Saat telepon itu ditutup, pria tersebut tersenyum tipis, seolah tidak pernah terjadi apa pun beberapa menit sebelumnya. Ia mengambil jasnya, melirikku untuk terakhir kali, lalu berjalan keluar dari kamar hotel tanpa menoleh lagi.
Suara pintu yang menutup menjadi penanda bahwa hubungan kami benar-benar berakhir sebelum sempat dimulai.
Aku berdiri mematung beberapa saat.
Tak lama kemudian, ponselku berbunyi. Sebuah notifikasi transfer masuk sebesar Rp20 juta. Jumlah itu jauh lebih besar daripada yang semula ia berikan secara tunai.
Di kolom keterangan hanya tertulis satu kalimat.

“Semoga hidupmu membaik.”
Aku memejamkan mata.
Entah harus merasa bersyukur atau semakin hancur.
Hari itu juga aku langsung melunasi sebagian besar utang ibu kepada para penagih. Sisanya kubayar menggunakan tabungan terakhir yang kami miliki. Ibu menangis sambil memelukku, tidak tahu pengorbanan seperti apa yang telah kulakukan demi menyelamatkan hidup kami.
Aku memilih menyimpan rahasia itu sendirian.
Beberapa minggu kemudian, ibu meninggal karena komplikasi penyakit yang sudah lama dideritanya.
Aku benar-benar sendirian.
Karena tidak memiliki pekerjaan tetap, aku menerima tawaran dari sebuah agen penyalur asisten rumah tangga. Selama memiliki tempat tinggal dan penghasilan yang cukup, aku bersedia bekerja di mana saja.
Seminggu setelah pelatihan selesai, pemilik agen memanggilku.
“Eliza, ada keluarga baru yang membutuhkan asisten rumah tangga. Gajinya bagus. Rumahnya juga tidak terlalu jauh dari Jakarta.”
Aku mengangguk.
“Siapa majikannya?”
Pemilik agen membuka berkas.
“Namanya Arga Pratama.”
Jantungku berhenti berdetak selama beberapa detik.
Nama itu.
Mustahil aku melupakannya.
Pria yang menghabiskan satu malam bersamaku sebelum hari pernikahannya ternyata adalah calon majikanku.
Aku hampir menolak pekerjaan itu.
Namun saat melihat sisa uang di rekeningku yang semakin menipis, aku sadar tidak punya pilihan.
Dua hari kemudian aku berdiri di depan sebuah rumah mewah di kawasan BSD.
Gerbang besar terbuka perlahan.
Seorang wanita cantik menyambutku dengan senyum hangat.
“Kamu Eliza, ya? Aku Nadine.”
Aku langsung tahu.
Dialah tunangan yang waktu itu dihubungi Arga dari kamar hotel.
Kini ia telah menjadi istrinya.
“Mulai hari ini anggap rumah ini rumahmu juga. Aku tidak suka memperlakukan orang dengan kasar.”
Keramahannya justru membuat dadaku semakin sesak.
Nadine sama sekali tidak pantas disakiti.
Saat sedang berbincang di ruang tamu, suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.
Arga turun sambil mengenakan kemeja kerja.
Begitu mata kami bertemu, wajahnya langsung berubah pucat.
Ia hampir menjatuhkan cangkir kopi yang sedang dipegangnya.
“Mas, ini Mbak Eliza. Asisten rumah tangga baru kita,” kata Nadine riang.
Arga memaksakan senyum.
“Oh… ya.”
Hanya itu.
Tidak ada sapaan lain.
Tidak ada yang tahu bahwa kami sedang berusaha menyembunyikan masa lalu yang sama.
Sejak hari pertama, Arga selalu menghindariku.
Ia berangkat lebih pagi.
Pulang lebih malam.
Bahkan sebisa mungkin tidak pernah berbicara denganku jika Nadine tidak berada di dekat kami.
Suatu malam ketika Nadine menghadiri acara kantor, Arga menghampiriku di dapur.
“Kenapa kamu menerima pekerjaan di sini?”
“Aku tidak tahu kalau rumah ini milik Anda.”
“Aku akan memberimu uang. Berhentilah bekerja di sini.”
Aku menggeleng.
“Saya datang untuk bekerja, bukan meminta uang.”
“Aku takut Nadine tahu.”
Aku menatapnya tenang.
“Kalau saya ingin menghancurkan rumah tangga Anda, saya sudah melakukannya sejak hari pertama.”
Arga terdiam.
“Apa yang terjadi malam itu tidak akan saya ungkit lagi. Saya hanya ingin hidup tenang.”
Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kembali, kulihat penyesalan yang benar-benar tulus di matanya.
Hari-hari berlalu.
Aku mulai mengenal Nadine lebih dekat.
Ia ternyata mengidap penyakit jantung bawaan.
Karena itu dokter melarangnya terlalu lelah atau mengalami tekanan emosional berat.
Barulah aku mengerti mengapa Arga begitu ketakutan jika rahasia masa lalu kami terbongkar.
Bukan hanya rumah tangganya yang bisa hancur.
Kesehatan Nadine pun bisa terancam.
Suatu sore, saat sedang membersihkan ruang kerja Arga, aku tidak sengaja menemukan map berisi hasil pemeriksaan rumah sakit.
Di dalamnya terdapat laporan pemeriksaan DNA.
Nama yang tertera membuatku membeku.
Arga Pratama.
Ayah biologis.
Di bawahnya terdapat nama seorang anak laki-laki berusia lima tahun.
Aku tidak mengenal nama anak itu.
Namun jelas bukan anak Nadine karena mereka belum memiliki buah hati.
Sebelum sempat menutup map itu, Arga masuk ke ruangan.
Wajahnya langsung berubah tegang.
“Kamu membacanya?”
“Saya tidak sengaja.”
Arga terduduk lemas.
“Aku memang pernah melakukan kesalahan sebelum menikah.”
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
“Anak itu lahir beberapa bulan setelah pernikahanku. Ibunya meninggal saat melahirkan. Selama ini aku diam-diam membiayai hidupnya.”
“Kenapa tidak jujur kepada Bu Nadine?”
“Aku takut kehilangan semuanya.”
Aku tidak membenarkan kebohongannya.
Namun aku juga melihat beban yang selama ini ia pikul sendirian.
Takdir kembali mempermainkan kami.
Beberapa minggu kemudian, Nadine pingsan di rumah.
Aku yang pertama kali menemukannya.
Tanpa berpikir panjang, aku segera membawanya ke rumah sakit sambil menghubungi Arga.
Dokter mengatakan Nadine harus segera menjalani operasi yang biayanya sangat besar.
Arga rela menjual sebagian aset perusahaan demi menyelamatkan istrinya.
Operasi berjalan lancar.
Saat Nadine sadar, ia memanggilku.
“Terima kasih sudah menyelamatkan hidupku.”
Aku hanya tersenyum.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Beberapa hari kemudian, Nadine tanpa sengaja menemukan map DNA yang selama ini disembunyikan Arga.
Ia menangis bukan karena keberadaan anak itu.
Melainkan karena suaminya telah memilih berbohong selama bertahun-tahun.
“Aku bisa menerima masa lalumu,” katanya lirih kepada Arga. “Yang tidak bisa kuterima adalah kenyataan bahwa kau tidak pernah percaya padaku.”
Kalimat itu membuat Arga tak mampu menjawab.
Malam itu, aku mengajukan surat pengunduran diri.
Nadine berusaha menahanku.
“Kenapa harus pergi?”
Aku tersenyum pelan.
“Karena keluarga ini membutuhkan kejujuran untuk sembuh. Dan kehadiranku hanya akan terus mengingatkan pada masa lalu.”
Sebelum aku pergi, Arga menghampiriku di depan gerbang.
“Maaf.”
Hanya satu kata.
Tetapi kali ini terdengar jauh lebih berat daripada semua uang yang pernah ia berikan.
Aku mengangguk.
“Saya sudah memaafkan Anda sejak lama.”
Aku melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Beberapa bulan kemudian aku membuka usaha katering kecil menggunakan tabungan hasil bekerja. Perlahan usahaku berkembang hingga mampu mempekerjakan beberapa perempuan yang pernah mengalami kesulitan hidup sepertiku.
Suatu hari, sebuah karangan bunga datang tanpa nama.
Di dalamnya hanya ada secarik kartu.
“Terima kasih karena pernah memilih diam, dan lebih dari itu, karena memilih bangkit.”
Aku tersenyum sambil menutup kartu itu.
Saat itulah aku benar-benar memahami bahwa masa lalu memang tidak bisa dihapus, tetapi tidak harus menentukan masa depan. Seseorang mungkin pernah jatuh karena keadaan, namun harga dirinya tidak ditentukan oleh satu kesalahan, melainkan oleh keberanian untuk bangkit dan menjalani hidup dengan jujur.
