertolongan.
Dan meminta kita menjadi orang baik tepat pada saat kebaikan kita sedang dipakai sebagai senjata.
