Aku hanya bisa menatap Don Severino tanpa mengerti apa yang baru saja kudengar. Kata-katanya terdengar begitu mustahil hingga aku mulai berpikir bahwa semua ini hanyalah cara halus untuk menenangkanku sebelum kenyataan yang lebih buruk datang.
“Apa maksud Bapak?” suaraku bergetar.
Pria tua itu menghela napas panjang. Ia bangkit perlahan, lalu membuka laci meja di samping tempat tidur. Dari sana ia mengeluarkan sebuah map cokelat yang sudah tampak usang.
“Semua jawaban ada di sini.”
Tanganku masih gemetar ketika menerima map itu. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto, akta kelahiran lama, hasil tes DNA, serta surat-surat yang sudah menguning dimakan waktu.
Mataku terpaku pada satu foto.
Foto seorang perempuan muda yang wajahnya hampir sama persis denganku.
Aku menoleh ke Don Severino.
“Itu…”
“Itu ibumu. Foto itu diambil dua puluh dua tahun yang lalu.”
Dadaku sesak.
“Ibu?”
Don Severino mengangguk pelan.
“Dulu aku mengenalnya jauh sebelum kau lahir.”
Aku merasa seluruh tubuhku kehilangan tenaga.
“Aku pernah mencintainya.”
Ruangan itu mendadak terasa sunyi.

“Aku dan ibumu hampir menikah. Namun keluargaku menolak karena kami berasal dari dunia yang berbeda. Aku dipaksa menikahi perempuan lain. Setelah itu kami kehilangan kontak.”
Aku mencoba mencerna semuanya.
“Lalu… kenapa Bapak mencari saya?”
Ia menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Karena beberapa bulan lalu seseorang mencoba membunuhmu.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Bukan sekali.”
Tanganku langsung dingin.
“Ada orang yang mengincar warisan keluargaku. Mereka menemukan bahwa aku tidak memiliki anak kandung. Mereka berencana memaksaku menandatangani seluruh aset perusahaan kepada keponakanku, Adrian.”
Ia berhenti sejenak.
“Namun beberapa tahun lalu aku mengetahui bahwa perempuan yang pernah kucintai memiliki seorang putri. Aku menyuruh orang untuk menyelidiki kehidupanmu.”
Aku menggeleng.
“Ini tidak masuk akal.”
“Baca halaman terakhir.”
Kubuka halaman terakhir.
Di sana tertulis laporan investigasi lengkap mengenai keluargaku.
Aku membaca perlahan.
Utang yang tiba-tiba membengkak.
Lahan sawah kami yang sengaja digugat.
Ayah yang meninggal karena obat palsu.
Hingga seseorang yang diam-diam beberapa kali mengikuti kegiatanku saat kuliah.
Aku semakin sulit bernapas.
“Semua ini…”
“Disusun oleh orang yang sama.”
Aku mendongak.
“Adrian.”
Don Severino mengangguk.
“Dia percaya kau adalah ancaman, meski saat itu aku bahkan belum menemukanmu.”
Air mataku mulai jatuh.
“Kalau begitu… ibu menjualku…”
“Tidak.”
Suara Don Severino terdengar mantap.
“Ibumu datang kepadaku sambil menangis.”
Aku terpaku.
“Ia memohon agar aku menyelamatkanmu.”
Dunia seolah berhenti.
“Ibumu tahu seseorang sedang mengawasimu. Ia tahu jika kau tetap tinggal di desa, suatu hari kau akan menghilang tanpa jejak.”
Air mataku mengalir semakin deras.
“Uang lima miliar itu…”
“Tidak pernah kuberikan sebagai harga dirimu.”
“Lalu?”
“Itu pelunasan seluruh utang keluargamu, biaya sekolah kedua adikmu sampai lulus universitas, pembelian kembali tanah keluarga, dan dana agar ibumu bisa hidup tenang.”
Aku menutup mulutku sendiri.
Selama dua minggu terakhir…
Aku membenci ibuku.
Aku menganggapnya telah menjual anaknya sendiri.
Padahal selama itu ia justru sedang berusaha menyelamatkanku.
Aku menangis tanpa suara.
Don Severino tidak mendekat.
Ia hanya membiarkanku meluapkan semuanya.
Setelah aku sedikit tenang, ia berkata pelan.
“Mulai malam ini kau tinggal di rumah ini bukan sebagai istri.”
“Lalu sebagai apa?”
“Sebagai putriku.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Pernikahan ini hanyalah perlindungan hukum.”
“Perlindungan?”
“Selama kau berstatus istriku, tidak ada seorang pun yang berani menyentuhmu.”
Aku mulai memahami.
Semua ini hanyalah penyamaran.
Keesokan paginya, Don Severino mengadakan rapat keluarga besar.
Untuk pertama kalinya aku bertemu Adrian.
Usianya sekitar tiga puluh lima tahun.
Rapi.
Tampan.
Namun sorot matanya membuat bulu kudukku berdiri.
Ia tersenyum ramah di depan semua orang.
Namun ketika melewatiku, ia berbisik pelan.
“Kau tidak akan bertahan lama di rumah ini.”
Aku pura-pura tidak mendengar.
Beberapa hari berikutnya berbagai kejadian aneh mulai terjadi.
Rem mobilku mendadak tidak berfungsi.
Lampu gantung hampir menimpaku.
Makananku pernah mengandung zat yang membuatku pingsan selama dua belas jam.
Untung seluruh rumah telah dipenuhi kamera keamanan.
Setiap kejadian berhasil direkam.
Namun Adrian selalu memiliki alibi sempurna.
Don Severino hanya berkata satu kalimat.
“Biarkan dia merasa menang.”
Aku mulai belajar menjalankan perusahaan bersama Don Severino.
Ia mengajariku membaca laporan keuangan, memahami investasi, hingga memimpin rapat.
Awalnya aku hanyalah gadis desa yang bahkan tidak pernah masuk gedung perkantoran.
Enam bulan kemudian aku sudah mampu mempresentasikan strategi bisnis di depan puluhan direktur.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa dihargai karena kemampuanku, bukan karena belas kasihan.
Sementara itu hubungan dengan ibuku perlahan pulih.
Suatu malam aku memeluknya sambil menangis.
“Maafkan aku, Bu.”
Ibuku ikut menangis.
“Aku lebih rela kau membenciku seumur hidup daripada kehilanganmu.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Beberapa minggu kemudian keadaan berubah drastis.
Don Severino tiba-tiba mengalami serangan jantung saat menghadiri rapat.
Sebelum dibawa ke rumah sakit, ia sempat menggenggam tanganku.
“Sudah waktunya.”
Itu kalimat terakhir yang kudengar darinya dalam keadaan sadar.
Di rumah sakit, seluruh keluarga berkumpul.
Adrian tampak paling sibuk mengatur segala sesuatu.
Bahkan ia mulai membicarakan pembagian saham.
Namun ia tidak tahu bahwa beberapa hari sebelumnya Don Severino telah memanggil seorang notaris.
Semua direkam secara resmi.
Saat rapat darurat perusahaan dimulai, notaris membuka surat wasiat terbaru.
Ruangan menjadi sunyi.
“Seluruh kepemilikan mayoritas perusahaan dialihkan kepada Amihan Lira Salcedo.”
Semua orang berdiri.
Adrian membanting meja.
“Itu mustahil!”
Notaris melanjutkan.
“Selain itu terdapat lampiran berupa bukti penggelapan dana perusahaan, percobaan pembunuhan terhadap Amihan Lira Salcedo, pemalsuan dokumen, serta rekaman percakapan Adrian dengan pihak ketiga.”
Wajah Adrian langsung pucat.
Layar besar di ruang rapat menyala.
Satu demi satu video diputar.
Video saat ia menyuruh seseorang merusak rem mobilku.
Video saat ia membayar perawat untuk mencampurkan obat.
Video ketika ia berkata bahwa aku harus mati sebelum Don Severino mengubah surat warisan.
Tidak ada lagi yang bisa ia bantah.
Beberapa menit kemudian polisi datang.
Adrian diborgol di depan seluruh direksi.
Saat melewatiku, ia berteriak penuh kebencian.
“Semua ini gara-gara kau!”
Aku menatapnya tenang.
“Bukan.”
Aku menggeleng pelan.
“Semua ini karena kau terlalu serakah.”
Sebulan kemudian Don Severino meninggal dengan tenang.
Pada hari pemakamannya, ribuan karyawan hadir mengantarnya.
Aku berdiri di depan makamnya sambil memegang surat terakhir yang ia tulis.
Isinya sangat singkat.
“Jika suatu hari kau membaca surat ini, berarti aku sudah pergi. Jangan pernah hidup sebagai gadis yang merasa dirinya pernah dijual. Hiduplah sebagai perempuan yang berhasil diselamatkan oleh keberanian seorang ibu yang rela dibenci demi masa depan anaknya.”
Aku memeluk surat itu erat.
Selama bertahun-tahun aku percaya malam pernikahanku adalah awal neraka.
Padahal malam itulah awal kehidupan yang sesungguhnya.
Aku kehilangan kebebasanku untuk sesaat.
Namun sebagai gantinya, aku menemukan kebenaran tentang ibuku, sosok ayah yang tak pernah kuduga akan hadir dalam hidupku, dan keberanian untuk menentukan takdirku sendiri.
Sejak hari itu aku selalu percaya, tidak semua pengorbanan tampak seperti cinta. Kadang-kadang cinta datang dalam bentuk keputusan yang paling menyakitkan, yang baru bisa dipahami ketika seluruh rahasianya akhirnya terungkap.
