Hujan malam itu turun begitu deras, membasahi jalanan aspal di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dengan ritme yang monoton namun memekakkan telinga. Lampu-lampu mobil dari kendaraan mewah yang terjebak macet memantulkan kilau kemerahan di permukaan jalan yang basah. Di dalam kabin SUV hitamku, AC mendinginkan udara hingga membuatku sedikit menggigil, sementara pikiranku melayang pada setumpuk laporan kantor yang belum selesai dan sisa kelelahan dari perjalanan bisnis panjang dari Surabaya. Aku hanya ingin segera sampai di rumah, merebahkan diri di atas sofa empuk, dan memeluk anakku semata wayang, Raka, yang baru berusia delapan tahun.

Tanpa diduga, sebuah bayangan kecil tiba-tiba melintas di depan mobil. Aku sontak menginjak rem dalam-dalam. Ban mobil berdecit nyaring, menciptakan gesekan tajam di atas aspal basah sebelum akhirnya berhenti tepat beberapa sentimeter dari seorang anak laki-laki kurus berkaus aus yang berdiri mematung di tengah jalan. Tubuhnya kuyup, menggigil hebat, dan di tangannya ia menggenggam sebuah payung biru yang rusuknya sudah patah, tak lagi mampu menahan air dari langit ibu kota yang kejam. Rasa jengkel sempat bergejolak di dadaku; jalanan Jakarta sudah cukup melelahkan tanpa harus ditambah drama di tengah malam seperti ini. Aku membuka laci dasbor, mengambil selembar uang seratus ribuan, berniat memberikannya agar ia segera pergi dari hadapanku.
Namun, saat kaca jendela mobil perlahan turun, anak itu tidak melihat ke arah uang yang kuulurkan. Dengan napas tersengal dan tangan yang bergetar hebat, ia mencengkeram bingkai jendela mobilku dengan erat. Matanya yang bulat menatapku tajam, memancarkan ketakutan yang begitu nyata.
“Om… tolong jangan izinkan Tante Ranti memberikan obat tetes mata itu lagi pada Raka malam ini,” bisiknya gemetar, suaranya hampir tenggelam di antara deru air hujan yang menimpa atap mobil.
Darahku mendadak berdesir, membeku seketika di ujung kepala. Nama itu—Raka—anakku yang selama enam bulan terakhir mengalami penurunan penglihatan drastis hingga hampir buta total. Tiga dokter spesialis mata terkemuka di Jakarta telah angkat tangan, menyatakan bahwa saraf optik anakku mengalami degenerasi genetik yang langka. Istriku, Ranti, adalah orang yang paling telaten merawatnya, menyuapi obat setiap hari, dan menangis paling deras di setiap ruang tunggu rumah sakit. Bagaimana mungkin anak jalanan yang tidak kukenal ini tiba-tiba menyebut nama anakku dan melarang pemberian obat itu?
“Siapa kamu? Dari mana kamu tahu nama anakku?” tanyaku dengan suara serak, cengkeramanku pada setir mengeras hingga buku-buku jariku memutih.
Anak itu menoleh gelisah ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang lain di sekitar trotoar yang gelap gulita sebelum kembali menatapku. “Nama saya Bima, Om. Saya sering mulung di sekitar kompleks perumahan Om. Kadang-kadang, kalau hujan deras, saya berteduh di balik tembok belakang rumah Om.”
Ia menelan ludah susah payah. “Saya tidak sengaja dengar, Om. Dua malam lalu, waktu saya tidur di dekat jendela dapur rumah Om yang terbuka sedikit. Tante Ranti sedang menelepon seseorang. Dia bilang… ‘Tunggu sebentar lagi. Kalau saraf matanya benar-benar rusak total dan dia buta permanen, dia tidak akan bisa membaca surat kuasa harta itu, dan semua aset perusahaan akan jatuh ke tangan kita sepenuhnya’.”
Kata-kata itu menghantam dadaku bagaikan palu godam. Udara di dalam mobil mendadak terasa hampa, membuatku megap-megap mencari oksigen. Ranti? Istriku yang tampak begitu lembut, yang setiap malam mengusap kepala anak kami dengan penuh kasih sayang di hadapanku? Tidak mungkin. Ini pasti lelucon yang kejam atau kesalahpahaman besar. Tapi, melihat sorot mata Bima yang jujur dan ketakutan yang teramat sangat di wajahnya, nuraniku menolak untuk mengabaikannya begitu saja.
Aku membuka pintu mobil, menyuruh Bima masuk ke jok belakang agar ia tidak kedinginan, lalu membawanya ke sebuah warung kopi 24 jam terdekat untuk memberinya makan hangat dan pakaian kering. Setelah memastikan ia aman, aku kembali meluncur pulang ke rumah dengan kepala yang hampir pecah oleh ribuan pertanyaan mengerikan.
Rumah besar bernuansa minimalis itu tampak tenang ketika aku membukanya. Lampu ruang tamu temaram, menyebarkan kehangatan palsu yang kini terasa sangat mencekam. Ranti menyambutku di ambang pintu dengan senyuman manisnya yang biasa, membawa secangkir teh hangat di atas nampan kecil.
“Kamu kok tumben pulangnya agak malam, Mas? Ini teh hangatnya diminum dulu, biar rileks,” ujar Ranti lembut, mencium pipiku seperti biasa.
Mataku tanpa sadar melirik ke arah meja dapur kecil di sudut ruangan. Di sana, di sebelah botol vitamin, berdiri sebuah botol tetes mata berlabel medis resmi yang biasa Ranti berikan kepada Raka setiap malam sebelum tidur. Jantungku berdegup kencang seolah hendak melompat keluar dari rongga dada. Aku mengambil botol itu dengan tangan yang berusaha kuatur agar tidak gemetar, lalu berpura-pura mengagumi labelnya.
“Obat baru dari dokter spesialis kemarin ya, Sayang?” tanyaku dengan nada yang kuusahakan terdengar biasa saja.
Ranti mengangguk tenang, matanya berbinar tanpa sedikit pun rasa bersalah. “Iya, Mas. Dokter bilang itu formula impor khusus untuk merangsang saraf mata Raka. Semoga saja ada keajaiban.”
Di balik senyumannya yang anggun, aku melihat sesuatu yang baru kali ini kusadari—sebuah dingin yang mengerikan di balik tatapan matanya. Malam itu, aku menolak meminum teh yang ia berikan dengan alasan sakit perut, dan diam-diam aku mengambil botol tetes mata tersebut, menukarnya dengan botol kosong sejenis yang kuambil dari kotak P3K di garasi, lalu menyembunyikan botol aslinya di dalam tas kerja.
Keesokan paginya, alih-alih pergi ke kantor, aku mendatangi seorang teman lama yang bekerja sebagai kepala laboratorium forensik independen di kawasan Salemba. Tanpa menceritakan drama rumah tanggaku, aku meminta tolong kepadanya untuk menganalisis kandungan cairan di dalam botol tersebut secara cepat dan rahasia.
Tiga jam kemudian, telepon darinya masuk. Suaranya terdengar tegang dan serius. “Kandungan di dalam cairan ini bukan obat pemulih saraf, kawan. Ini adalah senyawa kimia berbasis logam berat dosis rendah yang sengaja disintesis agar bekerja lambat. Kalau diberikan terus-menerus setiap hari, zat ini secara sistematis akan merusak dan mematikan jaringan saraf optik manusia, menciptakan efek kebutaan permanen tanpa meninggalkan jejak racun yang mencolok. Ini bukan kecelakaan medis. Ini pembunuhan berencana perlahan-lahan.”
Dunia seakan runtuh seketika di sekelilingku. Kakiku lemas, bersandar pada dinding koridor rumah sakit yang dingin. Jadi, Bima benar. Anak kecil pemulung itu telah menyelamatkan nyawa dan masa depan anakku dari tangan wanita yang tidur di sebelahku setiap malam.
Namun, kejutan mengerikan belum berhenti sampai di situ. Sore harinya, saat aku kembali menemui Bima di tempat persembunyiannya yang aman, anak itu menyerahkan sebuah benda kecil yang ditemukannya jatuh di dekat tempat sampah rumahku semalam sebelum ia memberikan peringatan. Sebuah flashdisk kecil berwarna hitam.
Malam harinya, dengan tangan dingin dan gemetar, aku mencolokkan flashdisk itu ke laptopku di ruang kerja yang terkunci rapat. Ada tiga rekaman suara di dalamnya. Dua rekaman pertama berisi percakapan antara Ranti dan seseorang yang suaranya disamarkan. Namun, pada rekaman ketiga yang berdurasi lebih panjang, suara itu terdengar sangat jelas tanpa filter. Suara seorang pria yang sangat kukenal dengan baik.
Adiku sendiri, Dimas.
Dimas, yang selama ini menjabat sebagai direktur keuangan di perusahaan keluarga kami dan selalu tampil sebagai paman yang baik bagi Raka. Dalam rekaman itu, mereka membahas rencana pengalihan seluruh kepemilikan saham yayasan pendidikan dan properti milik ayahku yang diwariskan kepada Raka, setelah anak itu dinyatakan buta permanen dan tidak lagi cakap hukum untuk mengelola aset tersebut. Ranti ternyata adalah kekasih gelap Dimas sejak lama, jauh sebelum wanita itu menikahiku demi menguasai garis keturunan keluarga kami dari dalam.
Rasa sakit, amarah, dan jijik bergolak menjadi satu di dalam dadaku. Mereka tidak hanya merampas penglihatan anakku, tetapi juga mempermainkan nyawa darah dagingku sendiri demi uang dan kekuasaan.
Aku tidak langsung melabrak mereka. Aku bermain cantik. Selama seminggu berikutnya, aku pura-pura bersikap biasa saja, sementara secara diam-diam aku menghentikan pemberian obat tetes buatan Ranti dan menggantinya dengan vitamin murni yang diresepkan oleh dokter independen yang sebenarnya. Keajaiban kecil terjadi; dalam waktu singkat, penglihatan Raka mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Anakku mulai bisa melihat bayangan cahaya dan mengenali warna-warna cerah di sekitarnya, meskipun ia masih harus beradaptasi.
Tepat pada hari ketujuh, ketika bukti forensik dari laboratorium, rekaman suara dari flashdisk, kesaksian Bima, serta surat-surat medis resmi telah terkumpul rapi di dalam map cokelat, aku tidak pulang sendirian ke rumah. Aku datang bersama tiga anggota kepolisian berpakaian preman dan seorang penyidik senior.
Ketika polisi memasuki rumah dan membacakan surat perintah penangkapan atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana dan konspirasi aset, Ranti tidak berteriak histeris seperti wanita bersalah pada umumnya. Ia hanya berdiri di samping meja dapur, menatapku dengan tatapan kosong yang menyimpan kebencian yang mendalam.
“Kamu pikir kamu sudah menang, Mas?” bisik Ranti dingin saat borgol besi melingkar di pergelangan tangannya. “Kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang sudah keluargamu lakukan pada masa lalu keluargaku.”
Ia tersenyum sinis sebelum digiring keluar rumah menuju mobil polisi, meninggalkan keheningan yang pekat di dalam rumah besar yang selama ini terasa begitu hampa. Di luar, hujan gerimis kembali turun, menyapu debu jalanan ibu kota. Di waktu yang hampir bersamaan, Dimas turut dicokok oleh unit kepolisian lainnya di kantor pusat perusahaan saat hendak menandatangani dokumen pengalihan saham darurat.
Beberapa bulan kemudian, hidup kami perlahan kembali menemukan cahayanya, meskipun bekas luka di hati tidak akan pernah bisa terhapus sepenuhnya. Raka kini sudah bisa berlari kecil di halaman rumput hijau sambil tertawa lepas, memegang buku cerita bergambar favoritnya dengan penglihatan yang berangsur pulih meski dibantu kacamata khusus.
Sebelum Bima dikirim kembali ke kampung halamannya untuk melanjutkan pendidikan formal di sebuah pesantren modern melalui program beasiswa penuh yang kubiayai, anak itu datang menemuiku untuk terakhir kalinya di kantor. Ia mengenakan seragam sekolah baru yang rapi, membawa serta payung biru lamanya yang kini sudah diperbaiki.
“Om, saya mau pamit sekolah ya,” kata Bima sambil tersenyum malu-malu, menyerahkan sebuah amplop kertas berisi gambar pemandangan buatannya.
Aku berlutut, merangkul pundaknya erat-erat, dan menahan air mata yang hampir tumpah di sudut mataku. “Terima kasih, Bima. Kalau bukan karena keberanianmu malam itu, Om mungkin sudah kehilangan segalanya.”
Bima menggeleng pelan. “Bukan karena saya hebat, Om. Tapi karena waktu itu, Om mau membuka jendela dan mendengarkan suara orang kecil yang dianggap tidak penting.”
Aku mengangguk dalam-dalam, menyadari sebuah pelajaran hidup yang mahal. Di dunia yang berjalan begitu cepat ini, di mana orang-orang kaya sering kali menutup kaca jendela mobil mereka rapat-rapat dari kebisingan jalanan, kadangkala kebenaran yang paling menyelamatkan justru datang dari tempat yang paling kotor dan dari mulut seseorang yang paling tidak pernah kita duga untuk didengar.
