Aku meninggalkan segalanya setelah melahirkan anak kembar tiga,

“Jangan menyesal nanti,” kata Adrian sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi kulit. “Membesarkan tiga anak sendirian bukan perkara mudah, Alya.”

Aku menatap lelaki yang selama lima tahun kupanggil suami itu. Anehnya, kalimat terakhirnya tidak lagi melukaiku.

“Aku sudah membesarkan mereka sendirian sejak mereka lahir, Adrian. Bedanya, mulai besok aku tidak perlu lagi berpura-pura memiliki suami.”

Senyum tipis di wajahnya menghilang.

Aku tidak menunggu jawabannya. Kugenggam tangan Nathan, lalu mendorong stroller Liam dan Lucas keluar dari rumah besar yang selama bertahun-tahun terasa lebih dingin daripada kamar hotel.

Di depan gerbang, sebuah mobil sederhana sudah menunggu.

Adrian tidak tahu bahwa aku tidak benar-benar pergi tanpa apa-apa.

Aku memang meninggalkan rumah, mobil, saham, dan seluruh kekayaan keluarga Wijaya. Namun ada sesuatu yang tak pernah menjadi milik mereka.

Kemampuanku sendiri.

Sebelum menikah, aku adalah salah satu pendiri perusahaan teknologi finansial bernama Arunika Digital bersama sahabat kuliahku, Raka Santoso. Ketika menikah dengan Adrian, aku menjual sebagian besar kepemilikanku dan mundur dari operasional karena ingin membangun keluarga.

Tetapi aku tidak pernah menjual semuanya.

Lima belas persen saham masih tersimpan atas namaku.

Selama lima tahun, nilainya tumbuh berkali-kali lipat.

Adrian tidak pernah mengetahuinya karena ia tak pernah tertarik pada hidupku sebelum menjadi istrinya.

Tiga minggu setelah perceraian, aku pindah bersama anak-anak ke sebuah rumah di Tangerang Selatan. Tidak semewah rumah keluarga Wijaya, tetapi untuk pertama kalinya aku bisa mendengar tawa Nathan memenuhi ruang tamu tanpa khawatir Adrian akan mengeluh karena berisik.

Aku kembali bekerja di Arunika Digital.

Hari-hariku melelahkan. Pagi dimulai dengan menyiapkan sarapan tiga anak, dilanjutkan rapat, presentasi, dan keputusan bisnis. Malam hari aku kembali menjadi ibu yang membacakan cerita sebelum tidur.

Namun aku bahagia.

Sampai dua bulan kemudian, sebuah berita bisnis muncul di layar laptopku.

Wijaya Capital kehilangan investor utama.

Aku membaca artikel itu dua kali.

Perusahaan keluarga Adrian sedang mengalami masalah arus kas setelah proyek properti besar mereka di Bekasi gagal mendapatkan pendanaan.

Nama Adrian tercantum sebagai direktur utama.

Aku menutup laptop.

Itu bukan lagi urusanku.

Tetapi masa lalu rupanya belum selesai mengejarku.

Suatu sore, ketika aku baru selesai rapat, ponselku bergetar.

Nomor Adrian.

Aku membiarkannya.

Ia menelepon lagi.

Lalu sebuah pesan masuk.

“Aku perlu bicara tentang anak-anak.”

Kalimat itu membuatku berhenti.

Selama tiga bulan, Adrian tidak pernah sekali pun menanyakan keadaan mereka.

Aku akhirnya menelepon balik.

“Ada apa?”

“Aku ingin bertemu Nathan, Liam, dan Lucas.”

Aku hampir tertawa.

“Kenapa tiba-tiba?”

Adrian diam beberapa detik.

“Celina bilang aku seharusnya memperbaiki hubungan dengan anak-anak.”

Jadi bahkan untuk mengingat ketiga putranya sendiri, ia membutuhkan perintah perempuan lain.

“Tidak perlu,” jawabku.

“Alya, mereka juga anakku.”

“Waktu Lucas demam tinggi dan harus dibawa ke rumah sakit, kamu sedang makan malam dengan Celina.”

Adrian terdiam.

“Waktu Nathan pertama kali masuk sekolah, kamu berjanji datang. Dia menunggu di gerbang hampir satu jam.”

“Aku ada rapat.”

“Dan waktu Liam bertanya kenapa ayahnya tidak pernah memeluknya?”

Tak ada jawaban.

Aku menarik napas.

“Menjadi ayah bukan sesuatu yang bisa kamu ingat ketika hidupmu sedang sepi.”

Aku memutus sambungan.

Beberapa minggu kemudian, undangan pernikahan Adrian dan Celina tersebar di media sosial.

Mereka akan menikah di sebuah hotel mewah di Jakarta.

Aku tidak merasa sakit.

Yang kurasakan justru lega.

Namun dua hari sebelum pernikahan mereka, seseorang datang ke kantorku.

Celina.

Ia mengenakan blazer krem dan membawa tas mahal. Wajahnya terlihat jauh berbeda dari foto-foto bahagia yang beredar.

“Aku perlu bicara.”

Aku mempersilahkannya duduk.

Celina langsung meletakkan beberapa lembar dokumen di mejaku.

“Aku tidak akan menikah dengan Adrian.”

Aku menatapnya.

“Kenapa mengatakan itu kepadaku?”

“Karena aku baru mengetahui alasan sebenarnya dia ingin menikahiku.”

Ternyata keluarga Celina memiliki perusahaan investasi yang selama bertahun-tahun bekerja sama dengan Wijaya Capital.

Adrian membutuhkan pernikahan itu untuk meyakinkan ayah Celina agar menyelamatkan perusahaannya.

“Tapi ada yang lebih buruk,” kata Celina.

Ia mendorong satu dokumen ke arahku.

Itu laporan audit internal.

Aku membaca beberapa halaman sebelum menemukan nama yang membuat tubuhku membeku.

Alya Pratama.

Adrian ternyata pernah menggunakan salinan tanda tanganku untuk menjaminkan sebagian aset yang dahulu tercatat sebagai harta bersama demi mendapatkan pinjaman perusahaan.

Transaksi itu dilakukan sebelum perceraian.

“Dia memalsukan persetujuanku?”

Celina mengangguk.

“Ayahku menemukan dokumen ini ketika melakukan pemeriksaan sebelum investasi.”

Aku menatap perempuan yang selama bertahun-tahun kuanggap penyebab kehancuran rumah tanggaku.

“Kenapa kamu membantuku?”

Celina tersenyum pahit.

“Karena ternyata kita berdua mencintai versi Adrian yang tidak pernah benar-benar ada.”

Untuk pertama kalinya, aku melihatnya bukan sebagai saingan.

Kami hanyalah dua perempuan yang pernah dibohongi lelaki yang sama.

Aku menyerahkan dokumen itu kepada pengacaraku.

Penyelidikan berlangsung cepat.

Masalah Wijaya Capital ternyata jauh lebih besar daripada yang kami duga. Ada laporan keuangan yang dimanipulasi dan sejumlah transaksi tanpa persetujuan pemilik aset.

Pernikahan Adrian dibatalkan.

Investor mundur.

Beberapa bulan kemudian, Adrian kehilangan posisinya sebagai direktur utama.

Suatu malam ia datang ke rumahku.

Aku hampir tidak mengenalinya.

Tidak ada jas mahal. Tidak ada mobil mewah.

Hanya seorang lelaki dengan wajah lelah berdiri di depan pagar.

“Aku cuma ingin melihat anak-anak.”

Aku menatapnya lama.

“Kenapa sekarang?”

Matanya memerah.

“Karena sekarang aku akhirnya mengerti apa yang sudah hilang.”

Aku menggeleng.

“Kamu belum kehilangan mereka, Adrian.”

Ia terlihat terkejut.

“Kamu sendiri yang memilih tidak hadir.”

Aku membuka pagar sedikit.

Nathan sedang menggambar di ruang tamu bersama kedua adiknya.

Ketika melihat Adrian, ia berhenti.

Adrian berjongkok.

“Nathan.”

Anak itu tidak berlari memeluknya.

Ia hanya memandang beberapa detik sebelum bertanya polos, “Om mau cari siapa?”

Wajah Adrian berubah.

Aku melihat sesuatu runtuh di matanya.

Bukan perusahaan.

Bukan kekayaan.

Bukan Celina.

Melainkan kesadaran bahwa putranya sendiri hampir tidak mengenalinya.

Adrian menundukkan kepala.

“Ayah cari kalian.”

Nathan menatapku seolah meminta penjelasan.

Aku tidak menjawab untuknya.

Karena ada hubungan yang tidak bisa dibangun dengan darah saja.

Adrian akhirnya pergi malam itu tanpa memaksa.

Setahun berlalu.

Arunika Digital berkembang pesat dan membuka kantor baru di Jakarta. Aku kembali menjadi diriku sendiri, bukan sebagai mantan istri Adrian Wijaya, melainkan Alya Pratama.

Adrian mulai datang menemui anak-anak secara teratur setelah kami membuat kesepakatan yang jelas dengan bantuan mediator keluarga.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Anak-anak juga tidak langsung menerimanya.

Tetapi untuk pertama kalinya, Adrian belajar bahwa cinta membutuhkan kehadiran.

Suatu sore, aku melihatnya duduk di taman bersama Nathan, Liam, dan Lucas.

Nathan tertawa ketika Adrian gagal menangkap bola kecil yang dilemparnya.

Pemandangan itu membuat dadaku terasa hangat.

Bukan karena aku ingin kembali.

Aku sudah tidak mencintainya.

Aku hanya bahagia karena ketiga anakku mungkin akhirnya memiliki kesempatan mengenal ayah mereka dalam versi yang lebih baik.

Sebelum pulang, Adrian menghampiriku.

“Alya.”

Aku menoleh.

“Aku dulu mengira kamu pergi karena kalah dari Celina.”

Aku tersenyum kecil.

“Sekarang?”

Ia memandang rumahku, anak-anak kami, lalu aku.

“Sekarang aku tahu kamu pergi karena akhirnya memilih dirimu sendiri.”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya berjalan menuju ketiga putraku.

Dulu aku meninggalkan rumah keluarga Wijaya tanpa membawa satu rupiah pun dari kekayaan mereka.

Banyak orang menganggapku bodoh.

Namun ternyata, keputusan terbaik dalam hidupku bukan tentang apa yang berhasil kubawa ketika pergi.

Melainkan tentang apa yang akhirnya berani kutinggalkan.

Karena terkadang kehilangan sebuah pernikahan bukanlah akhir dari kehidupan.

Terkadang, itu adalah saat ketika seseorang akhirnya mendapatkan kembali dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang