Malam pertama setelah pernikahan justru terasa lebih menegangkan daripada hari ketika Tiara menandatangani buku nikah.
Sejak Yulia mengumumkan rencana bulan madu mereka ke vila keluarga di Puncak, Tiara hampir tidak bisa memikirkan hal lain. Bukan karena ia membayangkan suasana romantis seperti pasangan pengantin baru pada umumnya, melainkan karena ia belum benar-benar memahami pria yang kini sah menjadi suaminya.
Arsen terlalu tenang.

Terlalu sulit ditebak.
Dan yang paling membuat Tiara gelisah, pria itu seolah selalu mengetahui apa yang ada di pikirannya bahkan sebelum ia mengucapkannya.
Malam itu, Yulia mengantar Tiara menuju kamar utama di lantai dua. Kamar tersebut begitu luas, didominasi warna abu-abu dan kayu gelap dengan jendela besar menghadap taman belakang.
“Mulai hari ini ini kamar kalian,” ujar Yulia lembut.
Tiara mengangguk gugup.
Namun ketika pintu dibuka, Arsen ternyata sudah berada di dalam kamar, duduk di dekat jendela sambil memeriksa sesuatu di tablet.
Yulia tersenyum penuh arti.
“Mama tinggal dulu.”
Pintu pun tertutup.
Tiara berdiri kaku di tempat.
Arsen tidak langsung menatapnya.
“Kamu bisa tidur di ranjang,” katanya akhirnya.
Tiara menoleh.
“Terus Mas Arsen?”
“Aku biasa tidur di sofa.”
Tiara memandangi sofa panjang di sudut kamar, lalu kembali menatap Arsen.
“Itu nggak adil.”
Arsen akhirnya mengangkat wajah.
“Apa?”
“Kita menikah bukan supaya Mas Arsen harus merasa seperti tamu di kamar sendiri.”
Sorot mata Arsen berubah sedikit.
Tiara mendekati sofa lalu mengambil satu bantal.
“Aku bisa tidur di sofa.”
“Tidak perlu.”
“Tapi”
“Tiara.”
Nada suara Arsen tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Tiara berhenti.
“Aku tidak akan melakukan apa pun yang membuatmu tidak nyaman.”
Kalimat itu membuat dada Tiara tercekat.
Ia tidak tahu mengapa, tetapi justru sikap penuh jarak Arsen membuatnya merasa semakin bersalah.
“Mas mengira aku terpaksa menikah sama Mas?”
Arsen terdiam.
Beberapa detik kemudian ia mematikan tablet.
“Bukankah begitu?”
Tiara tidak mampu langsung menjawab.
Karena sebagian dari ucapan itu memang benar.
Ia menikah karena ingin keluar dari rumah Pak Baskara. Ia juga berharap keluarga Arsenio bisa memberinya kesempatan mengejar mimpinya.
Tetapi sejak melihat bagaimana Nadia menghina Arsen, muncul sesuatu dalam dirinya yang bahkan tidak mampu ia jelaskan.
“Aku memang punya alasan sendiri menerima pernikahan ini,” jawab Tiara akhirnya. “Tapi aku tidak pernah merasa Mas lebih rendah hanya karena kondisi Mas.”
Arsen menatapnya lama.
“Lalu kenapa kamu menampar Nadia?”
Tiara terdiam.
Jadi benar.
Arsen mendengar semuanya.
“Karena dia keterlaluan.”
“Hanya itu?”
Tiara menggenggam ujung gaunnya.
“Karena sekarang Mas suami aku. Dan aku tidak suka orang menghina keluarga aku.”
Tatapan Arsen yang biasanya dingin seketika sulit dibaca.
Namun pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi.
Keesokan paginya mereka berangkat menuju Puncak menggunakan mobil keluarga. Vila milik keluarga Arsenio berada di kawasan perbukitan yang jauh dari keramaian. Bangunannya modern dengan dinding kaca besar, taman luas, serta pemandangan lembah yang diselimuti kabut.
Tiara terpukau begitu turun dari mobil.
“Indah banget.”
Arsen yang berada di sampingnya hanya mengangguk tipis.
Mereka ditemani seorang pengurus vila bernama Bu Rani yang telah bekerja untuk keluarga Arsenio selama bertahun-tahun.
Namun setelah mengantarkan sarapan, Bu Rani meminta izin pulang ke rumahnya yang berjarak beberapa kilometer.
“Mama bilang kalian butuh privasi,” katanya sambil tersenyum.
Tiara ingin memprotes, tetapi terlambat.
Tidak sampai satu jam kemudian, mereka benar-benar hanya berdua.
Untuk mengusir kecanggungan, Tiara berjalan mengelilingi vila. Sebagai seseorang yang mencintai desain interior, ia memperhatikan setiap detail ruangan. Sayangnya, semakin lama ia melihat, semakin banyak hal yang menurutnya kurang maksimal.
“Mas Arsen.”
Arsen yang sedang membaca laporan di ruang keluarga mengangkat kepala.
“Kenapa?”
“Boleh jujur?”
“Silakan.”
“Interior vila ini bagus, tapi terasa dingin.”
Arsen menaikkan alis.
Tiara mengambil sebuah buku sketsa dari tasnya.
“Kalau sofa ini dipindahkan sedikit dan pencahayaan bagian sudut diganti jadi lebih hangat, ruangan bakal terasa lebih hidup. Terus area dekat jendela itu bisa dibuat jadi reading corner.”
Arsen memperhatikannya.
Tiara baru sadar ia terlalu bersemangat.
“Maaf. Aku kebiasaan.”
“Kenapa minta maaf?”
Tiara terdiam.
Arsen menunjuk buku sketsanya.
“Lanjutkan.”
Mata Tiara seketika berbinar.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, mereka berbicara cukup panjang.
Tiara menjelaskan konsep ruangan, pemilihan material, permainan cahaya, hingga desain furnitur. Arsen mendengarkan tanpa memotong.
Setelah hampir satu jam, Arsen bertanya,
“Kamu belajar desain?”
“Waktu kuliah aku sempat ambil beberapa kursus. Tapi setelah Mama meninggal, aku harus berhenti karena Papa bilang biaya kuliah Nadia lebih penting.”
Tiara tersenyum getir.
“Aku cuma belajar sendiri dari internet setelah itu.”
Arsen tidak langsung menjawab.
“Kamu ingin jadi desainer?”
“Sangat.”
“Kenapa belum mencoba?”
Tiara menatap bukunya.
“Karena selama tinggal di rumah Papa, aku bahkan harus minta izin kalau mau pergi wawancara kerja.”
Rahang Arsen mengeras.
Tiara buru-buru mengganti topik.
Namun malam harinya sesuatu terjadi.
Ketika hendak mengambil minuman di dapur, Tiara mendengar suara benda jatuh dari lantai atas.
“Mas Arsen?”
Tidak ada jawaban.
Tiara langsung berlari menuju kamar.
Begitu membuka pintu, ia membeku.
Kursi roda Arsen berada kosong di dekat ranjang.
Sementara pria itu sedang berdiri.
Berdiri.
Dengan kedua kakinya sendiri.
Tiara hampir menjatuhkan gelas di tangannya.
Arsen pun tampak terkejut melihatnya.
Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap dalam keheningan.
“Mas…”
Tiara kehilangan kata-kata.
Arsen perlahan berpegangan pada meja, kemudian berjalan dua langkah.
Kakinya jelas tidak lumpuh.
“Mas Arsen bisa jalan?”
Suara Tiara bergetar.
Arsen menarik napas panjang.
“Aku bisa.”
“Terus kursi roda itu?”
“Itu bagian dari terapi.”
Tiara menatapnya tidak percaya.
“Jangan bohong.”
Arsen terdiam.
“Mas bisa jalan normal.”
“Belum sepenuhnya.”
“Tapi keluarga aku percaya Mas lumpuh!”
“Memang itu yang aku biarkan mereka percaya.”
Tiara mundur satu langkah.
“Kenapa?”
Wajah Arsen berubah dingin.
“Karena aku perlu tahu siapa yang sebenarnya ingin menjadi keluarga Arsenio dan siapa yang hanya menginginkan nama serta uangnya.”
Tiara merasa seolah udara di ruangan itu menghilang.
“Kecelakaan dua tahun lalu hampir membunuhku,” lanjut Arsen. “Luka bakar ini nyata. Cedera kakiku juga nyata. Aku memang harus menjalani terapi cukup lama. Tapi enam bulan lalu aku sudah bisa berjalan.”
Tiara menatapnya dengan perasaan campur aduk.
“Lalu Mas sengaja terus pakai kursi roda?”
“Ya.”
“Untuk menguji aku?”
Arsen tidak membantah.
Tiara tertawa kecil karena tidak percaya.
“Hebat.”
“Tiara”
“Jadi semua ini permainan buat Mas?”
“Bukan begitu.”
“Mas lihat Nadia menghina Mas. Mas lihat keluarga aku memperlakukan Mas seperti orang yang menjijikkan. Dan Mas tetap diam karena ingin melihat aku bakal melakukan apa?”
Arsen mendekatinya.
“Aku perlu memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Bahwa kamu bukan seperti mereka.”
Tiara menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.
“Aku memang bukan seperti mereka. Tapi ternyata Mas juga nggak jauh berbeda. Mereka menilai Mas dari kondisi fisik. Mas menilai aku dari kemungkinan aku mengejar uang.”
Arsen terdiam.
Tiara keluar dari kamar sebelum air matanya jatuh.
Keesokan pagi suasana vila membeku.
Tiara duduk sendirian di teras belakang ketika ponselnya berdering.
Nama Nadia muncul.
Tiara hampir tidak mengangkatnya.
Namun begitu panggilan tersambung, suara Nadia terdengar panik.
“Kak, Papa masuk rumah sakit.”
Tiara langsung berdiri.
“Apa?”
“Serangan jantung. Dokter bilang harus tindakan secepatnya.”
Tiara merasa seluruh tubuhnya dingin.
“Aku pulang sekarang.”
Ia menutup telepon dan segera masuk ke vila.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat Arsen berdiri di ruang keluarga tanpa kursi roda.
“Kita berangkat.”
Tiara menatapnya.
“Mas nggak perlu ikut.”
“Aku suamimu.”
“Aku bisa pergi sendiri.”
“Tiara.”
“Kemarin Mas bilang pernikahan ini bagian dari ujian. Sekarang biarkan aku menangani keluarga aku sendiri.”
Arsen menggeleng.
“Ini bukan soal ujian lagi.”
Dua jam kemudian mereka tiba di rumah sakit swasta di Jakarta.
Begitu memasuki lorong, Nadia yang melihat Arsen berjalan langsung membelalakkan mata.
“Kamu…”
Sarah yang berdiri di sampingnya bahkan sampai menutup mulut.
“Arsen bisa jalan?”
Arsen tidak memedulikan mereka.
Ia langsung berbicara dengan dokter dan memastikan seluruh biaya pengobatan Pak Baskara ditanggung.
Namun justru setelah kondisi Pak Baskara stabil, masalah sebenarnya muncul.
Di ruang tunggu, seorang pria berjas datang membawa map.
Ia memperkenalkan diri sebagai kuasa hukum Arsenio Group.
“Pak Arsen, hasil audit yang Bapak minta sudah selesai.”
Tiara menatap Arsen bingung.
Pengacara itu membuka dokumen.
“Terdapat transaksi mencurigakan senilai hampir enam belas miliar rupiah dari salah satu perusahaan pemasok yang terafiliasi dengan Pak Baskara.”
Wajah Sarah pucat.
Nadia langsung menatap ayahnya yang baru saja dipindahkan ke ruang perawatan.
“Apa maksudnya?”
Arsen menatap mereka datar.
“Pak Baskara sudah bertahun-tahun menjadi pemasok material salah satu anak perusahaan Arsenio Group.”
Tiara terperanjat.
Ia tidak pernah tahu.
“Beberapa proyek menggunakan tagihan fiktif dan material di bawah spesifikasi,” lanjut Arsen. “Kerugiannya besar.”
Sarah langsung panik.
“Arsen, ini pasti salah paham.”
“Semua bukti sudah lengkap.”
Tiara menatap Arsen.
“Jadi sejak awal Mas tahu keluarga aku?”
“Aku curiga.”
“Makanya Mas menerima perjodohan ini?”
Arsen terdiam.
Jawaban itu cukup.
Tiara merasa seperti kembali ditampar kenyataan.
Ia masuk ke kamar rawat ayahnya dengan langkah lemas.
Pak Baskara yang sudah sadar memandangnya penuh rasa takut.
“Tiara…”
“Papa melakukan itu?”
Pak Baskara menutup mata.
“Aku terdesak.”
“Enam belas miliar bukan terdesak.”
Pak Baskara mulai menangis.
“Papa salah.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Tiara melihat pria yang selalu keras dan dominan itu benar-benar tampak kecil.
Kemudian Pak Baskara mengucapkan sesuatu yang membuat Tiara kehilangan napas.
“Rumah yang kita tinggali sebenarnya milik ibumu.”
Tiara membeku.
“Setelah ibumu meninggal, Papa mengubah beberapa dokumen supaya aset itu masuk ke nama Papa.”
Tiara merasa lututnya lemas.
“Kenapa?”
“Karena Papa takut kehilangan semuanya.”
Tiara tertawa lirih penuh kepedihan.
“Jadi selama ini Papa bilang aku numpang hidup di rumah Papa…”
Air matanya akhirnya jatuh.
“Padahal rumah itu rumah Mama?”
Pak Baskara tidak mampu menjawab.
Tiara keluar dari kamar dalam keadaan hancur.
Arsen berdiri di ujung lorong menunggunya.
“Kamu sudah tahu juga?” tanya Tiara.
Arsen menggeleng.
“Yang itu baru aku tahu.”
Tiara menatapnya lama.
“Mas akan penjarakan Papa?”
“Aku akan mengikuti proses hukum.”
Tiara menunduk.
Anehnya ia tidak meminta Arsen menyelamatkan ayahnya.
Karena untuk pertama kalinya Tiara memahami satu hal.
Memaafkan seseorang tidak sama dengan menghapus akibat dari kesalahannya.
Beberapa bulan kemudian, kehidupan mereka berubah drastis.
Pak Baskara menjalani proses hukum dan mengembalikan sebagian besar aset yang diperolehnya melalui kecurangan. Sarah dan Nadia pindah dari rumah lama setelah pengadilan menetapkan bahwa rumah tersebut merupakan bagian dari warisan sah Tiara.
Namun Tiara memilih tidak tinggal di sana.
Ia menjual rumah itu.
Sebagian uangnya digunakan untuk menyelesaikan kewajiban hukum ayahnya. Sisanya ia gunakan untuk mendirikan studio desain kecil bernama Kirana Interior, menggunakan nama mendiang ibunya.
Arsen tidak memberinya modal.
Tiara sendiri yang meminta demikian.
“Aku ingin tahu aku bisa berdiri dengan kaki aku sendiri,” katanya.
Arsen hanya tersenyum.
“Kalau begitu aku akan jadi klien pertamamu.”
Tiara mendesain ulang vila Puncak.
Proyek itu kemudian memenangkan penghargaan desain interior tingkat nasional dan membuka jalan bagi proyek-proyek lainnya.
Sementara itu, hubungan Tiara dan Arsen tumbuh perlahan.
Tidak ada lagi ujian.
Tidak ada lagi rahasia.
Suatu sore, hampir setahun setelah pernikahan mereka, Tiara berdiri di teras vila Puncak memandangi matahari tenggelam.
Arsen berjalan keluar membawa dua cangkir teh.
Bekas luka di wajahnya masih ada.
Ia tidak pernah berusaha menutupinya lagi.
Tiara menerima cangkir dari tangannya.
“Aku baru sadar sesuatu,” kata Arsen.
“Apa?”
“Waktu pertama kali menikah, aku pikir aku sedang menguji kamu.”
Tiara menaikkan alis.
“Ternyata?”
Arsen tersenyum tipis.
“Ternyata aku yang sedang diuji.”
Tiara tertawa kecil.
“Dan hasilnya?”
“Nyaris tidak lulus.”
Tiara menahan tawa.
Arsen kemudian mengeluarkan sebuah amplop dari sakunya.
Tiara membukanya dan menemukan foto lama ibunya.
Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan yang mulai pudar.
Jika suatu hari Tiara membaca ini, Mama hanya ingin kamu ingat satu hal. Jangan pernah memilih hidup berdasarkan ketakutan. Pilihlah tempat di mana kamu dihargai.
Tiara menutup mulut, air matanya langsung mengalir.
“Dari mana Mas dapat ini?”
“Dari kotak dokumen rumah lamamu.”
Arsen berdiri di sampingnya.
Tidak menyentuhnya.
Tidak memaksanya bicara.
Hanya menemani.
Tiara menatap matahari yang perlahan tenggelam di balik perbukitan.
Dulu ia mengira pernikahan itu adalah jalan keluar dari rumah yang membuatnya sesak.
Kemudian ia mengira Arsen adalah jembatan menuju kehidupan yang lebih baik.
Namun kini ia memahami bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar menyelamatkannya.
Bukan Arsen.
Bukan keluarga Arsenio.
Bukan uang.
Yang menyelamatkan Tiara adalah keberaniannya sendiri untuk berhenti menerima perlakuan buruk hanya karena ia merasa tidak punya pilihan.
Ia menoleh kepada Arsen.
“Mas.”
“Hm?”
“Kalau bisa mengulang hari pernikahan kita, Mas masih mau menikah sama aku?”
Arsen berpura-pura berpikir cukup lama.
Tiara langsung menyipitkan mata.
“Mas Arsen.”
Pria itu akhirnya tertawa.
Lalu menatapnya dengan sorot mata yang jauh berbeda dari hari pertama mereka bertemu.
“Aku akan tetap datang.”
Tiara tersenyum.
“Bahkan pakai kursi roda?”
Arsen mengangguk.
“Bahkan kalau kamu menampar Nadia dua kali.”
Tiara tertawa hingga air matanya jatuh lagi.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, air mata itu bukan datang karena takut kehilangan rumah.
Melainkan karena akhirnya ia tahu bahwa rumah tidak selalu berbentuk bangunan.
Kadang rumah adalah tempat di mana seseorang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus merasa lebih kecil.
Dan setelah perjalanan panjang yang dipenuhi kebohongan, luka, pengkhianatan, serta rahasia yang menyakitkan, Tiara akhirnya menemukan rumah itu.
Bukan di kediaman keluarga Baskara.
Bukan pula di vila mewah milik Arsenio.
Melainkan di dalam dirinya sendiri.
