Tiga hari setelah pernikahan, perangai ibu mertuaku langsung berubah

Tiga hari setelah pernikahan, perangai ibu mertuaku langsung berubah. Ia bilang rumah itu hanya pinjaman dan menyuruhku serta suaminya segera angkat kaki. Aku hanya tersenyum tipis: “Baiklah, aku akan kembali ke vila seluas 500 meter persegi milik orang tuaku saja, supaya kalian tidak repot.”

Tepat pada hari ketiga setelah pernikahan, ibu mertuaku, Ibu Siti, berdiri di halaman rumah. Ia meremas ujung selimut di tangannya, senyumnya tampak lebih kaku daripada air mata. “Maria, anakku,” ujarnya, “kami sebenarnya hanya meminjam rumah ini dari seorang kerabat. Mereka akan mengambilnya kembali akhir bulan ini. Kamu dan suamimu harus segera pindah.” Maria menatapnya lalu tersenyum pelan. “Baiklah, aku akan pulang ke vila keluargaku.”

Tangan Ibu Siti bergetar hebat, selimut di tangannya terjatuh ke tanah, menimbulkan sedikit debu yang beterbangan. Marco berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat pasi seperti dinding yang baru dicat. Adiknya, Tina, sedang menggendong bayinya sambil mencengangkan mulut karena terkejut. Sebelum sempat berkata-kata, Maria teringat kembali suara mertuanya dari lantai bawah sebelum fajar menyingsing pagi tadi.

“Maria, turun dan bantu aku!” “Sebentar, aku turun.” Jawabnya sambil merapikan rambut dan mengenakan gaun bermotif bunga yang dibelikan oleh ibu mertuanya. Sejujurnya, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri saat mengenakan pakaian itu. Bahannya kaku, modelnya sudah ketinggalan zaman, dan ada kancing lengan yang hilang. Namun, ibu mertuanya berkata, “Ini hadiah untuk menantu baru,” jadi ia tidak punya pilihan selain memakainya.

Saat keluar kamar, ia melihat Marco masih tidur pulen, meringkuk di balik selimut. Setibanya di halaman, Ibu Siti bahkan meliriknya pun tidak. Wanita paruh baya itu hanya mendorong sebuah ember besar berisi ubi jalar yang masih berlumuran lumpur. Beratnya lebih dari lima kilo. Maria duduk di luar dan mencuci semuanya selama hampir satu jam. Tangannya memerah karena air dingin. Begitu Marco bangun, ia hanya duduk di dalam rumah sambil menonton TV. Sesekali ia mendongkak dan bertanya, “Sudah selesai belum?”, lalu kembali masuk.

Pria yang dicintainya selama tujuh tahun itu, saat ia menyuruhnya turun sebentar untuk membantu mencuci ubi, bahkan tidak pernah berkata, “Biar aku saja yang cuci.” Janji pernikahan yang manis, “Aku akan menjagamu selamanya,” kini terasa seperti ilusi belaka. “Bu, saya sudah selesai.” Ibu Siti tidak menjawab; ia hanya bergerak sedikit. Kuali besar di atas kompor mengepulkan asap. Mi rebus sedang mendidih di dalamnya.

Maria mengambil sumpitnya dan mengaduk mi tersebut. Ia mencium aroma tepung yang samar, seketika teringat dapur di rumah mereka di kawasan Menteng, Jakarta. Peralatan dapur mewah impor di sana bahkan belum pernah ia sentuh sama sekali. “Maria,” lamunannya buyar. “Mangkok yang paling besar untuk mertuamu. Dia bekerja di lokasi proyek konstruksi sekarang, butuh makan yang banyak. Mangkok ukuran sedang untuk Marco. Dan mangkok yang kecil…” Ibu Siti berhenti sejenak. “Mangkok kecil itu untukmu.”

Maria menatap ketiga mangkok tersebut. Mangkok terbesar hampir sebesar baskom. Mangkok ukuran sedang standar. Sementara yang paling kecil ukurannya hanya sebesar cangkir teh. Ia tidak berkata apa-apa. Dengan tenang ia membagi mi tersebut ke masing-masing mangkok. Ibu Siti berdiri di sampingnya, mengawasi setiap gerak-gerik tangannya. Tiba-tiba wanita itu berkata, “Lepas gelang itu. Mengganggu pekerjaan memasak saja.”

Maria melirik gelang giok di pergelangan tangannya. Itu adalah warisan keluarga dari mendiang neneknya. Warnanya transparan dan sangat indah. Tahun lalu, saat dilelang di balai lelang Singapura, harganya ditaksir mencapai beberapa miliar rupiah. Sebenarnya ia enggan memakainya, tetapi ibunya memaksa. “Keluarga suamimu itu tidak sederhana. Kamu harus punya pegangan.” Ia tetap tidak melepasnya. Kening Ibu Siti sedikit berkerut, namun ia tidak berkomentar lagi.

Mereka makan di ruang tamu. Bapak Joko, sang bapak mertua, duduk di kursi utama sambil memegang mangkok terbesar. Ia hanyalah seorang buruh bangunan biasa, kulitnya gelap, pendiam, dan menyeruput sopnya dengan suara yang cukup keras. Marco, yang sedari tadi di rumah saja, turun tangga dengan rambut acak-acakan. Ia duduk dan sengaja menghindari tatapan Maria. “Makanlah, apa lagi yang ditunggu?”

Ibu Siti mendorong mangkok paling kecil ke hadapan Maria, lengkap dengan sepiring acar cabai dan mangga muda. “Maria, kondisi keluarga kami memang pas-pasan. Harap maklum ya. Tidak seperti anak kota kebanyakan yang terlalu manja.” Maria mengambil sumpitnya lalu menggigit mi tersebut. Minya agak keras. Acar rasanya sangat asin. Ia harus segera minum air putih agar bisa menelannya. “Bu,” kata Marco tiba-tiba. “Maria tidak terbiasa hidup susah. Jangan terlalu keras padanya.” Ibu Siti menatap putranya tajam. “Aku bersikap keras padanya? Aku hanya sedang mengajarinya cara hidup sederhana!”

Suasana meja makan mendadak hening seketika. Bapak Joko meletakkan mangkoknya dengan bunyi dentingan yang cukup keras. Maria hanya menunduk, menatap mangkok kecilnya yang kosong, lalu perlahan bangkit dari kursi tanpa sepatah kata pun. Ia berjalan ke arah kamar tidur utama di lantai atas, meninggalkan keluarganya yang terpaku di ruang tamu. Di dalam kamar, ia membuka koper kulit hitam berlogo jenama mewah miliknya. Di dalam koper itu tersimpan rapi dokumen kepemilikan tanah dan aset besar miliknya.

Pernikahan ini awalnya adalah sebuah pertaruhan. Selama tujuh tahun berpacaran, Marco selalu tampil sebagai pemuda sederhana, pekerja keras, dan jujur asal Yogyakarta yang merantau ke ibu kota. Maria benar-benar mencintainya apa adanya, bahkan rela menutupi identitas aslinya sebagai putri tunggal konglomerat properti nasional demi menguji kesetiaan cinta sejati. Namun, kenyataan pahit kini terpampang nyata di depan matanya. Baru tiga hari resmi menikah, ketika mereka mengira Maria adalah gadis miskin, kedok keluarga ini langsung terbuka lebar.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar menaiki tangga. Pintu kamar didorong terbuka dengan kasar oleh Marco. Wajah pria itu tampak panik bercampur marah. “Maria, apa-apaan kamu ini? Kenapa kamu berbicara begitu pada ibuku di halaman tadi?” bentak Marco dengan suara tertahan. Maria menutup kotak perhiasan itu perlahan, lalu mendongak menatap pria yang pernah sangat ia puja dalam hidupnya. Sorot matanya kini begitu dingin.

Suara ketukan sepatu hak tinggi terdengar menyusul di belakang Marco. Ibu Siti dan Bapak Joko berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka lebar. Wajah Ibu Siti sudah tidak lagi menyembunyikan rasa benci. “Kamu pikir kamu siapa, hah?” bentak Ibu Siti sambil berkacak pinggang. “Mentang-mentang keluargamu dikabarkan agak berada di desa sana, kamu berani bersikap angkuh di rumah pinjaman ini? Dengar ya, kalau kamu tidak bisa hidup susah, silakan angkat kaki sekarang juga!”

Tanpa penyesalan, Maria justru tertawa pelan. Tawa itu begitu merdu namun mengandung kekuatan yang membuat bulu kuduk mereka meremang. “Rumah pinjaman? Kalian benar-benar pandai bersandiwara. Tahukah kalian siapa pemilik sah dari tanah dan bangunan megah tempat kalian berpijak saat ini?” Ibu Siti mendengus remeh. “Tentu saja kerabat jauh keluarga kami yang kaya raya!”

“Omong kosong,” balas Maria sambil berdiri tegak. “Akulah pemilik tunggal dari seluruh kompleks perumahan elit ini, termasuk rumah sederhana berkedok kontrakan tempat kalian tinggal selama lima tahun terakhir. Ayahmu, Marco, bekerja sebagai buruh di proyek perumahan milik mendiang ayahku. Dan rumah ini, aset perusahaan yang sengaja kupinjamkan kepada Marco agar ia bisa hidup layak di ibu kota tanpa merasa minder.”

Maria mengangkat tangan kanannya, memamerkan gelang giok senilai miliaran rupiah. “Pernikahan kita kemarin bukanlah akhir dari penyamaranku, melainkan babak akhir dari ujian kesetiaan yang telah gagal kalian menangkan.” Ibu Siti jatuh bersimpuh di lantai, lututnya lemas seketika menyadari siapa wanita yang baru saja ia tindas. Maria melangkah melewati mereka menuju pintu keluar, meninggalkan kunci rumah berlapis emas di atas meja, sementara ratapan penyesalan kini menggema memenuhi rumah tua yang sunyi itu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang