DELAPAN tahun lalu, dia meninggalkan istrinya. Kini, dia menemukannya di jalan bersama TIGA anak yang sangat mirip dengannya. Penemuan yang dia buat membuat dunianya berhenti seketika.

Dimas tidak pernah membayangkan bahwa satu perintah sederhana akan menyeretnya kembali ke masa lalu yang selama delapan tahun ia kubur dalam-dalam.

“Naiklah ke mobil.”

Sari menatapnya dengan wajah pucat. Hujan membasahi rambutnya yang terurai, membuat beberapa helai menempel di pipi. Tiga anak di belakangnya saling merapat, memandangi Dimas dengan tatapan waspada.

“Aku tidak butuh belas kasihanmu,” katanya.

“Ini bukan soal belas kasihan.”

“Lalu apa?”

Dimas ingin menjawab, tetapi suaranya seakan tertahan di tenggorokan. Matanya kembali jatuh pada ketiga anak itu. Semakin lama ia memandang, semakin sulit baginya menyangkal kemiripan yang mencolok.

Anak laki-laki yang paling tinggi memiliki bentuk alisnya.

Anak perempuan di tengah memiliki lesung pipi yang sama seperti ibunya.

Sementara anak laki-laki paling kecil memandangnya dengan sepasang mata yang membuat dada Dimas terasa sesak.

Mata itu persis matanya ketika masih kecil, berdasarkan foto-foto lama yang disimpan ibunya.

Sari menarik tangan anak-anak itu.

“Kita pergi.”

Belum sempat mereka melangkah, anak laki-laki paling kecil tiba-tiba limbung.

“Raka!”

Sari langsung menangkap tubuhnya.

Dimas bergerak cepat.

“Apa yang terjadi?”

“Jangan sentuh dia!”

“Dia demam tinggi!”

“Aku tahu!”

“Kalau begitu kenapa kalian masih di sini?”

Pertanyaan itu membuat wajah Sari berubah.

Untuk sesaat, hanya suara hujan yang terdengar di antara mereka.

“Kami baru kehilangan tempat tinggal,” jawabnya lirih.

Dimas membeku.

“Apa?”

“Tidak penting.”

“Bagiku penting.”

“Delapan tahun lalu semuanya juga tidak penting bagimu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada yang ia bayangkan.

Dimas tidak membalas.

Ia hanya menatap Raka yang menggigil di pelukan ibunya.

“Ada rumah sakit dekat sini. Kita bawa dia sekarang.”

Sari tampak ragu.

“Aku bisa membayar sendiri.”

“Dengan apa?”

Sari menatap tajam.

Dimas langsung menyesal.

“Aku tidak bermaksud begitu.”

“Tidak. Kau benar. Aku bahkan tidak punya cukup uang untuk hotel murah malam ini.”

Dimas membuka pintu mobil.

“Marahlah kepadaku nanti. Sekarang selamatkan anakmu.”

Sari akhirnya menyerah.

Di rumah sakit swasta kawasan Kuningan, Raka langsung dibawa ke ruang pemeriksaan. Sari duduk di kursi lorong bersama dua anak lainnya.

Dimas berdiri beberapa meter dari mereka, masih mengenakan kemeja putih mahal yang sudah basah kuyup.

Anak perempuan itu terus memandanginya.

“Nama kamu siapa?” tanya Dimas pelan.

Anak itu menoleh pada ibunya lebih dulu.

Sari mengangguk.

“Alina.”

“Umurmu?”

“Tujuh tahun.”

Dimas menelan ludah.

Anak laki-laki di samping Alina menyahut, “Aku Arga. Kami kembar tiga.”

Kembar tiga.

Kata itu membuat udara di sekitar Dimas terasa lenyap.

Ia berbalik perlahan kepada Sari.

“Kembar tiga?”

Sari menunduk.

“Kapan mereka lahir?”

Tidak ada jawaban.

“Sari.”

“Jangan sekarang.”

“Berapa usia mereka sebenarnya?”

“Tujuh tahun.”

“Ulang tahun mereka kapan?”

Sari menutup mata.

“Dimas.”

“Kapan?”

“Dua belas April.”

Wajah Dimas kehilangan warna.

Delapan tahun lalu, ia meninggalkan Sari pada akhir Agustus.

Ia masih ingat hari terakhir mereka dengan jelas. Saat itu, ia menerima tawaran besar untuk membuka cabang perusahaan di Singapura. Mereka bertengkar karena Sari memintanya menunda keberangkatan beberapa minggu.

Dimas menolak.

Ia menganggap Sari tidak memahami ambisinya.

Malam itu ia mengatakan sesuatu yang selama bertahun-tahun menghantuinya.

Aku tidak bisa terus hidup dengan seseorang yang hanya menjadi beban.

Dua minggu kemudian, melalui pengacara, Dimas mengirim surat cerai.

Lima bulan setelah itu, anak-anak ini lahir.

Dimas mendekati Sari.

“Mereka anakku?”

Sari bangkit.

“Jangan bicara di depan mereka.”

“Jawab aku.”

Sari menggertakkan rahang.

“Iya.”

Dimas seperti kehilangan pijakan.

Ia mundur satu langkah.

“Kenapa?”

Sari tertawa kecil. Bukan karena lucu, melainkan karena luka yang terlalu lama dipendam.

“Kenapa apa?”

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

“Aku mencoba.”

Dimas terdiam.

“Apa?”

“Aku meneleponmu berkali-kali. Nomormu sudah tidak aktif. Aku mengirim email. Tidak pernah dibalas. Aku datang ke kantormu.”

Sari menatap langsung ke matanya.

“Satpam bilang aku dilarang masuk.”

Dimas menggeleng.

“Aku tidak pernah memberi perintah seperti itu.”

“Sekretaris pribadimu saat itu, Rendi, bilang kau tidak mau melihatku lagi.”

Dimas langsung teringat.

Rendi.

Mantan tangan kanannya yang sekarang menjadi salah satu komisaris perusahaan.

“Tidak mungkin.”

“Aku juga mengirim surat ke rumah ibumu.”

Dimas merasa jantungnya berhenti.

“Ibuku?”

Sari tidak menjawab.

Saat itulah dokter keluar.

“Orang tua Raka?”

Sari segera menghampiri.

Dokter menjelaskan bahwa Raka mengalami infeksi saluran pernapasan dan dehidrasi. Kondisinya belum kritis, tetapi harus dirawat setidaknya dua malam.

Sari mengembuskan napas lega.

Dimas segera mengurus administrasi tanpa menunggu izin.

Malam itu, ia menyewa kamar rawat terbaik untuk Raka dan satu kamar lain agar Sari serta dua anak lainnya bisa beristirahat.

Sari marah ketika tahu.

“Aku akan menggantinya.”

“Tidak perlu.”

“Aku tidak mau berutang kepadamu.”

“Kalau mereka anakku, kau tidak berutang apa pun.”

Sari terdiam.

Dimas duduk di kursi seberangnya.

“Kenapa kalian sampai kehilangan rumah?”

Sari mengusap wajahnya.

“Aku punya usaha katering kecil. Tahun lalu, rekanku membawa kabur uang modal. Aku menutup utang dengan menjual hampir semuanya.”

“Keluargamu?”

“Ayah sudah meninggal. Ibuku menyusul tiga tahun lalu.”

“Kenapa tidak mencari aku?”

Sari tersenyum pahit.

“Setelah bertahun-tahun mencoba memberi tahu bahwa kau punya anak, menurutmu aku masih punya keberanian untuk mengetuk pintu orang yang jelas-jelas tidak menginginkan kami?”

Dimas menunduk.

Ada rasa malu yang tidak pernah ia rasakan dalam ruang rapat mana pun.

Keesokan paginya, ia tidak pergi ke kantor.

Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun.

Ia menghabiskan waktu bersama Arga dan Alina di kantin rumah sakit.

Arga pendiam, tetapi cerdas. Ia menyukai matematika dan hafal hampir semua jenis kereta api di Indonesia.

Alina jauh lebih terbuka. Ia bercerita tentang sekolah lamanya, tentang ibunya yang sering bekerja sampai tengah malam, dan tentang Raka yang takut suara petir.

“Kamu temannya Mama?” tanya Alina.

Dimas menatapnya.

“Dulu… lebih dari teman.”

Alina mengangguk seolah memahami.

“Mama punya foto kamu.”

Sendok di tangan Dimas berhenti bergerak.

“Apa?”

“Di kotak kecil.”

“Alina.”

Suara Sari terdengar dari belakang.

Anak itu langsung diam.

Dimas menatap Sari.

“Kau menyimpan fotoku?”

“Itu bukan urusanmu.”

Namun bagi Dimas, semuanya tiba-tiba menjadi urusannya.

Siang itu, ia meminta asistennya menyelidiki semua catatan delapan tahun lalu.

Hasilnya tiba menjelang malam.

Ada tiga puluh dua email dari Sari yang masuk ke akun lama Dimas.

Semuanya dialihkan otomatis ke folder sampah.

Ada lima surat tercatat yang dikirim ke kantor.

Semuanya diterima oleh sekretariat direksi.

Tidak satu pun pernah sampai ke tangannya.

Dan ada satu nama yang muncul berkali-kali.

Rendi Setiawan.

Dimas merasa darahnya mendidih.

Ia langsung menelepon.

“Kita bertemu besok pagi.”

“Pak, ada masalah?”

“Ada.”

Keesokan harinya, Rendi datang ke rumah sakit dengan wajah tegang.

Begitu melihat Sari, ekspresinya berubah.

Dimas menangkap perubahan itu.

“Kau mengenalnya.”

Rendi tidak menjawab.

“Jawab.”

“Iya.”

“Delapan tahun lalu, dia mencoba menghubungiku.”

Rendi memandang lantai.

“Aku hanya menjalankan perintah.”

“Perintah siapa?”

Keheningan panjang.

Kemudian suara perempuan terdengar dari pintu.

“Perintah saya.”

Semua orang menoleh.

Ratih Pratama, ibu Dimas, berdiri di sana.

Wanita berusia enam puluh lima tahun itu masih terlihat anggun dalam setelan mahal berwarna krem.

Namun wajahnya pucat.

Dimas seakan tidak mengenal perempuan yang telah membesarkannya.

“Ibu?”

Ratih menatap Sari.

“Aku pikir aku sedang melindungi anakku.”

Dimas bangkit perlahan.

“Melindungiku dari apa?”

“Dari kehidupan yang akan menghancurkan masa depanmu.”

Sari mengepalkan tangan.

Ratih melanjutkan.

“Ketika Sari datang mengatakan dia hamil, perusahaan kita hampir bangkrut. Kau sedang membangun semuanya dari nol. Aku tahu kalau kau mengetahui kehamilan itu, kau akan pulang.”

“Tentu aku akan pulang!”

“Dan kehilangan semua yang sekarang kau punya.”

Dimas tertawa tanpa suara.

Ia memandang ibunya dengan mata merah.

“Jadi Ibu membuang anak-anakku dari hidupku demi perusahaan?”

“Aku menawarkan uang kepada Sari.”

Sari langsung menyela.

“Dan aku menolaknya.”

Ratih terdiam.

Dimas memandang Sari.

“Apa lagi yang terjadi?”

Sari menarik napas.

“Ibumu meminta aku pergi dari Jakarta. Katanya kalau aku benar-benar mencintaimu, aku tidak boleh menghancurkan masa depanmu.”

Dimas merasa mual.

Semua kesuksesan yang selama ini dibanggakannya mendadak terasa seperti sesuatu yang dibangun di atas kehilangan.

“Aku kehilangan delapan tahun.”

Ratih mendekat.

“Dimas…”

“Delapan ulang tahun.”

Suaranya bergetar.

“Delapan tahun pertama mereka sekolah. Saat mereka sakit. Saat mereka belajar berjalan. Saat mereka pertama kali memanggil seseorang Ayah.”

Alina yang berdiri di dekat pintu menatapnya bingung.

“Ayah?”

Ruangan mendadak sunyi.

Sari menoleh cepat.

Dimas melihat wajah putrinya.

Ia tidak sanggup berbohong.

“Iya.”

Alina menatap ibunya.

“Mama?”

Air mata menggenang di mata Sari.

Ia perlahan mengangguk.

Arga berdiri kaku.

“Berarti Om Dimas ayah kami?”

Dimas berjongkok di depan mereka.

“Aku tidak tahu kalian ada.”

Arga langsung bertanya, “Kalau tahu, Ayah akan datang?”

Pertanyaan itu menghancurkan semua pertahanan Dimas.

Ia tidak mencoba terlihat kuat.

Ia menangis di depan anak-anaknya.

“Iya.”

Arga diam beberapa saat.

Kemudian ia berkata pelan, “Kalau begitu sekarang jangan pergi lagi.”

Dimas memeluk mereka.

Bukan sebagai pengusaha.

Bukan sebagai pemilik perusahaan bernilai triliunan rupiah.

Hanya sebagai seorang ayah yang baru menyadari bahwa bagian terbesar dari hidupnya telah dicuri oleh ambisi, kesalahpahaman, dan keputusan orang-orang yang merasa paling tahu apa yang terbaik untuknya.

Namun masalah belum selesai.

Ketika Nadira mengetahui keberadaan Sari dan anak-anak, ia datang ke rumah sakit.

“Aku perlu bicara.”

Dimas menatap tunangannya.

“Kita bisa bicara di luar.”

Di lorong, Nadira langsung bertanya, “Kau mau membatalkan pernikahan kita?”

Dimas tidak menjawab cepat.

Nadira tertawa kecil.

“Jadi benar.”

“Ini bukan karena Sari.”

“Lalu?”

“Karena aku baru sadar selama ini aku hidup berdasarkan apa yang terlihat benar di mata orang lain.”

Nadira menatapnya lama.

Anehnya, ia tidak marah.

“Aku sebenarnya sudah tahu.”

Dimas mengernyit.

“Tahu apa?”

“Bahwa kau tidak pernah benar-benar mencintaiku.”

Nadira melepas cincin pertunangan.

“Kita hanya cocok di atas kertas.”

Ia menyerahkan cincin itu.

“Pergilah memperbaiki sesuatu yang masih bisa diperbaiki.”

Dimas tercengang.

“Nadira…”

“Aku juga pantas dicintai oleh orang yang memilihku sepenuhnya.”

Lalu ia pergi.

Tanpa drama.

Tanpa teriakan.

Hanya dengan kejujuran yang justru membuat Dimas semakin menghormatinya.

Beberapa minggu kemudian, Dimas menyewa rumah sederhana di dekat sekolah baru anak-anak.

Bukan mansion.

Bukan penthouse.

Ia sengaja memilih rumah yang hangat, memiliki halaman kecil, dan cukup dekat agar Sari tetap bisa mengelola usaha katering yang ia bantu bangun kembali.

Namun Sari memberi satu syarat.

“Aku tidak akan menerima uangmu kalau itu berarti kau ingin membeli masa lalu.”

Dimas mengangguk.

“Aku tidak bisa membeli masa lalu.”

“Lalu apa yang kau inginkan?”

“Kesempatan untuk hadir di masa depan.”

Hubungan mereka tidak langsung pulih.

Sari masih marah.

Kadang mereka bertengkar.

Kadang Sari mengingatkan Dimas bahwa menjadi ayah bukan sekadar membayar sekolah atau membeli kebutuhan anak.

Maka Dimas belajar.

Ia belajar mengantar anak sekolah.

Belajar menghafal jadwal les.

Belajar menunggu saat Raka takut ke dokter gigi.

Belajar bahwa Arga akan diam ketika sedih.

Belajar bahwa Alina selalu menyisakan bagian pinggir roti karena tidak menyukainya.

Perlahan-lahan, sesuatu yang sudah mati bertahun-tahun mulai tumbuh lagi.

Bukan cinta lama.

Bukan nostalgia.

Melainkan kepercayaan baru.

Enam bulan kemudian, Dimas menghadiri pertunjukan sekolah anak-anak.

Raka berperan sebagai pohon dalam drama kelas.

Perannya hanya berdiri di sudut panggung selama hampir dua puluh menit.

Namun Dimas merekam semuanya.

Ketika acara selesai, Raka berlari menghampirinya.

“Ayah lihat aku?”

“Dari awal sampai akhir.”

“Padahal aku cuma jadi pohon.”

Dimas tersenyum.

“Ayah tetap lihat.”

Raka memeluknya.

Di belakang mereka, Sari berdiri sambil tersenyum.

Saat itulah Dimas memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun, ia mengira keberhasilan berarti orang-orang melihatnya berdiri di puncak.

Namanya masuk majalah bisnis.

Perusahaannya tumbuh.

Rumahnya semakin besar.

Rekeningnya semakin panjang.

Namun ternyata, hidup bukan tentang siapa yang melihatmu ketika kau berdiri di panggung terbesar.

Hidup adalah tentang siapa yang tetap memperhatikanmu bahkan ketika peranmu hanya menjadi pohon di sudut panggung.

Setahun setelah malam hujan itu, Dimas dan Sari kembali berjalan di Jalan Sudirman.

Tempat yang hampir sama dengan lokasi mereka bertemu kembali.

Kali ini, ketiga anak berjalan beberapa langkah di depan sambil berebut payung.

Dimas menoleh kepada Sari.

“Kalau malam itu aku tidak melihat kalian…”

“Jangan pikirkan.”

“Aku sering memikirkannya.”

Sari berhenti.

“Dimas, mungkin kita tidak bisa mengubah delapan tahun yang hilang.”

“Aku tahu.”

“Tapi kita bisa memastikan delapan tahun berikutnya berbeda.”

Dimas tersenyum.

Kemudian sesuatu terjadi.

Seorang anak kecil berlari terlalu cepat dan menjatuhkan dompet di dekat trotoar.

Raka mengambilnya dan mengejar anak itu.

“Ini punya kamu!”

Dimas melihat putranya mengembalikan dompet tersebut.

Tindakan kecil.

Sangat sederhana.

Namun dadanya terasa penuh.

Sari menatapnya.

“Kamu tahu bagian paling ironis dari semuanya?”

“Apa?”

“Aku dulu takut anak-anak akan tumbuh tanpa ayah.”

Dimas menunduk.

“Dan sekarang?”

Sari tersenyum tipis.

“Sekarang aku justru khawatir mereka terlalu dimanjakan oleh ayahnya.”

Dimas tertawa.

Suara itu terasa asing, tetapi juga sangat akrab.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kota Jakarta tidak terasa kosong.

Lampu-lampunya tidak lagi hanya memantul di kaca mobil mewah.

Suara kendaraan tidak lagi sekadar kebisingan.

Di antara hiruk pikuk kota, Dimas akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini tidak bisa dibeli oleh seluruh kekayaannya.

Rumah.

Dan yang paling mengejutkan, rumah itu ternyata bukan bangunan.

Rumah adalah empat orang yang pernah ia kehilangan, tetapi masih memberinya kesempatan untuk pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang