Ang 70-Taóng Ina ay Kumatok sa Pinto ng Anak Upang Manghiram ng Pera Para sa Operasyon — Ngunit Binigyan Lamang Siya Nito ng Isang Pakete ng Mi Instan. Namun Saat Ia Membukanya di Rumah, Air Matanya Langsung Mengalir dan Tubuhnya Gemetar.

Michael menatap lembaran kertas putih itu sekilas dengan sebelah mata, seolah-olah itu bukanlah lembar vonis medis milik ibu kandungnya, melainkan sebuah tagihan bulanan yang tidak penting. Alisnya berkerut, menunjukkan ketidaksabaran yang begitu nyata. Di latar belakang, suara televisi dan gemerincing gelas dari dalam rumah mewah itu mempertegas jurang pemisah antara kehidupan sukses Michael dan kemiskinan yang membelenggu ibunya.

“Bu, biaya operasi jantung puluhan ribu dolar itu bukan uang sedikit,” ujar Michael dengan suara datar, tanpa sedikit pun kehangatan seorang anak kepada orang tua. “Toko sedang sepi, proyek di Houston banyak yang tertunda, dan Lauren baru saja merenovasi ruang tamu. Kami tidak punya uang sebanyak itu untuk hal-hal yang tidak pasti seperti ini. Usia Ibu juga sudah tujuh puluh tahun, mau hidup sampai berapa lama lagi?”

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Michael, tajam bagaikan sembilu yang menggores langsung ke lubuk hati Helen. Wanita tua itu tertegun, matanya mengerjap pelan seolah menolak percaya bahwa kalimat sekasar itu keluar dari mulut anak yang dulu selalu ia timang dengan penuh kasih sayang di tengah kesusahan hidup mereka. Tenggorokan Helen terasa tercekat, air mata yang sejak tadi ia tahan di pelupuk mata akhirnya tumpah membasahi pipinya yang keriput. Tanpa memedulikan tangis ibunya, Michael merogoh saku mantelnya, mengambil dompet kulit bermerek, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang kusut dan melemparkannya begitu saja ke lantai teras yang bersih.

“Sudahlah, ambil ini untuk ongkos pulang naik bus. Jangan datang ke sini lagi dan membuat repot kami di hadapan para tetangga,” ucap Michael dingin sebelum berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam rumah, disusul oleh Lauren yang tersenyum sinis sambil menutup pintu kayu berukuran besar itu dengan suara debuman yang keras.

Helen terpaku seorang diri di teras yang dingin. Gerimis semakin deras, menembus jaket tipisnya yang sudah basah. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia berjongkok di lantai untuk memunguti uang saweran yang dilemparkan anaknya. Namun, di sebelah uang itu, ia melihat sebuah kantong plastik kecil berwarna putih berisi mi instan murahan yang rupanya sempat diselipkan oleh Lauren dari celah pintu sebelum benar-benar ditutup. Michael bahkan tidak repot-repot keluar lagi untuk sekadar menyerahkannya sendiri.

Dengan langkah sempoyongan dan hati yang hancur berkeping-keping, Helen menyeret kakinya meninggalkan kompleks perumahan mewah itu. Sepanjang perjalanan pulang menaiki angkutan umum, ia terus memeluk kantong mi instan itu erat-erat di dadanya, seolah benda itulah satu-satunya harga diri yang tersisa dalam hidupnya. Sesampainya di rumah petak miliknya yang sempit dan berbau lembap di pinggiran kota, tubuhnya langsung merosot jatuh di atas lantai semen yang dingin. Ia meletakkan tas usangnya di atas meja kayu yang reyot dan berniat merobek bungkus mi instan tersebut untuk mengganjal perutnya yang lapar dan perih karena stres.

Namun, saat ia merobek ujung plastik pembungkus mi instan itu, ada sesuatu yang terasa mengganjal di bagian dalam kemasan. Helen merogoh bagian bawah bungkus dengan jemarinya yang keriput dan menarik keluar sebuah buku tabungan bank serta sebuah amplop tebal berwarna cokelat.

Dahi Helen berkerut dalam kebingungan. Dengan tangan yang semakin gemetar hebat, ia membuka amplop cokelat tersebut. Di dalamnya terdapat selembar surat dengan kop resmi sebuah rumah sakit swasta terkemuka di Houston, lengkap dengan stempel basah dan tanda tangan dokter spesialis jantung terkenal. Matanya yang rabun membaca baris demi baris tulisan di surat itu, dan seketika itu juga napasnya tertahan.

Surat tersebut menyatakan bahwa seluruh biaya operasi jantung Helen senilai empat puluh ribu dolar telah dibayar lunas sepenuhnya secara tunai pada tiga hari yang lalu. Di bagian bawah surat, terdapat catatan tangan dengan tinta hitam yang sangat rapi. Tertulis di sana sebuah pesan khusus yang ditujukan langsung kepadanya: “Ibu, maafkan aku yang harus bersandiwara di depan istriku demi keselamatan Ibu. Rumah dan toko ini adalah hasil kerja keras Ibu di masa lalu, dan kini saatnya aku menebus semuanya. Operasi Ibu dijadwalkan besok pagi pukul sembilan. Aku akan datang menjemput Ibu dengan mobilku. Jangan takut lagi, Bu. Anakmu ini tidak akan pernah membiarkanmu pergi.”

Air mata Helen mengalir deras, bukan lagi karena kesedihan atau kekecewaan, melainkan karena gelombang kelegaan dan haru yang luar biasa memenuhi rongga dadanya. Isak tangisnya pecah di ruangan yang sunyi itu, sementara di luar, hujan gerimis perlahan reda, menyisakan bias pelangi tipis yang menyinari atap rumah kecilnya, membawa harapan baru bagi sisa hidupnya yang hampir saja padam.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang