Arjuna memasuki ruangan untuk transfusi dar ah, setelah sebelumnya diperiksa dan ternyata memiliki golongan da rah yang cocok dengan Alana. Untungnya, lelaki itu tidak memiliki riwayat penyakit yang serius dan dalam keadaan sehat, jadi transfusi bisa langsung dilakukan.

“Jangan bilang, waktu SMA kamu ….”

Kalimat itu menggantung di udara, membuat napas Sania terasa tercekat. Tatapan Arjuna tidak bergeming sedikit pun, seolah lelaki itu bersiap menerima jawaban paling buruk sekalipun.

Sania memejamkan mata sesaat. Lalu perlahan menggeleng.

“Bukan begitu, Mas.”

“Lalu bagaimana?”

“Alana bukan anakku.”

Ucapan itu membuat Arjuna terdiam. Wajahnya berubah kosong, seolah otaknya menolak memproses kalimat yang baru saja didengarnya.

“Apa?”

“Alana memang bukan anak kandungku.”

“Kalau bukan anakmu, kenapa dari tadi semua orang memanggilmu ibunya?”

“Karena sejak dia lahir, aku yang membesarkannya.”

Arjuna menatap Alana yang masih tertidur dengan selang transfusi di lengannya. Dadanya mendadak sesak.

“Kalau begitu… siapa ibunya?”

Sania menunduk. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya berkata lirih.

“Kak Rania.”

Nama itu menghantam Arjuna seperti petir di siang bolong.

“Mustahil.”

“Itu kenyataannya.”

Arjuna spontan berdiri hingga kursinya bergeser keras.

“Jangan bercanda, Nia! Rania tidak mungkin punya anak. Waktu kami bercerai dia bahkan belum hamil.”

Sania tersenyum pahit.

“Itu yang Mas kira.”

Ruangan kembali sunyi.

Hanya bunyi monitor detak jantung Alana yang terdengar pelan.

Sania menarik napas panjang.

“Mas ingat hari ketika Kak Rania datang ke rumah Mas sambil membawa hasil pemeriksaan rumah sakit?”

Arjuna mengernyit.

“Hasil pemeriksaan?”

“Mas bahkan tidak membukanya. Kakak memohon supaya Mas membaca isi amplop itu, tapi Mas malah melemparkannya ke lantai.”

Arjuna mulai mengingat samar-samar kejadian itu.

Hari itu ia sedang dikuasai amarah setelah menerima foto-foto yang dikirim seseorang. Foto Rania bersama seorang pria di sebuah restoran.

Ia bahkan tidak memberi kesempatan istrinya menjelaskan.

“Aku pikir itu alasan baru.”

“Padahal di dalam amplop itu ada hasil pemeriksaan kehamilan.”

Arjuna membeku.

“Apa…?”

“Kak Rania sudah hamil lima minggu waktu itu.”

Tubuh Arjuna terasa lemas.

Ia masih mengingat jelas.

Lima minggu.

Artinya…

“Itu… anakku?”

Air mata Sania akhirnya jatuh.

“Iya.”

Arjuna mundur selangkah.

Kakinya seperti kehilangan tenaga.

Semua kebencian yang selama lima tahun ia pelihara mendadak retak.

“Kenapa… kenapa dia tidak bilang?”

“Dia sudah mencoba.”

Sania menghapus air matanya.

“Mas memblokir semua nomor teleponnya.”

“Dia datang ke kantor Mas. Satpam mengusirnya.”

“Dia mengirim surat. Tidak pernah dibalas.”

“Dia bahkan datang ke rumah orang tua Mas, tapi mereka bilang keluarga kami hanya mencari uang.”

Arjuna menutup wajahnya.

Satu demi satu potongan masa lalu kembali muncul.

Semua yang selama ini ia anggap sebagai usaha mantan istrinya mempertahankan pernikahan demi harta, ternyata adalah perjuangan seorang ibu yang ingin memperkenalkan anaknya kepada ayah kandungnya.

“Foto perselingkuhan itu…”

“Itu fitnah.”

Arjuna mengangkat kepala.

“Apa?”

“Pria dalam foto itu dokter kandungan Kak Rania.”

“Tidak mungkin.”

“Foto itu dipotong. Bagian ketika istrinya dokter ikut makan bersama sengaja dihilangkan.”

Arjuna langsung teringat sesuatu.

Saat itu memang hanya ada dua orang dalam foto.

Tak pernah terpikir olehnya kalau gambar itu bisa diedit.

“Siapa yang mengirim foto?”

Sania menatapnya lama.

“Maya.”

“Maya?”

“Rekan kerja Mas dulu.”

Nama itu membuat wajah Arjuna memucat.

Maya adalah perempuan yang selama ini selalu mengatakan bahwa Rania tidak pantas menjadi istrinya.

Bahkan setelah perceraian, Maya terus berada di dekatnya.

“Aku… sempat hampir menikah dengannya.”

“Aku tahu.”

“Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?”

Sania tertawa lirih.

“Siapa yang mau mendengar? Bahkan waktu aku datang menemui Mas tiga tahun lalu, Mas bilang jangan pernah membawa nama kakakku lagi.”

Arjuna terdiam.

Ia benar-benar pernah mengatakan itu.

Dengan sangat kejam.

“Lalu… Kak Rania sekarang di mana?”

Air mata Sania kembali jatuh.

“Sudah meninggal.”

Dunia Arjuna seakan berhenti berputar.

“Apa?”

“Kakak meninggal dua tahun lalu.”

Suara monitor di samping ranjang terdengar semakin jelas di telinganya.

“Tidak…”

“Dia terkena gagal ginjal setelah kondisinya terus menurun. Dokter bilang tubuhnya terlalu lemah karena sering memaksakan diri bekerja.”

“Kenapa… kenapa aku tidak tahu?”

“Karena sebelum meninggal, satu-satunya pesan Kakak adalah jangan mencari Mas Juna lagi.”

Arjuna memejamkan mata.

Dadanya terasa seperti diremas.

“Kenapa?”

“Karena Kakak bilang… Mas sudah bahagia tanpa dirinya.”

Air mata Arjuna akhirnya jatuh.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lalu.

“Aku… bukan bahagia.”

Sania hanya diam.

“Setelah bercerai, hidupku juga berantakan.”

“Aku tidak pernah benar-benar percaya lagi kepada siapa pun.”

“Hubunganku dengan Maya juga berakhir.”

“Semuanya terasa kosong.”

Sania menghela napas.

“Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat.”

Arjuna memandang Alana yang masih terbaring lemah.

“Dia tahu aku ayahnya?”

Sania menggeleng.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena Kak Rania tidak ingin Alana membenci ayahnya.”

“Setiap kali Alana bertanya, Kakak selalu bilang ayahnya orang baik yang sedang bekerja jauh.”

Arjuna menangis tanpa suara.

Selama ini perempuan yang ia tuduh paling kejam justru terus menjaga nama baiknya di hadapan anak mereka.

Tak lama kemudian dokter masuk ke ruangan.

“Syukurlah transfusinya berjalan lancar. Kondisi pasien mulai stabil.”

Mereka sama-sama mengembuskan napas lega.

Beberapa jam kemudian Alana mulai membuka mata.

Tatapannya masih kosong.

“Bibi…”

“Iya, Sayang.”

“Om itu siapa?”

Sania menoleh kepada Arjuna.

Lelaki itu mendekat perlahan.

“Om yang tadi kasih darah buat Alana.”

Anak kecil itu tersenyum lemah.

“Terima kasih, Om.”

Senyum polos itu menghancurkan sisa pertahanan Arjuna.

Ia menggenggam tangan kecil itu dengan hati-hati.

“Sama-sama.”

“Om baik.”

Kalimat sederhana itu membuat tenggorokannya tercekat.

Anak yang tidak pernah ia peluk selama lima tahun justru tersenyum tulus kepadanya.

Hari-hari berikutnya Arjuna hampir selalu datang ke rumah sakit.

Ia membantu membayar seluruh biaya pengobatan Alana.

Namun Sania menolak sebagian besar uang itu.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak ingin Mas menebus rasa bersalah dengan uang.”

“Aku cuma ingin memperbaiki semuanya.”

“Tidak ada yang bisa mengembalikan Kak Rania.”

Kalimat itu membuat Arjuna kembali terdiam.

Setelah Alana diperbolehkan pulang, Arjuna mengantar mereka ke rumah sederhana yang selama ini mereka tempati.

Rumah itu jauh dari kata mewah.

Atapnya mulai kusam.

Cat dindingnya memudar.

Namun di ruang tamunya terpajang puluhan foto Alana bersama seorang perempuan yang selalu tersenyum hangat.

Rania.

Arjuna berjalan mendekat.

Tangannya gemetar menyentuh bingkai foto.

Di bawahnya terdapat sebuah kotak kayu kecil.

“Ini peninggalan Kak Rania.”

Sania menyerahkannya.

Arjuna membukanya perlahan.

Di dalamnya tersimpan rapi puluhan surat.

Semuanya belum pernah dikirim.

Surat pertama bertanggal seminggu setelah perceraian.

Mas Juna, hari ini dokter memastikan aku hamil. Aku ingin sekali memberitahu Mas. Semoga suatu hari nanti kita bisa menyambut bayi ini bersama.

Surat kedua.

Hari ini bayi kita pertama kali menendang. Aku menangis karena berharap Mas bisa merasakannya juga.

Surat ketiga.

Alana lahir dengan selamat. Dia sangat mirip Mas.

Surat keempat.

Hari ini Alana mulai belajar berjalan. Dia jatuh berkali-kali, lalu tertawa. Sama seperti Mas dulu yang kata Ibu keras kepala.

Semakin banyak surat yang dibaca, semakin deras air mata Arjuna mengalir.

Surat terakhir ditulis seminggu sebelum Rania meninggal.

Mas Juna, kalau suatu hari nanti kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada. Jangan salahkan dirimu terlalu lama. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan penyesalan. Kalau Tuhan mengizinkan, jagalah Alana. Jangan karena kesalahan kita, dia kehilangan kesempatan merasakan kasih sayang seorang ayah.

Arjuna memeluk kotak itu erat.

Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi.

Sejak hari itu hidupnya berubah.

Ia mulai belajar menjadi ayah.

Awalnya Alana hanya memanggilnya Om.

Namun Arjuna tidak pernah memaksa.

Ia menemani gadis kecil itu belajar.

Mengantarnya kontrol ke rumah sakit.

Membacakan dongeng sebelum tidur ketika Sania harus lembur.

Perlahan-lahan jarak di antara mereka menghilang.

Hingga suatu sore di taman.

“Om…”

“Iya?”

“Kalau Om terus datang setiap hari…”

Arjuna tersenyum.

“Ada apa?”

Alana menatap langit sebelum akhirnya berkata pelan.

“Boleh nggak aku panggil Om Ayah?”

Dunia seakan berhenti sesaat.

Air mata Arjuna kembali jatuh.

Ia memeluk putrinya dengan hati-hati.

“Tentu boleh.”

“Ayah janji nggak akan pergi lagi?”

Arjuna memejamkan mata.

“Tidak akan.”

“Ayah janji.”

Dari kejauhan Sania memandangi keduanya dengan mata berkaca-kaca.

Ia tahu tidak ada yang mampu mengembalikan Rania.

Namun setidaknya, pengorbanan kakaknya tidak lagi sia-sia.

Kadang, satu kebohongan mampu menghancurkan sebuah keluarga. Tetapi yang jauh lebih menghancurkan adalah ketika seseorang memilih menghukum orang yang dicintainya tanpa pernah memberi kesempatan untuk menjelaskan. Dan Arjuna belajar dengan cara yang paling menyakitkan bahwa kepercayaan bukan hanya dibangun oleh cinta, melainkan juga oleh keberanian untuk mendengar sebelum menghakimi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang