Pada malam pernikahan mereka, ayah mertuanya tiba-tiba menyelipkan sepuluh lembar uang pecahan Rp500.000 ke tangan Ella sambil berkata dengan suara gemetar, “Kalau kamu ingin tetap hidup, larilah dari rumah ini sekarang juga…”

Kata-kata itu menggantung di udara, dingin dan mencekam, membuat jantung Ella serasa berhenti berdetak. Sepuluh lembar uang pecahan Rp500.000 di tangan kanannya terasa begitu nyata, namun situasinya bagaikan mimpi buruk yang terjebak di siang bolong. Tuan Santos menatapnya dengan keputusasaan yang mendalam di matanya yang sudah berkerut, seolah-olah ia sedang menatap seseorang yang baru saja melangkah ke ujung tebing.

Belum sempat Ella mencerna peringatan itu, Marco yang berdiri beberapa langkah di belakang ayahnya perlahan memiringkan kepalanya. Senyuman lebar yang terukir di wajah pria itu sama sekali tidak mencapai matanya; tatapannya kosong, datar, dan memancarkan sesuatu yang mengerikan. Tanpa pikir panjang lagi, didorong oleh insting bertahan hidup yang menjerit-jerit dalam dadanya, Ella menyambar tas kecilnya di atas meja rias, berbalik, dan langsung berlari menerobos pintu kamar yang terbuka lebar. Suara langkah kaki berat terdengar membanting lantai di belakangnya, disusul oleh suara serak Marco yang mulai memanggil namanya dengan nada yang semakin meninggi, memanggilnya kembali ke dalam kamar pengantin yang kini berubah menjadi sarang monster.

Ella berlari menuruni tangga kayu rumah besar berlantai dua itu dengan napas memburu dan air mata yang tumpah membasahi pipinya. Suasana rumah yang tadinya didekorasi dengan megah untuk pesta pernikahan kini terasa sangat kelam dan menyesakkan.

Di lantai bawah, kegelapan mendominasi karena sebagian besar lampu telah dipadamkan oleh para tamu yang sudah pulang. Ia bisa mendengar suara Tuan Santos berteriak di lantai atas, berusaha menahan Marco agar tidak mengejarnya. Namun, teriakan itu tiba-tiba terhenti, digantikan oleh suara hantaman keras dan suara benda pecah yang membuat bulu kuduk Ella merinding seketika.

Ella tidak berani menoleh ke belakang. Kakinya yang mengenakan gaun pengantin panjang terus melangkah, sesekali tersandung ujung kainnya sendiri hingga ia nyaris jatuh. Ia berhasil mencapai pintu utama, memutar gagang pintu dengan tangan yang bergetar hebat, lalu mendorongnya hingga terbuka lebar dan melompat keluar ke halaman depan yang disinari cahaya bulan sabit.

Udara malam Kota San Miguel yang dingin menyengat kulitnya yang berkeringat. Ella berlari tanpa arah di jalanan aspal yang sepi, menjauhi rumah megah keluarga Marco sejauh mungkin. Setelah berlari selama hampir dua puluh menit hingga napasnya terasa seperti membakar dadanya, Ella akhirnya berhenti di sebuah warung kopi kecil yang masih buka di sudut jalan yang agak remang-remang. Pemilik warung, seorang pria paruh baya bernama Pak Joko, terkejut melihat seorang wanita bergaun pengantin yang tampak begitu kacau, pucat pasi, dan menangis sesenggukan berlari mendekatinya.

Ella meminta izin untuk meminjam telepon genggam guna menghubungi pihak kepolisian atau seseorang yang bisa menyelamatkannya. Namun, saat ia mulai menceritakan bahwa ia baru saja kabur dari rumah keluarga Santos, raut wajah Pak Joko tiba-tiba berubah drastis dari rasa iba menjadi ketakutan yang luar biasa. Pria tua itu bahkan menolak untuk memberikan teleponnya dan menyuruh Ella pergi menjauh dari area tersebut sambil berbisik gemetar bahwa tidak ada seorang pun di kota itu yang berani mencampuri urusan keluarga Santos.

Merasa terisolasi dan tidak ada tempat untuk meminta pertolongan instan, Ella teringat pada ponsel miliknya yang tertinggal di dalam tas kecil yang ia bawa dari rumah. Ia segera merogoh tas tersebut dan mendapati ponselnya masih ada di sana. Dengan jemari yang masih gemetar hebat, ia mendengarkan pesan suara dan mencoba menghubungi sahabat karibnya, Rini, yang tinggal tidak terlalu jauh dari sana. Beruntung, setelah beberapa kali panggilan yang tidak dijawab karena hari sudah larut, Rini akhirnya mengangkat telepon. Mendengar suara Ella yang tersengal-sengal dan ketakutan luar biasa, Rini langsung meminta Ella untuk tetap berada di tempatnya dan berjanji akan segera menjemputnya menggunakan mobil. Waktu penantian selama lima belas menit terasa bagaikan berjam-jam bagi Ella yang terus mengawasi setiap kendaraan yang lewat, takut kalau-kalau mobil hitam milik keluarga Marco tiba-tiba muncul dari tikungan jalan.

Begitu mobil sedan merah Rini berhenti di tepi jalan, Ella langsung membuka pintu dan melompat masuk ke dalam, meminta Rini untuk segera tancap gas meninggalkan tempat itu. Di dalam mobil, sambil menangis histeris, Ella menceritakan semuanya, mulai dari tatapan aneh Marco, rambut palsu dan riasan yang ia lepas di depan cermin, hingga kemunculan Tuan Santos yang menyelipkan uang dan menyuruhnya lari untuk menyelamatkan nyawanya. Rini mendengarkan dengan seksama, alisnya berkerut dalam, mencoba menenangkan sahabatnya yang masih shock berat. Rini membawa Ella pulang ke apartemennya yang aman, memberinya pakaian ganti yang nyaman, secangkir teh hangat, dan membiarkan Ella tidur di kamar tamu untuk memulihkan diri dari malam yang penuh teror tersebut.

Keesokan paginya, matahari pagi bersinar terang, namun tidak mampu menghangatkan perasaan gelisah yang masih menggelayuti benak Ella. Ketika ia bangun, ia mendapati Rini sedang duduk di ruang tengah sambil menatap layar laptop dengan wajah serius. Rini memanggil Ella dan menunjukkan sebuah artikel berita lama dari arsip digital sebuah surat kabar lokal di Kota San Miguel. Berita tersebut bertanggal sepuluh tahun lalu, dengan tajuk utama yang membuat darah Ella mendadak terasa dingin. Artikel itu membahas tentang tragedi misterius di keluarga Santos. Ibu Marco ternyata tidak meninggal karena sakit seperti yang diceritakan selama ini, melainkan tewas dibunuh secara brutal di kamar pengantin yang sama persis dengan kamar tempat Ella tidur semalam. Yang lebih mengejutkan lagi, pelaku pembunuhan itu adalah Marco sendiri, yang pada saat itu baru berusia belasan tahun dan mengalami gangguan kejiwaan akut yang disembunyikan rapat-rapat oleh keluarganya dari publik dengan menyuap pihak berwenang.

Ella terbelalak, menutup mulutnya dengan tangan yang kembali gemetar. Segala keanehan yang ia rasakan malam tadi mendadak menemukan jawabannya. Tatapan kosong tanpa kedip, senyuman tanpa suara, hingga tangan yang terasa dingin dan berat saat menyentuh pipinya, semuanya adalah ciri-ciri dari seorang pria dengan gangguan mental berbahaya yang tidak pernah mendapatkan perawatan medis yang layak karena kekayaan dan pengaruh ayahnya. Tuan Santos membiarkan putranya tumbuh dewasa dan menikahi wanita-wanita pilihan dengan harapan kondisi kejiwaan Marco bisa stabil, namun siklus mengerikan itu selalu berulang setiap kali Marco melihat wajah asli istrinya di balik riasan pengantin. Sepuluh lembar uang pecahan Rp500.000 yang diberikan Tuan Santos bukanlah sekadar uang pesangon, melainkan biaya pemakaman atau harga nyawa yang dibayarkan di muka bagi setiap wanita malang yang terjebak dalam perangkap maut pernikahan tersebut.

Sebelum Ella sempat mencerna sepenuhnya kengerian dari fakta baru itu, ponsel Rini tiba-tiba berdering nyaring di atas meja. Rini mengangkat panggilan tersebut, namun ekspresi wajahnya seketika berubah pucat pasi hingga ponselnya hampir terlepas dari genggaman. Suara di ujung telepon bukanlah suara manusia biasa yang ramah, melainkan suara berat dan serak yang memanggil nama Ella dengan nada penuh ancaman, disusul oleh suara napas terengah-engah yang sangat dikenal oleh Ella. Marco telah menemukan tempat persembunyian mereka. Belum sempat mereka berdua merencanakan langkah selanjutnya, suara ketukan pintu apartemen terdengar sangat keras, menggedor dinding dan pintu kayu berulang-ulang dengan brutal, diiringi suara tawa kecil yang mengerikan dari luar yang perlahan memecah kesunyian pagi hari.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang