Langkahku terhenti kaku di balik kegelapan lorong. Di bawah remang lampu jalan yang menerobos celah ventilasi dapur kotor, aku melihat dua sosok yang begitu ringkih. Seorang wanita berbaju daster lusuh yang penuh tambalan sedang duduk bersimpuh di atas lantai semen yang dingin. Tangannya yang gemetar menyuapkan segumpal nasi berair ke mulut seorang anak laki-laki kecil yang kurus kering dengan pakaian kekecilan.
Wanita itu adalah Lestari, istriku. Dan anak kecil yang menangis sambil mengunyah nasi itu adalah Rian, putra kandungku.
Darahku serasa berhenti mengalir. Kepala rasanya menghantam dinding beton dengan kecepatan tinggi. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin wanita yang setiap bulan kukirimkan uang puluhan juta, wanita yang dikabarkan selalu bersenang-senang di mall dan salon, kini berada di sudut dapur kotor yang berbau tengik, memakan nasi basi yang dicuci air keran?
“Ibu, kapan Ayah pulang dari Arab?” suara Rian kembali terdengar menyayat hati, diselingi sedu kayan yang ditahannya. “Kata Nenek, Ayah sudah lupa sama kita karena Ayah punya istri baru yang cantik di sana. Makanya Ayah tidak pernah kirim uang untuk kita…”

Lestari memeluk Rian erat-erat, meneteskan air mata yang membasahi bahu kecil anaknya. “Jangan bicara begitu, Rian. Ayahmu orang baik. Ayahmu pasti sedang berjuang keras di sana untuk kita. Nenek cuma bercanda…”
Airmata membasahi pipiku tanpa sadar. Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat dan amarah yang meledak-ledak. Penipuan macam apa yang terjadi di rumah ini? Rumah megah yang Kubangun dengan keringat, darah, dan nyawa di negeri orang, ternyata menjadi penjara neraka bagi anak dan istriku sendiri. Sementara orang tua dan adik kandungku berubah menjadi monster berwujud manusia.
Tanpa mampu membendung emosi lagi, aku melangkah keluar dari kegelapan. Tanganku mengepal erat.
“Lestari…” panggilku dengan suara serak yang bergetar hebat.
Sontak wanita itu terperanjat kaget. Dia langsung menyembunyikan Rian di belakang tubuhnya yang kurus, menatap ke arahku dengan raut wajah ketakutan yang luar biasa. “M-maaf… maafkan kami! Kami tidak bermaksud membuat bising! Kami akan masuk ke kamar belakang sekarang!” jeritnya ketakutan, menyangka aku adalah bagian dari penghuni rumah yang akan menyiksanya.
“Ini aku, Lestari… Ini Budi, suamimu,” ucapku pelan seraya berlutut di hadapannya.
Lestari terpaku. Matanya menyipit, menatap wajahku yang tersinari cahaya temaram. Saat menyadari bahwa pria yang berdiri di depannya adalah suami yang dinantinya selama lima tahun, tubuhnya langsung gemetar hebat. Deras air mata mengalir dari matanya yang sayu. Rian mengintip takut-takut dari balik punggung ibunya, bingung melihat sosok asing yang menangis di hadapan mereka.
“Mas… Mas Budi?” bisiknya hampir tak terdengar.
Aku langsung merengkuh tubuh Lestari dan Rian ke dalam pelukanku. Tubuh istriku begitu kurus, hanya tinggal tulang berbalut kulit. Bau keringat dan keputusasaan menguar dari pakaian mereka. Aku memeluk Rian dengan erat, mencium puncak kepalanya berkali-kali sembari meminta maaf tanpa henti.
“Maafkan aku… Maafkan Ayah, Nak… Maafkan aku, Lestari. Aku tidak tahu semua ini terjadi…” tangisku pecah seketika di dapur yang gelap itu.
Lestari menangis sejadi-jadinya di dadaku. Segala rasa sakit, kerinduan, dan penderitaan yang dipendamnya selama lima tahun akhirnya tumpah. Dengan suara terbata-bata, dia menceritakan kenyataan pahit yang teramat kejam.
Sejak hari pertama aku berangkat ke Arab Saudi, Ibu dan Siti mengambil alih seluruh kendali. Uang seratus juta rupiah yang kukirimkan setiap bulan tak pernah menyentuh tangan Lestari sepeser pun. Ibu menyita semua kartu ATM, ponsel, dan identitas milik Lestari. Mereka mengurung Lestari dan Rian di kamar pembantu di dekat dapur kotor, memaksa istriku bekerja sebagai pelayan tanpa gaji di rumah yang kubangun untuknya.
Setiap kali aku menelepon, Ibu dan Siti mengancam akan mengusir Lestari dan Rian ke jalanan jika Lestari berani bersuara. Mereka mematikan ponsel dan mengarang cerita bohong padaku bahwa Lestari sedang berbelanja, agar aku tidak curiga dan terus mengirimkan uang. Mereka doktrin pikiran Rian bahwa aku adalah ayah jahat yang menyia-nyiakan mereka. Seluruh uang ratusan juta per bulan itu dihabiskan oleh Ibu dan Siti untuk membeli mobil mewah, pakaian bermerek, dan menggelar pesta pergaulan kelas atas.
Amarah dalam diriku bergejolak bagaikan lahar dingin yang siap menghancurkan apa saja. Aku menyapu air mataku, berdiri tegak, lalu menggandeng tangan Lestari dan menggendong Rian.
“Ikut aku,” kataku tegas.
“Mas… jangan. Nanti Ibu dan Siti marah…” bisik Lestari penuh ketakutan.
“Ini rumahku, Lestari. Rumah kalian. Tidak ada satu orang pun yang berhak menyakiti kalian lagi di sini,” jawabku dingin.
Aku melangkah mantap menyusuri koridor dalam rumah, meninggalkan area dapur kotor menuju ruang tamu yang megah. Suara musik dangdut berdentam keras. Tawa gelak membahana dari belasan wanita dan pria setengah baya yang berpakaian mewah dengan perhiasan menyilaukan. Di tengah-tengah mereka, Ibu Ratna dan Siti tampak menjadi pusat perhatian, memamerkan tas mahal dan cerita fiktif tentang kekayaan keluarga mereka.
Suasana riuh itu seketika terhenti saat aku berjalan melintasi batas ruang tamu. Langkah kaki bertapak kasar dan aura dingin yang kukeluarkan membuat musik perlahan diredupkan oleh seseorang. Semua mata tertuju padaku, lalu beralih pada Lestari yang kusam dan Rian yang berada dalam gendonganku.
Ibu Ratna yang sedang memegang gelas minuman mahal mendadak tertegun. Wajahnya yang penuh riasan tebal berubah pucat pasi seketika. Gelas di tangannya hampir saja terlepas.
“B-Budi?” gagap Ibuku, suaranya bergetar hebat. “Kamu… kamu sudah pulang? Kenapa tidak memberi kabar pada Ibu?”
Siti yang duduk di sofa kulit impor langsung berdiri tegak, matanya membelalak tak percaya. “Mas Budi? Kok… kok cepat banget pulangnya?”
Aku menatap dua orang yang memiliki hubungan darah denganku itu dengan pandangan penuh kekecewaan mendalam dan rasa jijik yang tak terhingga. Tidak ada sedikit pun kehangatan anak pada ibunya yang tersisa di matanya.
“Kenapa, Bu? Siti? Kalian terkejut?” suaraku terdengar begitu tenang, namun memiliki tekanan yang mampu membekukan ruangan. “Kalian takut acara bersenang-senang kalian terganggu oleh kedatanganku?”
Teman-teman Ibu dan Siti saling berbisik bingung, menatap drama yang tiba-tiba terjadi di depan mata mereka.
“Budi… sayang, kenapa kamu bicara begitu?” Ibu mencoba tersenyum, melangkah mendekat dengan tangan terulur, berusaha berakting seperti ibu yang merindukan anaknya. “Ayo masuk dulu, Nak. Kenapa kamu bawa wanita itu dan anaknya ke sini? Mereka kan cuma pembantu yang…”
“CUKUP!” teriakku menggelegar, membuat seluruh ruangan seketika hening mencekam. Beberapa tamu wanita bahkan melonjak kaget.
“Jangan pernah sebut istri dan anakku sebagai pembantu di rumah ini!” gertakku dengan mata berapi-api. “Wanita ini adalah istri sahku! Dan anak ini adalah darah dagingku sendiri! Orang yang selama lima tahun ini kukirimkan uang agar bisa hidup bahagia!”
Ibu Ratna dan Siti terpaku, wajah mereka memutih layaknya mayat. Mereka menyadari bahwa rahasia keji yang mereka simpan rapat-rapat selama bertahun-tahun telah terbongkar sepenuhnya malam ini.
“Kamu… kamu sudah tahu?” bisik Siti dengan bibir gemetar.
“Aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri,” kataku seraya menunjuk ke arah dapur. “Aku melihat bagaimana istriku memakan nasi basi yang dicuci air keran untuk menyambung hidup anakku, sementara kalian membuang-buang uang ratusan juta hasil peras keringatku untuk pesta gila ini!”
Para tamu yang ada di ruangan itu mulai berbisik-bisik riuh. Wajah-wajah yang tadinya mengagumi Ibuku kini menatapnya dengan pandangan hina dan jijik. Ibu Ratna merasa harga dirinya hancur berkeping-keping di depan teman-teman pergaulannya.
“Budi… dengarkan Ibu dulu, Nak. Ini salah paham…” Ibu Ratna mencoba mendekat, bersujud di depanku sambil menangis buatan. “Ibu melakukan ini untuk kebaikanmu! Perempuan ini tidak cocok untukmu, dia tidak bisa mengurus uang…”
“Kebaikan untukku atau kebaikan untuk keserakahan kalian?!” potongku dingin, menarik kakiku mundur dari jangkauannya. “Selama lima tahun aku bertaruh nyawa di padang pasir, menahan rindu, bekerja delapan belas jam sehari, hanya demi membahagiakan keluarga. Tapi ternyata, ibu kandung dan adik kandungku sendiri yang menjadi iblis dalam hidupku!”
Siti mulai menangis histeris. “Mas, maafkan Siti… Siti cuma ikut kata Ibu…”
“Keluar,” ucapku singkat.
“Apa?” Ibu Ratna mendongak tak percaya.
“Keluar dari rumahku! Sekarang juga!” perintahku dengan suara membentak yang tak bisa dibantah. “Semua aset, mobil, barang-barang mewah, dan rekening atas namaku, akan kucabut malam ini juga. Jangan pernah memperlihatkan muka kalian lagi di depan istri dan anakku!”
“Budi! Aku ini ibumu! Kamu anak durhaka jika mengusir ibu kandungmu sendiri!” jerit Ibu Ratna, beralih menyerangku dengan rasa bersalah agama dan tradisi.
Aku tersenyum sinis, sebuah senyuman pahit yang penuh duka. “Ibu yang membiarkan cucu kandungnya kelaparan dan memakan nasi basi tidak pantas menuntut penghormatan sebagai seorang ibu. Kebaktianku sebagai anak sudah mati sejak aku melihat derita Lestari dan Rian malam ini.”
Tanpa membuang waktu lagi, aku menyuruh para tamu untuk membubarkan diri. Dalam hitungan jam, dengan bantuan pengacara yang kuhubungi malam itu juga, aku mengusir Ibu dan Siti dari rumah megah tersebut tanpa membawa satu pun barang mewah yang dibeli dari uangku. Mereka pergi menyusuri jalanan malam dengan pakaian seadanya, ditimpa rasa malu dan penderitaan yang dulu pernah mereka timpakan pada istriku.
Beberapa bulan berlalu. Rumah megah yang dulu terasa dingin dan penuh kebohongan, kini benar-benar menjadi tempat yang hangat. Dengan perawatan medis dan kasih sayang yang tak terputus, kesehatan Lestari dan Rian perlahan pulih. Rian kini tumbuh menjadi anak yang ceria, aktif, dan bangga memiliki seorang ayah.
Suatu sore, kami bertiga duduk di halaman belakang rumah yang kini telah diubah menjadi taman bunga yang indah. Sunyi dan damai menyelimuti udara.
“Mas…” panggil Lestari lembut sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. “Apakah Mas Budi tidak menyesal telah memutus hubungan dengan Ibu dan Siti?”
Aku memandang Rian yang sedang berlari-lari mengejar kupu-kupu di atas rumput hijau, lalu beralih menatap mata bening istriku yang kini kembali memancarkan kehidupan.
Aku merengkuh jemari Lestari, memeluknya erat. “Pohon yang ingin tumbuh tinggi dan berbuah manis kadang harus merelakan dahan yang membusuk untuk dipotong, Lestari. Keluarga bukan tentang pertalian darah belaka, tetapi tentang siapa yang bersedia menjaga dan mengasihi saat yang lain berada di titik terendah.”
Di bawah langit sore yang memerah, aku menyadari satu hal. Kekayaan materi yang kukumpulkan bertahun-tahun di negeri orang tidak ada artinya sama sekali. Harta sejati yang berhasil kuselamatkan malam itu adalah senyuman di wajah anak dan istriku, sebuah kebahagiaan sederhana yang tak akan pernah kubiarkan tersakiti lagi oleh siapa pun.
