Aku terpaku di ambang pintu kamar mandi.
Suara tetesan air dari keran menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Ibuku masih memegang tepi wastafel, napasnya tersengal. Wajahnya begitu pucat hingga bibirnya hampir tak lagi berwarna.
“Apa maksud Ibu?” tanyaku pelan, kali ini tanpa amarah.
Beliau menggeleng lemah.
“Tolong… jangan tanya sekarang.”
Jawaban itu justru membuat emosiku kembali meledak.
“Enam bulan, Bu! Enam bulan Ibu tinggal di rumahku. Apa lagi yang Ibu sembunyikan?”
Brandon mencoba menarik lenganku.
“Larissa, tenang dulu.”
Namun aku melepaskan genggamannya.
“Tidak! Aku berhak tahu!”
Ibuku menutup mata beberapa detik sebelum akhirnya berkata lirih.
“Besok pagi… Ibu akan jelaskan semuanya.”
Malam itu tidak ada seorang pun yang bisa tidur.
Aku memandangi langit Jakarta dari balkon apartemen, sementara pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan yang semakin liar.
Sekitar pukul dua dini hari, Helena menangis.
Aku bangun untuk mengambil susu.
Saat melewati ruang keluarga, aku melihat lampu kecil masih menyala.
Ibuku tidak ada di kamarnya.
Perasaan aneh kembali muncul.
Aku teringat kamera CCTV yang kupasang beberapa bulan lalu. Awalnya hanya untuk memantau Helena ketika kami bekerja.
Selama ini aku hampir tidak pernah membuka rekamannya.

Entah dorongan apa yang membuatku mengambil tablet dan membuka aplikasi CCTV malam itu.
Aku memilih rekaman beberapa minggu terakhir.
Awalnya tidak ada yang aneh.
Ibuku menggendong Helena.
Memasak.
Menyapu.
Menyiram tanaman kecil di balkon.
Lalu pada rekaman sekitar pukul sebelas siang tiga minggu sebelumnya, aku melihat sesuatu yang membuatku menghentikan video.
Ibuku sedang sendirian.
Beliau duduk di sofa sambil memegangi perutnya.
Beberapa detik kemudian beliau menangis.
Bukan menangis biasa.
Tangis seseorang yang menahan rasa sakit luar biasa.
Beliau menggigit ujung kerudungnya agar tidak mengeluarkan suara.
Dadaku mulai sesak.
Aku mempercepat rekaman.
Hari berikutnya.
Beliau hampir jatuh saat mengangkat Helena.
Namun sebelum tubuhnya menyentuh lantai, beliau memeluk cucunya erat-erat agar tidak terbentur.
Beliau sendiri yang menghantam lantai lebih dulu.
Aku menutup mulutku.
Aku sama sekali tidak pernah tahu.
Aku kembali mempercepat video.
Di rekaman lain, beliau beberapa kali menelan obat dari botol kecil tanpa label.
Setelah itu beliau duduk sendirian sambil memegang hasil pemeriksaan laboratorium yang sengaja dibalik agar tidak terlihat kamera.
Tangannya gemetar.
Beliau mengusap air mata.
Lalu memasukkan semua berkas itu kembali ke dalam tas.
Jantungku berdetak semakin keras.
Aku memperbesar gambar.
Sayangnya tulisan pada dokumen tidak bisa terbaca.
Namun ada satu hal yang membuat darahku seakan berhenti mengalir.
Di rekaman dua hari sebelumnya, sekitar pukul empat sore, seorang pria berjas putih datang ke apartemen.
Bukan dokter rumah sakit.
Melainkan dokter yang pernah menangani persalinanku dulu.
Aku mengenalnya.
Beliau masuk selama hampir tiga puluh menit.
Saat keluar, wajah dokter itu terlihat sangat serius.
Ibuku mengantarnya sampai pintu.
Sebelum pintu tertutup, dokter itu menggenggam kedua tangan ibuku sambil menggeleng pelan.
Aku langsung membangunkan Brandon.
“Kenapa dokter datang ke sini? Kenapa mereka tidak bilang apa-apa?”
Kami tidak menunggu sampai pagi.
Pukul enam, kami membawa Ibu Sonia ke rumah sakit terbesar di Jakarta Selatan.
Kali ini beliau tidak menolak.
Beliau hanya tersenyum tipis.
Mungkin karena akhirnya sadar tak ada lagi yang bisa disembunyikan.
Hasil pemeriksaan keluar beberapa jam kemudian.
Dokter meminta kami masuk ke ruang konsultasi.
Beliau menarik napas panjang sebelum berbicara.
“Saya minta keluarga tetap tenang.”
Tanganku mulai dingin.
“Yang terlihat seperti kehamilan itu bukan kehamilan.”
Aku menoleh ke arah ibuku.
Beliau hanya menunduk.
Dokter melanjutkan.
“Ibu Sonia memiliki tumor ovarium berukuran sangat besar. Beratnya hampir sebelas kilogram.”
Dunia seolah berhenti berputar.
Aku menatap dokter tanpa mampu berkedip.
“Selama beberapa bulan terakhir, tumor itu terus membesar hingga mendorong seluruh organ di rongga perut.”
Air mataku langsung mengalir.
“Bukan… hamil?”
Dokter menggeleng.
“Sayangnya bukan. Dan kondisinya sudah cukup berbahaya.”
Aku memegang kepala.
Semua prasangka yang selama ini memenuhi pikiranku berubah menjadi rasa bersalah yang menghancurkan.
Aku teringat semua kata-kata yang kuucapkan malam sebelumnya.
Aku bahkan menuduh ibuku mengkhianati mendiang ayah.
Ibuku meraih tanganku.
“Sudah… jangan menangis.”
Aku justru menangis semakin keras.
“Kenapa Ibu tidak bilang?”
Beliau tersenyum lembut.
“Karena uang operasi terlalu mahal.”
Dokter membuka berkas.
“Enam bulan lalu, beliau sebenarnya sudah diperiksa di Surabaya. Kami menyarankan operasi secepatnya.”
Aku menoleh.
“Enam bulan lalu?”
Ibuku mengangguk.
“Waktu itu kamu baru melahirkan Helena.”
Beliau mengusap kepalaku seperti saat aku masih kecil.
“Ibu lihat kamu kelelahan. Biaya persalinan juga belum lama keluar. Cicilan apartemen masih berjalan.”
Aku mulai mengerti.
Beliau datang ke Jakarta bukan hanya untuk membantu merawat cucunya.
Beliau datang sambil membawa penyakit yang sudah diketahui.
“Aku pikir… kalau Ibu tinggal di sini sebentar, membantu kalian sampai keadaan lebih tenang, nanti Ibu pulang dan berobat.”
Suara beliau semakin lirih.
“Tapi tumornya tumbuh lebih cepat dari perkiraan.”
Aku menangis tersedu-sedu.
“Kenapa Ibu rela seperti ini?”
Beliau tersenyum lagi.
“Karena seorang ibu memang begitu.”
Tidak ada jawaban lain.
Hanya kalimat sederhana yang terasa lebih berat daripada apa pun.
Operasi dijadwalkan keesokan harinya.
Berlangsung hampir enam jam.
Aku dan Brandon menunggu tanpa henti.
Saat dokter akhirnya keluar sambil melepas masker, aku langsung berdiri.
“Operasinya berhasil.”
Aku langsung memeluk Brandon sambil menangis.
Namun dokter belum selesai berbicara.
“Hasil awal menunjukkan tumornya kemungkinan besar jinak. Kami tetap menunggu pemeriksaan patologi, tetapi peluangnya sangat baik.”
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, aku bisa bernapas lega.
Beberapa minggu kemudian, tubuh ibuku mulai pulih.
Perutnya kembali rata.
Wajahnya perlahan berisi lagi.
Helena kembali tertawa setiap kali melihat neneknya berjalan di ruang tamu.
Suatu sore, saat membereskan lemari ibuku sebelum beliau kembali ke Surabaya, aku menemukan sebuah amplop cokelat.
Di dalamnya ada buku tabungan.
Saldo terakhir mencapai seratus lima puluh juta rupiah.
Aku kebingungan.
“Ibu, uang siapa ini?”
Beliau tersenyum malu.
“Itu uang yang kamu kasih setiap bulan.”
Aku tercengang.
“Tapi Ibu tidak pernah menerima.”
“Aku terima.”
Beliau mengangguk pelan.
“Lalu setiap bulan Ibu masukkan ke tabungan atas nama Helena.”
Air mataku kembali jatuh.
Selama enam bulan, perempuan yang sedang membawa tumor hampir sebelas kilogram di dalam tubuhnya tetap memasak untuk kami, tetap menggendong cucunya, tetap menyembunyikan rasa sakitnya, dan bahkan tidak menggunakan sepeser pun uang yang kuberikan karena seluruhnya diam-diam ditabung untuk masa depan anakku.
Malam itu aku membuka kembali rekaman CCTV yang dulu membuatku dipenuhi prasangka.
Kini aku melihatnya dengan mata yang berbeda.
Di layar itu tidak ada seorang perempuan yang menyimpan aib.
Yang ada hanyalah seorang ibu yang menyembunyikan penderitaan agar anaknya tidak ikut terluka.
Dan penyesalan terbesar dalam hidupku bukanlah karena aku pernah membuka rekaman kamera itu.
Melainkan karena sebelum membuka rekaman tersebut, aku lebih memilih mempercayai prasangkaku daripada mempercayai perempuan yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencintaiku tanpa syarat.
