Saat aku membuka mata lagi, suara pertama yang kudengar bukanlah ombak, melainkan bunyi monitor jantung yang teratur.
Langit-langit putih rumah sakit tampak kabur. Tenggorokanku kering, seluruh tubuh terasa berat, dan kaki kiriku dibalut hingga hampir mencapai paha. Ketika mencoba bergerak, rasa nyeri langsung menjalar dari pinggang ke ujung kaki.
“Jangan bergerak dulu.”
Aku menoleh perlahan.
Arif duduk di kursi dekat jendela. Wajahnya pucat, lengan kanannya diperban, dan rambutnya masih tampak berantakan.

“Kita hidup?” tanyaku dengan suara serak.
Arif tersenyum kecil.
“Masih.”
Kami ditemukan oleh kapal nelayan beberapa kilometer dari lokasi yacht tenggelam. Arif sempat kehilangan kesadaran karena kelelahan, tetapi tangannya tetap menggenggam tali pelampung yang terikat padaku.
Aku menatapnya lama.
“Terima kasih.”
Arif menggeleng.
“Saya cuma melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”
Kalimat sederhana itu justru membuat dadaku sesak.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka.
Dimas masuk.
Langkahnya tergesa-gesa, wajahnya tampak cemas. Di belakangnya berdiri Rina dengan Raka yang menggenggam ujung bajunya.
“Maya.”
Dimas langsung menghampiri ranjang.
“Kamu sadar.”
Tangannya hendak menyentuh bahuku, tetapi aku memalingkan wajah.
Dia membeku.
“Maya, dengarkan aku. Semuanya terjadi terlalu cepat. Aku tidak tahu Arif kembali mencarimu. Aku pikir kru sudah mengevakuasi bagian bawah kapal.”
Aku menatapnya.
“Pintu itu dikunci dari luar.”
Dimas terdiam.
“Dalam keadaan panik orang bisa melakukan apa saja.”
“Kamu yang menguncinya.”
Rina segera maju.
“Mbak Maya, jangan salah paham. Dimas sedang menyelamatkan banyak orang saat itu.”
Aku mengalihkan pandangan kepadanya.
Rina tampak sehat.
Tidak seperti seseorang yang hampir pingsan beberapa jam sebelumnya.
“Obatmu bekerja dengan baik?” tanyaku.
Wajah Rina berubah.
Dimas langsung memotong.
“Kamu baru sadar. Jangan memikirkan hal-hal seperti ini dulu.”
Aku hampir tertawa.
Laki-laki yang meninggalkanku di kapal tenggelam sekarang menyuruhku beristirahat.
“Keluar.”
“Maya.”
“Keluar dari kamar ini.”
Dimas mengepalkan rahangnya.
“Aku suamimu.”
“Tidak lagi.”
Ruangan mendadak sunyi.
Raka memandang kami dengan mata bingung. Aku tidak ingin anak itu terlibat, jadi aku menurunkan suaraku.
“Aku sudah bilang di kapal. Kalau kamu keluar dari pintu itu, hubungan kita berakhir.”
“Maya, jangan mengambil keputusan saat sedang emosi.”
“Aku mengambil keputusan ketika air sudah mencapai dadaku.”
Dimas seperti hendak menjawab, tetapi Arif berdiri.
“Pak, sebaiknya keluar dulu.”
Dimas menatap Arif tajam.
“Kamu jangan ikut campur dalam urusan rumah tangga kami.”
Arif tidak mundur.
“Kalau urusannya cuma rumah tangga, saya tidak akan ikut campur. Tapi saya melihat sendiri pintu tempat Bu Maya terjebak dikunci dari luar.”
Wajah Dimas langsung berubah.
Dia menarik napas panjang, kemudian memegang tangan Rina.
“Baik. Kita bicara nanti.”
Sebelum keluar, dia menoleh kepadaku.
Tatapan yang kulihat bukan rasa bersalah.
Melainkan ketakutan.
Saat itulah aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pengkhianatan.
Dua hari kemudian, seorang polisi datang ke kamar rumah sakit.
Namanya Inspektur Bagas.
Dia mengatakan bangkai yacht telah berhasil ditemukan sebagian. Penyelidik awal menemukan sesuatu yang aneh pada sistem navigasi.
“Karang yang ditabrak yacht sebenarnya sudah tercatat jelas di peta digital,” katanya.
Aku mengernyit.
“Artinya?”
“Seharusnya sistem otomatis memberikan peringatan jauh sebelum benturan.”
“Apakah sistemnya rusak?”
Bagas menatap catatannya.
“Bukan rusak.”
Dia berhenti sejenak.
“Dimatikan secara manual.”
Aku merasa udara di ruangan mendadak lebih dingin.
“Siapa yang bisa melakukannya?”
“Orang yang punya akses ke ruang kendali.”
Arif, yang berdiri dekat pintu, tiba-tiba berkata, “Pak Dimas.”
Aku menoleh.
Arif melanjutkan dengan hati-hati.
“Malam sebelum berangkat, saya melihat Pak Dimas masuk ke ruang kendali. Katanya mau memastikan rute.”
“Kenapa kamu baru mengatakan ini?”
“Saya pikir itu hal biasa.”
Bagas mencatat sesuatu.
Kemudian dia bertanya kepadaku tentang pernikahanku, kondisi keuangan, asuransi, dan hubungan Dimas dengan Rina.
Saat kata asuransi disebut, sesuatu melintas di kepalaku.
Tiga bulan lalu Dimas memintaku menandatangani beberapa dokumen perusahaan.
Dia mengatakan itu berkaitan dengan pembaruan administrasi keluarga.
Aku tidak pernah membacanya dengan teliti.
Setelah polisi pergi, aku meminta pengacaraku, Sinta, memeriksa semua dokumen yang pernah kutandatangani selama enam bulan terakhir.
Jawabannya datang keesokan harinya.
Sinta masuk ke kamar dengan wajah tegang.
“Maya, kamu punya polis asuransi jiwa baru.”
“Berapa?”
“Lima belas miliar rupiah.”
Aku hampir tidak percaya.
“Siapa penerima manfaatnya?”
Sinta tidak menjawab segera.
Aku sudah tahu jawabannya.
“Dimas?”
Dia mengangguk.
Polis itu dibuat dua bulan sebelum perjalanan.
Tanda tanganku memang ada di sana, tetapi formulir utama tercampur di antara dokumen perusahaan yang diberikan Dimas kepadaku.
Aku menatap keluar jendela rumah sakit.
Hujan turun tipis di Jakarta.
Selama bertahun-tahun aku mengira kesalahan terbesar Dimas hanyalah masih mencintai Rina.
Ternyata mungkin dia sudah berhenti melihatku sebagai istri jauh sebelum itu.
Mungkin aku hanya angka di sebuah dokumen.
Bagas kembali dua hari kemudian membawa kabar yang lebih mengejutkan.
Rekaman kamera dermaga menunjukkan Dimas datang ke yacht seorang diri pada malam sebelum keberangkatan.
Dia berada di dalam hampir empat puluh menit.
Selain itu, seorang teknisi menemukan bekas manipulasi pada kabel sensor peringatan.
Namun, belum ada bukti langsung bahwa Dimas yang melakukannya.
“Dia bisa bilang ada orang lain yang masuk setelah dirinya,” kata Bagas.
Aku menggenggam selimut.
“Kalau begitu kita butuh sesuatu yang tidak bisa dia bantah.”
Arif tiba-tiba teringat sesuatu.
“Sistem CCTV internal.”
Bagas menatapnya.
“Bukankah server utama tenggelam?”
“Benar, tapi kapal itu memakai backup otomatis.”
“Di mana?”
Arif menunjuk ponselnya.
“Cloud perusahaan penyewaan yacht.”
Masalahnya, akses ke akun tersebut membutuhkan izin pemilik kapal.
Dimas adalah orang yang menyewa yacht itu.
Namun, polisi memperoleh surat untuk mengakses data.
Rekaman ditemukan.
Pada pukul dua lewat sebelas menit dini hari, Dimas terlihat memasuki ruang kendali.
Dia memeriksa sekeliling, membuka panel navigasi, lalu mematikan sensor.
Tapi itu belum semuanya.
Beberapa menit kemudian, seseorang menyusulnya.
Rina.
Aku menonton rekamannya dari layar laptop di kamar rumah sakit.
Tidak ada suara.
Namun gerakan mereka cukup jelas.
Rina tampak panik.
Dimas memegang kedua bahunya, seolah meyakinkannya.
Kemudian Rina mengangguk.
Aku memejamkan mata.
Sinta menghentikan video.
“Kamu mau lanjut?”
Aku mengangguk.
Rekaman berikutnya berasal dari kamera lorong pada hari kecelakaan.
Dimas keluar dari ruangan tempat aku terjebak.
Dia menutup pintu.
Lalu tangannya jelas terlihat menggeser selot dari luar.
Tidak ada lagi ruang untuk alasan.
Polisi menangkap Dimas sore itu.
Rina juga dimintai keterangan, tetapi dia terus membantah mengetahui rencana tersebut.
Dimas pun bersikeras bahwa semua itu hanyalah kesalahan.
Dia mengatakan sensor dimatikan karena sering berbunyi palsu.
Dia mengatakan pintu dikunci karena takut barang di dalam menghalangi evakuasi.
Alasannya terdengar rapi.
Hampir meyakinkan.
Sampai polisi menemukan sesuatu dari ponsel Rina.
Sebuah pesan yang dikirim tiga hari sebelum perjalanan.
Aku tidak pernah melihat isi lengkapnya. Bagas hanya membacakan bagian yang relevan kepadaku.
“Setelah semuanya selesai, kita tidak perlu sembunyi lagi.”
Pesan itu dikirim Dimas.
Balasan Rina lebih pendek.
“Pastikan Raka tidak melihat apa pun.”
Aku menutup mata.
Anehnya, aku tidak menangis.
Mungkin seseorang hanya bisa menangis selama masih memiliki sesuatu untuk dipertahankan.
Dimas sudah tidak memiliki tempat apa pun di hatiku.
Sidang dimulai beberapa bulan kemudian.
Kakiku sudah bisa digunakan untuk berjalan meskipun masih membutuhkan tongkat.
Arif kembali bekerja, tetapi perusahaan memberinya penghargaan karena menyelamatkan nyawaku.
Kami tetap berhubungan.
Bukan karena aku merasa berutang.
Melainkan karena setelah melewati malam di laut itu, kami seperti memiliki satu kenangan yang tidak bisa dijelaskan kepada orang lain.
Di ruang sidang, Dimas duduk beberapa meter dariku.
Dia tampak jauh lebih kurus.
Saat mata kami bertemu, dia tersenyum kecil.
Senyum yang sama yang dulu membuatku jatuh cinta saat masih mahasiswa.
Kali ini tidak ada apa pun yang kurasakan.
Pengacara Dimas berusaha menggambarkan semuanya sebagai rangkaian keputusan buruk dalam situasi darurat.
Kemudian jaksa memanggil saksi terakhir.
Aku mengira itu Arif.
Ternyata bukan.
Yang masuk adalah Rina.
Wajah Dimas langsung berubah.
Rina berdiri di depan hakim dan mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Dimas merencanakan semuanya.”
Ruangan mendadak gaduh.
Pengacara Dimas langsung berdiri.
Rina mulai menangis.
Dia mengaku Dimas memberitahunya bahwa dia hanya akan membuat kecelakaan kecil agar aku ketakutan dan setuju bercerai.
“Aku tidak tahu dia akan meninggalkan Maya sampai mati,” katanya.
Dimas berteriak dari kursinya.
“Pembohong!”
Rina menoleh kepadanya.
“Aku punya rekamannya.”
Ternyata selama berbulan-bulan Rina merekam percakapan mereka karena dia sendiri tidak sepenuhnya mempercayai Dimas.
Dalam salah satu rekaman, suara Dimas terdengar jelas.
“Kalau Maya tidak ada, semuanya akan jauh lebih mudah. Polisnya cukup untuk memulai hidup baru.”
Aku menatap laki-laki itu.
Sepuluh tahun pernikahan.
Tiga belas tahun cinta.
Dan pada akhirnya, nilai hidupku baginya adalah lima belas miliar rupiah.
Dimas dijatuhi hukuman penjara.
Rina menerima hukuman lebih ringan karena bekerja sama dalam penyelidikan, tetapi tetap harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya.
Aku menggugat cerai segera setelah kondisi fisikku pulih.
Tidak ada perebutan harta panjang.
Tidak ada permintaan maaf yang bisa mengubah pikiranku.
Beberapa minggu setelah semuanya selesai, aku pergi kembali ke Kepulauan Seribu.
Bukan dengan Dimas.
Bukan untuk mengenang ulang tahun pernikahan kami.
Aku pergi bersama Arif dan beberapa relawan keselamatan laut.
Aku mendanai program pelatihan evakuasi untuk awak kapal kecil yang bekerja di wilayah wisata.
Hari itu laut tampak tenang.
Arif berdiri di sampingku di dermaga.
“Takut?”
“Sedikit.”
“Kalau tidak mau naik kapal, kita bisa pulang.”
Aku tersenyum.
“Kalau terus menghindari laut, berarti Dimas masih menentukan hidupku.”
Kami naik ke kapal.
Saat kapal mulai meninggalkan dermaga, angin menerpa wajahku.
Untuk sesaat aku teringat malam ketika aku mengapung dalam kegelapan, hanya ditemani suara napas Arif dan ombak yang tidak berhenti bergerak.
Aku pernah berpikir hidupku berakhir malam itu.
Ternyata aku salah.
Yang berakhir hanyalah hidup yang selama ini kubangun di sekitar seseorang yang tidak pantas menjadi pusatnya.
Arif mengeluarkan dua jaket pelampung dari lemari penyimpanan.
Dia menyerahkan satu kepadaku dan mengenakan satu untuk dirinya sendiri.
“Harus dipakai?”
“Harus.”
“Aku pandai berenang.”
Dia tertawa.
“Orang yang pandai berenang juga tetap boleh diselamatkan.”
Aku terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Namun, entah mengapa, mataku terasa panas.
Sepuluh tahun aku hidup bersama seorang laki-laki yang selalu menganggapku kuat sehingga aku tidak perlu diprioritaskan.
Aku bisa bekerja sendiri.
Aku bisa menghadapi masalah sendiri.
Aku bisa berenang.
Aku bisa bertahan.
Sampai akhirnya dia menggunakan kekuatanku sebagai alasan untuk meninggalkanku.
Arif mengencangkan tali jaket pelampungku.
“Sudah pas.”
Aku memandang laut yang luas.
Dulu aku berpikir cinta berarti menemukan seseorang yang bersedia memberikan payungnya saat hujan.
Sekarang aku mengerti, cinta bukan tentang satu tindakan indah di masa lalu.
Cinta adalah pilihan yang dilakukan berulang kali.
Terutama ketika keadaan menjadi sulit.
Terutama ketika menyelamatkan seseorang tidak nyaman.
Terutama ketika tidak ada orang lain yang melihat.
Kapal bergerak semakin jauh dari daratan.
Aku menatap garis horizon dan menarik napas panjang.
Di ulang tahun pernikahanku yang kesepuluh, suamiku memberikan dua jaket pelampung terakhir kepada perempuan yang dicintainya dan anak perempuan itu.
Dia mengira malam itu akan menjadi akhir hidupku.
Dia tidak pernah tahu bahwa justru pada malam itulah aku mendapat sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kesempatan kedua untuk hidup.
Aku mendapatkan keberanian untuk memilih diriku sendiri.
Dan kali ini, aku tidak akan pernah lagi menyerahkan keputusan tentang siapa yang layak diselamatkan kepada orang lain.
