Seminggu setelah lamaran itu, Tiara masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana Nadia dan Sarah berebut seserahan seolah barang-barang mewah itu memang dikirim khusus untuk mereka. Namun yang paling membekas bukan kalung berlian yang berpindah ke leher Nadia atau syal sutra yang langsung dipakai Sarah, melainkan wajah ayahnya yang sama sekali tidak merasa bersalah ketika membiarkan semua itu terjadi.
Sejak malam tersebut, sesuatu dalam diri Tiara benar-benar berubah.
Ia tidak lagi berharap Baskara akan membelanya.

Ia tidak lagi menunggu Sarah menjadi manusia yang lebih baik.
Dan ia sudah berhenti menganggap Nadia sebagai adik yang suatu hari mungkin akan memahami penderitaannya.
Tiara hanya punya satu tujuan.
Menjalani pernikahan ini, menyelamatkan barang-barang peninggalan ibunya, lalu pergi sejauh mungkin dari keluarga yang selama bertahun-tahun menjadikannya tempat melampiaskan keserakahan.
Hari pernikahan tiba lebih cepat dari yang ia harapkan.
Gedung hotel mewah di kawasan Jakarta Selatan dipenuhi bunga putih dan dekorasi elegan. Tidak ada pesta berlebihan seperti yang dibayangkan Sarah. Keluarga Arsen justru memilih acara yang tertutup, hanya dihadiri kerabat dan beberapa rekan bisnis terdekat.
Sarah sempat mengeluh.
“Harusnya undang media. Biar semua orang tahu anak kita menikah dengan pewaris Arsenio Group.”
Yulia yang kebetulan mendengar ucapan itu hanya menoleh sekilas.
“Anak kami bukan bahan promosi, Bu Sarah.”
Sarah langsung terdiam.
Tiara yang duduk di ruang rias menatap bayangannya sendiri di cermin. Gaun putih sederhana tetapi sangat indah membalut tubuhnya. Seorang penata rias sedang merapikan rambutnya ketika Yulia masuk seorang diri.
“Kamu cantik sekali.”
Tiara mencoba tersenyum.
“Terima kasih, Tante.”
Yulia duduk di kursi sebelahnya.
“Mulai hari ini, panggil Mama saja.”
Tiara terdiam.
Kata itu terasa asing sekaligus menyakitkan. Sudah lama sekali ia tidak memanggil seseorang dengan sebutan Mama.
Yulia melihat mata Tiara mulai memerah.
“Kalau belum siap, tidak apa-apa.”
Tiara menggeleng pelan.
“Bukan begitu, Ma.”
Untuk pertama kalinya kata itu keluar dari mulutnya.
Yulia tersenyum dan menggenggam tangannya.
“Ada satu hal yang Mama ingin kamu tahu. Arsen memang pernah mengalami kecelakaan. Tapi apa pun yang kamu dengar tentang dia dari orang lain, jangan langsung dipercaya.”
Tiara menatapnya bingung.
“Maksud Mama?”
Yulia belum sempat menjawab karena pintu terbuka. Seorang staf memberi tahu bahwa prosesi akan segera dimulai.
Beberapa menit kemudian, Tiara berjalan menuju ruangan akad dengan jantung berdegup begitu keras.
Selama ini Nadia selalu menggambarkan Arsen sebagai pria cacat dengan wajah rusak dan temperamen buruk. Sarah bahkan berkali-kali berkata bahwa Tiara harus bersyukur keluarga kaya itu masih mau menikahinya.
Namun ketika Tiara memasuki ruangan, langkahnya mendadak berhenti.
Di depan penghulu memang ada seorang pria yang duduk di kursi roda.
Tetapi tidak ada monster seperti yang selama ini digambarkan Nadia.
Arsen adalah pria berusia sekitar tiga puluh tahun dengan wajah tegas, sorot mata tenang dan penampilan sangat rapi. Bekas luka tipis terlihat di dekat pelipis kirinya, tetapi sama sekali tidak mengurangi ketampanannya.
Tiara tercengang.
Nadia yang berdiri beberapa meter di belakang bahkan lebih terkejut.
“Ma…” bisiknya.
Sarah ikut menatap dengan mulut terbuka.
“Kenapa dia…”
“Nggak jelek?” balas Nadia pelan.
Bahkan Baskara tampak salah tingkah.
Arsen memandang Tiara cukup lama, lalu tersenyum tipis.
Untuk alasan yang tidak Tiara mengerti, senyum itu justru membuat dadanya sedikit lebih tenang.
Prosesi berjalan lancar.
Setelah resmi menjadi suami istri, Arsen mengulurkan tangannya.
“Terima kasih sudah datang.”
Kalimat itu membuat Tiara mengerutkan kening.
Bukankah seharusnya seorang suami mengatakan sesuatu yang lebih romantis?
Namun Arsen seolah memahami kebingungannya.
“Kita bicara nanti.”
Malam harinya, setelah seluruh acara selesai, Tiara dibawa ke rumah keluarga Arsen di kawasan Pondok Indah.
Rumah itu besar tetapi tidak terasa dingin. Tidak banyak pelayan berlalu-lalang. Yulia bahkan menyiapkan kamar khusus untuk Tiara sendiri.
Tiara terkejut.
“Bukannya aku dan Mas Arsen…”
Arsen yang berada di belakangnya langsung menjawab.
“Kamu tidak perlu tidur sekamar denganku.”
Tiara semakin bingung.
Arsen meminta asistennya meninggalkan mereka.
Setelah pintu tertutup, pria itu memutar kursi rodanya menghadap Tiara.
“Aku tahu kamu dipaksa menikah denganku.”
Wajah Tiara langsung memucat.
“Apa?”
“Aku tahu semuanya.”
“Dari siapa?”
“Dari orang yang mengawasi keluargamu.”
Tiara mundur satu langkah.
“Kenapa keluarga Mas mengawasi kami?”
Arsen mengambil tablet dari atas meja, lalu memperlihatkan beberapa foto.
Foto pertama menunjukkan Sarah sedang membawa tas seserahan milik Tiara ke sebuah toko barang mewah.
Foto berikutnya memperlihatkan Nadia mengenakan kalung berlian dari keluarga Arsen di sebuah restoran.
Foto lainnya memperlihatkan Baskara bertemu seorang pria di sebuah kafe.
“Pria itu penagih utang,” ujar Arsen.
Tiara menatap layar dengan napas tercekat.
“Papa punya utang?”
“Sekitar tiga miliar rupiah.”
Tiara hampir tidak mempercayainya.
Arsen melanjutkan.
“Perusahaan ayahmu sebenarnya sudah hampir bangkrut. Pernikahan kita bukan terjadi karena kebetulan.”
Tiara menatapnya tajam.
“Jadi keluarga Mas memang sengaja memilih aku?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Arsen terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
“Karena ibumu.”
Dunia Tiara seakan berhenti.
“Apa hubungan Mama dengan keluarga kalian?”
Arsen mengambil sebuah map dari laci.
Di dalamnya terdapat foto lama.
Tiara langsung mengenali perempuan di sana.
Ibunya.
Di samping ibunya berdiri Yulia yang jauh lebih muda.
“Mama dan ibumu adalah sahabat,” kata Arsen.
Tiara menutup mulutnya.
“Tidak mungkin.”
“Ibumu pernah membantu keluarga kami ketika Arsenio Group hampir kehilangan semuanya. Bertahun-tahun lalu, ayahku dijebak rekan bisnis. Ibumu yang menemukan bukti manipulasi laporan keuangan yang menyelamatkan perusahaan.”
Tiara menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa aku tidak pernah tahu?”
“Karena setelah ibumu meninggal, hubungan keluarga kita terputus. Sampai Mama melihat namamu dalam sebuah dokumen perusahaan milik Baskara.”
Arsen menatap Tiara dalam-dalam.
“Dan dari situlah kami tahu apa yang terjadi padamu.”
Tiara terdiam lama.
“Kalau kalian tahu aku dipaksa, kenapa tetap menikahiku?”
“Karena itu satu-satunya cara tercepat mengeluarkanmu dari rumah itu tanpa membuat Sarah menghancurkan peninggalan ibumu.”
Tiara langsung menatapnya.
“Kalian tahu soal ancaman itu?”
Arsen mengangguk.
“Kamera rumah tetanggamu merekam sebagian kejadian di halaman belakang.”
Air mata Tiara akhirnya jatuh.
Selama bertahun-tahun ia merasa sendirian.
Ternyata seseorang melihatnya.
Seseorang percaya padanya.
Arsen melanjutkan dengan suara tenang.
“Pernikahan ini tidak akan menjadi penjara untukmu, Tiara. Kalau suatu hari kamu ingin pergi, aku akan mengurus perceraian kita tanpa meminta apa pun.”
Tiara menatapnya cukup lama.
“Lalu Mas dapat apa dari semua ini?”
Arsen tersenyum tipis.
“Kesempatan membalas utang keluargaku kepada ibumu.”
Beberapa minggu berikutnya menjadi periode paling aneh dalam hidup Tiara.
Arsen ternyata jauh berbeda dari semua cerita Nadia.
Ia memang menggunakan kursi roda akibat kecelakaan mobil dua tahun sebelumnya, tetapi kondisinya tidak permanen. Setiap pagi ia menjalani fisioterapi untuk memulihkan kekuatan kedua kakinya.
Ia juga bukan pria pemarah.
Sebaliknya, Arsen sering bekerja sampai larut malam dan jarang berbicara kalau tidak diperlukan.
Namun perhatian kecilnya perlahan membuat pertahanan Tiara runtuh.
Ketika Tiara sulit tidur, Arsen menyuruh koki membuat teh hangat kesukaan ibunya.
Ketika Tiara ingin kembali bekerja sebagai desainer interior, Arsen tidak hanya mengizinkan, tetapi meminta salah satu perusahaan properti mereka mempertimbangkan portofolionya secara profesional.
“Jangan terima aku cuma karena aku istrimu,” kata Tiara kepada direktur perusahaan itu saat wawancara.
Direktur tersebut tertawa.
“Pak Arsen memberi instruksi sebaliknya. Katanya kalau karya Anda buruk, jangan diterima.”
Tiara tidak tahu harus tersinggung atau tersenyum.
Sementara itu, keluarga Baskara mulai semakin sering datang.
Sarah meminta uang.
Nadia meminta mobil.
Baskara bahkan mengajukan proposal investasi kepada Arsen.
Arsen selalu menerima mereka dengan sopan.
Sampai suatu sore, Nadia datang mengenakan kalung berlian dari seserahan Tiara.
Ia duduk di ruang tamu sambil tersenyum genit kepada Arsen.
“Mas Arsen kelihatan beda kalau dari dekat.”
Arsen menatap kalung di lehernya.
“Itu milik Tiara.”
Wajah Nadia menegang.
“Oh, ini? Tiara kasih ke aku.”
Tiara yang baru turun dari tangga langsung menyahut.
“Aku tidak pernah memberikannya.”
Nadia pucat.
Sarah buru-buru tertawa.
“Ya ampun, cuma kalung. Kalian keluarga kaya, jangan perhitungan.”
Yulia yang sedang membaca di sofa menutup bukunya.
“Bu Sarah.”
Suaranya tenang.
“Kalung itu bernilai hampir satu miliar rupiah.”
Sarah langsung membisu.
Yulia melanjutkan.
“Dan seluruh seserahan sudah dicatat atas nama Tiara.”
Baskara mencoba menengahi.
“Namanya juga keluarga…”
“Kalau keluarga mengambil barang tanpa izin, tetap saja namanya mengambil hak orang lain,” potong Arsen.
Ruangan mendadak sunyi.
Nadia langsung melepas kalung itu.
Tetapi kejutan sebenarnya baru terjadi ketika Arsen mengeluarkan beberapa dokumen.
“Pak Baskara, sekalian kita selesaikan urusan lain.”
Wajah Baskara berubah.
“Apa maksudmu?”
Arsen meletakkan laporan keuangan perusahaan Baskara di meja.
“Perusahaan Bapak punya utang tiga miliar rupiah dan beberapa aset dijadikan jaminan.”
Baskara berdiri.
“Itu bukan urusanmu!”
“Benar.”
Arsen mengangguk.
“Tapi masalahnya, Bapak menggunakan sertifikat rumah yang sebagian kepemilikannya diwariskan kepada Tiara oleh almarhum ibunya.”
Tiara menatap ayahnya.
“Apa?”
Baskara membeku.
Arsen menaruh satu dokumen lagi.
“Setelah ibunya meninggal, lima puluh persen rumah itu menjadi hak Tiara. Tetapi tanda tangannya dipalsukan untuk pengajuan pinjaman.”
Tiara merasa dadanya sesak.
“Papa memalsukan tanda tanganku?”
“Tiara, Papa bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa?”
Suara Tiara bergetar.
“Selama ini Papa bilang rumah itu milik Papa.”
Sarah langsung menyela.
“Kamu jangan kurang ajar sama ayahmu!”
Tiara menoleh kepadanya.
Untuk pertama kalinya tidak ada ketakutan di matanya.
“Dan Mama jangan pernah lagi mengancam aku menggunakan barang-barang peninggalan ibu kandungku.”
Sarah langsung pucat.
Yulia menekan tombol di remote televisi.
Layar besar di ruang keluarga menyala.
Rekaman dari kamera tetangga muncul.
Terlihat jelas Sarah berdiri di halaman belakang sambil membawa korek api, sementara Tiara menangis di depannya.
Nadia menutup mulutnya.
Baskara kehilangan kata-kata.
Sarah panik.
“Itu cuma… aku cuma menakut-nakuti dia!”
Yulia berdiri.
“Menakut-nakuti seseorang supaya mau menikah bukan hal kecil.”
Baskara memandang Arsen.
“Apa maumu?”
Arsen menjawab tenang.
“Bukan aku yang menentukan.”
Ia menatap Tiara.
“Rumah itu hakmu. Begitu juga keputusan soal tindakan hukum.”
Semua mata tertuju pada Tiara.
Dulu, berada di posisi itu mungkin akan membuatnya gemetar.
Namun sekarang ia berdiri tegak.
“Aku tidak akan mengambil rumah itu dari Papa.”
Baskara langsung terlihat lega.
“Tapi aku juga tidak akan menyelamatkan utang Papa.”
Wajah Baskara kembali pucat.
Tiara melanjutkan.
“Aku akan menjual bagian kepemilikanku secara resmi. Uangnya akan aku gunakan untuk membangun sesuatu atas nama Mama.”
Sarah tertawa sinis.
“Kamu pikir bisa hidup nyaman cuma karena menikah dengan orang kaya?”
Tiara tersenyum kecil.
“Aku tidak hidup dari uang Arsen.”
Ia mengambil sebuah kartu nama dari tasnya.
“Aku baru saja ditunjuk menjadi kepala desainer untuk proyek hotel baru Arsenio Group di Bali.”
Nadia menatapnya tidak percaya.
“Mas Arsen kasih kamu jabatan?”
Arsen menjawab sebelum Tiara sempat bicara.
“Tim direksi yang memilihnya. Bahkan aku sempat menolak karena khawatir dianggap nepotisme.”
Yulia tersenyum.
“Portofolionya mendapatkan nilai tertinggi.”
Nadia terdiam.
Beberapa bulan kemudian, kehidupan mereka berubah total.
Rumah Baskara akhirnya dijual setelah bank mengeksekusi sebagian aset untuk menutup utang.
Baskara harus pindah ke rumah yang jauh lebih sederhana bersama Sarah dan Nadia.
Tiara tidak pernah datang untuk mengejek mereka.
Ia hanya mengambil barang-barang peninggalan ibunya.
Foto.
Lukisan.
Buku catatan.
Dan sebuah kotak kayu kecil yang selama bertahun-tahun disimpan di gudang.
Di dalamnya Tiara menemukan surat tulisan tangan ibunya.
Untuk Tiara, kalau suatu hari kamu merasa tidak punya rumah lagi, ingatlah satu hal. Rumah bukan tempat di mana kita dilahirkan. Rumah adalah tempat di mana kita dihargai.
Tiara menangis membaca kalimat itu.
Setahun setelah pernikahan mereka, proyek hotel yang dipimpinnya selesai.
Pada malam peresmian, Tiara berdiri di balkon lantai tertinggi sambil memandangi lampu kota.
Ia mendengar langkah perlahan dari belakang.
Bukan suara roda kursi.
Tiara berbalik.
Arsen berdiri beberapa meter darinya menggunakan tongkat.
Tiara terdiam.
“Mas…”
Arsen tersenyum.
“Dokter bilang aku sudah boleh berjalan tanpa kursi roda untuk jarak pendek.”
Mata Tiara langsung berkaca-kaca.
Ia berjalan mendekat.
“Kenapa nggak bilang?”
“Mau bikin kejutan.”
Tiara tertawa di sela tangisnya.
Arsen menatapnya cukup lama.
“Tiara.”
“Hm?”
“Dulu aku pernah bilang kamu boleh pergi kapan pun kamu mau.”
Tiara mengangguk.
“Aku ingat.”
“Kalau sekarang?”
Tiara tersenyum.
“Sekarang aku justru ingin tinggal.”
Arsen terdiam.
“Karena kasihan?”
Tiara menggeleng.
“Karena akhirnya aku tahu rasanya punya rumah.”
Arsen menggenggam tangannya.
Di bawah cahaya kota Jakarta yang berkilauan, Tiara akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan keluarganya.
Pernikahan yang awalnya ia kira akan menjadi hukuman justru menjadi pintu menuju kebebasan.
Dan keluarga yang selama ini ia pertahankan mati-matian ternyata bukan tempat yang harus ia pulangkan.
Kadang-kadang, kehilangan rumah lama bukanlah akhir dari segalanya.
Kadang-kadang, itu hanyalah cara hidup menunjukkan di mana rumah yang sebenarnya menunggu.
