Althea berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Andre, namun jari-jari pria itu bagaikan gelang besi yang mustahil digoyahkan. Embusan napas Andre yang hangat menyapu kulit lehernya, mengirimkan getaran aneh yang membuat Althea membeku seketika. Di mata pria itu, Althea melihat sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada ancaman fisik—sebuah tekad gila dari seorang pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan di Jakarta.
“Lepaskan aku, Andre,” bisik Althea dengan suara bergetar, mencoba mempertahankan sisa keberaniannya. “Ini ruang praktiku. Kamu tidak punya hak untuk melakukan ini.”
Andre tersenyum tipis, sebuah senyuman miring yang penuh kemenangan. Ia perlahan melonggarkan genggamannya, namun matanya sama sekali tidak berpaling. “Hak? Di kota ini, Althea, akulah yang menentukan siapa yang punya hak. Tapi tenang saja, aku tidak datang ke sini hanya untuk menggoda dokternya.” Ia menarik napas panjang, membiarkan aroma parfum vanila dan antiseptik yang khas dari Althea memenuhi paru-parunya, seolah zat itu adalah obat penenang yang paling ampuh baginya.

Ia berdiri perlahan, merapikan setelan jasnya yang tanpa cela, lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke jalanan Jakarta yang bising. “Malam ini, jam delapan. Pengawalku akan menjemputmu di apartemen. Kita ada janji makan malam.”
“Aku tidak bisa,” potong Althea cepat. “Aku ada jadwal jaga malam di rumah sakit utama.”
Andre membalikkan badan, menatap Althea dengan tatapan dingin yang tiba-tiba membuat suhu ruangan terasa merosot tajam. “Jadwalmu sudah dibatalkan, Althea. Direktur rumah sakitmu adalah teman dekatku. Dia sangat senang memberikanmu libur seminggu penuh atas permintaanku.”
Dada Althea bergemuruh oleh rasa amarah yang membakar. Pria ini telah meretas seluruh batas dalam hidupnya, mengacak-acak dunianya seolah Althea hanyalah sebidang tanah yang bisa ia beli kapan saja. “Kamu gila, Andre! Aku punya pasien yang butuh pertolonganku! Kamu tidak bisa mengontrol hidupku seperti ini!”
“Aku tidak mengontrolmu, Althea. Aku sedang melindungimu,” sahut Andre dengan nada suara yang amat tenang, justru ketenangan itulah yang terasa begitu mencekat. Ia mendekat kembali, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Althea. “Kamu pikir pria yang bersamamu di pesta itu, Daniel, benar-benar seorang malaikat? Kamu tidak tahu siapa dia sebenarnya, Althea. Kamu terjebak di antara dua serigala, dan aku adalah satu-satunya serigala yang tidak akan pernah membiarkanmu terluka.”
Tanpa menunggu jawaban dari Althea, Andre mengisyaratkan pengawalnya untuk membuka pintu. Ia melangkah keluar dengan keanggunan seorang penguasa, meninggalkan Althea yang berdiri terpaku dengan napas memburu dan pikiran yang kacau balau. Nama Daniel yang diucapkan Andre terus bergaung di kepalanya. Apakah Andre hanya mencoba menghancurkan kepercayaannya pada Daniel, ataukah ada rahasia gelap yang belum ia ketahui?
Malam pun jatuh di atas langit Jakarta yang diguyur hujan gerimis. Mobil Sedan hitam mewah sudah terparkir rapi di depan apartemen Althea tepat pukul delapan. Tanpa ada pilihan lain—karena ia tahu Andre tidak akan menerima penolakan—Althea melangkah masuk ke dalam mobil tersebut. Hatinya dibalut ketakutan, namun rasa ingin tahu yang mendalam mendorongnya untuk mencari kebenaran.
Mobil itu menyusuri jalanan ibu kota hingga berhenti di sebuah restoran privat mewah di kawasan Senopati. Tempat itu tampak sepi, sengaja disewa seluruhnya hanya untuk mereka berdua. Cahaya lilin yang temaram menyinari meja makan besar yang sudah tertata rapi dengan hidangan kelas atas.
Andre sudah menunggu di sana, tampak sangat tampan namun memancarkan aura dominasi yang pekat. Ketika Althea duduk di hadapannya, pria itu tidak menyia-nyiakannya. “Aku senang kamu wanita yang bijak, Althea.”
“Cukup pualing beloknya, Andre,” sapa Althea dingin, menolak menyentuh gelas anggur di depannya. “Apa maksudmu tentang Daniel tadi siang? Jelaskan padaku.”
Andre terkekeh pelan, menyesap anggur merahnya sebelum menatap Althea dalam-dalam. “Daniel bukan sekadar pengusaha muda berbakat seperti yang kamu kenal selama ini. Dialah kepala jaringan penyelundupan bahan kimia medis ilegal di Asia Tenggara. Dan tebak apa yang menjadi target utamanya sekarang? Klinik kecil milikmu, tempat kamu menyimpan stok obat-obatan eksperimental untuk penelitian kankermu.”
Althea tertawa hambar, mencoba menepis tuduhan gila itu. “Bohong! Daniel adalah orang yang mendanai riset medis saya! Dia peduli pada pasien-pasien saya!”
“Dia memanfaatkanmu, Althea!” suara Andre tiba-tiba meninggi, berat dan berwibawa, membuat Althea terperanjat. “Dia menggunakan lisensi medismu untuk memasukkan zat-zat berbahaya ke negara ini. Aku tahu karena aku telah mengawasi pergerakannya selama berbulan-bulan. Kenapa kamu pikir aku membawamu ke pesta itu? Kenapa kamu pikir aku selalu muncul di dekatmu? Bukan hanya karena aku menginginkanmu, tapi karena namamu sudah masuk dalam daftar target eksekusi klannya jika proyek ini terbongkar!”
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela menjadi satu-satunya latar belakang dari keheningan yang mencekam. Althea merasa kepalanya berputar. Mitos tentang Andre Suwarna sebagai seorang mafia kejam memunculkan paradoks baru di benaknya. Jika Andre adalah iblis, mengapa ia terdengar begitu ketakutan akan keselamatan Althea? Dan jika Daniel adalah penyelamatnya, mengapa Althea merasakan kepalsuan dalam setiap senyuman pria itu selama ini?
“Kenapa kamu melakukan ini?” tanya Althea, suaranya nyaris berbisik, matanya mulai berkaca-kaca oleh kebingungan dan kelelahan emosional. “Kenapa kamu sangat peduli padaku, Andre? Kita bahkan tidak saling mengenal dengan baik.”
Andre menatapnya lama. Ketajaman di matanya perlahan melunak, menggantikan sosok mafia dingin itu dengan seorang pria yang tampak sangat kesepian dan rapuh. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, menyentuh jemari Althea yang dingin dengan kehangatan telapak tangannya.
“Lima tahun lalu, di sebuah ruang operasi darurat di Surabaya,” kata Andre pelan, mengenang sesuatu yang jauh di masa lalu. “Ada seorang dokter muda yang bekerja tanpa henti selama dua belas jam untuk menyelamatkan seorang pria yang tertembak di dada. Pria itu adalah musuh dari banyak orang, seseorang yang seharusnya dibiarkan mati oleh dunia. Tapi dokter muda itu tidak peduli siapa dia. Dia hanya memegang dadanya, menatap matanya, dan berkata, ‘Tetap bernapas, aku tidak akan membiarkanmu mati.’ Dokter itu adalah kamu, Althea. Dan pria berdarah-darah di atas meja operasi itu… adalah aku.”
Althea menahan napasnya. Memori lama yang terkubur dalam-dalam tiba-tiba muncul kembali seperti kilatan petir. Malam itu, seorang pasien tanpa identitas dengan luka tembak parah… ia ingat betapa gigihnya ia berjuang menyelamatkan pria itu. Ia tidak pernah tahu siapa pasien itu karena pria tersebut menghilang begitu saja dari ruang rawat inap keesokan harinya.
“Sejak malam itu, jantungku yang hampir berhenti ini hanya berdetak untuk satu hal,” lanjut Andre, suaranya serak bergelut dengan emosi yang terpendam sekian lama. “Kamu adalah obat dari kehidupan gelapku, Althea. Kehadiranmu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa masih menjadi manusia, bukan monster.”
Dada Althea berdesir hebat. Kata-kata Andre meruntuhkan seluruh tembok pertahanan yang telah ia bangun selama ini. Rasa benci dan takut yang semula mendominasi pikirannya perlahan luluh, berganti menjadi sebuah kepedihan dan simpati yang mendalam. Ia menyadari bahwa di balik kemewahan, kekuasaan, dan bahaya yang menyelimuti nama Andre Suwarna, pria itu hanyalah seorang jiwa yang tersiksa, yang berpegang teguh pada satu-satunya cahaya yang pernah menyelamatkannya.
Namun sebelum Althea sempat membalas ucapan itu, pintu restoran privat itu tiba-tiba didobrak hingga hancur berkeping-keping.
Suara tembakan membahana di dalam ruangan. Para pengawal Andre yang berada di luar langsung tumbang dalam hitungan detik. Asam asap dan bau mesiu memenuhi udara dengan sangat cepat. Sekelompok pria berpakaian serba hitam dan bersenjata lengkap menerobos masuk, dipimpin oleh seorang pria bersetelan rapi yang sangat dikenal oleh Althea—Daniel.
“Daniel?!” jerit Althea hysteris, menutup telinganya karena ketakutan.
Daniel melangkah masuk dengan senyuman dingin yang mematikan, menyapu ruangan itu dengan tatapan penuh rasa dengki. “Maaf mengganggu makan malam romantis kalian,” ucap Daniel dengan nada sinis. “Tapi permainan ini harus berakhir malam ini, Andre.”
Dengan refleks kilat yang luar biasa, Andre merengkuh tubuh Althea, menariknya ke balik meja kayu tebal saat rentetan peluru mulai memborbardir sudut tempat mereka bersembunyi. Andre menarik sebuah pistol dari balik jasnya, matanya kembali berkilat dengan aura pembunuh yang mematikan, namun tangannya yang sebelah lagi memeluk pinggang Althea dengan sangat erat, menyembunyikan kepala wanita itu di dadanya.
“Tetap di belakangku, Althea!” perintah Andre tegas di tengah riuhnya suara tembakan dan pecahan kaca yang berhamburan. “Jangan pernah melepaskan peganganmu denganku!”
Dalam kekacauan gila itu, saat maut hanya berjarak beberapa senti dari mereka, Althea menyandarkan kepalanya di dada Andre. Di sana, di balik dentuman senjata yang memekakkan telinga, ia dapat merasakan detak jantung Andre—berdetak sangat kencang, persis seperti saat ia memeriksanya di klinik siang tadi. Itu bukanlah detak jantung seorang monster yang tidak memiliki perasaan, melainkan detak jantung seorang pria yang siap mempertaruhkan nyawanya demi melindungi wanita yang dicintainya.
Satu tembakan balasan dari Andre mengenai bahu Daniel, membuat pria musuh itu mengerang sakit dan memerintahkan anak buahnya untuk mundur sementara sambil memberikan tembakan perlindungan. Menggunakan kesempatan emas itu, Andre membimbing Althea keluar melalui pintu belakang rahasia yang menuju ke lorong pelarian.
Mereka berlari menembus hujan deras di lorong sempit di samping bangunan. Air hujan yang dingin mengguyur tubuh mereka, melunturkan rasa takut menjadi sebuah adrenalin murni. Ketika mereka sampai di ujung gang yang sepi, Andre mendadak menghentikan langkahnya dan bersandar pada dinding bata.
“Andre?” panggil Althea khawatir.
Andre perlahan melepaskan pegangan tangannya. Dalam kegelapan malam yang dibasahi hujan, Althea melihat darah segar mengalir deras dari perut sebelah kiri Andre. Pria itu telah tertembak saat melindunginya di dalam restoran tadi, namun ia tidak mengucapkan sepatah kata pun dan tetap berlari membawanya ke tempat aman.
“Andre! Kamu tertembak!” jerit Althea, air matanya menyatu dengan bulir-bulir hujan yang membasahi wajahnya. Ia segera berlutut di depan Andre, jemarinya yang terampil langsung menekan luka tembak itu untuk menghentikan pendarahan.
Andre terkekeh pelan, suaranya mulai melemah, namun ia mengangkat tangannya yang gemetar untuk mengusap pipi Althea yang basah. “Aku bilang apa, Dok… aku memang sakit… dan aku butuh dokternya…”
“Jangan bercanda dalam situasi seperti ini!” tangis Althea pecah. Ia menempelkan dadanya ke dada Andre, merasakan detak jantung pria itu yang mulai melambat secara drastis. “Gunakan seluruh kekuatanmu untuk tetap bernapas! Dengarkan aku, Andre! Tetap bernapas! Aku tidak akan membiarkanmu mati… tidak untuk kedua kalinya!”
Andre menatap wanita di depannya dengan tatapan penuh rasa cinta yang begitu tulus dan dalam. Di tengah kegelapan malam dan guyuran hujan Jakarta yang dingin, sang mafia kejam menemukan kedamaiannya yang sejati. Ia menyadari bahwa penyakit mematikan yang selama ini menggerogoti jiwanya—rasa sepi, kehampaan, dan kegelapan—tidak bisa disembuhkan oleh kekuasaan atau uang yang ia miliki. Obat terbaik untuk menyelamatkan jiwanya yang sekarat adalah takdir yang mengikat tubuh dan hati dokternya. Dan malam itu, di bawah langit yang menyaksikan pertumpahan darah dan air mata, Althea tidak hanya menyelamatkan nyawa Andre sekali lagi, tetapi juga menyerahkan seluruh hatinya kepada sang mafia.
