Aku kira suamiku hanya sedang mengantar ibunya ke rumah sakit, jadi diam-diam aku membawakan jaket untuknya. Namun saat melewati pintu darurat, aku melihat suamiku sedang bermesraan dengan perempuan lain. Yang lebih buruk, aku mendengar sesuatu yang seharusnya tak pernah kudengar…
Namaku Karina.
Kalau ada yang bertanya kapan tepatnya aku benar-benar kehilangan kepercayaan kepada suamiku…
Bukan saat aku melihatnya memeluk perempuan lain.
Melainkan beberapa menit setelahnya.
Karena kata-kata yang kudengar dari balik pintu darurat rumah sakit benar-benar menghancurkan hidupku.
Pagi itu, ibu mertuaku menelepon sambil menangis.
“Karina…”
“Ibu sulit bernapas…”
“Marco sedang membawa Ibu ke rumah sakit.”

Aku langsung panik.
Namun beberapa detik kemudian, Marco mengambil alih telepon.
“Aku akan mengurus semuanya.”
“Kamu tetap di rumah saja, Karina.”
“Rumah sakit sedang ramai. Tidak perlu ikut ke sini.”
Aku mengiyakan.
Namun entah mengapa, jantungku terus berdebar tidak tenang.
Langit Jakarta pagi itu mendung. Tiba-tiba aku teringat bahwa ibu mertuaku sangat mudah kedinginan, terutama ketika berada di ruangan ber-AC.
Aku segera mengambil mantel wol kesayangannya dari lemari, lalu berangkat menuju rumah sakit.
Kupikir dia akan senang melihatku datang membawakan mantel itu.
Aku sama sekali tidak tahu bahwa sesuatu yang akan mengubah hidupku selamanya sedang menungguku di lorong belakang rumah sakit.
Sesampainya di sana, seorang perawat mengatakan bahwa ibu mertuaku sedang menjalani pemeriksaan jantung.
Aku mengangguk sambil membawa mantel itu menuju lift.
Namun sebelum sempat menekan tombol, aku melihat Marco.
Suamiku.
Dan dia tidak sendirian.
Di sampingnya berdiri seorang perempuan muda. Perempuan itu cantik, rambutnya tertata rapi, pakaiannya elegan, dan dari tas serta aksesori yang dikenakannya, jelas dia berasal dari keluarga berada.
Mereka sedang tertawa bersama.
Namun bukan itu yang membuat kakiku seketika terasa lemas.
Lengan Marco melingkar santai di pinggang perempuan itu.
Aku membeku.
Mantel yang kupegang hampir terjatuh.
Aku bahkan tidak sadar ketika kakiku mulai mengikuti mereka.
Marco dan perempuan itu tidak menuju ruang pemeriksaan tempat ibu mertuaku berada. Mereka justru berjalan ke bagian rumah sakit yang jauh lebih sepi, menuju pintu darurat di ujung lorong.
Aku berhenti beberapa meter dari sana.
Pintunya tidak tertutup sempurna.
Ada sedikit celah.
Dan dari balik celah itulah aku mendengar percakapan mereka dengan sangat jelas.
Perempuan itu terkikik pelan.
“Jadi kapan kamu akan memberitahunya?”
Marco terdiam beberapa detik.
“Setelah urusan rumah selesai.”
Aku mengerutkan kening.
Rumah?
Perempuan itu tertawa lagi.
“Sudah enam bulan kamu mengatakan hal yang sama.”
“Pelankan suaramu, Selina.”
“Kenapa? Istrimu bahkan tidak ada di sini.”
Marco menghela napas.
Lalu dia mengucapkan kalimat yang membuat darahku seolah berhenti mengalir.
“Karina tidak boleh tahu kalau sertifikat rumah sudah diagunkan.”
Tanganku langsung dingin.
Rumah kami di Kemang adalah warisan terakhir dari ayahku.
Ayah memberikannya kepadaku sebelum meninggal. Marco berkali-kali meminta agar namanya dimasukkan ke dalam dokumen kepemilikan dengan alasan supaya lebih mudah mengurus pajak dan renovasi.
Aku menolak.
Setidaknya, itulah yang kuingat.
Selina kembali bertanya.
“Kalau pinjaman itu jatuh tempo bulan depan bagaimana?”
“Aku sedang mencari jalan.”
“Berapa jumlahnya?”
Marco terdengar kesal.
“Dua koma delapan miliar rupiah.”
Aku hampir mengeluarkan suara.
Rp2,8 miliar.
Dari mana?
Bagaimana mungkin rumah milikku dijadikan jaminan tanpa sepengetahuanku?
Namun percakapan mereka belum selesai.
Selina berkata pelan, “Semua ini karena bisnis bodohmu. Aku sudah bilang jangan masukkan uang sebanyak itu.”
Marco tertawa pahit.
“Kalau proyek Bali berhasil, kita tidak perlu bersembunyi seperti ini lagi.”
“Kita?”
“Iya. Setelah rumah itu terjual, aku akan menceraikan Karina.”
Dunia seakan runtuh tepat di bawah kakiku.
Aku mundur perlahan.
Mantel ibu mertuaku terlepas dari tanganku dan jatuh ke lantai.
Suara kecil itu cukup membuat percakapan mereka berhenti.
“Siapa di sana?” suara Marco terdengar.
Aku tidak menunggu.
Aku mengambil mantel itu dan berjalan cepat menuju lift.
Aku tidak menangis.
Entah mengapa, justru ketenangan aneh memenuhi kepalaku.
Mungkin karena rasa sakit yang terlalu besar terkadang membuat seseorang tidak mampu menangis.
Di depan ruang pemeriksaan, aku menemukan ibu mertuaku, Bu Ratna, sedang duduk di kursi roda.
Ketika melihatku, wajahnya langsung berubah.
“Karina? Kenapa kamu datang?”
Aku memakaikan mantel ke bahunya.
“Ibu kedinginan, kan?”
Tangannya menggenggam tanganku.
“Marco bilang kamu tidak bisa datang.”
Aku menatap matanya.
Saat itu aku menyadari sesuatu.
Bu Ratna tidak tahu.
Marco menggunakan kondisi ibunya sebagai alasan agar aku tetap di rumah.
Aku tersenyum tipis.
“Aku ingin menemani Ibu.”
Beberapa menit kemudian Marco datang.
Wajahnya pucat saat melihatku.
“Kamu sejak kapan di sini?”
“Baru saja.”
Aku menjawab sambil menatapnya lurus.
Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun pernikahan kami, aku berbohong tanpa merasa bersalah.
Sepanjang perjalanan pulang, Marco hampir tidak berbicara.
Malam itu, ketika dia tertidur, aku membuka lemari dokumen.
Sertifikat rumah masih ada.
Aku hampir merasa lega.
Hampir.
Sampai aku memperhatikan nomor dokumennya.
Ada sesuatu yang aneh pada lembar pengesahan.
Keesokan paginya, aku menghubungi notaris keluarga yang dulu membantu ayahku.
Dua jam kemudian, aku duduk di kantornya dengan tangan gemetar.
Pak Hendrawan memeriksa dokumen itu cukup lama.
“Bu Karina…”
Dia melepas kacamatanya.
“Ini bukan sertifikat asli.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Ini salinan yang dibuat sangat menyerupai dokumen asli.”
Dadaku sesak.
“Kalau begitu yang asli di mana?”
Dia membuka data yang berhasil diperiksanya.
Wajahnya mendadak serius.
“Dokumen asli digunakan sebagai bagian dari pengajuan pinjaman atas nama perusahaan.”
Aku hampir tidak bisa bernapas.
“Tapi rumah itu atas nama saya.”
“Itulah masalahnya.”
Dia memutar layar komputer ke arahku.
Ada surat kuasa.
Dan di bagian bawahnya terdapat tanda tanganku.
Aku tahu seketika.
Itu bukan tanda tanganku.
Marco telah memalsukannya.
Aku pulang tanpa mengatakan apa pun.
Selama tiga hari berikutnya, aku mengumpulkan semua bukti.
Mutasi rekening.
Dokumen perusahaan Marco.
Pesan yang tersinkronisasi di tablet rumah.
Nama Selina muncul berkali-kali.
Namun kejutan terbesar justru kutemukan dari laporan transfer.
Selama hampir setahun, Marco mengirim uang puluhan juta rupiah setiap bulan kepada Selina.
Aku membawa semuanya kepada pengacara.
“Kita bisa menghentikan proses terhadap rumah itu jika dapat membuktikan pemalsuan dokumen,” katanya.
Aku mengangguk.
“Lakukan.”
Malam berikutnya Marco pulang dengan wajah tegang.
Dia langsung melempar tas kerjanya ke sofa.
“Kamu menemui notaris?”
Aku sedang duduk di meja makan.
“Iya.”
Wajahnya berubah.
“Kenapa?”
Aku tertawa kecil.
“Bukankah seharusnya aku yang bertanya?”
Marco terdiam.
Aku meletakkan salinan surat kuasa di atas meja.
“Kenapa tanda tanganku ada di dokumen yang tidak pernah kutandatangani?”
“Karina, dengarkan dulu.”
“Dua koma delapan miliar, Marco.”
Dia pucat.
“Aku bisa menjelaskan.”
“Jelaskan juga Selina.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Marco menjatuhkan tubuhnya ke kursi.
“Aku melakukan semuanya untuk kita.”
Aku hampir tertawa.
“Untuk kita? Atau untuk perempuan yang kamu peluk di rumah sakit?”
Marco menatapku kaget.
Jadi dia akhirnya tahu bahwa aku mendengar semuanya.
Namun sebelum dia sempat berbicara, pintu rumah terbuka.
Bu Ratna masuk.
Di belakangnya berdiri Selina.
Aku membeku.
Marco langsung berdiri.
“Ibu?”
Bu Ratna tidak menjawab.
Dia berjalan mendekati putranya dan meletakkan sebuah amplop di meja.
“Apa ini?” tanya Marco.
“Surat pencabutan hakmu sebagai direktur perusahaan keluarga.”
Marco terbelalak.
“Apa?”
Bu Ratna menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu pikir Ibu sakit pagi itu karena jantung?”
Marco tidak menjawab.
“Ibu memang sesak. Tapi bukan karena penyakit. Ibu menemukan laporan keuangan perusahaanmu malam sebelumnya.”
Kemudian Bu Ratna menoleh kepada Selina.
“Dan perempuan yang kamu sebut selingkuhanmu ini…”
Aku menatap mereka bergantian.
Selina maju satu langkah.
“Saya minta maaf, Mbak Karina.”
Dia membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah alat perekam kecil.
“Saya bukan kekasih Marco.”
Marco langsung berteriak.
“Selina!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Selina ternyata auditor internal yang diminta Bu Ratna menyelidiki perusahaan setelah menemukan transaksi mencurigakan.
Marco memang mencoba mendekatinya selama berbulan-bulan.
Dan Selina sengaja berpura-pura menerima kedekatan itu agar Marco mau berbicara lebih banyak.
Percakapan di pintu darurat rumah sakit bukan kebetulan.
Selina sedang mengumpulkan pengakuannya.
Wajah Marco kehilangan seluruh warnanya.
Bu Ratna menangis.
“Ibu tidak pernah menyangka anak yang Ibu besarkan akan melakukan ini.”
Marco berusaha menggenggam tanganku.
“Karina, aku panik. Bisnisku gagal. Aku cuma ingin memperbaiki semuanya.”
Aku menarik tanganku.
“Kalau kamu hanya gagal dalam bisnis, mungkin aku masih bisa memaafkanmu.”
Aku menatapnya.
“Tapi kamu memilih memalsukan tanda tanganku, mempertaruhkan rumah peninggalan ayahku, dan merencanakan perceraian setelah mengambil semuanya.”
Untuk pertama kalinya, Marco tidak punya jawaban.
Tiga bulan kemudian, pernikahan kami resmi berakhir.
Rumah peninggalan ayah berhasil diselamatkan setelah penyelidikan membuktikan adanya pemalsuan dokumen. Marco harus menghadapi konsekuensi hukum sekaligus kehilangan posisinya di perusahaan keluarga.
Bu Ratna memilih tinggal bersamaku untuk sementara.
Banyak orang bertanya mengapa aku masih menerima ibu dari laki-laki yang telah menghancurkan kepercayaanku.
Jawabannya sederhana.
Karena dosa seorang anak tidak otomatis menjadi dosa ibunya.
Suatu sore, aku menemukan mantel wol yang kubawa ke rumah sakit hari itu masih tergantung di dekat pintu.
Bu Ratna tersenyum ketika melihatku memandanginya.
“Kalau hari itu kamu tidak membawakan mantel ini…”
Aku tersenyum.
“Mungkin aku masih hidup dalam kebohongan.”
Dia menggenggam tanganku.
Aku akhirnya memahami sesuatu.
Kadang hidup tidak menghancurkan rencana kita untuk menghukum kita.
Kadang hidup menghancurkannya karena ada kebenaran yang terlalu lama tersembunyi di baliknya.
Dan hari ketika aku kehilangan kepercayaan kepada Marco ternyata bukan hari ketika hidupku berakhir.
Justru hari itulah aku mendapatkan kembali sesuatu yang selama bertahun-tahun perlahan hilang.
Diriku sendiri.
