AKU DITINGGALKAN CALON SUAMIKU DI DEPAN ALTAR DEMI MENJEMPUT WANITA LAIN… Keesokan harinya, aku menjadi bahan tertawaan di seluruh internet. Tapi tak seorang pun tahu bahwa hanya dengan satu panggilan telepon, segalanya akan berubah selamanya.

Tiga langkah sebelum mencapai altar, hidupku berubah menjadi tontonan.

Aku masih ingat bagaimana cahaya lampu kristal memantul di lantai marmer ballroom hotel di Jakarta Selatan, bagaimana lagu pernikahan mengalun lembut, dan bagaimana hampir tiga ratus pasang mata menatapku seolah aku adalah perempuan paling beruntung di dunia.

Di ujung lorong berdiri Ethan Villanueva.

Laki-laki yang selama tujuh tahun kupanggil rumah.

Laki-laki yang dua tahun terakhir membicarakan masa depan bersamaku.

Rumah kecil dengan taman belakang. Dua anak. Perjalanan ke Bali setiap ulang tahun pernikahan. Bahkan nama anjing yang belum pernah kami miliki sudah kami sepakati.

Lalu ponselnya bergetar.

Ia melihat layar.

Dan seluruh masa depan itu lenyap hanya dalam beberapa detik.

Ethan menerima telepon di sisi altar. Wajahnya berubah pucat. Aku hanya menangkap beberapa kata dari suara perempuan di seberang sana.

Tolong. Cuma kamu.

Ketika ia kembali kepadaku, sorot matanya sudah berbeda.

“Mira, aku harus pergi.”

Aku sempat mengira ia bercanda.

Kami tinggal mengucapkan janji.

Cincin sudah ada di atas bantal kecil di tangan pembawa acara.

Ayahku berdiri beberapa meter di belakangku.

Ibuku bahkan sudah menangis sejak aku memasuki ballroom.

“Pergi ke mana?”

“Ada keadaan darurat.”

“Ethan, kita menikah sekarang.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu selesaikan dulu.”

Ia menatapku selama beberapa detik, tetapi tidak ada ketegasan seorang calon suami di matanya.

Yang ada justru kegelisahan seseorang yang merasa wajib berada di tempat lain.

“Dia sendirian.”

Satu kalimat itu cukup.

Aku melepaskan tanganku dari lengannya.

“Dia siapa?”

Ethan tidak menjawab.

Ia berbalik dan berlari keluar.

Tidak sekali pun menoleh.

Aku berdiri di depan altar dengan gaun putih yang dibuat khusus selama lima bulan, sementara puluhan orang mulai mengeluarkan ponsel mereka.

Dalam satu jam, aku bukan lagi Mira Santoso.

Aku menjadi pengantin yang ditinggalkan di altar.

Dalam tiga jam, potongan videoku memenuhi media sosial.

Ada yang merasa kasihan.

Ada yang tertawa.

Ada yang membuat meme.

Ada yang memperlambat rekaman wajahku saat Ethan berlari pergi, lalu menambahkan musik komedi.

Menjelang sore, rekaman CCTV sebuah gedung parkir ikut beredar.

Di sana terlihat Ethan memeluk seorang anak perempuan yang menangis. Di sampingnya ada seorang perempuan muda berambut panjang yang duduk lemas di lantai.

Namanya Selena Hartono.

Arsitek baru di perusahaan Ethan.

Katanya Selena mengalami serangan panik setelah kecelakaan kecil di gedung parkir. Mobilnya terserempet, anak keponakannya yang ikut bersamanya menangis histeris, dan entah mengapa orang pertama yang ia hubungi adalah Ethan.

Publik langsung mengubah ceritanya.

Ethan menjadi pahlawan.

Pria baik yang rela meninggalkan pernikahan demi menolong seseorang.

Komentar demi komentar berdatangan.

Kalau calon istrinya dewasa, pasti bisa memahami.

Pernikahan bisa diulang, nyawa tidak.

Perempuan itu egois kalau masih marah.

Aku membaca semuanya dari kursi pengantin.

Lalu aku berhenti.

Ayah duduk di sampingku.

“Kita pulang, Mira.”

Aku menatap bunga di tanganku.

“Sebentar.”

Ada satu nama di ponselku yang selama bertahun-tahun tidak pernah kuhapus.

Adrian Cortez.

Tiga tahun sebelum aku mengenal Ethan, Adrian pernah menjadi seseorang yang sangat dekat denganku.

Waktu itu hidupnya sederhana. Ia bekerja siang malam membantu usaha kecil keluarganya sambil merawat ayahnya yang sakit. Ia pernah datang menemuiku dengan motor tua dan kemeja yang basah karena hujan.

Di teras rumahku, ia berkata,

“Kalau suatu hari kamu benar-benar membutuhkan aku, jangan mencariku terlalu jauh. Aku yang akan datang.”

Aku menolaknya saat itu.

Bukan karena aku tidak mencintainya.

Justru karena aku tahu ia sedang memikul terlalu banyak.

Aku tidak ingin menjadi alasan ia meninggalkan ayahnya yang sedang berjuang.

Beberapa bulan kemudian kami kehilangan kontak.

Kemudian Ethan datang.

Hidup berjalan.

Setidaknya, itulah yang kukira.

Tanganku gemetar ketika menekan tombol panggil.

Belum sampai dering kedua, Adrian menjawab.

“Mira.”

Suara itu membuat pertahanan terakhirku runtuh.

Ia tidak bertanya mengapa aku menghubunginya setelah tiga tahun.

Ia hanya bertanya,

“Kamu di mana?”

“Aku masih di hotel.”

“Hapus air matamu.”

Aku tertawa kecil dalam tangis.

“Kenapa?”

“Karena aku akan sampai dalam dua belas menit.”

Dua belas menit kemudian, beberapa mobil hitam berhenti di depan hotel.

Aku bahkan tidak tahu bahwa hidup Adrian sudah berubah sejauh itu.

Beberapa pria berpakaian formal turun lebih dulu. Bukan pengawal seperti yang dikira para tamu, melainkan tim perusahaan yang kebetulan sedang bersamanya setelah sebuah pertemuan.

Lalu Adrian turun dari sedan paling belakang.

Ia mengenakan kemeja putih, celana gelap, dan ekspresi yang sama seperti tiga tahun lalu.

Tatapan pertama yang diberikannya kepadaku bukan rasa ingin tahu.

Bukan keterkejutan melihat gaun pengantinku.

Melainkan kekhawatiran.

Seolah ia hanya ingin memastikan aku masih berdiri.

Pada saat yang hampir bersamaan, Ethan kembali ke ballroom.

Langkahnya terhenti ketika melihat Adrian.

Wajahnya langsung berubah.

Aku baru mengetahui alasannya beberapa menit kemudian.

Ternyata perusahaan Adrian adalah investor terbesar dalam proyek properti yang sedang dikejar perusahaan Ethan.

Selama berbulan-bulan, Ethan berusaha mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengannya.

Dan sekarang, laki-laki yang selama ini sulit ia temui justru berdiri di samping calon istrinya.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ethan.

Adrian tidak menjawab pertanyaan itu.

Ia justru melepas jasnya dan menyampirkannya ke bahuku.

Barulah aku sadar tubuhku gemetar karena dingin.

“Mira yang meneleponku,” katanya tenang. “Itu cukup.”

Ethan menarik napas.

“Mira, kita bicara berdua.”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

“Mira.”

“Selama tujuh tahun aku selalu mendengarkan penjelasanmu. Sekarang jawab satu pertanyaanku saja.”

Ia terdiam.

“Saat kamu meninggalkan altar tadi, apakah sekali saja kamu berpikir untuk kembali kepadaku?”

Wajah Ethan menegang.

Aku melanjutkan.

“Bukan setelah semuanya selesai. Bukan setelah Selena sudah tenang. Saat kamu berlari keluar tadi. Apakah kamu memikirkan aku?”

Ia menunduk.

Keheningan di ballroom terasa lebih menyakitkan daripada semua komentar di internet.

Akhirnya ia berkata,

“Tidak.”

Aku mengangguk.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada tamparan.

Tidak ada gelas pecah.

Hanya satu kata yang tiba-tiba menjelaskan tujuh tahun hubunganku dengannya.

Aku menyerahkan buket kepada wedding organizer.

“Bagikan bunganya kepada tamu.”

Perempuan itu menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Bu Mira…”

“Tidak apa-apa. Bunganya tidak salah.”

Aku berjalan keluar bersama Ayah dan Adrian.

Adrian tidak menggenggam tanganku.

Ia bahkan tidak menanyakan apa yang terjadi.

Ia hanya duduk bersamaku di taman hotel sampai aku selesai menangis.

Itulah perbedaan pertama yang kusadari.

Ethan selalu ingin menyelesaikan masalah.

Adrian tahu bahwa tidak semua luka membutuhkan solusi secepat mungkin.

Kadang seseorang hanya membutuhkan teman yang bersedia duduk di sebelahnya saat dunianya runtuh.

Keesokan harinya, namaku masih menjadi bahan pembicaraan.

Tetapi sebuah kabar baru muncul.

Seseorang mengunggah rekaman suara dari seorang staf perusahaan Ethan.

Dalam rekaman itu, terdengar Ethan pernah mengatakan bahwa Selena adalah arsitek muda yang sangat berbakat dan ia sendiri yang meminta perempuan itu meneleponnya kapan pun terjadi masalah dalam proyek.

Kemudian muncul percakapan lain.

Bukan perselingkuhan.

Tetapi jelas menunjukkan bahwa hubungan profesional mereka sudah melewati batas yang seharusnya.

Ethan sering mengantar Selena pulang.

Makan malam bersamanya setelah lembur.

Mendengarkan masalah pribadinya.

Bahkan pernah membatalkan makan malam denganku karena Selena mengalami serangan kecemasan.

Yang membuatku terpukul bukan karena Ethan berselingkuh secara fisik.

Aku tidak pernah menemukan bukti itu.

Yang menyakitkan adalah menyadari bahwa selama berbulan-bulan ia sudah menjadi tempat bergantung emosional bagi perempuan lain.

Sementara aku masih sibuk mempersiapkan pernikahan kami.

Tiga hari setelah kejadian, Ethan datang ke rumah.

Tidak ada kamera.

Tidak ada media.

Ia terlihat seperti tidak tidur selama beberapa malam.

“Aku tidak pernah tidur dengan Selena,” katanya.

“Aku percaya.”

Ia terkejut.

“Kalau begitu kenapa kamu tidak mau bicara denganku?”

“Karena masalahnya bukan apakah kamu tidur dengannya atau tidak.”

Aku menatapnya.

“Masalahnya adalah ketika dia membutuhkanmu, kamu merasa harus datang. Ketika aku membutuhkanmu pada hari pernikahan kita, kamu merasa aku bisa menunggu.”

Ethan membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa dirinya tidak bisa membela keputusan itu dengan mengatakan bahwa niatnya baik.

Niat baik tidak selalu menghapus luka yang ditimbulkan.

“Aku salah.”

“Iya.”

“Aku ingin memperbaikinya.”

Aku menggeleng.

“Beberapa hal bisa diperbaiki. Beberapa hal hanya bisa diterima.”

Ia menatapku lama.

“Karena Adrian?”

Aku hampir tertawa.

“Tidak semua keputusan perempuan tentang laki-laki lain.”

Ethan terdiam.

“Aku meninggalkanmu karena aku akhirnya tahu bagaimana rasanya tidak dipilih.”

Ia pulang tanpa banyak bicara.

Beberapa bulan kemudian, internet sudah menemukan skandal baru.

Aku kembali bekerja.

Kembali makan bersama teman-temanku.

Kembali belajar tidur tanpa membayangkan altar kosong.

Adrian sesekali datang.

Ia tidak pernah membawa bunga mahal.

Kadang hanya kopi.

Kadang makanan dari warung favoritku yang ternyata masih ia ingat.

Ia juga tidak pernah membicarakan masa lalu kecuali aku yang memulainya.

Suatu malam, kami duduk di sebuah kafe kecil di Kemang.

Aku bertanya sesuatu yang selama ini menggangguku.

“Kenapa waktu itu kamu bisa datang secepat itu?”

Adrian tersenyum.

“Aku sedang berada dua gedung dari hotelmu.”

Aku mengernyit.

“Untuk apa?”

“Ada pertemuan bisnis.”

“Dengan siapa?”

Ia menatapku beberapa detik.

“Perusahaan Ethan.”

Aku membeku.

Adrian melanjutkan dengan nada tenang.

“Hari itu seharusnya kami menandatangani kerja sama besar setelah acara pernikahanmu selesai.”

Aku baru memahami alasan wajah Ethan berubah ketika melihatnya di ballroom.

“Jadi kamu sudah tahu aku menikah?”

“Tahu.”

“Kenapa kamu tetap mau bekerja dengan perusahaannya?”

“Bisnis adalah bisnis.”

“Lalu setelah kejadian itu?”

Adrian menatap cangkir kopinya.

“Aku tetap menilai proposal mereka secara profesional.”

Aku tersenyum tipis.

“Kamu tidak membatalkannya karena aku?”

“Tidak.”

Jawaban itu justru membuatku lega.

Beberapa minggu kemudian, perusahaan Ethan gagal mendapatkan investasi tersebut.

Namun bukan karena Adrian membalas dendam.

Tim audit menemukan manipulasi biaya dalam salah satu proyek mereka.

Bahkan Ethan sendiri ternyata tidak mengetahui bahwa direktur keuangannya telah mengubah beberapa laporan.

Perusahaan itu hampir runtuh.

Ironisnya, orang yang membantu Ethan menemukan sumber masalah justru Adrian.

Ketika aku mengetahui hal itu, aku mendatangi Adrian.

“Kenapa kamu membantu dia?”

Adrian mengangkat bahu.

“Karena kesalahan Ethan kepadamu tidak berarti semua karyawannya harus kehilangan pekerjaan.”

Saat itu aku menatapnya cukup lama.

Dulu aku mengira cinta adalah seseorang yang datang menyelamatkan kita.

Ternyata aku salah.

Cinta yang matang bukan tentang penyelamatan.

Melainkan tentang karakter yang tetap sama bahkan ketika tidak ada keuntungan yang bisa didapat.

Setahun setelah pernikahan yang gagal itu, aku kembali ke hotel yang sama.

Bukan untuk menikah.

Hotel tersebut mengadakan acara amal, dan perusahaanku menjadi salah satu sponsor.

Aku berdiri beberapa meter dari ballroom yang pernah menjadi tempat terburuk dalam hidupku.

Aneh sekali.

Aku tidak menangis.

Tidak gemetar.

Tidak merasa marah.

Hanya merasa seperti sedang melihat ruangan milik kehidupan orang lain.

Seseorang berdiri di sampingku.

Adrian.

“Kamu baik-baik saja?”

Aku mengangguk.

“Sekarang iya.”

Ia tersenyum.

Kami berjalan keluar menuju taman.

Di tempat yang hampir sama dengan tempatku menangis setahun lalu, Adrian berhenti.

Ia tidak berlutut.

Tidak membawa cincin.

Tidak membuat pidato besar.

Ia hanya menatapku dan berkata,

“Aku tidak mau mengulang janji yang pernah kubuat tiga tahun lalu.”

“Kenapa?”

“Karena waktu itu aku bilang aku akan datang kalau kamu membutuhkan aku.”

Ia tersenyum kecil.

“Sekarang aku ingin bertanya apakah aku boleh tetap tinggal bahkan ketika kamu tidak membutuhkan siapa-siapa.”

Aku tidak langsung menjawab.

Lalu aku menggenggam tangannya.

Untuk pertama kalinya, bukan karena aku sedang hancur.

Bukan karena aku membutuhkan pertolongan.

Bukan karena seseorang meninggalkanku.

Aku memilihnya saat aku sudah kembali utuh.

Dan mungkin itulah bagian yang paling tidak dipahami orang-orang dari kisahku.

Mereka mengira hari pernikahanku adalah hari ketika seorang laki-laki meninggalkanku demi perempuan lain.

Padahal sebenarnya, hari itu mengajariku sesuatu yang jauh lebih besar.

Bahwa seseorang bisa mencintaimu dan tetap membuat pilihan yang menghancurkanmu.

Bahwa orang baik pun bisa menjadi pasangan yang salah.

Bahwa memaafkan tidak selalu berarti menerima kembali.

Dan bahwa cinta yang sehat tidak datang untuk menyelamatkan perempuan yang hancur.

Ia menunggu sampai perempuan itu mampu berdiri sendiri, lalu bertanya dengan sederhana apakah ia boleh berjalan di sampingnya.

Dulu, di depan altar, aku mengira kehilangan Ethan berarti kehilangan masa depanku.

Setahun kemudian aku baru memahami kenyataannya.

Aku tidak kehilangan masa depan.

Aku hanya kehilangan masa depan yang memang tidak seharusnya menjadi milikku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang