Suami saya meninggal setelah terpeleset dan jatuh di rumah. Lima tahun kemudian, ketika kotak peringatan yang telah saya siapkan untuk mengenangnya retak, saya menjerit saat melihat lumpur kental dan lengket di dalamnya. Saya jatuh tersungkur ke lantai, dan tanpa berpikir panjang, saya langsung menelepon polisi.

Nama saya Sulastri.

Sudah lima tahun sejak suami saya, Budi, meninggal dalam kecelakaan yang masih terasa begitu tiba-tiba, begitu tak terbayangkan, dan begitu sulit diterima.

Hujan deras turun di Bogor, Jawa Barat.

Listrik tiba-tiba padam.

Lantai di belakang rumah menjadi sangat licin.

Budi hendak masuk dari gudang kecil di belakang rumah ketika ia kehilangan keseimbangan dan jatuh dari tangga.

Tetangga mendengar suara benturan keras dan segera berlari ke dalam rumah.

Saya…

Saya menjerit hingga suara saya serak.

Ketika paramedis tiba, mereka mengatakan Budi mengalami cedera kepala yang serius.

Ia meninggal sebelum sempat dimasukkan ke dalam ambulans.

Tidak ada yang curiga.

Tidak seorang pun menyadari sesuatu yang aneh tentang kematiannya.

Selama beberapa tahun berikutnya, aku hidup seperti bayangan yang tak bernapas.

Hanya ada satu hal yang kusimpan.

Anggrek ungu yang diberikan Budi kepadaku pada hari pernikahan kami. Anggrek dalam pot itu selalu diletakkan di dekat jendela kamar tidur.

Bukan karena anggrek itu indah.

Tetapi karena itu adalah hal terakhir yang disentuhnya dan ditinggalkannya untukku.

Aku tidak pernah membayangkan bahwa anggrek itu akan membawaku pada kenyataan yang seharusnya tidak pernah kuketahui.

Sore itu, udara terasa pengap.

Kucing tetangga melompat ke beranda lagi dan dikejar oleh anjingku.

Mereka berlari kencang dan menabrak rak.

Anggrek itu jatuh.

Suara benturan keras menggema di seluruh ruangan.

Hatiku hancur berkeping-keping.

Anggrek itu, satu-satunya kenang-kenangan yang tersisa dari suamiku, hancur menjadi potongan-potongan kecil.

Dadaku terasa sesak.

Tetapi sebelum aku bisa memungut pecahan-pecahan itu, aku melihat sesuatu.

Sebuah benda kecil yang terbungkus kain muncul dari tanah yang tumpah keluar dari pot.

Aku membeku.

Budi memang telah memberiku pot itu.

Tapi aku belum pernah melihatnya menyembunyikan apa pun di dalamnya.

Aku mengambil bungkusan kecil itu.

Kainnya telah menguning karena usia dan diikat erat dengan benang hitam tipis.

Jelas, benda itu telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Tanganku gemetar.

Aku perlahan membuka bungkusan itu.

Di dalamnya terdapat sebuah flash drive kecil yang sudah kusam, sebuah kunci berwarna perak, dan secarik kertas yang dilipat berkali-kali.

Tulisan tangan di kertas itu langsung membuat napasku tercekat.

Aku mengenali setiap lekukan hurufnya.

Itu tulisan Budi.

“Sulastri, kalau kamu membaca ini, berarti sesuatu telah terjadi padaku. Jangan percaya siapa pun sebelum melihat isi flash drive ini. Kalau aku masih hidup, hancurkan surat ini. Tapi kalau aku sudah tiada, temuilah Pak Arman. Dia tahu semuanya.”

Aku terduduk di lantai.

Darahku terasa berhenti mengalir.

Budi menulis surat itu seolah-olah ia sudah mengetahui bahwa dirinya akan meninggal.

Tanganku gemetar saat mencoba menyalakan laptop tua yang sudah lama kusimpan.

Flash drive itu masih bisa terbaca.

Hanya ada satu folder.

Namanya sederhana.

“Buka Kalau Aku Sudah Tidak Ada.”

Air mataku mulai mengalir tanpa bisa kutahan.

Kubuka folder itu.

Puluhan dokumen muncul.

Foto-foto.

Rekaman suara.

Video.

Laporan transaksi bank.

Dan sebuah video berdurasi hampir dua puluh menit.

Aku menekan tombol putar.

Wajah Budi memenuhi layar.

Ia mengenakan kemeja biru yang sangat kukenal.

“Sulastri… kalau kamu melihat video ini, berarti dugaanku benar.”

Suara Budi terdengar tenang, tetapi matanya tampak lelah.

“Aku tidak percaya kecelakaan yang terjadi di perusahaan tempatku bekerja hanyalah kecelakaan biasa.”

Aku mengernyit.

Selama ini aku hanya tahu Budi bekerja sebagai supervisor logistik di sebuah perusahaan distributor bahan bangunan.

Ia tidak pernah bercerita banyak soal pekerjaannya.

Dalam video itu, Budi menjelaskan bahwa selama hampir satu tahun ia menemukan penggelapan dana dan pemalsuan dokumen bernilai puluhan miliar rupiah.

Pelakunya bukan pegawai biasa.

Melainkan beberapa petinggi perusahaan yang bekerja sama dengan pengusaha lokal.

Budi telah mengumpulkan semua bukti.

Ia berniat melaporkannya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi.

Namun beberapa minggu sebelum kematiannya, ia mulai merasa diawasi.

Mobil yang sama sering mengikutinya.

Nomor asing terus menelepon.

Rumah mereka pernah dimasuki orang tanpa ada barang yang hilang.

“Aku takut mereka akan mencelakaiku. Kalau sesuatu terjadi, jangan anggap itu kecelakaan.”

Tubuhku langsung dingin.

Aku memutar ulang kalimat itu berkali-kali.

Selama lima tahun…

Aku mempercayai bahwa suamiku hanya terpeleset.

Aku segera mencari nama Pak Arman.

Setelah bertanya ke beberapa kenalan lama, akhirnya aku mengetahui bahwa beliau sudah pensiun dan tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggiran Bogor.

Ketika aku datang, pria berusia hampir tujuh puluh tahun itu langsung memucat begitu melihat wajahku.

“Kamu… istrinya Budi?”

Aku mengangguk.

Beliau menutup pintu dengan cepat.

“Akhirnya kamu datang juga.”

Kalimat itu membuat bulu kudukku berdiri.

Pak Arman mengaku pernah menjadi atasan langsung Budi.

Ia tahu Budi sedang mengumpulkan bukti.

Seminggu sebelum meninggal, Budi menitipkan sebuah amplop kepadanya.

Namun dua hari kemudian, rumah Pak Arman dibobol.

Amplop itu hilang.

Sejak saat itu, ia memilih diam karena menerima ancaman terhadap keluarganya.

“Aku pikir semua bukti sudah lenyap.”

Aku mengeluarkan flash drive.

Pak Arman menatap benda kecil itu dengan mata berkaca-kaca.

“Dia berhasil menyelamatkannya…”

Beliau kemudian menceritakan sesuatu yang membuatku sulit bernapas.

Pada malam Budi meninggal, sebenarnya ada seseorang yang datang ke rumah.

Tetangga melihat sebuah mobil hitam berhenti beberapa menit sebelum listrik padam.

Namun kesaksian itu tidak pernah dicatat polisi.

Orang yang melihatnya tiba-tiba mencabut laporannya beberapa hari kemudian.

Aku merasa dunia berputar.

Kalau begitu…

Apakah Budi benar-benar jatuh sendiri?

Malam itu aku hampir tidak bisa tidur.

Sekitar pukul dua dini hari, suara langkah terdengar di halaman rumah.

Anjingku menggonggong sangat keras.

Aku mengintip dari balik tirai.

Seorang pria mengenakan topi sedang berdiri di dekat jendela.

Ketika lampu teras menyala otomatis, ia langsung berlari menuju mobil yang terparkir di ujung jalan.

Aku buru-buru menghubungi polisi.

Pagi harinya, petugas datang memeriksa rumah.

Mereka menemukan bekas congkelan pada jendela dapur.

Seseorang memang mencoba masuk.

Sejak laporan baru dibuka, penyelidikan kembali dilakukan.

Flash drive milik Budi diperiksa oleh tim forensik digital.

Hasilnya mengejutkan.

Semua data asli.

Tidak ada yang dimanipulasi.

Beberapa rekening yang tercantum memang terbukti digunakan untuk pencucian uang.

Nama-nama yang muncul masih memegang jabatan penting hingga sekarang.

Kasus itu langsung berkembang menjadi penyelidikan besar.

Media mulai memberitakan bahwa kematian seorang pegawai lima tahun lalu mungkin berkaitan dengan jaringan korupsi.

Aku terus dipanggil memberikan keterangan.

Tekanan mulai berdatangan.

Telepon tanpa suara.

Surat ancaman.

Seseorang bahkan melempar batu ke kaca ruang tamuku.

Namun kali ini aku tidak ingin lari.

Kalau Budi mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran, aku tidak akan membiarkan semuanya berakhir sia-sia.

Tiga bulan kemudian, polisi menangkap empat orang.

Dua direktur perusahaan.

Seorang kontraktor.

Dan seorang mantan petugas keamanan.

Yang terakhir itulah yang akhirnya membuka semuanya.

Ia mengaku menerima bayaran untuk memutus aliran listrik ke rumah kami pada malam kejadian.

Ia juga mengaku ada dua orang lain yang sudah menunggu di belakang rumah.

Mereka bermaksud mengambil dokumen yang diyakini masih disimpan Budi.

Ketika Budi keluar menuju gudang karena mendengar suara mencurigakan, salah satu pelaku mendorongnya dari tangga.

Mereka panik melihat kepalanya membentur lantai.

Karena hujan sangat deras, mereka meninggalkannya dan membuat semuanya tampak seperti kecelakaan.

Aku menangis tanpa suara saat mendengar pengakuan itu.

Selama lima tahun…

Budi bukan korban nasib.

Ia dibunuh.

Persidangan berlangsung hampir setahun.

Bukti-bukti dari flash drive menjadi dasar utama pembuktian.

Semua terdakwa akhirnya dijatuhi hukuman penjara yang berat.

Hakim menyatakan bahwa kematian Budi merupakan pembunuhan yang disamarkan sebagai kecelakaan.

Hari ketika putusan dibacakan, aku pergi sendirian ke makam Budi.

Aku membawa anggrek ungu yang baru.

Sama seperti yang dulu ia berikan kepadaku.

Aku duduk lama di depan nisannya.

“Budi… akhirnya aku tahu semuanya.”

Angin sore berembus pelan.

Daun-daun berguguran di atas rumput yang mulai basah setelah hujan.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, dadaku tidak lagi dipenuhi tanda tanya.

Aku memang tidak bisa mengembalikan suamiku.

Tetapi aku berhasil mengembalikan kebenaran yang selama ini dikubur bersama kematiannya.

Saat hendak pulang, aku melihat sesuatu yang membuatku berhenti melangkah.

Di balik pot anggrek baru itu, terselip sebuah amplop kecil berwarna cokelat.

Tidak ada siapa pun di sekitar makam.

Tanganku perlahan membukanya.

Di dalamnya hanya ada satu lembar foto.

Foto itu memperlihatkan Budi sedang tersenyum bersama seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun yang belum pernah kulihat seumur hidupku.

Di bagian belakang foto, dengan tulisan tangan yang sama seperti surat lima tahun lalu, hanya tertulis satu kalimat.

“Masih ada satu kebenaran lagi yang belum kamu ketahui.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang