Mara tidak langsung menjawab.
Matanya terpaku pada berkas di tanganku.
Aku melihat bibirnya bergetar pelan, lalu ia menutup pintu kamar dengan hati-hati agar tidak membangunkan anak-anak.
“Aku memang tidak pernah ingin kamu tahu,” katanya lirih.
Aku mengangkat lembar hasil laboratorium itu.
“Stadium dua?”
Suaraku nyaris tidak keluar.
“Kanker payudara?”
Dadaku terasa sesak.
Aku menatapnya seperti menatap orang asing.
“Tiga tahun, Mara… tiga tahun?”
Ia mengangguk perlahan.
“Aku baru tahu setelah benjolan itu membesar.”

“Kenapa kamu diam?”
“Aku tidak ingin menambah bebanmu.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena seluruh dunia terasa seperti mengejekku.
“Beban?”
Aku menunjuk kuitansi-kuitansi yang berserakan di lantai.
“Kamu menjalani kemoterapi sendirian, sementara aku tidak tahu apa-apa.”
Mara menunduk.
“Aku masih bisa berjalan sendiri saat itu.”
“Jawab pertanyaanku!”
Suaraku menggema di dalam kamar.
Ibuku yang berada di kamar sebelah sampai terbatuk pelan.
Mara mengusap air matanya.
“Karena setiap kali aku ingin mengatakannya, kamu selalu bilang uang sedang sulit.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada pukulan apa pun.
Aku terdiam.
Ia melanjutkan dengan suara pelan.
“Aku pikir perusahaanmu benar-benar sedang mengalami masalah.”
“Aku tidak mau kamu merasa gagal sebagai kepala keluarga.”
“Aku juga takut kalau biaya pengobatanku membuat anak-anak berhenti sekolah.”
Tanganku mulai gemetar.
“Tapi… biaya rumah sakit ini…”
Mara mengambil map biru dari lemari.
Ia menyerahkannya kepadaku.
“Semuanya ada di situ.”
Aku membukanya.
Isinya bukan hanya kuitansi.
Ada bukti transfer.
Slip lembur.
Rekening tabungan.
Surat-surat pinjaman yang sudah lunas.
Aku membaca satu demi satu.
Malam hari.
Menjahit pakaian di rumah tetangga.
Mencuci baju di sebuah laundry kecil.
Membuat kue basah untuk dititipkan ke kantin sekolah.
Menjadi admin toko online hingga pukul dua dini hari.
Selama lima tahun.
Setelah anak-anak tidur.
Saat aku mengira istriku sedang beristirahat…
Ia ternyata bekerja tanpa henti.
Mataku berhenti pada satu angka.
Total tabungan.
Rp247.000.000.
Aku memandangnya bingung.
“Ini uang siapa?”
“Uang kita.”
“Bagaimana mungkin?”
Mara tersenyum tipis.
“Sedikit demi sedikit.”
“Aku sisihkan.”
“Kalau suatu hari kamu sakit, anak-anak tetap bisa sekolah.”
Aku merasa kakiku lemas.
Aku…
Yang setiap bulan menyembunyikan lebih dari empat belas juta rupiah.
Aku…
Yang memiliki rekening rahasia hampir sembilan ratus juta rupiah.
Aku…
Yang menganggap sedang mengendalikan istriku.
Sementara perempuan yang kuanggap lemah…
Diam-diam sedang membangun masa depan keluarga kami.
Aku terduduk di lantai.
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
“Mara…”
Ia menghampiriku.
Namun aku justru mundur.
“Jangan.”
Aku tidak sanggup disentuh olehnya.
Karena untuk pertama kalinya…
Aku merasa diriku begitu kotor.
“Aku berbohong.”
Ia mengernyit.
“Maksudmu?”
Aku mengambil ponsel.
Kubuka aplikasi mobile banking.
Lalu kuberikan kepadanya.
Ia melihat saldo rekening.
Angka yang selama lima tahun kusembunyikan.
Lebih dari sembilan ratus juta rupiah.
Matanya membesar.
Ia menatapku tanpa berkata apa pun.
“Aku tidak pernah kehilangan pekerjaan.”
“Gajiku tidak pernah turun.”
“Bonusku tidak pernah dihentikan.”
“Aku…”
Aku bahkan tidak mampu menyelesaikan kalimatku.
“Aku sengaja memberimu sedikit uang.”
Sunyi.
Begitu sunyi.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada tamparan.
Tidak ada makian.
Mara hanya memandangku.
Tatapan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
“Aku cuma takut kehilanganmu,” kataku terbata.
“Aku dengar kata teman-teman…”
Ia menggeleng pelan.
“Jadi selama lima tahun…”
“Semua kesulitan yang dialami anak-anak…”
“Semua malam saat aku menangis karena tidak tahu harus membeli obat Ibu atau susu untuk si bungsu…”
“Itu semua karena pilihanmu?”
Aku menangis.
Mengangguk.
Ia memejamkan mata.
Air matanya mengalir.
Bukan tangisan keras.
Melainkan tangisan seseorang yang sudah terlalu lelah.
“Aku selalu berpikir…”
“Suamiku bekerja keras demi keluarga.”
“Ternyata…”
Ia menarik napas panjang.
“Yang paling menyakiti keluarga ini justru suamiku sendiri.”
Kalimat itu menghancurkan seluruh pertahananku.
Hari berikutnya aku tidak berangkat bekerja.
Aku membawa Mara kembali ke RSCM.
Dokter mengatakan ada satu kabar baik.
Sel kanker belum menyebar ke organ lain.
Namun pengobatan yang tertunda membuat peluang kesembuhan menurun.
Kalau saja terapi dilakukan lebih cepat…
Kemungkinan sembuh jauh lebih besar.
Aku hampir tidak sanggup berdiri mendengar penjelasan dokter.
Di parkiran rumah sakit…
Aku memukul kaca mobilku sendiri sampai tangan berdarah.
Bukan karena marah kepada siapa pun.
Aku marah pada diriku sendiri.
Setiap luka yang diderita Mara…
Sebagian berasal dari kebohonganku.
Hari itu juga aku mencairkan seluruh tabungan rahasiaku.
Aku menjual mobil pribadi.
Aku mengambil cuti panjang.
Aku mengantar Mara menjalani setiap sesi kemoterapi.
Aku belajar menyuntik insulin untuk ibuku.
Aku memasak.
Mengantar anak-anak sekolah.
Mencuci pakaian.
Semua hal yang selama ini kulihat begitu mudah ketika dikerjakan Mara.
Baru beberapa minggu menjalaninya…
Aku merasa hampir menyerah.
Dan saat itulah aku sadar.
Selama bertahun-tahun…
Istriku menjalani semuanya sendirian.
Tanpa pernah mengeluh.
Enam bulan kemudian, rambut Mara mulai rontok akibat kemoterapi.
Suatu malam ia berdiri lama di depan cermin.
Tanpa berkata apa-apa.
Aku mengambil alat cukur.
Lalu duduk di depannya.
“Boleh?”
Ia menatapku melalui pantulan cermin.
“Kenapa?”
“Karena aku ingin menemanimu.”
Perlahan aku mencukur rambutnya hingga habis.
Setelah selesai…
Aku menyalakan alat cukur itu lagi.
Kali ini ke kepalaku sendiri.
“Daniel…”
Mara menangis.
Aku menggenggam tangannya.
“Dulu aku menggunakan uang untuk mengendalikanmu.”
“Sekarang biarkan aku menggunakan sisa hidupku untuk menebus semuanya.”
Setahun kemudian.
Hasil pemeriksaan menunjukkan sel kanker Mara berhasil dikendalikan.
Dokter mengatakan ia memasuki masa remisi.
Hari itu kami pulang bersama.
Anak-anak berlari memeluk ibunya.
Ibuku yang sudah jauh lebih sehat ikut menangis melihat kami.
Malamnya, saat membereskan lemari, aku menemukan sebuah buku catatan kecil milik Mara.
Di halaman terakhir tertulis kalimat yang membuatku kembali menangis.
“Kalau suatu hari aku tidak sempat hidup lebih lama, semoga Daniel tidak pernah tahu betapa takutnya aku setiap malam.”
“Aku ingin dia tetap percaya bahwa dirinya adalah suami yang hebat.”
Aku menutup buku itu perlahan.
Selama lima tahun aku menyembunyikan uang karena mengira kekurangan akan membuat istriku bergantung kepadaku.
Padahal yang membuat seseorang tetap bertahan dalam sebuah keluarga bukanlah uang, melainkan kepercayaan.
Uang yang kusimpan hanya menghasilkan rasa curiga.
Sementara cinta yang diam-diam disimpan Mara, bahkan ketika tubuhnya perlahan dihancurkan penyakit, justru berhasil menyelamatkan keluarga kami.
