Pak Berto tersenyum tipis sambil menepuk pelan punggung Celine.
“Syukurlah kamu baik-baik saja. Itu saja sudah cukup buat saya.”
Celine menggeleng kuat. Air matanya belum berhenti mengalir.
“Bapak tidak tahu. Sejak hari itu hidup saya berubah. Dokter bilang saya bisa meninggal karena menghirup terlalu banyak asap. Kalau bukan karena Bapak, saya tidak akan berdiri di sini hari ini.”
Ruangan kecil itu mendadak terasa begitu sunyi.
Jake hanya berdiri mematung.
Dadanya seperti dihantam sesuatu yang berat.
Ia baru saja mempermalukan orang yang ternyata telah menyelamatkan nyawa perempuan yang paling ia cintai.
Pak Berto malah tersenyum canggung.
“Sudahlah, Nona. Itu sudah lama sekali.”
“Bukan, Pak.”
Celine mengusap air matanya.
“Itu bukan hal kecil.”
“Ayah saya sudah menyewa detektif selama bertahun-tahun untuk mencari Bapak. Kami hanya tahu penyelamat saya adalah seorang pemulung yang mengalami luka bakar parah. Semua orang bilang setelah kejadian itu Bapak menghilang.”
Pak Berto tertawa kecil.
“Bukan menghilang.”
“Saya cuma pindah ke Bekasi karena harga kontrakan di Jakarta naik.”

Jake menundukkan kepala.
Setiap kata terasa seperti tamparan.
Celine lalu memperhatikan ruang tamu sederhana itu.
Matanya berhenti pada sebuah pigura tua di sudut lemari.
Di dalamnya ada foto Jake saat wisuda.
Pak Berto berdiri di sampingnya sambil mengenakan kemeja lusuh yang sudah pudar warnanya.
Tatapan Celine berubah bingung.
“Pak… kalau Bapak pembantu…”
Belum selesai ia berbicara.
Pak Berto buru-buru menjawab.
“Iya, saya memang…”
“Ayah.”
Suara Jake memotong.
Pelan.
Hampir tak terdengar.
Semua orang menoleh.
Jake menatap lantai.
Tangannya gemetar.
“Dia ayah saya.”
Tidak ada lagi yang bisa ia sembunyikan.
Air matanya menetes begitu saja.
“Saya bohong.”
Ruangan kembali sunyi.
“Saya malu.”
“Saya takut Celine meninggalkan saya kalau tahu saya anak pemulung.”
“Saya takut keluarganya tidak akan menerima saya.”
Jake lalu berjalan mendekati ayahnya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Ia benar-benar melihat wajah pria tua itu.
Kerutan yang semakin dalam.
Rambut yang hampir seluruhnya memutih.
Bekas luka bakar yang dulu tidak pernah ingin ia perhatikan.
Tangannya yang kasar penuh kapalan.
Tangan itulah yang dahulu menggandengnya ke sekolah.
Tangan yang sama yang setiap malam menghitung recehan hasil memulung demi membayar uang kuliah.
Jake langsung berlutut.
“Maafkan aku, Yah…”
Suaranya pecah.
“Aku anak yang durhaka.”
Pak Berto terlihat panik.
“Heh, jangan begitu…”
Namun Jake memeluk kedua kaki ayahnya sambil menangis.
“Aku lebih takut kehilangan gengsi daripada kehilangan ayah.”
“Aku bahkan tega menghapus hubungan kita hanya demi terlihat pantas.”
Pak Berto menghela napas panjang.
Tangannya yang kasar mengusap kepala Jake.
“Kalau Ayah marah, Ayah sudah marah dari tadi.”
“Tapi Ayah cuma sedih.”
Jake menangis semakin keras.
“Yang paling Ayah takutkan bukan hidup miskin.”
“Yang Ayah takutkan adalah suatu hari kamu lupa dari mana kamu berasal.”
Kalimat itu menusuk jauh lebih dalam daripada bentakan apa pun.
Celine ikut berlutut di samping Jake.
Ia menggenggam tangan Pak Berto.
“Pak… boleh saya memanggil Bapak dengan sebutan Ayah juga?”
Pak Berto langsung terkejut.
“Hah?”
“Saya sudah kehilangan kesempatan berterima kasih selama sepuluh tahun.”
“Kalau Bapak mengizinkan, saya ingin menebusnya mulai hari ini.”
Pak Berto tersenyum malu.
“Nona terlalu baik.”
“Bukan karena saya baik.”
Celine menoleh ke arah Jake.
“Saya hanya menghormati orang yang mempertaruhkan nyawanya demi orang lain.”
Tatapan itu membuat Jake semakin merasa kecil.
Malam itu, Celine diam-diam mengirim pesan kepada ayahnya.
Hanya satu kalimat.
“Ayah… saya sudah menemukan penyelamat saya.”
Keesokan paginya, sebuah iring-iringan mobil hitam memasuki gang sempit tempat rumah Pak Berto berdiri.
Para tetangga keluar rumah karena penasaran.
Belum pernah mereka melihat mobil semewah itu masuk ke lingkungan mereka.
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun turun dari mobil paling depan.
Setelan jasnya sederhana, tetapi wibawanya begitu kuat.
Dialah Hendra Wijaya.
Salah satu pengusaha terbesar di Jakarta.
Begitu melihat Pak Berto keluar rumah, Hendra langsung menghampiri.
Tanpa berkata apa-apa.
Ia membungkukkan badan.
Lalu memberi hormat dengan penuh rasa hormat.
Semua orang terdiam.
Jake bahkan tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
Seorang konglomerat…
Membungkuk kepada ayahnya.
“Pak.”
Suara Hendra bergetar.
“Terima kasih karena telah mengembalikan anak saya kepada saya.”
Ia kemudian menyerahkan sebuah map biru.
“Saya tahu uang tidak bisa membalas nyawa.”
“Tapi izinkan keluarga kami melakukan sesuatu.”
Pak Berto membuka map itu.
Di dalamnya terdapat sertifikat rumah baru.
Tabungan pensiun.
Asuransi kesehatan seumur hidup.
Dan surat pengangkatan sebagai penasihat yayasan sosial milik keluarga Wijaya yang bergerak membantu para pekerja informal serta anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Pak Berto buru-buru menutup map itu.
“Pak… ini terlalu banyak.”
Hendra menggeleng.
“Masih terlalu sedikit.”
Jake kembali meneteskan air mata.
Namun kejutan belum selesai.
Hendra menoleh kepadanya.
“Jake.”
Pria itu mendekat.
“Aku tahu kamu bekerja di perusahaan anak usahaku.”
Wajah Jake langsung pucat.
“Aku juga tahu laporan kinerjamu selama ini sangat baik.”
Jake tidak sanggup menjawab.
“Tapi mulai hari ini.”
Suara Hendra menjadi lebih tegas.
“Aku tidak menilai kamu dari pekerjaanmu.”
“Aku akan menilai bagaimana kamu memperlakukan ayahmu.”
“Kalau kamu gagal menghormati orang yang membesarkanmu, sebesar apa pun jabatanmu nanti, kamu tidak layak memimpin siapa pun.”
Jake hanya mampu mengangguk sambil menangis.
Sejak hari itu hidup mereka berubah.
Pak Berto memang tidak lagi harus memulung demi bertahan hidup.
Namun setiap minggu ia tetap datang ke bank sampah di lingkungan sekitar.
Bukan untuk mencari uang.
Melainkan membantu para pemulung lain mengurus administrasi, pendidikan anak-anak mereka, dan membuka jalan agar mereka mendapat pekerjaan yang lebih layak melalui yayasan milik keluarga Wijaya.
Jake sering ikut mendampingi.
Bukan karena diminta.
Melainkan karena ia ingin belajar menjadi anak yang pantas.
Suatu sore, saat mereka berjalan berdampingan mendorong gerobak kosong yang kini dipakai membawa bantuan sembako untuk warga, Jake bertanya pelan.
“Yah… kenapa dulu Ayah tidak pernah bilang kalau Ayah pernah menyelamatkan Celine?”
Pak Berto tersenyum sambil memandang langit yang mulai jingga.
“Kalau setiap kebaikan harus diceritakan supaya dihargai, berarti itu bukan lagi kebaikan.”
Jake terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar memahami arti seorang ayah.
Ia pernah mengira pekerjaan ayahnya adalah sesuatu yang memalukan.
Padahal yang seharusnya ia malu adalah hatinya sendiri yang pernah lupa bahwa kehormatan seseorang tidak pernah ditentukan oleh pekerjaannya, melainkan oleh keberanian, pengorbanan, dan kasih sayang yang ia berikan kepada orang lain tanpa pernah meminta balasan.
