Aku mendengar kabar bahwa mantan istriku akan menikah lagi pada suatu sore yang biasa saja

Aku berdiri beberapa detik di depan pintu ballroom, mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini pasti memiliki penjelasan sederhana.

Mungkin Ardi bekerja untuk keluarga kaya.

Mungkin salah satu kerabatnya seorang pengusaha besar.

Atau mungkin Laras sengaja menghabiskan seluruh tabungannya demi membuat pesta mewah.

Apa pun alasannya, aku masih percaya satu hal.

Laras telah meninggalkanku untuk seorang mantan petugas keamanan.

Dan bagiku, fakta itu sudah cukup untuk membuatku merasa menang.

“Mas Dimas?”

Suara seseorang membuatku menoleh.

Pak Surya, mantan direktur operasional perusahaan tempatku bekerja dahulu, berdiri beberapa meter dari kami. Aku segera memasang senyum terbaik.

“Pak Surya. Lama tidak bertemu.”

Namun bukannya menyambutku dengan hangat, pandangannya justru beralih kepada Hannah.

“Hannah? Kamu datang juga?”

Hannah mengangguk sopan.

“Kebetulan menemani Dimas.”

Pak Surya tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi kemudian mengurungkannya.

Tatapan itu membuatku tidak nyaman.

“Bapak kenal pengantin pria?” tanyaku.

Pak Surya tersenyum tipis.

“Tentu.”

“Dulu dia petugas keamanan di perusahaan kita, kan?”

Senyumnya menghilang.

“Dulu.”

Hanya satu kata.

Lalu dia menepuk bahuku dan berjalan masuk.

Aku tertawa kecil untuk menutupi rasa janggal.

“Orang tua memang suka bicara misterius.”

Hannah tidak menjawab.

Kami memasuki ballroom.

Dan saat itulah aku benar-benar kehilangan kata-kata.

Ruangan itu dipenuhi hampir lima ratus tamu. Sebuah panggung besar berdiri di ujung ballroom dengan dekorasi elegan. Tidak berlebihan, tetapi jelas mahal. Musik dimainkan secara langsung oleh sebuah kelompok orkestra kecil.

Di beberapa meja depan, aku mengenali lebih banyak wajah.

Pengusaha.

Eksekutif.

Pejabat asosiasi bisnis.

Orang-orang yang selama bertahun-tahun berusaha kudekati demi memperluas jaringan profesional.

Aku bahkan pernah menghabiskan Rp30 juta untuk menjadi anggota sebuah klub bisnis hanya agar bisa duduk satu ruangan dengan sebagian dari mereka.

Tetapi malam itu mereka hadir untuk pernikahan Ardi.

Seorang mantan petugas keamanan.

“Dimas.”

Hannah tiba-tiba menarik lenganku.

“Apa?”

Dia menunjuk layar besar di samping panggung.

Sebuah video sedang diputar.

Foto-foto perjalanan Laras dan Ardi muncul satu per satu.

Laras tersenyum di sebuah desa di Jawa Tengah.

Ardi mengenakan helm proyek di depan sebuah gudang besar.

Foto berikutnya memperlihatkan keduanya berdiri bersama puluhan pekerja.

Kemudian muncul sebuah logo.

SAPUTRA NUSANTARA LOGISTICS.

Dadaku seperti dipukul.

Aku mengenal nama itu.

Semua orang di industri distribusi mengenalnya.

Perusahaan logistik yang berkembang sangat cepat selama tiga tahun terakhir, memiliki gudang di Bekasi, Semarang, Surabaya, dan Makassar.

Beberapa bulan sebelumnya, perusahaan tempatku bekerja bahkan pernah mencoba menjalin kerja sama dengan mereka.

Nilai kontraknya hampir Rp80 miliar.

Aku menatap Hannah.

“Jangan bilang…”

Seseorang di belakang kami tertawa kecil.

“Kamu benar-benar tidak tahu?”

Aku menoleh.

Raka, mantan rekan kerjaku, berdiri sambil membawa segelas minuman.

“Apa maksudmu?”

Dia menatapku seperti sedang melihat seseorang yang baru bangun setelah tidur bertahun-tahun.

“Ardi itu pendiri Saputra Nusantara Logistics.”

Aku merasa darah menghilang dari wajahku.

“Tidak mungkin.”

“Kenapa tidak mungkin?”

“Dia petugas keamanan.”

Raka mengangguk.

“Memang.”

Kemudian dia menjelaskan sesuatu yang membuat seluruh keyakinanku runtuh sedikit demi sedikit.

Ardi bekerja sebagai petugas keamanan ketika berusia dua puluh enam tahun karena keluarganya terlilit utang setelah usaha ayahnya bangkrut. Pada malam hari, dia mengambil kuliah kelas karyawan jurusan manajemen logistik.

Siang bekerja.

Malam kuliah.

Akhir pekan membantu temannya mengirim barang menggunakan mobil pikap sewaan.

Aku teringat lelaki berseragam biru tua yang pernah kumarahi hanya karena sepeda motornya menghalangi mobilku.

Ternyata ketika aku pulang ke apartemen setelah bekerja, dia masih harus berangkat kuliah.

“Setelah resign,” lanjut Raka, “dia mulai bisnis dengan satu mobil bekas. Sekarang armadanya lebih dari dua ratus kendaraan.”

Aku tidak mampu menjawab.

Hannah justru bertanya, “Laras kenal Ardi dari kapan?”

Raka menatapku sekilas sebelum menjawab.

“Setelah mereka berdua keluar dari perusahaan.”

“Mereka berdua?”

Aku langsung menoleh.

“Laras tidak pernah bekerja di sana.”

Raka mengerutkan dahi.

“Siapa bilang?”

Jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Ternyata ada bagian kehidupan mantan istriku yang tidak pernah kuketahui.

Setelah bercerai denganku, Laras masuk ke perusahaan itu sebagai konsultan pemasaran proyek selama beberapa bulan.

Di sanalah dia bertemu kembali dengan Ardi.

Bukan ketika Ardi masih menjadi petugas keamanan.

Melainkan ketika Ardi sedang merintis perusahaan logistiknya dan datang menawarkan kerja sama sebagai vendor kecil.

Laras membantu menyusun strategi merek dan pemasaran perusahaan itu.

Mereka bekerja bersama hampir dua tahun sebelum akhirnya berpacaran.

“Jadi Laras membantu membangun perusahaan itu?” tanyaku.

Raka mengangguk.

“Bukan cuma membantu.”

Dia menunjuk layar.

Nama Laras muncul di bawah logo perusahaan.

Chief Strategy Officer.

Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.

Mengetahui Ardi kini jauh lebih sukses daripada yang pernah kubayangkan atau menyadari bahwa Laras juga telah membangun hidupnya sendiri tanpa pernah memberitahuku.

Kemudian musik berubah.

Semua tamu berdiri.

Pintu ballroom terbuka.

Laras muncul.

Aku sudah hampir empat tahun tidak melihatnya.

Dan anehnya, hal pertama yang kurasakan bukan iri.

Melainkan terkejut.

Dia terlihat berbeda.

Bukan karena gaunnya.

Bukan karena riasannya.

Ada ketenangan di wajahnya yang tidak pernah kulihat selama kami menikah.

Dulu Laras selalu seperti seseorang yang sedang meminta izin untuk hidup.

Meminta izin membeli sesuatu.

Meminta izin bertemu teman.

Meminta izin mengambil pekerjaan.

Meminta izin memiliki pendapat.

Saat itu aku selalu menganggap diriku sedang menjadi suami yang rasional.

Aku mengatur keuangan.

Mengatur prioritas.

Mengatur masa depan.

Tetapi melihatnya berjalan menuju Ardi malam itu, untuk pertama kalinya aku bertanya kepada diriku sendiri apakah selama ini yang kusebut “mengatur” sebenarnya adalah “mengendalikan”.

Ardi menunggu di depan.

Masih wajah yang sama.

Kulit sedikit gelap.

Tubuh tegap.

Senyum sederhana.

Ketika Laras sampai di sisinya, Ardi tidak langsung melihat tamu.

Dia membungkuk sedikit dan membisikkan sesuatu kepada Laras.

Laras tertawa.

Tawa yang ringan.

Aku pernah mengenal tawa itu.

Sebelum kami menikah.

Sebelum perlahan menghilang dari rumah kami.

Upacara berlangsung.

Aku tidak benar-benar mendengarkan.

Sampai Ardi mengambil mikrofon setelah prosesi selesai.

“Ada banyak orang yang mengatakan saya beruntung karena bertemu Laras ketika perusahaan saya mulai berkembang.”

Dia menatap istrinya.

“Tapi mereka salah.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Saya bertemu Laras ketika saya hampir menyerah.”

Ardi menceritakan bahwa tiga tahun sebelumnya, bisnisnya hampir bangkrut. Investor mundur. Dua kendaraan operasional ditarik leasing. Ia bahkan sempat mempertimbangkan kembali bekerja sebagai petugas keamanan.

Laras tidak memberinya uang.

Dia memberinya sesuatu yang lebih penting.

Kepercayaan.

“Dia bilang kepada saya, pekerjaan seseorang hari ini tidak menentukan siapa dirinya lima tahun lagi.”

Kalimat itu menusukku.

Karena aku tahu aku tidak akan pernah mengatakan kalimat seperti itu.

Aku menilai manusia dari jabatan.

Gaji.

Mobil.

Alamat rumah.

Aku bahkan datang ke pernikahan ini karena ingin menunjukkan kepada Laras bahwa aku lebih berhasil daripada lelaki pilihannya.

Ardi melanjutkan.

“Jadi malam ini saya ingin berterima kasih kepada seseorang yang secara tidak langsung membuat Laras menjadi perempuan sekuat sekarang.”

Aku tiba-tiba merasa tidak nyaman.

Beberapa kepala menoleh.

Ke arahku.

Ardi juga melihatku.

“Mas Dimas.”

Seluruh tubuhku menegang.

“Terima kasih sudah datang.”

Tidak ada nada mengejek.

Justru itu yang membuatnya lebih menyakitkan.

Ardi tersenyum.

“Laras pernah bilang, kegagalan dalam pernikahan pertamanya mengajarkan satu hal kepadanya. Jangan pernah lagi memilih seseorang hanya berdasarkan seberapa menjanjikan hidupnya terlihat dari luar.”

Beberapa tamu terdiam.

Aku merasakan Hannah melepaskan tangannya dari lenganku.

Aku ingin pergi.

Tetapi sebelum sempat melangkah, Laras mengambil mikrofon.

Dia menatapku.

Aku mempersiapkan diri menerima penghinaan.

Namun Laras hanya berkata,

“Semoga kamu bahagia, Dimas.”

Empat kata.

Tidak ada dendam.

Tidak ada sindiran.

Tidak ada kemenangan.

Dan justru karena itulah aku merasa kalah sepenuhnya.

Kami meninggalkan ballroom sebelum acara selesai.

Di dalam mobil, aku mencoba tertawa.

“Hebat juga dia. Beruntung dapat suami kaya.”

Hannah menoleh kepadaku.

Tatapannya dingin.

“Dimas, kamu masih belum mengerti?”

“Mengerti apa?”

“Laras tidak memilih Ardi setelah dia kaya.”

Aku diam.

“Dia memilih Ardi ketika laki-laki itu hampir bangkrut.”

Aku menatap jalanan Jakarta di balik jendela.

Lampu-lampu kota berlari seperti garis panjang.

Hannah kemudian mengatakan sesuatu yang lebih mengejutkan.

“Ayah sudah memutuskan tidak memperpanjang posisimu sebagai kepala divisi tahun depan.”

Aku menoleh cepat.

“Apa?”

“Evaluasi kinerjamu buruk enam bulan terakhir. Aku sebenarnya ingin memberitahumu minggu depan.”

Dunia seolah berhenti.

“Kenapa baru bilang sekarang?”

Hannah menatap lurus ke depan.

“Karena aku ingin melihat satu hal malam ini.”

“Apa?”

“Bagaimana kamu memperlakukan seseorang ketika kamu pikir dia berada di bawahmu.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Hannah menarik napas panjang.

“Dan sekarang aku tahu.”

Tiga bulan kemudian, Hannah mengajukan cerai.

Aku kehilangan jabatan tidak lama setelahnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, tidak ada nama besar yang bisa kugunakan sebagai sandaran.

Tidak ada istri dari keluarga direktur.

Tidak ada posisi eksekutif.

Tidak ada orang yang memanggilku “Pak Dimas” dengan penuh hormat.

Suatu pagi, aku datang ke sebuah gedung perkantoran di Jakarta Selatan untuk wawancara kerja.

Saat menunggu lift, seorang petugas keamanan membukakan pintu untukku.

“Silakan, Pak.”

Aku melangkah masuk.

Kemudian berhenti.

Dulu aku mungkin hanya akan mengangguk tanpa melihat wajahnya.

Hari itu aku berbalik.

“Terima kasih, Pak.”

Petugas itu tersenyum.

Pintu lift menutup.

Di dinding lift yang mengilap, aku melihat bayanganku sendiri.

Dan akhirnya aku memahami sesuatu yang terlambat kupelajari.

Laras tidak meninggalkanku karena aku kurang kaya.

Dia meninggalkanku karena ketika aku merasa berada di atas, aku selalu membutuhkan orang lain berada di bawah.

Sedangkan Ardi, bahkan ketika hidup menempatkannya di sebuah pos keamanan kecil dekat gerbang perusahaan, tidak pernah membiarkan pekerjaannya menentukan harga dirinya.

Aku datang ke pernikahan mereka untuk menunjukkan kepada Laras bahwa dia telah memilih lelaki yang salah.

Pada akhirnya, justru malam itulah yang menunjukkan kepadaku bahwa bertahun-tahun sebelumnya, orang yang salah dipilih Laras adalah aku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang