15 MENIT SEBELUM AKAD, ORANG TUANYA DIUSIR KE KURSI PLASTIK POJOKAN. BALASAN NEKAT SANG PENGANTIN WANITA DI DEPAN 200 TAMU BIKIN SEMUA SYOK!

Maya mencabut cincin pertunangan di jarinya dengan perlahan.

Gerakan kecil itu membuat Dion akhirnya bergerak.

“Maya, jangan gila. Kita tinggal lima belas menit lagi menuju akad.”

Maya memandang cincin berlian yang selama delapan bulan terakhir selalu dia jaga seperti simbol masa depan. Anehnya, saat benda itu terlepas dari jarinya, yang dia rasakan bukan kehilangan.

Justru lega.

“Masih ada waktu lima belas menit,” kata Maya, suaranya terdengar jelas melalui pengeras suara. “Cukup untuk mengetahui apakah aku akan menikahi seorang laki-laki atau seseorang yang seumur hidup akan bersembunyi di belakang ibunya.”

Suasana aula langsung membeku.

Beberapa tamu mulai berbisik. Seorang paman Dion mencoba mendekati panggung, tetapi Pratiwi mengangkat tangannya.

“Maya, cukup!” bentaknya. “Kamu mempermalukan keluarga kami.”

Maya tersenyum getir.

“Mempermalukan?”

Dia menunjuk ke belakang aula.

Semua kepala menoleh.

Di dekat pilar beton, Pak Sastro dan Bu Rina masih berdiri di samping dua kursi plastik.

“Itu ayah dan ibu saya,” ujar Maya. “Ayah saya menjual motor lamanya untuk membantu biaya acara ini. Ibu saya menerima pesanan kue sampai tengah malam selama berbulan-bulan karena mereka tidak mau anaknya datang ke keluarga Prasetya dengan tangan kosong.”

Pak Sastro segera menggeleng.

“Maya, sudah. Ayah tidak apa-apa.”

Kalimat sederhana itu justru membuat dada Maya semakin sesak.

Sejak kecil, ayahnya memang selalu begitu.

Tidak pernah ingin menjadi beban.

Ketika Maya diterima di universitas negeri di Bandung, Pak Sastro mengatakan uang kuliahnya sudah tersedia. Bertahun-tahun kemudian Maya baru mengetahui ayahnya bekerja sebagai sopir tambahan setiap malam untuk membayarnya.

Ketika Maya memperkenalkan Dion tiga tahun lalu, kedua orang tuanya tidak pernah mempertanyakan kekayaan keluarga Prasetya.

Mereka hanya bertanya satu hal.

“Dia memperlakukan kamu dengan baik?”

Dulu Maya menjawab yakin.

“Iya.”

Sekarang dia tidak lagi yakin apakah jawaban itu pernah benar.

Maya kembali menatap Dion.

“Aku tanya sekali lagi. Kamu tahu soal pemindahan kursi ini?”

Dion mengusap wajahnya.

“Aku tahu.”

Terdengar suara gaduh dari para tamu.

Maya menelan ludah.

“Mama bilang meja depan sudah penuh. Aku pikir cuma soal tempat duduk.”

“Bohong!” Nisa tiba-tiba berseru dari samping aula.

Semua orang menoleh kepadanya.

Nisa mengangkat ponsel.

“Aku tadi ada di belakang ruang rias. Aku dengar percakapan kalian.”

Wajah Dion berubah.

“Nisa, jangan ikut campur.”

Namun Nisa sudah menekan layar ponselnya.

Sebuah rekaman suara terdengar melalui pengeras suara yang dipegang salah satu petugas dokumentasi.

Suara Pratiwi terdengar lebih dahulu.

“Orang tua Maya jangan di meja utama. Banyak relasi Papa datang. Malu kalau ditanya besan kita cuma punya bengkel kecil.”

Lalu suara Dion terdengar.

“Ya sudah, Ma. Terserah Mama. Yang penting jangan sampai Maya tahu sebelum akad.”

Tidak ada seorang pun berbicara setelah rekaman berhenti.

Maya merasa lututnya hampir kehilangan tenaga.

Bukan karena dia baru mengetahui Dion pengecut.

Melainkan karena Dion ternyata sadar sepenuhnya bahwa tindakan itu akan menyakitinya.

Dan dia memilih melakukannya sebelum akad karena mengira setelah pernikahan berlangsung Maya tidak punya jalan kembali.

Dion naik ke panggung.

“Sayang, dengarkan aku.”

“Jangan panggil aku begitu.”

Dion berhenti.

“Itu cuma soal kursi.”

“Bukan.”

Maya menatapnya lurus.

“Ini soal bagaimana kamu melihat keluargaku.”

“Maya, aku tidak pernah merendahkan mereka.”

“Tapi kamu membiarkan orang lain melakukannya.”

Dion terdiam.

Maya meletakkan cincin pertunangan di meja akad.

“Dan mulai hari ini, itu sama saja.”

Pratiwi berlari mendekati panggung.

“Kalau kamu membatalkan pernikahan ini, keluarga kamu harus mengganti semua biaya!”

Maya menoleh.

“Berapa?”

Pertanyaan itu membuat Pratiwi terdiam sejenak.

“Apa?”

“Berapa biaya yang keluarga Ibu keluarkan?”

Pratiwi menyebut angka yang cukup besar.

Beberapa tamu menarik napas.

Namun Maya justru mengambil ponselnya.

Dia membuka sebuah folder.

“Menarik.”

Maya mengangkat layar ponselnya.

“Karena menurut catatan pembayaran, gedung ini dibayar ayah saya empat puluh persen. Katering dibayar bersama. Fotografer saya yang bayar. Dekorasi dibayar dari tabungan saya dan Dion.”

Pratiwi kehilangan kata-kata.

“Jadi jangan membuat seolah keluarga Prasetya sedang menikahkan anak orang miskin dengan belas kasihan.”

Wajah Pratiwi memerah.

Pak Harjono, ayah Dion, yang sejak tadi duduk di meja depan akhirnya berdiri.

“Pratiwi, hentikan.”

Semua mata tertuju kepadanya.

Pratiwi berbalik tidak percaya.

“Papa membela mereka?”

“Saya membela sesuatu yang benar.”

Pak Harjono berjalan menuju bagian belakang aula.

Tanpa mengatakan apa pun, dia mengangkat salah satu kursi plastik tempat Pak Sastro seharusnya duduk.

Lalu membawanya ke meja utama.

Beberapa tamu tercengang.

“Pak Sastro,” katanya, “saya minta maaf.”

Pak Sastro tampak serba salah.

“Tidak perlu, Pak.”

“Perlu.”

Pak Harjono menundukkan kepala.

“Saya terlalu sibuk mengurus perusahaan sampai tidak sadar keluarga saya sendiri kehilangan tata krama.”

Pratiwi menatap suaminya dengan marah.

Namun kejutan berikutnya datang dari seorang pria tua berkacamata yang duduk di barisan tamu VIP.

Dia adalah Pak Surya, salah satu komisaris perusahaan keluarga Prasetya.

“Harjono,” katanya, “rupanya pembicaraan kita dua bulan lalu memang benar.”

Dion menoleh cepat.

“Pembicaraan apa?”

Pak Surya berdiri.

“Posisi direktur operasional yang rencananya diberikan kepadamu.”

Wajah Dion menegang.

Pak Surya menatapnya lama.

“Saya menentangnya.”

Aula kembali riuh.

“Kenapa?” Dion bertanya.

“Karena seorang pemimpin dinilai bukan dari bagaimana dia memperlakukan orang yang lebih berkuasa darinya. Kita melihat wataknya dari bagaimana dia memperlakukan orang yang dianggap tidak bisa memberikan keuntungan.”

Dion mengepalkan tangan.

“Ini urusan pribadi.”

Pak Surya menggeleng.

“Watak tidak mengenal ruang pribadi dan ruang rapat.”

Pratiwi segera menyela.

“Pak Surya, jangan campurkan masalah perusahaan dengan acara keluarga!”

Namun pria itu tidak menjawab.

Dion kini tampak benar-benar panik.

“Maya, kita bicara berdua saja.”

Maya menggeleng.

“Selama tiga tahun, setiap kali ibumu menghina keluargaku, kita selalu bicara berdua setelahnya.”

Dia turun dari panggung.

“Kamu selalu minta maaf setelah semuanya terjadi.”

Maya berjalan menuju kedua orang tuanya.

“Hari ini aku tidak membutuhkan permintaan maaf setelah kejadian. Aku membutuhkan pasangan yang berdiri di sampingku ketika kejadian itu berlangsung.”

Bu Rina akhirnya menangis.

“Maya…”

Maya memeluk ibunya erat.

“Maaf, Bu.”

Bu Rina menggeleng berkali-kali.

“Kamu tidak melakukan kesalahan.”

Dion menyusul mereka.

“Kalau kamu keluar sekarang, semuanya selesai.”

Maya menoleh.

“Itu tujuan saya.”

Dion membeku.

“Kamu serius membatalkan pernikahan?”

“Serius.”

Pratiwi mendengus.

“Biarkan saja, Dion. Perempuan seperti dia memang tidak pantas masuk keluarga kita.”

Maya hampir berjalan pergi ketika suara Pak Harjono terdengar.

“Justru mungkin keluarga kita yang tidak pantas menerima dia.”

Pratiwi memandang suaminya seakan baru saja ditampar.

Pak Harjono kemudian mengambil mikrofon.

“Saudara-saudara, akad hari ini dibatalkan.”

Suasana berubah kacau.

Namun Pak Harjono melanjutkan.

“Semua konsumsi sudah dibayar. Tidak perlu pulang dalam keadaan lapar. Silakan tetap makan.”

Entah siapa yang pertama tertawa kecil, tetapi ketegangan di ruangan sedikit pecah.

Pak Sastro bahkan tersenyum tipis.

Maya menggandeng kedua orang tuanya menuju pintu.

Namun ketika mereka hampir keluar, Dion mengejar.

“Maya!”

Maya berhenti.

Dion berdiri beberapa meter di belakangnya.

Untuk pertama kalinya hari itu, kesombongan di wajahnya benar-benar hilang.

“Aku salah.”

Maya tidak menjawab.

“Aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

Dion terlihat sedikit berharap.

Namun Maya melanjutkan.

“Tapi kamu harus berubah bukan supaya aku kembali.”

Harapan itu langsung padam.

“Berubahlah karena kamu tidak ingin menjadi laki-laki yang sama sepuluh tahun lagi.”

Maya kemudian berjalan keluar.

Udara Lembang yang dingin menyambutnya.

Langit mendung.

Rintik hujan mulai turun.

Pak Sastro melepas jasnya untuk menutupi kepala Maya.

Maya tertawa sambil menangis.

“Ayah, gaunku sudah terlanjur berantakan.”

“Gaun bisa dicuci.”

Ayahnya tersenyum.

“Harga diri jangan.”

Kalimat itu menancap kuat dalam hati Maya.

Enam bulan kemudian, Maya sedang membantu ibunya menutup toko kue kecil yang baru mereka sewa di Bandung ketika sebuah mobil berhenti di depan.

Pak Harjono turun seorang diri.

Maya sempat terkejut.

“Pak?”

“Saya cuma mau mengantar sesuatu.”

Dia memberikan sebuah amplop.

Maya membukanya.

Di dalamnya bukan uang.

Melainkan surat permintaan maaf tulisan tangan dari Dion.

Maya membaca beberapa baris lalu melipatnya kembali.

“Bagaimana Dion?”

“Dia keluar dari perusahaan keluarga.”

Maya terkejut.

“Keluar?”

Pak Harjono mengangguk.

“Sekarang bekerja di perusahaan lain dari bawah. Keputusan dia sendiri.”

Maya terdiam.

“Dia bilang selama ini terlalu mudah mendapatkan semuanya.”

Pak Harjono tersenyum kecil.

“Saya pikir kehilangan kamu akhirnya membuat dia melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah saya ajarkan.”

Maya menyerahkan surat itu kembali.

“Bapak boleh bilang saya sudah membacanya.”

“Tidak mau menyimpan?”

Maya menggeleng.

“Saya sudah memaafkan.”

Pak Harjono tampak lega.

“Tapi memaafkan bukan berarti kembali.”

Pria itu mengangguk.

“Saya mengerti.”

Setelah Pak Harjono pergi, Bu Rina keluar membawa dua cangkir teh.

“Siapa?”

“Pak Harjono.”

“Minta kamu balikan?”

Maya tertawa.

“Tidak.”

Bu Rina duduk di samping putrinya.

Toko sederhana mereka masih jauh dari mewah. Cat dinding bahkan belum selesai sepenuhnya. Namun pesanan semakin banyak sejak Maya membantu memasarkan usaha ibunya melalui media sosial.

Beberapa menit kemudian Pak Sastro datang dengan motornya.

Motor lama.

Bukan motor yang dulu dijual.

Maya diam-diam membelikannya kembali dari pemilik barunya sebagai hadiah ulang tahun.

Ayahnya masih tidak tahu bahwa Maya harus menabung hampir lima bulan untuk mendapatkannya.

“Besok pesanan seratus kotak jadi, kan?” tanya Pak Sastro.

“Seratus dua puluh,” koreksi Bu Rina bangga.

Maya tersenyum melihat mereka berdebat kecil.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi.

Sebuah pesan dari Nisa masuk.

Dia mengirim foto lama dari hari pernikahan yang batal itu.

Dalam foto tersebut, Maya terlihat berdiri di atas panggung dengan gaun putih, mikrofon di tangan, sementara dua ratus orang menatapnya.

Di bawah foto, Nisa menulis satu kalimat.

Untung kamu bicara sebelum terlambat.

Maya menatap foto itu lama.

Dulu dia mengira hari tersebut adalah hari paling memalukan dalam hidupnya.

Sekarang dia memahami sesuatu.

Hari itu bukan hari ketika pernikahannya gagal.

Hari itu adalah hari ketika dia berhasil menyelamatkan dirinya sendiri.

Maya mematikan layar ponsel.

Kemudian dia masuk ke toko sambil menggandeng ayah dan ibunya.

Di sebuah lemari kecil dekat kasir, tersimpan sebuah benda yang sengaja dia bawa pulang dari Gedung Nuansa Asri.

Bukan cincin pertunangan.

Bukan foto pernikahan.

Melainkan kartu nama meja bertuliskan Pak Sastro dan Ibu Rina yang sempat dibuang petugas katering.

Maya membingkainya.

Di bawah kartu itu, dia menulis satu kalimat sederhana.

Tidak ada meja VIP yang lebih berharga daripada orang yang selalu menyediakan tempat untukmu ketika dunia menyingkirkanmu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang