Malam itu, heningnya vila terpecah saat telepon Tiara berdering nyaring di atas meja. Nama Pak Yohan, atasan yang memegang proyek-proyek besar di kantornya, tertera di sana.

Setidaknya untuk malam itu, rahasia Arsen masih terjaga. Sebab keesokan paginya, pria itu telah memutuskan untuk kembali duduk di kursi roda seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Tiara terbangun ketika sinar matahari menembus celah tirai vila. Beberapa detik pertama ia hanya menatap langit-langit kamar dengan bingung. Ia ingat jelas semalam tertidur di meja kerja, tetapi sekarang tubuhnya sudah berada di atas ranjang, terbungkus selimut dengan rapi.

Tiara buru-buru duduk.

Pandangan matanya langsung jatuh pada Arsen yang sedang berada di dekat jendela, duduk tenang di kursi rodanya sambil membaca sesuatu dari tablet.

“Mas?”

Arsen menoleh. “Sudah bangun?”

Tiara mengusap wajahnya. “Semalam aku tidur di meja, kan?”

“Sepertinya begitu.”

“Terus aku bisa pindah ke sini gimana?”

Arsen mengangkat alis dengan wajah tenang. “Mungkin kamu jalan sendiri dalam keadaan setengah sadar.”

Tiara menatapnya curiga.

“Aku merasa ada yang gendong aku.”

“Kalau aku yang menggendongmu, berarti semalam terjadi mukjizat.”

Nada Arsen begitu datar hingga Tiara akhirnya tertawa kecil.

“Iya juga sih. Aku pasti kecapekan.”

Arsen hanya tersenyum tipis. Di balik wajah tenangnya, ada sesuatu yang tidak diketahui Tiara. Sudah hampir dua tahun ia berpura-pura kehilangan kemampuan berjalan setelah kecelakaan mobil yang nyaris merenggut nyawanya.

Kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa.

Seseorang sengaja merusak sistem pengereman mobilnya.

Dan sampai sekarang Arsen belum menemukan siapa dalangnya.

Itulah sebabnya hanya tiga orang yang tahu bahwa kakinya telah pulih total sejak delapan bulan lalu. Dokter pribadinya, kepala keamanan keluarga, dan pengacara kepercayaannya.

Arsen mempertahankan kursi roda bukan karena takut menjalani hidup normal, melainkan karena ia ingin melihat siapa saja yang akan menunjukkan wajah asli mereka ketika mengira dirinya lemah.

Hasilnya jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan.

Kerabat mulai memperdebatkan warisan.

Beberapa direksi mencoba mengambil alih kewenangannya.

Bahkan Nadia, perempuan yang pernah dijodohkan dengannya oleh keluarga, terang-terangan menghinanya dan memilih pria lain setelah yakin Arsen tidak akan pernah berjalan lagi.

Lalu datanglah Tiara.

Perempuan yang menikah dengannya bukan karena kekayaan, melainkan karena keadaan yang sama-sama rumit. Tiara tidak pernah mengetahui posisi sebenarnya Arsen di Arsenio Group. Yang ia tahu hanyalah keluarga Arsen kaya dan suaminya memiliki hubungan dengan perusahaan tersebut.

Lebih penting lagi, Tiara tidak pernah memperlakukannya sebagai orang yang tidak berdaya.

Hal itu justru membuat Arsen semakin sulit menjaga jarak.

Senin pagi, tepat pukul delapan, sebuah sedan hitam berhenti di depan vila.

Tiara turun dari tangga dengan pakaian kerja sederhana. Kemeja putih, celana panjang hitam, dan tas laptop yang sudah sedikit usang.

Arsen yang menunggunya di ruang tengah menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Tiara tersenyum gugup. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Aku kelihatan aneh?”

“Justru terlalu cantik untuk hari pertama kerja.”

Tiara mendengus malu. “Mas mulai pintar menggoda, ya.”

Arsen tersenyum.

“Sampai kantor, bilang saja namamu Tiara Maheswari,” katanya. “Kalau resepsionis bertanya, bilang kamu datang atas rekomendasi Arsen.”

Tiara mengangguk.

Namun ketika tiba di gedung utama Arsenio Group di kawasan Sudirman, Jakarta, semua keberaniannya mendadak menguap.

Gedung setinggi puluhan lantai itu jauh lebih megah daripada yang ia bayangkan. Logo ARSENIO berdiri besar di lobi marmer, sementara puluhan karyawan berlalu-lalang dengan pakaian formal.

Tiara mendekati meja resepsionis.

“Selamat pagi. Saya Tiara Maheswari. Saya diminta datang oleh Pak Arsen.”

Resepsionis yang semula tersenyum mendadak berhenti mengetik.

“Pak Arsen?”

“Iya.”

Perempuan itu saling berpandangan dengan rekannya.

“Apakah maksud Ibu Pak Arsenio Adipratama?”

Tiara mengernyit.

Nama lengkap itu terasa familier.

Sebelum ia sempat menjawab, seorang pria berjas abu-abu berjalan cepat mendekatinya.

“Bu Tiara?”

“Iya.”

Pria itu langsung membungkukkan kepala sopan.

“Saya Dimas, sekretaris eksekutif Pak Arsen. Silakan ikut saya.”

Tiara semakin bingung.

Mereka masuk ke lift khusus yang hanya bisa diakses dengan kartu tertentu.

Angka di panel berhenti di lantai paling atas.

Begitu pintu lift terbuka, Tiara melihat ruangan luas dengan jendela kaca menghadap seluruh pusat Jakarta. Beberapa staf berdiri ketika ia lewat.

Tiara menoleh kepada Dimas.

“Mas Arsen sebenarnya kerja sebagai apa di sini?”

Dimas hampir menjawab ketika terdengar suara gaduh dari ruang rapat.

Pak Yohan keluar dengan wajah tegang sambil membawa tablet.

Begitu melihat Tiara, wajahnya berubah.

“Kamu?”

Tiara spontan berdiri lebih tegak.

“Pagi, Pak.”

Pak Yohan mendekat dengan mata menyipit.

“Kamu ngapain di sini?”

“Saya diminta datang.”

“Siapa yang meminta?”

Belum sempat Tiara menjawab, pintu ruang rapat terbuka.

Nadia keluar lebih dulu.

Perempuan itu mengenakan blazer mahal dan sepatu hak tinggi. Tatapannya langsung berubah sinis saat melihat Tiara.

“Kamu benar-benar tidak tahu tempat, ya?” katanya.

Tiara mengerutkan dahi. “Maksud kamu?”

Nadia tertawa kecil.

“Jangan bilang kamu datang ke sini cuma karena menikah dengan Arsen. Kamu pikir dengan status istri orang lumpuh kamu bisa masuk perusahaan ini sesuka hati?”

Beberapa karyawan mulai melirik.

Tiara menahan malu.

“Nadia, aku datang karena diundang.”

“Diundang siapa? Arsen?”

Nadia mendekat.

“Kasihan sekali. Sampai sekarang kamu belum tahu, ya? Setelah kecelakaannya, Arsen sudah tidak punya kuasa sebesar dulu.”

Pak Yohan ikut menyeringai.

“Kalau Anda mencari pekerjaan, Bu Tiara, seharusnya lewat prosedur. Bukan memakai hubungan keluarga.”

Tiara mengepalkan tangan.

Ia bisa saja pergi.

Namun sebelum mengambil keputusan, sebuah suara tenang terdengar dari ujung koridor.

“Siapa yang bilang dia memakai hubungan keluarga?”

Semua orang terdiam.

Arsen muncul dari lift khusus dengan kursi rodanya.

Dimas berjalan di belakangnya.

Wajah Nadia berubah.

“Arsen?”

Arsen mendorong kursi rodanya perlahan hingga berhenti di samping Tiara.

“Aku yang memintanya datang.”

Pak Yohan mencoba tersenyum. “Pak Arsen, maksud saya bukan begitu. Saya hanya menjelaskan prosedur.”

“Bagus.”

Arsen memandangnya dingin.

“Kalau begitu sekalian jelaskan prosedur bagaimana desain milik Tiara bisa tercatat sebagai hasil kerja tim kreatif yang kamu pimpin.”

Wajah Pak Yohan seketika pucat.

Tiara menoleh tajam.

“Apa?”

Arsen mengangkat tablet yang dibawanya.

“Proposal Hotel Arganta yang dikirim ke direksi tadi pagi tidak mencantumkan namamu sama sekali.”

Tiara membeku.

Pak Yohan buru-buru berkata, “Itu hanya masalah administrasi.”

“Administrasi?”

Suara Arsen tetap tenang, justru semakin mengintimidasi.

“Enam proyek dalam sebelas bulan. Konsep awal dibuat Tiara. Revisi dilakukan Tiara. Presentasi akhir menggunakan desain Tiara. Tapi pembayaran terbesar masuk ke perusahaan vendor milik adikmu.”

Pak Yohan kehilangan kata-kata.

Tiara menatap atasannya dengan rasa tidak percaya.

Selama ini Pak Yohan selalu mengatakan perusahaan belum mampu memberinya posisi permanen karena anggaran terbatas. Ia bahkan menerima bayaran jauh di bawah standar karena mengira kantornya sedang kesulitan.

Ternyata hasil kerjanya dijual dengan nilai puluhan kali lebih besar.

Nadia mencoba memotong.

“Arsen, ini urusan internal. Jangan mempermalukan orang di depan karyawan.”

Arsen menoleh kepadanya.

“Nadia, kamu bahkan bukan lagi bagian dari manajemen proyek ini.”

Wajah Nadia memerah.

“Ayahku masih punya saham.”

“Empat persen.”

Arsen tersenyum dingin.

“Dan itu tidak memberimu hak mengatur perusahaan.”

Nadia terdiam.

Tiara justru semakin bingung.

Semua orang memperlakukan Arsen bukan seperti anggota keluarga biasa.

Mereka takut kepadanya.

Arsen kemudian menoleh kepada Dimas.

“Mulai hari ini, hentikan seluruh akses Pak Yohan. Audit semua proyek yang dia tangani selama dua tahun terakhir.”

“Baik, Pak.”

Pak Yohan panik.

“Pak Arsen, kita bisa bicarakan ini.”

“Tentu.”

Arsen menatapnya lurus.

“Bicarakan dengan tim hukum.”

Dua petugas keamanan datang beberapa saat kemudian.

Saat Pak Yohan dibawa pergi, ia sempat menatap Tiara dengan penuh kebencian.

“Kamu pikir kamu menang?”

Tiara tidak menjawab.

Setelah suasana mereda, Arsen membawa Tiara masuk ke ruang kerja terbesar di lantai tersebut.

Di dinding ruangan tergantung foto seorang pria yang sedang menerima penghargaan bisnis nasional.

Tiara berhenti.

Ia menatap foto itu.

Lalu menatap Arsen.

Foto tersebut adalah Arsen.

Berdiri tegak.

Sehat.

Memakai setelan hitam.

Di bawah foto terdapat tulisan kecil.

Arsenio Adipratama.

Chief Executive Officer.

Tiara merasa napasnya tercekat.

“Kamu CEO Arsenio Group?”

Arsen terdiam beberapa detik.

“Iya.”

“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”

“Aku ingin kamu mengenalku sebagai Arsen. Bukan sebagai CEO.”

Tiara menatapnya lama.

“Berapa banyak hal lain yang kamu sembunyikan?”

Pertanyaan itu membuat ekspresi Arsen berubah.

Namun sebelum ia menjawab, Dimas masuk tergesa-gesa.

“Pak, tim keamanan menemukan sesuatu dari laptop Pak Yohan.”

Arsen membaca layar tablet yang disodorkan Dimas.

Wajahnya langsung mengeras.

“Apa?” tanya Tiara.

Arsen tidak menjawab.

Dimas tampak ragu sebelum akhirnya berkata, “Ada transfer dari seseorang kepada Pak Yohan dua tahun lalu. Beberapa hari sebelum kecelakaan Pak Arsen.”

Ruangan mendadak sunyi.

Tiara merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Transfer apa?”

“Delapan ratus juta rupiah.”

Arsen menatap data itu.

Pengirimnya menggunakan perusahaan cangkang.

Namun sebuah nama muncul sebagai penanggung jawab rekening.

Nadia Prameswari.

Tiara menutup mulutnya.

“Nadia?”

Arsen menarik napas panjang.

Seluruh potongan teka-teki akhirnya mulai tersambung.

Nadia yang paling diuntungkan jika Arsen dianggap cacat permanen. Setelah kecelakaan, ia bersama ayahnya mendorong dewan direksi mengganti kepemimpinan perusahaan.

Tetapi tidak ada bukti.

Sampai sekarang.

Saat itulah pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka.

Nadia berdiri di sana.

Wajahnya pucat.

“Kalian salah paham.”

Arsen menatapnya tanpa emosi.

“Masuk.”

Nadia tidak bergerak.

“Transfer itu bukan untuk mencelakai kamu.”

“Lalu untuk apa?”

Nadia menggigit bibir.

Pak Yohan yang ternyata belum sempat dibawa keluar gedung tiba-tiba muncul dari belakang petugas keamanan.

Entah bagaimana pria itu berhasil melepaskan diri dan berlari ke arah Nadia.

“Jangan percaya dia, Pak! Nadia yang menyuruh saya!”

Nadia berteriak, “Diam!”

Semua terjadi sangat cepat.

Pak Yohan mendorong seorang petugas keamanan dan berusaha merebut tas berisi laptop bukti.

Tiara yang berdiri paling dekat refleks maju.

Namun Pak Yohan mengayunkan lengannya hingga tubuh Tiara kehilangan keseimbangan.

“Tiara!”

Dalam sepersekian detik, sesuatu yang mustahil terjadi.

Arsen berdiri.

Bukan sekadar berdiri.

Ia melangkah cepat dan menangkap tubuh Tiara sebelum terjatuh menghantam sudut meja.

Semua orang membeku.

Tiara berada dalam pelukan Arsen.

Kedua kaki pria itu berdiri kokoh di lantai.

Tidak gemetar.

Tidak lemah.

Sama persis seperti malam ketika ia merasa digendong menuju ranjang.

Mata Tiara membelalak.

“Mas…”

Arsen menatap wajahnya.

Rahasia yang ia jaga selama berbulan-bulan akhirnya terbuka hanya karena satu hal.

Ia lebih takut Tiara terluka daripada kehilangan seluruh rencananya.

Nadia mundur beberapa langkah dengan wajah seperti melihat hantu.

“Kamu… bisa jalan?”

Arsen melepaskan Tiara perlahan.

Kemudian ia berdiri tegak menghadap Nadia.

“Aku sudah bisa berjalan sejak delapan bulan lalu.”

Nadia langsung kehilangan warna wajahnya.

“Mustahil.”

“Terima kasih karena akhirnya memperlihatkan wajah asli kalian.”

Arsen memandang Pak Yohan.

“Selama ini aku menunggu siapa yang merasa cukup aman untuk bergerak karena menganggapku tidak berdaya.”

Petugas keamanan kembali menahan Pak Yohan.

Kali ini pria itu tidak bisa melawan.

Nadia mulai menangis.

“Aku tidak pernah berniat membunuhmu. Aku cuma menyuruh Yohan membuat kecelakaan kecil supaya pernikahan kita ditunda. Aku marah karena kamu menolak menikah denganku.”

Arsen tidak menunjukkan belas kasihan.

“Kecelakaan kecil?”

Suaranya rendah.

“Aku koma sebelas hari. Sopirku meninggal.”

Nadia menutup wajahnya.

“Aku nggak tahu bakal separah itu.”

“Itu yang nanti kamu jelaskan kepada polisi.”

Beberapa hari kemudian, kasus tersebut resmi masuk penyelidikan kepolisian. Pak Yohan akhirnya mengakui bahwa ia menyuruh seseorang merusak kendaraan Arsen setelah menerima uang dari Nadia. Ia juga membuka bukti penggelapan proyek yang selama bertahun-tahun dilakukan melalui jaringan vendor fiktif.

Karier Nadia runtuh.

Ayahnya mengundurkan diri dari dewan komisaris setelah tekanan pemegang saham.

Sementara Tiara justru menghadapi sesuatu yang jauh lebih sulit daripada semua kekacauan tersebut.

Kepercayaannya kepada Arsen.

Malam setelah semuanya terbongkar, mereka kembali ke vila.

Tiara berdiri di balkon, memandang lampu kota dari kejauhan.

Arsen datang tanpa kursi roda.

Untuk pertama kalinya, Tiara melihat suaminya berjalan di rumah mereka tanpa kepura-puraan.

“Mas.”

Arsen berhenti.

“Kenapa kamu nggak percaya aku untuk tahu semuanya?”

Arsen menatapnya lama.

“Karena hampir semua orang berubah setelah tahu siapa aku.”

“Aku bukan semua orang.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa?”

Arsen menundukkan kepala.

“Karena justru itu yang membuatku takut.”

Tiara terdiam.

Arsen mendekat.

“Pertama kali dalam hidupku, aku punya seseorang yang memperlakukanku sama ketika aku terlihat lemah. Kamu bantu aku tanpa bertanya berapa hartaku. Kamu membelaku ketika orang lain menghinaku. Kamu bahkan menikah denganku ketika kamu pikir aku tidak akan pernah bisa berjalan.”

Ia menarik napas.

“Aku takut kalau semua rahasia itu terbuka, hubungan kita ikut berubah.”

Tiara menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Mas, hubungan kita berubah bukan karena kamu bisa jalan atau karena kamu CEO.”

Arsen menatapnya.

“Hubungan kita berubah karena sekarang aku tahu kamu ternyata pembohong yang sangat berbakat.”

Arsen terdiam.

Lalu Tiara tertawa kecil di tengah air matanya.

Arsen ikut tersenyum.

“Maaf.”

Tiara menggeleng.

“Jangan pernah lakukan lagi.”

“Nggak akan.”

Beberapa minggu kemudian, Hotel Arganta resmi memulai tahap pembangunan interior.

Nama yang tercantum sebagai kepala desainer bukan lagi milik perusahaan vendor Pak Yohan.

Melainkan Tiara Maheswari.

Namun Tiara menolak ketika Arsen menawarkan jabatan tinggi hanya karena status mereka sebagai suami istri.

“Aku mau ikut seleksi seperti orang lain.”

Arsen tertawa.

“Kamu yakin?”

“Yakin.”

“Kalau gagal?”

Tiara menyilangkan tangan.

“Aku akan bikin perusahaan sendiri dan jadi kompetitor kamu.”

Arsen menatapnya beberapa detik lalu tersenyum lebar.

“Itu justru kedengarannya menarik.”

Enam bulan kemudian, Tiara berdiri di ruang utama Hotel Arganta yang akhirnya selesai.

Cahaya sore menembus dinding kaca, memantulkan warna keemasan pada interior yang selama ini hanya hidup dalam sketsa di laptopnya.

Arsen berdiri di sampingnya.

Tanpa kursi roda.

Tanpa rahasia.

Tiara memandangi ruangan itu dengan mata berkaca-kaca.

“Dulu aku sampai begadang semalaman cuma supaya desain ini dilihat orang.”

Arsen mengangguk.

“Dan sekarang ribuan orang akan melihatnya setiap hari.”

Tiara tersenyum.

Namun Arsen tiba-tiba mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya.

“Apa ini?”

“Buka.”

Tiara membuka amplop itu.

Di dalamnya bukan surat pengangkatan.

Bukan cek.

Bukan pula hadiah.

Melainkan salinan dokumen pendirian sebuah perusahaan desain baru.

Nama perusahaan itu tercetak jelas.

TIARA ATELIER.

Tiara membeku.

“Aku nggak mengerti.”

“Aku membeli gedung kecil di Kemang.”

Tiara menatapnya tak percaya.

“Tapi perusahaan itu sepenuhnya atas namamu.”

Arsen menambahkan cepat, “Bukan hadiah. Anggap saja investasi. Kamu tetap harus mengembalikan modalnya.”

Tiara tertawa sambil menangis.

“Kamu benar-benar suami paling menyebalkan.”

“Aku tahu.”

Tiara memeluknya.

Untuk beberapa saat keduanya hanya berdiri di tengah ruangan yang lahir dari mimpi Tiara.

Kemudian Tiara berbisik, “Jadi waktu malam itu, aku benar-benar nggak mimpi?”

Arsen terdiam.

Tiara mengangkat wajah.

“Kamu yang gendong aku ke tempat tidur, kan?”

Wajah Arsen yang biasanya tenang akhirnya terlihat salah tingkah.

“Kayaknya aku lupa.”

Tiara mencubit lengannya.

“Mas Arsen!”

Tawa mereka memenuhi ruang hotel yang masih kosong.

Dan untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, Arsen merasa tidak perlu lagi berpura-pura lemah untuk mengetahui siapa yang benar-benar berada di sisinya.

Karena pada akhirnya ia memahami satu hal sederhana.

Kekuatan seseorang tidak pernah terlihat dari apakah ia mampu berdiri dengan kedua kakinya.

Kekuatan justru terlihat dari siapa yang tetap memilih berdiri di sampingnya ketika seluruh dunia mengira ia telah jatuh.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang