“GANTI BAJUMU SEKARANG!” PERINTAH MILYARDER ITU. TAPI SIAPA SANGKA, GADIS MISKIN YANG DIHINA JUSTRU MENENTUKAN SIAPA YANG BERHAK ATAS KERAJAAN BISNISNYA!

Adrian menutup kotak cincin itu perlahan, seolah keputusan yang baru saja dia ucapkan hanyalah sebuah kesepakatan bisnis biasa. Maya masih berdiri mematung di depan meja kaca, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini bukan mimpi yang terlalu aneh untuk dipercaya.

“Aku tidak mengenalmu,” katanya akhirnya.

“Justru itu alasannya,” jawab Adrian tenang. “Aku tidak membutuhkan seseorang yang sudah mengenal dunia keluargaku. Aku membutuhkan seseorang yang tidak bisa dibeli oleh mereka.”

Maya mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Adrian berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke hamparan gedung-gedung Jakarta.

“Semua wanita yang pernah diperkenalkan keluargaku hanya mencintai nama Pratama. Mereka tidak pernah benar-benar melihat siapa aku.”

Ia menoleh.

“Tadi di lobi, kau bahkan tidak tahu siapa aku. Kau berani menolak perintahku. Itu cukup bagiku.”

Maya menarik napas panjang.

“Aku tetap tidak bisa menerima begitu saja.”

“Kau tidak perlu menjawab sekarang.”

Adrian menggeser sebuah map ke arahnya.

“Di dalamnya ada kontrak. Baca semuanya. Kalau ada satu pasal yang tidak kau suka, kita batalkan.”

Malam itu Maya membaca setiap halaman dengan teliti di kontrakannya yang sempit. Tidak ada klausul aneh. Tidak ada syarat yang merendahkan martabatnya. Bahkan terdapat poin yang menyatakan bahwa ia bebas mengakhiri kerja sama kapan saja jika merasa dirugikan.

Yang membuatnya berpikir bukanlah kontraknya.

Melainkan kenyataan bahwa enam puluh juta rupiah setiap bulan dapat mengubah hidupnya dan menyembuhkan Tante Dewi yang selama ini diam-diam menahan sakit karena tak mampu membeli obat.

Keesokan harinya Maya menandatangani kontrak itu.

Sejak hari itu hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.

Rumah Adrian bukan sekadar rumah, melainkan sebuah bangunan modern di kawasan Menteng yang dijaga ketat. Setiap sudut terasa asing bagi Maya.

Namun yang paling membuatnya gugup adalah pertemuan dengan Hendra Pratama.

Pria berusia tujuh puluh delapan tahun itu duduk di taman belakang sambil menyiram anggrek.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada pengawal berdiri di dekatnya.

Ia hanya mengenakan kemeja putih sederhana.

“Jadi ini Maya?”

Maya membungkuk sopan.

“Iya, Pak.”

“Tidak perlu gugup.”

Hendra tersenyum hangat.

“Aku hanya ingin tahu satu hal.”

Ia menatap Maya beberapa detik.

“Kalau suatu hari Adrian kehilangan semua hartanya, apakah kau tetap akan tinggal?”

Maya melirik Adrian.

Pria itu diam tanpa membantu.

“Ayah saya pernah berkata,” jawab Maya pelan, “orang miskin lebih takut kehilangan orang baik daripada kehilangan uang. Karena uang bisa dicari lagi.”

Hendra tersenyum tipis.

Jawaban itu sederhana.

Namun sejak saat itu sorot matanya kepada Maya berubah.

Tidak semua anggota keluarga Pratama menyambutnya dengan baik.

Pamannya Adrian, Surya Pratama, menatap Maya seolah gadis itu hanyalah pemburu harta.

Putrinya, Vanessa, bahkan terang-terangan berkata saat makan malam.

“Kak Adrian biasanya bergaul dengan sosialita. Sekarang seleranya turun jauh.”

Suasana meja makan mendadak sunyi.

Maya tersenyum.

“Mungkin karena orang kaya sudah terlalu sering mengecewakannya.”

Vanessa kehilangan kata-kata.

Hendra justru tertawa keras.

Adrian menatap Maya sekilas.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sudut bibirnya sedikit terangkat.

Hari-hari berlalu.

Maya mulai mengenal Adrian lebih dekat.

Pria itu ternyata bekerja hingga larut hampir setiap malam.

Ia hafal nama hampir seluruh karyawan perusahaan.

Diam-diam ia membayar biaya operasi anak salah satu satpam tanpa pernah memberi tahu siapa pun.

Suatu malam Maya bertanya.

“Kalau sebenarnya Anda sebaik ini, kenapa semua orang menganggap Anda dingin?”

Adrian tidak langsung menjawab.

“Ibuku meninggal karena terlalu mudah percaya kepada keluarga.”

“Sejak saat itu aku belajar satu hal.”

“Perasaan sering dipakai sebagai senjata.”

Maya tidak melanjutkan pertanyaan.

Ia mulai memahami mengapa pria itu selalu menjaga jarak.

Dua minggu kemudian Hendra mengumumkan makan malam keluarga besar.

Seluruh pemegang saham utama hadir.

Di tengah acara, Surya tiba-tiba berdiri.

“Ayah terlalu tua untuk mengambil keputusan.”

“Aku sudah menyelidiki perempuan ini.”

Ia melempar beberapa foto ke atas meja.

Foto kontrakan Maya.

Foto Tante Dewi.

Foto Maya yang sedang naik bus.

“Dia perempuan miskin yang bahkan menunggak sewa.”

“Perempuan seperti ini hanya mengejar uang.”

Ruangan menjadi hening.

Maya menggigit bibir.

Ia tahu semua foto itu benar.

Namun sebelum sempat berbicara, Adrian berdiri.

“Lalu apa masalahnya?”

Surya tersenyum sinis.

“Masalahnya dia memanfaatkanmu.”

Adrian menatap semua orang.

“Kalau dia memang mengejar uang, mengapa dia tetap mengembalikan kartu kreditku dengan laporan pengeluaran lengkap sampai seribu rupiah terakhir?”

Semua orang terdiam.

Adrian mengeluarkan sebuah amplop.

“Ini bukti transfer.”

“Tiga hari lalu Maya mencicil pengembalian uang yang kupinjamkan pertama kali.”

“Dia bahkan tidak tahu aku tidak pernah berniat menagih.”

Maya membeku.

Ia memang diam-diam mengembalikan uang itu sedikit demi sedikit.

Tak pernah menyangka Adrian mengetahuinya.

Hendra mengangguk pelan.

“Orang yang miskin belum tentu tamak.”

“Tapi orang yang tamak pasti miskin hati.”

Ucapan itu membuat wajah Surya memerah.

Beberapa hari kemudian Maya menemukan sesuatu yang aneh.

Secara tidak sengaja ia melihat Budi, mantan manajer SDM, memasuki ruangan Surya setelah jam kerja.

Pintu sedikit terbuka.

Maya mendengar percakapan mereka.

“Semua dokumen proyek sudah saya salin.”

“Tinggal tunggu tanda tangan Pak Adrian.”

Maya langsung merekam sebagian pembicaraan menggunakan ponselnya.

Malam itu ia memperingatkan Adrian.

Namun Adrian justru berkata tenang.

“Jangan bertindak dulu.”

“Kita tunggu.”

Dua minggu kemudian perusahaan mengadakan rapat terbesar tahun itu.

Kontrak pembangunan pelabuhan senilai triliunan rupiah akan ditandatangani.

Saat Surya mulai mempresentasikan proposal, Adrian menyalakan layar besar.

Video rekaman dari kamera keamanan muncul.

Disusul rekaman suara dari ponsel Maya.

Semua isi persekongkolan terbongkar.

Ternyata Surya bekerja sama dengan perusahaan pesaing selama hampir dua tahun.

Budi menerima miliaran rupiah sebagai imbalan membocorkan data internal.

Polisi yang sejak awal sudah menunggu di luar ruang rapat langsung masuk.

Surya berteriak marah.

“Ini jebakan!”

Adrian menjawab datar.

“Bukan.”

“Ini akibat dari pilihanmu sendiri.”

Budi dibawa keluar dengan tangan diborgol.

Surya hanya mampu menunduk saat para pemegang saham menarik seluruh hak suaranya.

Beberapa hari kemudian kondisi Hendra mendadak menurun.

Ia meminta bertemu hanya dengan Adrian dan Maya.

“Aku tahu hubungan kalian dimulai karena sebuah kontrak.”

Maya dan Adrian saling berpandangan.

Mereka tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun.

Hendra tersenyum.

“Aku sudah tahu sejak hari pertama.”

Maya terkejut.

“Kalau begitu… kenapa Kakek diam saja?”

“Karena aku ingin melihat apakah kebohongan itu berubah menjadi ketulusan.”

Ia menggenggam tangan Adrian.

“Lalu aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat selama bertahun-tahun.”

“Kau mulai tersenyum lagi.”

Kemudian Hendra menoleh kepada Maya.

“Dan kau berhenti memanggilnya Pak Adrian.”

Maya baru sadar.

Entah sejak kapan ia memanggil pria itu hanya dengan nama depannya.

Hendra mengambil sebuah amplop cokelat dari laci.

“Surat wasiatku sudah berubah.”

Semua orang mengira empat puluh persen saham perusahaan akan langsung diberikan kepada Adrian.

Namun isi surat itu membuat seluruh keluarga terkejut ketika dibacakan seminggu kemudian.

Empat puluh persen saham tetap menjadi milik Adrian.

Tetapi hak suara penentu dalam dewan keluarga diberikan kepada satu orang yang sama sekali bukan anggota keluarga.

Nama itu adalah Maya Indriani.

Ruangan rapat langsung gaduh.

Vanessa berdiri.

“Mana mungkin perempuan luar menjadi penentu kerajaan bisnis keluarga kita?”

Pengacara keluarga membuka halaman terakhir surat wasiat.

“Alasan almarhum Hendra Pratama.”

Suasana kembali sunyi.

Pengacara membacakan perlahan.

“Perusahaan sebesar apa pun akan runtuh jika dipimpin orang-orang yang hanya mewarisi nama.”

“Aku tidak mencari pewaris darah.”

“Aku mencari pewaris hati.”

“Perempuan yang mengembalikan uang pinjaman ketika tidak ada seorang pun yang memintanya, yang tetap menghormati orang yang menghina dirinya, yang memilih berkata jujur saat kebohongan lebih menguntungkan, adalah orang yang layak menentukan siapa yang pantas memimpin.”

Tidak ada satu pun orang yang mampu membantah.

Beberapa bulan kemudian Maya resmi menikah dengan Adrian.

Pernikahan mereka berlangsung sederhana.

Tidak ada pesta mewah.

Tidak ada pertunjukan kemewahan.

Hanya keluarga terdekat dan para karyawan yang selama ini bekerja bersama mereka.

Saat resepsionis yang dulu menyuruh Maya agar tidak mengotori lantai datang meminta maaf sambil menangis, Maya hanya tersenyum.

“Aku sudah memaafkanmu sejak hari itu.”

“Tapi jangan pernah lagi mengukur harga seseorang dari pakaian yang dipakainya.”

Sore itu, setelah seluruh tamu pulang, Adrian berdiri di balkon rumah mereka.

“Kalau hari itu kau menolak kartu yang kuberikan, bagaimana menurutmu hidup kita sekarang?”

Maya tersenyum sambil menggenggam tangannya.

“Mungkin aku tetap berjuang mencari pekerjaan.”

“Mungkin kau tetap menjadi direktur yang kesepian.”

“Ternyata keputusan terbesar dalam hidup kita dimulai dari satu kalimat yang paling kubenci.”

Adrian tertawa pelan.

“‘Ganti bajumu sekarang?'”

Maya mengangguk.

“Dulu kupikir itu kalimat yang merendahkanku.”

Ia memandang langit Jakarta yang mulai berubah jingga.

“Padahal hari itu bukan bajuku yang sedang diubah.”

“Itu adalah jalan hidupku.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang