Ibu sang jutawan semakin kurus setiap hari—hingga putranya pulang dan melihat apa yang dilakukan istrinya… Ada kematian yang tidak datang secara tiba-tiba, melainkan perlahan-lahan, sesendok demi sesendok…

Ada sesuatu yang aneh dengan cara Melinda mengaduk sup malam itu.

Bukan karena gerakannya terburu-buru, justru sebaliknya. Terlalu tenang. Terlalu teratur. Tiga putaran searah jarum jam, berhenti, lalu satu putaran perlahan ke arah sebaliknya. Setelah itu ia menambahkan beberapa tetes dari botol kecil berwarna cokelat yang disembunyikannya di balik kotak teh.

Sulastri melihat semuanya dari pantulan kaca lemari dapur.

Tangannya yang sedang mencuci piring mendadak berhenti.

Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia takut Melinda dapat mendengarnya.

“Ada apa?” tanya Melinda tiba-tiba.

Sulastri buru-buru menunduk.

“Tidak apa-apa, Bu. Airnya terlalu panas.”

Melinda menatap punggungnya selama beberapa detik. Kemudian tersenyum tipis.

“Jangan terlalu banyak berpikir, Las. Orang yang terlalu banyak berpikir biasanya malah bikin masalah.”

Kalimat itu terdengar biasa, tetapi Sulastri memahami ancaman di baliknya.

Malam itu Bu Ratih hanya memakan tiga sendok sup sebelum tangannya mulai gemetar.

“Cukup,” katanya pelan.

Melinda mendekatkan mangkuk.

“Satu sendok lagi, Bu.”

“Tidak mau.”

“Demi kesehatan Ibu.”

Bu Ratih menatap menantunya cukup lama. Ada ketakutan di matanya, tetapi juga sesuatu yang selama berminggu-minggu hampir hilang.

Kesadaran.

Ia tiba-tiba menjatuhkan sendok ke lantai.

Suara logam beradu dengan marmer memecah keheningan.

“Aku tahu,” bisiknya.

Melinda terdiam.

“Tahu apa, Bu?”

Bu Ratih tidak menjawab. Ia hanya menatap mangkuk itu.

Melinda tertawa kecil, kemudian memanggil Sulastri untuk membersihkan lantai.

Namun malam itu, setelah semua lampu padam, Bu Ratih tidak tidur.

Ia menunggu.

Sekitar pukul dua dini hari, pintu kamarnya terbuka perlahan.

Sulastri masuk membawa segelas air putih.

“Bu,” bisiknya.

Bu Ratih membuka mata.

“Saya lihat sesuatu di dapur.”

Bu Ratih menatapnya.

“Apa?”

Sulastri menceritakan tentang botol kecil itu.

Wajah Bu Ratih tidak berubah.

“Aku sudah menduga.”

Sulastri terkejut.

“Kenapa Ibu tidak bilang ke Pak Adrian?”

Bu Ratih tersenyum pahit.

“Karena Adrian akan percaya pada istrinya sebelum percaya pada ketakutan seorang perempuan tua.”

“Ibu kan ibunya.”

“Justru karena aku ibunya.”

Bu Ratih memandang foto mendiang suaminya di dinding.

“Seorang ibu selalu takut menjadi alasan rumah tangga anaknya hancur.”

Sulastri duduk di tepi tempat tidur.

“Kalau Ibu diam, yang hancur mungkin Ibu sendiri.”

Kalimat itu membuat Bu Ratih menutup mata.

Air mata mengalir di pelipisnya.

Untuk pertama kalinya, ia mengakui sesuatu yang selama ini berusaha ia tolak.

“Aku takut, Las.”

Sulastri menggenggam tangannya.

“Saya juga.”

Sejak malam itu, keduanya membuat kesepakatan sederhana.

Sulastri tidak akan lagi membuang sisa makanan Bu Ratih.

Setiap sup, jus, dan obat akan disimpan diam-diam dalam wadah kecil.

Mereka tidak tahu akan digunakan untuk apa.

Mereka hanya tahu harus menyimpan bukti.

Tiga hari kemudian Adrian berangkat ke Surabaya untuk mengurus proyek hotel.

Sebelum pergi, ia mencium kening ibunya.

“Ibu makan yang banyak, ya.”

Bu Ratih tersenyum lemah.

“Kapan kamu pulang?”

“Empat hari lagi.”

Ia menggenggam tangan Adrian lebih erat.

“Kalau bisa, pulang lebih cepat.”

Adrian tertawa kecil.

“Kenapa? Kangen?”

Bu Ratih ingin berkata banyak hal.

Ia ingin berkata bahwa ia takut tidak akan melihat anaknya lagi.

Ia ingin berkata bahwa rumah besar itu terasa seperti perangkap.

Namun Melinda berdiri di ambang pintu, tersenyum.

Jadi Bu Ratih hanya berkata, “Hati-hati.”

Pada hari kedua kepergian Adrian, keadaan memburuk.

Bu Ratih mendadak sulit berdiri.

Kepalanya sering berputar.

Ia beberapa kali lupa nama orang.

Melinda menggunakan semua itu sebagai alasan untuk membatasi tamu.

Tetangga yang ingin menjenguk ditolak.

Saudara Bu Ratih diberi tahu bahwa dokter menyarankan banyak istirahat.

Bahkan ponsel Bu Ratih disimpan Melinda dengan alasan agar ia tidak kelelahan.

Sulastri semakin yakin sesuatu yang mengerikan sedang terjadi.

Lalu pada sore yang hujan, ia menemukan sebuah amplop di kamar kerja Melinda.

Sulastri sebenarnya hanya ingin mengambil taplak meja yang disimpan di lemari.

Namun ketika membuka salah satu laci, ia melihat nama Bu Ratih tercetak di atas beberapa lembar dokumen.

Surat kuasa.

Pengalihan kepemilikan.

Sebuah rancangan dokumen yang berkaitan dengan saham keluarga Wiratama.

Sulastri tidak memahami istilah hukum yang rumit, tetapi satu hal sangat jelas.

Ada tanda tangan Bu Ratih di bagian bawah.

Masalahnya, tanda tangan itu terlihat terlalu rapi.

Padahal selama berminggu-minggu tangan Bu Ratih bahkan kesulitan memegang sendok.

Sulastri memotret dokumen itu.

Malamnya ia menunjukkannya kepada Bu Ratih.

Wajah perempuan tua itu berubah pucat.

“Aku tidak pernah menandatangani ini.”

“Ibu yakin?”

“Aku mungkin mulai pelupa, tapi aku tidak sebodoh itu.”

Bu Ratih menarik napas panjang.

“Melinda tidak cuma ingin aku mati.”

Sulastri menelan ludah.

“Ia ingin memastikan semuanya sudah menjadi miliknya sebelum itu terjadi.”

Untuk pertama kalinya, amarah muncul di wajah Bu Ratih.

Bukan ketakutan.

Bukan kelemahan.

Amarah seorang perempuan yang selama hidupnya ikut membangun bisnis keluarga dari nol bersama suaminya.

“Aku tidak akan memberinya semudah itu.”

Malam berikutnya, Melinda datang membawa jus apel.

Bu Ratih menolak.

Melinda tidak lagi tersenyum.

“Ibu harus minum.”

“Tidak.”

“Ibu mau sakit lebih parah?”

Bu Ratih menatapnya lurus.

“Kalau aku sakit lebih parah, bukankah itu yang kamu mau?”

Keheningan jatuh begitu keras.

Sulastri yang berdiri di dekat pintu membeku.

Wajah Melinda berubah.

Hanya satu detik.

Namun cukup lama untuk memperlihatkan sosok di balik topengnya.

Kemudian senyum itu kembali.

“Ibu sedang bingung.”

“Aku sangat sadar.”

Melinda meletakkan gelas di meja.

“Kalau begitu Ibu juga pasti sadar Adrian mencintaiku.”

Bu Ratih tidak menjawab.

“Dan dia percaya padaku.”

Melinda mendekat.

“Jadi kalau besok Ibu bilang aku mencoba mencelakai Ibu, menurut Ibu siapa yang akan dianggap sakit?”

Bu Ratih menahan napas.

Melinda membisikkan kalimat terakhir.

“Ibu yang makin tua dan sering lupa, atau aku?”

Ia lalu pergi.

Sulastri baru berani bergerak setelah langkah Melinda menghilang.

“Bu, kita harus menelepon Pak Adrian.”

Bu Ratih mengangguk.

Namun ponselnya sudah tidak ada.

Telepon rumah mendadak mati.

Dan pagi berikutnya, Sulastri diberhentikan.

Melinda berdiri di depan pintu sambil memegang sebuah amplop.

“Ini gaji terakhir kamu.”

Sulastri menatapnya.

“Saya salah apa?”

“Barang di rumah sering hilang.”

“Itu fitnah.”

“Aku tidak bilang kamu mencuri.”

“Tapi Ibu sedang menuduh.”

Melinda tersenyum dingin.

“Keluar.”

Sulastri tidak bisa melawan.

Namun sebelum meninggalkan rumah, ia berhasil menyelipkan satu wadah kecil berisi sisa sup ke dalam tasnya.

Ia juga masih memiliki foto dokumen.

Begitu sampai di luar pagar, ia langsung menelepon Adrian.

Tidak diangkat.

Ia menelepon lagi.

Tetap tidak diangkat.

Akhirnya Sulastri mengirim satu pesan.

Pak Adrian, pulanglah sekarang. Jangan bilang Bu Melinda. Kalau Bapak terlambat, mungkin Ibu Ratih tidak akan sempat menjelaskan apa pun.

Pesan itu dibaca satu jam kemudian.

Adrian sedang berada dalam rapat ketika melihatnya.

Ia hampir mengabaikannya.

Namun ada sesuatu dalam kalimat terakhir yang membuat dadanya sesak.

Ia menelepon Sulastri.

Perempuan itu menangis ketika menceritakan semuanya.

Adrian tidak langsung percaya.

Tentu saja tidak.

“Las, kamu sadar kamu menuduh istri saya?”

“Saya sadar.”

“Melinda merawat Ibu setiap hari.”

“Justru itu yang saya takutkan.”

Adrian menutup telepon.

Tangannya gemetar.

Ia ingin marah.

Ia ingin menyebut semua itu fitnah.

Namun beberapa kenangan mulai kembali.

Ibunya yang semakin kurus.

Cara Melinda selalu mengambil alih makanan.

Ponsel Bu Ratih yang belakangan tidak pernah terlihat.

Dan kalimat ibunya sebelum ia pergi.

Kalau bisa, pulang lebih cepat.

Adrian membatalkan semua jadwal.

Ia kembali ke Jakarta malam itu juga.

Ia tidak memberi tahu Melinda.

Ketika mobilnya memasuki halaman rumah sekitar pukul sebelas malam, semua lampu depan sudah mati.

Adrian membuka pintu menggunakan kunci cadangan.

Rumah sunyi.

Lalu ia mendengar suara dari dapur.

Melinda.

Adrian berjalan perlahan mendekati pintu.

Ia melihat istrinya berdiri membelakanginya.

Di atas meja terdapat segelas susu hangat.

Di tangan Melinda ada botol cokelat kecil.

Adrian berhenti bernapas.

Melinda menuangkan beberapa tetes ke dalam gelas.

Kemudian mengaduknya.

Tiga kali searah jarum jam.

Satu kali berlawanan.

Persis seperti yang diceritakan Sulastri.

“Melinda.”

Botol itu terlepas dari tangannya.

Ia berbalik.

Wajahnya kehilangan warna.

“Adrian?”

“Apa yang kamu lakukan?”

Melinda buru-buru mengambil gelas.

“Ini vitamin Ibu.”

Adrian merebut botol itu.

“Vitamin apa?”

“Dokter yang kasih.”

“Dokter siapa?”

Melinda terdiam.

Adrian menatapnya lama.

Kemudian berjalan menuju kamar ibunya.

Melinda mengejar.

“Adrian, jangan bangunkan Ibu.”

Ia membuka pintu.

Bu Ratih terbaring dengan napas sangat lemah.

Ada piring makan malam di samping tempat tidur.

Adrian mengguncang bahunya pelan.

“Ibu.”

Tidak ada jawaban.

“Ibu.”

Kelopak mata Bu Ratih bergerak.

Ketika melihat anaknya, air mata langsung mengalir.

“Kamu pulang.”

Adrian berlutut.

“Maaf.”

Hanya itu yang mampu ia ucapkan.

Melinda berdiri di pintu.

“Aku bisa jelaskan.”

Adrian menoleh.

“Jelaskan di rumah sakit.”

Malam itu Bu Ratih dibawa ke rumah sakit swasta di Jakarta.

Dokter mengatakan tubuhnya mengalami kekurangan nutrisi parah dan efek obat yang tidak sesuai dengan kondisi kesehatannya.

Namun ada hal yang mengejutkan.

Bu Ratih tidak mengalami kerusakan permanen.

Ia masih memiliki peluang pulih.

Sulastri datang membawa sampel makanan dan foto dokumen.

Adrian menyerahkan semuanya kepada pihak berwenang dan pengacara keluarga.

Pemeriksaan terhadap dokumen menunjukkan tanda tangan Bu Ratih telah dipalsukan.

Namun kejutan terbesar muncul dua hari kemudian.

Pengacara keluarga datang menemui Adrian di rumah sakit.

“Ada sesuatu yang perlu Anda ketahui.”

Ia mengeluarkan dokumen lama.

Ternyata enam bulan sebelumnya, Bu Ratih diam-diam sudah mengubah struktur kepemilikan aset keluarga.

Hampir seluruh saham utama ditempatkan dalam sebuah yayasan keluarga yang tidak dapat dialihkan hanya dengan tanda tangan pribadi.

Adrian terkejut.

“Ibu sudah tahu?”

Bu Ratih yang duduk di ranjang tersenyum lemah.

“Aku tidak tahu Melinda akan melakukan ini.”

Ia menatap anaknya.

“Tapi ayahmu mengajariku satu hal. Harta besar membuat orang baik terlihat baik, dan orang serakah kehilangan kesabaran.”

Adrian menundukkan kepala.

“Aku gagal melindungi Ibu.”

Bu Ratih menggeleng.

“Kamu gagal mendengar.”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada kemarahan apa pun.

Beberapa minggu kemudian, kondisi Bu Ratih perlahan membaik.

Ia mulai berjalan di taman dengan bantuan tongkat.

Berat badannya bertambah.

Suara radio tua kembali terdengar pada pagi hari.

Sulastri kembali bekerja.

Namun Melinda tidak pernah kembali ke rumah itu.

Penyelidikan terhadap pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan obat terus berjalan.

Adrian mengajukan perceraian.

Orang-orang di lingkungan mereka terkejut.

Perempuan yang selama ini dipuji sebagai menantu sempurna ternyata menyimpan niat yang bahkan tidak terbayangkan oleh siapa pun.

Suatu sore, Adrian duduk bersama ibunya di halaman belakang.

Matahari jatuh di sela daun mangga.

Bu Ratih memegang secangkir teh.

“Bu.”

“Hm?”

“Kenapa Ibu tidak pernah membenci Melinda?”

Bu Ratih memandang tanaman bunga yang baru mulai tumbuh kembali.

“Aku pernah.”

“Lalu?”

“Aku capek.”

Ia tersenyum.

“Membenci orang seperti meminum racun sambil berharap orang lain yang mati.”

Adrian terdiam.

Ironi kalimat itu membuat dadanya sesak.

Bu Ratih menatap anaknya.

“Tapi ada satu hal yang lebih berbahaya daripada kebencian.”

“Apa?”

“Kepercayaan tanpa pertanyaan.”

Adrian menunduk.

Dari dapur terdengar suara Sulastri memanggil bahwa makan malam sudah siap.

Bu Ratih berdiri perlahan.

Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tetapi langkahnya sudah jauh lebih kuat.

Sebelum masuk ke rumah, ia berhenti dan menatap Adrian.

“Jangan merasa bersalah seumur hidup.”

Adrian memandangnya.

“Kenapa?”

“Karena manusia bisa tertipu sekali.”

Ia tersenyum tipis.

“Yang tidak boleh adalah memilih untuk tetap buta setelah kebenaran berdiri tepat di depan mata.”

Mereka berjalan masuk bersama.

Di meja makan telah tersaji sup hangat.

Adrian menatap mangkuk itu sesaat.

Bu Ratih menyadarinya.

Lalu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia tertawa.

“Tenang saja.”

Ia mengambil sendok.

“Kali ini Sulastri yang masak.”

Dari dapur terdengar suara protes.

“Memangnya dulu siapa yang masak, Bu?”

Tawa kecil memenuhi rumah yang lama kehilangan suaranya.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat panjang, bunyi sendok yang menyentuh mangkuk tidak lagi terdengar seperti ancaman.

Melainkan seperti tanda bahwa seseorang yang hampir menghilang telah memilih untuk hidup kembali.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang