Leonardo memeluk bocah kecil itu begitu erat hingga tubuhnya sendiri bergetar hebat. Elias tidak mengerti mengapa pria berpakaian mahal yang tadi terlihat begitu tenang kini menangis tanpa mampu mengendalikan diri.
“Pak… saya takut…”
Leonardo perlahan melepaskan pelukannya. Dengan kedua tangan yang masih gemetar, ia mengusap rambut kusut bocah itu.
“Maafkan aku… Maafkan aku…”
Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, ia kembali merasakan secercah harapan.
Ia langsung membawa Elias masuk ke dalam mobil dan memerintahkan asistennya mencari perempuan yang selama ini merawat bocah itu.
Sore itu juga, mereka tiba di sebuah rumah kontrakan reyot di pinggiran Jakarta.
Seorang perempuan paruh baya bernama Bu Sari menyambut mereka dengan wajah panik.
“Tolong jangan ambil Elias dari saya, Pak. Saya memang bukan ibu kandungnya, tapi saya membesarkannya sejak bayi.”
Leonardo menggenggam tangan perempuan itu.
“Saya tidak akan menyakiti Ibu. Saya hanya ingin mengetahui kebenarannya.”
Bu Sari akhirnya menangis.

Delapan tahun lalu, ketika sedang memungut barang bekas di belakang sebuah kompleks perumahan mewah, ia mendengar tangisan bayi dari dalam sebuah tempat sampah besar.
Awalnya ia mengira itu anak kucing.
Namun ketika membuka kantong plastik hitam, ia menemukan seorang bayi laki-laki yang masih hidup.
Di leher bayi itu tergantung liontin naga emas.
Bayi itu juga dibungkus selimut mahal yang sudah berlumuran darah.
“Saya takut melapor ke polisi, Pak,” katanya sambil terisak. “Saya orang miskin. Saya khawatir mereka justru menuduh saya menculik bayi itu. Akhirnya saya membawa pulang dan merawatnya sendiri.”
Leonardo memejamkan mata.
Berarti…
Lukas tidak pernah dibuang ke jurang.
Seseorang sengaja meninggalkan bayi itu di tempat sampah agar semua orang mengira ia telah mati.
Leonardo segera memerintahkan tes DNA.
Dua hari kemudian, hasilnya keluar.
Probabilitas hubungan ayah dan anak mencapai 99,9999 persen.
Seluruh ruangan laboratorium menjadi sunyi.
Leonardo memeluk Elias sambil menangis.
“Ayah terlambat menjemputmu… Maafkan Ayah…”
Elias masih kebingungan.
“Jadi… saya benar-benar punya Ayah?”
Leonardo mengangguk sambil tersenyum di balik air mata.
“Kau tidak pernah sendirian.”
Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa jam.
Direktur keamanan perusahaan menghampirinya dengan wajah serius.
“Pak, kami menemukan sesuatu.”
Ia menyerahkan sebuah laporan lama yang selama delapan tahun tersimpan di gudang arsip.
Leonardo membaca setiap halaman dengan napas semakin berat.
Pada malam Lukas diculik, seluruh kamera CCTV rumah memang mati.
Laporan awal menyebutkan terjadi korsleting listrik.
Namun hasil investigasi internal yang tidak pernah diteruskan menunjukkan kabel listrik sengaja dipotong menggunakan alat khusus.
Yang membuat Leonardo semakin membeku adalah satu nama yang muncul dalam catatan akses ruang kontrol CCTV.
Valeria Pratama.
Adik kandungnya sendiri.
Leonardo menatap kosong ke luar jendela.
“Tidak… pasti ada penjelasan.”
Namun keraguan mulai memenuhi pikirannya.
Ia kemudian meminta tim keamanan menyelidiki seluruh aktivitas Valeria selama delapan tahun terakhir secara diam-diam.
Hasilnya datang tiga hari kemudian.
Setiap lembar laporan membuat darah Leonardo semakin dingin.
Valeria diam-diam memindahkan sebagian besar saham perusahaan ke berbagai perusahaan cangkang.
Ia juga telah menjual beberapa aset keluarga tanpa sepengetahuan Leonardo.
Lebih mengejutkan lagi…
Seluruh transaksi itu dimulai hanya tiga bulan setelah Lukas dinyatakan meninggal.
Seolah-olah seseorang sudah yakin tidak akan pernah ada pewaris lain.
Leonardo merasa mual.
Ia masih belum percaya.
Sampai akhirnya seorang mantan sopir keluarga datang menemuinya secara diam-diam.
“Saya sudah lama ingin bicara, Pak… tapi saya takut.”
“Apa yang kau ketahui?”
Pria tua itu menundukkan kepala.
“Malam sebelum bayi Lukas hilang, saya mengantar Nona Valeria bertemu seorang pria di sebuah gudang tua di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok.”
“Mereka membawa sebuah koper besar.”
“Saya mendengar Nona berkata, ‘Besok semuanya selesai. Kakakku akan kehilangan alasan untuk hidup. Setelah itu perusahaan akan menjadi milik kita.'”
Tubuh Leonardo membeku.
“Kenapa baru sekarang kau bicara?”
“Saya menerima uang untuk diam. Tapi setiap malam saya dihantui rasa bersalah.”
Leonardo langsung meminta polisi membuka kembali kasus penculikan delapan tahun lalu.
Penyelidikan baru dilakukan dengan bukti-bukti modern.
Sidik jari lama diperiksa ulang.
Data telepon yang dahulu dianggap tidak penting dianalisis kembali.
Hasilnya mengejutkan semua orang.
Pada malam penculikan, ponsel Valeria berada tepat di sekitar rumah Leonardo selama beberapa jam, meskipun ia mengaku sedang berada di Bandung menghadiri seminar.
Lebih mengejutkan lagi, polisi berhasil menemukan salah satu pelaku yang dulu membantu penculikan.
Pria itu kini sedang menjalani hukuman atas kasus lain.
Di ruang interogasi, ia menangis.
“Kami tidak pernah disuruh membunuh bayi itu.”
“Siapa yang menyuruh kalian?”
“Seorang perempuan…”
“Namanya Valeria.”
Leonardo merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya.
Beberapa jam kemudian, Valeria ditangkap saat hendak meninggalkan Indonesia menggunakan jet pribadi perusahaan.
Di ruang pemeriksaan, ia tetap tersenyum tenang.
“Kakak akhirnya tahu juga.”
“Kenapa?” suara Leonardo hampir tak terdengar.
Valeria tertawa pelan.
“Karena sejak kecil, Ayah hanya melihatmu.”
“Semua warisan untukmu.”
“Semua pujian untukmu.”
“Bahkan setelah menikah, kau masih mendapatkan segalanya.”
“Aku lelah hidup sebagai bayanganmu.”
Leonardo menatap adiknya dengan mata merah.
“Jadi kau menghancurkan keluargaku?”
“Aku hanya ingin kau merasakan kehilangan.”
“Tapi istrimu terlalu lemah.”
“Aku tidak menyangka dia akan mati.”
Kalimat itu terdengar seperti pisau yang menusuk dada Leonardo.
Valeria dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas penculikan, percobaan pembunuhan, konspirasi, dan berbagai tindak pidana ekonomi yang terungkap selama penyelidikan.
Beberapa bulan kemudian, Leonardo resmi mengangkat kembali nama asli putranya.
Elias kembali menjadi Lukas Pratama.
Namun Lukas meminta satu hal.
“Ayah… bolehkah Bu Sari tetap tinggal bersama kita?”
Leonardo tersenyum hangat.
“Tentu.”
“Karena beliau juga keluargaku.”
Rumah besar yang selama delapan tahun terasa kosong akhirnya kembali dipenuhi suara tawa.
Di ruang keluarga, Leonardo memasang sebuah foto baru.
Di dalam bingkai itu ada dirinya, Lukas, dan Bu Sari yang tersenyum bahagia.
Di bawah foto itu, ia menulis satu kalimat sederhana.
“Hubungan darah dapat dipisahkan oleh kejahatan, tetapi kasih sayang selalu menemukan jalan untuk mempertemukan kembali keluarga.”
