Diana sama sekali tidak menyentuh panci itu.
Dia duduk santai di meja makan sambil memainkan ponselnya. Di depannya ada segelas kopi dingin, camilan mahal, dan layar tablet yang menampilkan siaran langsung belanja daring.
Yang membuat dadaku semakin sesak, ibuku terus meminta maaf.
“Maaf… Supnya sebentar lagi matang… Jangan marah… Tolong jangan potong uang bulan ini…”
Aku tidak mampu menggerakkan kakiku selama beberapa detik.
Diana bahkan tidak menyadari aku sudah berdiri di belakangnya.
“Ayo cepat!” bentaknya tanpa menoleh. “Kalau supnya gosong, jangan salahkan aku! Javier bilang aku yang bertanggung jawab. Jadi kalau kamu tidak bisa kerja, jangan salahkan aku juga!”
Ibuku mengangguk pelan.
Tangannya bergetar hebat hingga sendok kayu jatuh ke lantai.
Diana langsung berdiri.
“Kamu sengaja, ya? Mau bikin lantai kotor lagi?”

Belum sempat dia melangkah mendekati ibuku, aku sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya.
Dia menoleh dan wajahnya langsung pucat.
“Ja… Javier?”
Aku menatapnya tanpa berkata apa pun.
Tatapanku membuat senyum palsunya menghilang.
“Aku… aku cuma menyuruh Mama latihan supaya tangannya cepat sembuh.”
Aku perlahan melepaskan genggamanku lalu berjalan menghampiri ibuku.
Kulihat lebih jelas bekas luka di lengannya.
Tidak hanya satu.
Ada beberapa luka bakar lama yang mulai menghitam.
Telapak tangannya juga dipenuhi kapalan baru.
“Ibu…” suaraku bergetar.
Ibuku buru-buru menarik lengan bajunya menutupi luka-luka itu.
“Tidak apa-apa, Nak. Ibu ceroboh.”
Aku memegang kedua bahunya.
“Ibu, siapa yang menyuruh Ibu memasak?”
Beliau menunduk.
Air mata menetes satu per satu.
“Diana bilang… kalau Ibu hanya tidur dan makan, Ibu tidak berguna. Dia bilang uang empat puluh juta itu bukan untuk membiayai orang malas.”
Duniaku runtuh.
Selama hampir satu tahun, aku bekerja tanpa mengenal hari libur demi membayar istriku agar ibuku bisa beristirahat.
Ternyata ibuku justru dijadikan pembantu.
Aku menarik napas panjang.
“Diana. Jelaskan.”
Dia buru-buru mendekat.
“Kamu salah paham. Mama sendiri yang ingin membantu. Aku tidak pernah memaksa.”
Aku mengeluarkan ponselku.
“Lalu ini juga salah paham?”
Aku membuka aplikasi kamera rumah.
Dua bulan sebelumnya aku memasang kamera keamanan di garasi dan halaman depan karena marak pencurian. Salah satu teknisi menyarankan tambahan kamera kecil di lorong menuju dapur.
Aku bahkan hampir lupa keberadaannya.
Saat perjalanan pulang tadi, entah kenapa aku membuka rekaman karena penasaran apakah paket yang kupesan sudah sampai.
Yang kulihat membuatku memutar ulang rekaman beberapa hari terakhir.
Di layar terlihat jelas.
Setiap pagi setelah aku berangkat kerja, Diana menyuruh ibuku mencuci piring.
Lalu mengepel lantai.
Mencuci pakaian dengan tangan.
Memasak makan siang.
Bahkan beberapa kali dia duduk menonton drama sementara ibuku yang masih sulit berjalan membawa keranjang cucian.
Tidak ada satu pun adegan yang menunjukkan Diana benar-benar merawatnya.
Wajah Diana kehilangan warna.
“Itu… itu cuma sesekali.”
Aku menggeser video berikutnya.
Di rekaman lain, terdengar suara Diana.
“Kalau Javier tanya, bilang semua pekerjaan ini kemauan Mama sendiri. Kalau tidak, Mama tahu sendiri akibatnya.”
Ibuku hanya diam sambil mengusap air mata.
Aku menutup video.
Rumah kembali sunyi.
“Berapa lama?”
Ibuku tidak menjawab.
Diana justru menyela.
“Javier, dengarkan aku dulu.”
“Berapa lama?” ulangku lebih keras.
Ibuku akhirnya berbisik.
“Hampir… sebelas bulan.”
Aku merasa seluruh tenagaku hilang.
Sebelas bulan.
Sebelas bulan aku hidup dalam kebohongan.
Aku membayar perempuan yang kucintai agar menjaga ibuku, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Hari itu juga aku membawa ibuku ke rumah sakit untuk memeriksa luka-lukanya.
Dokter mengatakan luka bakarnya memang tidak parah, tetapi tubuhnya mengalami kelelahan berat.
“Pasien stroke seharusnya tidak dipaksa melakukan pekerjaan rumah yang berat,” kata dokter tegas.
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Malam harinya aku kembali ke rumah.
Diana sudah menangis sejak aku keluar tadi sore.
“Aku khilaf, Javier. Aku stres. Aku capek.”
Aku menatap perempuan yang pernah menjadi alasan aku percaya pada cinta.
“Aku memberimu empat puluh juta setiap bulan.”
Dia terdiam.
“Aku menyerahkan semua kartu ATM.”
Dia mulai menangis lebih keras.
“Aku bahkan mempercayakan ibuku kepadamu.”
Dia berlutut.
“Ampuni aku. Aku janji berubah.”
Aku menggeleng pelan.
“Bukan aku yang harus memaafkanmu.”
Keesokan harinya aku menemui pengacara.
Bukan karena marah sesaat.
Melainkan karena aku sadar, kepercayaan yang sudah dihancurkan tidak bisa dibangun kembali hanya dengan air mata.
Proses perceraian berlangsung beberapa bulan.
Diana berkali-kali mencoba menghubungiku.
Dia mengatakan semuanya bisa diperbaiki.
Namun ada satu fakta yang baru kuketahui dari laporan rekening bank.
Selama menerima uang empat puluh juta setiap bulan, Diana ternyata diam-diam mentransfer sebagian besar uang itu ke rekening pribadi kakaknya untuk membeli apartemen sebagai investasi.
Tidak satu rupiah pun digunakan untuk menyewa perawat profesional.
Ironisnya, apartemen itu didaftarkan atas nama keluarganya sendiri.
Aku hanya tersenyum pahit saat membaca dokumen tersebut.
Perempuan yang selalu mengeluh tidak punya masa depan ternyata sedang membangun masa depannya dengan mengorbankan ibuku.
Enam bulan kemudian hidup kami benar-benar berubah.
Aku memutuskan mengurangi pekerjaan lembur.
Sebagian tabunganku kugunakan untuk mempekerjakan seorang perawat lansia berpengalaman yang merawat ibuku dengan penuh kesabaran.
Perlahan kondisi Bu Carmen membaik.
Beliau mulai bisa berjalan menggunakan tongkat.
Suatu sore kami duduk di teras rumah menikmati hujan.
Ibuku menggenggam tanganku.
“Nak… Maaf karena Ibu membuat rumah tanggamu hancur.”
Aku tersenyum sambil menggeleng.
“Bukan Ibu yang menghancurkannya.”
Aku menatap langit yang mulai cerah setelah hujan reda.
“Yang hancur hanyalah kebohongan yang selama ini kusebut keluarga.”
Ibuku menitikkan air mata.
Untuk pertama kalinya sejak stroke menyerangnya, beliau tersenyum tanpa rasa takut.
Saat itu aku akhirnya mengerti satu hal.
Uang memang bisa membayar seseorang untuk melakukan pekerjaan.
Tetapi uang tidak pernah bisa membeli hati yang tulus.
Dan orang yang benar-benar menyayangimu tidak akan memperlakukan orang yang paling kau cintai sebagai beban, apalagi sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan.
