Pada malam pesta kelulusan kami, ketua kelas mengusulkan sebuah permainan undian untuk menentukan pembagian kamar saat perjalanan wisata terakhir kami.

Rafael berbicara seolah semua itu demi kebaikanku. Nada suaranya tenang, bahkan terdengar penuh perhatian, sama seperti setiap kali kami bertengkar selama tiga tahun terakhir.

Aku memandangnya beberapa detik sebelum tersenyum tipis.

“Tidak perlu.”

“Kamu serius?”

“Iya.”

“Kamu mau sekamar dengan laki-laki yang bahkan hampir tidak pernah kamu ajak bicara?”

Aku mengangguk pelan.

“Kenapa tidak? Bukankah aku masih sendiri?”

Kalimat itu membuat wajah Rafael membeku.

Ia menarik napas panjang, lalu berbisik semakin pelan.

“Jangan seperti ini, Mara.”

“Seperti apa?”

“Kamu tahu maksudku.”

Aku menatap lurus ke matanya.

“Justru aku sudah tidak tahu lagi apa maksudmu, Rafael.”

Sebelum ia sempat menjawab, petugas hotel memanggil nomor antreanku.

Aku menyerahkan kartu identitas, mengambil kartu kamar, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Di dalam lift, tanganku gemetar.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena akhirnya aku berhasil mengucapkan kalimat yang selama ini selalu kutelan sendiri.

Selama tiga tahun aku hidup sebagai seseorang yang harus disembunyikan.

Saat ulang tahunku, ia mengucapkan selamat hanya lewat pesan karena takut teman-teman melihat.

Saat kami makan bersama di luar kampus dan bertemu teman sekelas, ia langsung melepaskan genggamanku.

Saat wisuda tadi pagi, kami bahkan tidak memiliki satu pun foto bersama.

Alasannya selalu sama.

“Nanti saja.”

“Aku belum siap.”

“Tunggu waktu yang tepat.”

Tiga tahun ternyata belum cukup menjadi waktu yang tepat.

Sesampainya di kamar, aku terkejut ketika melihat Dante sudah berdiri di dekat jendela.

Ia langsung berdiri saat melihatku masuk.

“Tenang saja. Aku sudah minta resepsionis menambahkan tempat tidur lipat. Jadi kita tidak perlu berbagi ranjang.”

Aku tersenyum kecil.

“Terima kasih.”

“Aku juga sudah bilang ke mereka kalau setelah jam sepuluh malam aku akan lebih banyak di ruang baca hotel. Jadi kamu bisa istirahat dengan nyaman.”

Aku menatapnya sedikit heran.

“Kamu tidak keberatan?”

Dante menggeleng.

“Aku tahu rasanya menjadi bahan bercandaan.”

Aku mengernyit.

“Maksudmu?”

Ia tertawa pelan.

“Empat tahun kuliah, semua orang menganggapku aneh karena lebih suka membaca daripada nongkrong. Jadi aku tahu bagaimana rasanya ketika orang lain menentukan hidupmu.”

Untuk pertama kalinya hari itu, aku benar-benar merasa tenang.

Malamnya, seluruh rombongan berkumpul di halaman resor untuk acara api unggun.

Ketua kelas kembali membuat permainan.

Setiap pasangan diminta maju bergantian dan menjawab pertanyaan tentang satu sama lain.

Teriakan dan gelak tawa terus terdengar.

Ketika giliran Rafael dan Teresa, semua orang langsung bersorak paling keras.

“Coba lihat seberapa cocok mereka!”

“Rafael! Sebutkan warna favorit Teresa!”

“Hijau.”

“Benar!”

“Kalau makanan favorit?”

“Sate ayam.”

“Benar lagi!”

Semua orang bertepuk tangan.

Teresa tertawa malu sambil sesekali menatap Rafael.

Ketua kelas bercanda.

“Wah, cocok banget. Kayaknya memang berjodoh.”

Aku memperhatikan dari kejauhan tanpa ekspresi.

Lalu tiba-tiba mikrofon diarahkan kepadaku.

“Mara! Kamu dan Dante belum ikut!”

Aku menggeleng.

“Tidak apa-apa.”

“Harus ikut! Semua pasangan wajib.”

Aku dan Dante akhirnya maju.

Pertanyaan pertama terdengar sederhana.

“Apa hobi Dante?”

Aku menjawab jujur.

“Aku tidak tahu.”

Semua orang tertawa.

Lalu giliran Dante.

“Makanan favorit Mara?”

Ia menjawab tanpa ragu.

“Nasi goreng seafood yang pedas.”

Aku terdiam.

Ketua kelas berseru.

“Benar!”

Aku menoleh heran.

“Kamu tahu?”

Dante tersenyum.

“Selama empat tahun, kamu selalu membeli menu yang sama setiap hari Rabu di kantin.”

Aku tidak pernah menyadarinya.

Permainan berlanjut.

“Warna favorit Mara?”

“Biru tua.”

“Film kesukaannya?”

“Film dokumenter.”

“Minuman yang paling tidak disukai?”

“Kopi tanpa gula.”

Semua jawabannya benar.

Suasana yang semula riuh mendadak berubah menjadi hening.

Seseorang berseru.

“Rafael saja tidak mungkin tahu sebanyak itu.”

Aku refleks menoleh.

Rafael memang sedang menatap kami.

Tatapannya perlahan berubah dingin.

Setelah acara selesai, ia langsung menarik lenganku ke area taman yang sepi.

“Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”

“Apa maksudmu?”

“Jangan pura-pura.”

“Aku benar-benar tidak mengerti.”

Ia mengepalkan tangan.

“Kamu sengaja membuatku cemburu.”

Aku tertawa kecil.

“Lucu sekali.”

“Apa yang lucu?”

“Selama tiga tahun aku menangis sendirian karena hubungan ini. Kamu tidak pernah peduli.”

“Aku punya alasan.”

“Aku juga sekarang punya alasan.”

Ia mulai kehilangan kesabaran.

“Mara, kita belum putus.”

Aku mengeluarkan ponsel dari tas.

“Benarkah?”

Kubuka aplikasi pesan.

Pesan terakhir yang kukirim seminggu lalu masih belum dibalas.

“Menurutmu, hubungan seperti ini masih layak disebut hubungan?”

Ia terdiam.

Aku membuka galeri.

Di sana ada ratusan foto.

Tidak satu pun memperlihatkan wajah kami bersama.

Semuanya hanya foto makanan.

Foto pemandangan.

Foto tanganku.

Foto bayangannya.

Aku memperlihatkan layar itu kepadanya.

“Tiga tahun.”

“Tidak ada satu pun foto kita.”

Ia menunduk.

“Aku…”

“Aku bahkan pernah bertanya apakah kita bisa berfoto saat ulang tahunku.”

“Mara…”

“Kamu bilang nanti.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Tapi nanti itu tidak pernah datang.”

Aku menghapus seluruh percakapan kami di depan matanya.

Kemudian memblokir nomornya.

“Sekarang semuanya selesai.”

Aku berjalan meninggalkannya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak mengejarku.

Keesokan paginya rombongan mengikuti kegiatan snorkeling.

Cuaca yang semula cerah tiba-tiba berubah buruk.

Ombak mulai meninggi.

Seorang peserta terpeleset di dermaga.

Ternyata Teresa.

Ia hampir terjatuh ke laut ketika kakinya tersangkut tali kapal.

Semua orang berteriak panik.

Rafael berlari paling cepat.

Namun ada seseorang yang lebih dulu menangkap tangan Teresa.

Dante.

Ia menarik Teresa hingga selamat, sementara dirinya sendiri kehilangan keseimbangan dan jatuh ke air.

Untung petugas penyelamat segera menolongnya.

Setelah keadaan tenang, Teresa menangis sambil meminta maaf.

“Aku tahu semuanya.”

Aku memandangnya bingung.

Ia mengeluarkan sebuah tangkapan layar dari ponselnya.

Itu adalah percakapan antara Rafael dan ketua kelas.

Ternyata bukan hanya pengaturan nomor undian.

Mereka juga sengaja menjadikan Teresa sebagai bahan permainan agar seluruh kelas terus menjodoh-jodohkan mereka.

Rafael tidak pernah mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki kekasih.

Teresa menggigit bibir.

“Aku baru tahu semalam setelah membaca pesan yang tidak sengaja muncul di ponselnya. Aku benar-benar minta maaf.”

Ia menangis semakin keras.

“Aku bahkan pernah iri padamu karena kupikir Rafael menyukai perempuan lain.”

Aku hanya menghela napas.

“Tidak apa-apa.”

“Kenapa kamu bisa semudah itu memaafkanku?”

Aku tersenyum.

“Karena orang yang benar-benar menyakitiku bukan kamu.”

Hari terakhir perjalanan, bus mulai meninggalkan resor.

Semua orang sibuk bertukar foto.

Aku duduk di dekat jendela.

Dante duduk di kursi sebelah sambil membaca buku seperti biasa.

Beberapa menit kemudian ia menutup bukunya.

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan.”

Aku menoleh.

“Empat tahun lalu, hari pertama orientasi, kamu meminjamkan payungmu kepadaku.”

Aku mencoba mengingat.

Namun gagal.

Ia tersenyum.

“Kamu mungkin lupa.”

“Tapi sejak hari itu aku tidak pernah berhenti memperhatikanmu.”

Aku terdiam.

“Aku tahu kamu mencintai orang lain.”

“Karena itu aku tidak pernah mengganggu.”

Ia menatap ke luar jendela.

“Sekarang pun aku tidak sedang meminta jawaban.”

“Aku hanya ingin kamu tahu.”

“Masih ada seseorang yang tidak akan pernah menyuruhmu bersembunyi hanya untuk bisa mencintaimu.”

Bus terus melaju meninggalkan pantai.

Di kejauhan, Rafael berdiri sendirian di halte tempat kami berhenti sejenak, memandangi bus yang semakin menjauh.

Ia akhirnya kehilangan seseorang yang selama tiga tahun selalu menunggunya.

Bukan karena takdir memisahkan mereka.

Melainkan karena terlalu lama ia menyembunyikan cinta yang seharusnya ia perjuangkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang