PENGUSAHA KAYA MEMBENTAK ASISTEN RUMAH TANGGA YANG MENCURI KOPI TIAP PAGI. NAMUN SAAT DIIKUTI KE TEMPAT NENEK TUA, RAHASIA KELUARGA 30 TAHUN TERBONGKAR!

Kalimat terakhir Bu Ratna membuat udara pagi di Taman Bungkul seolah berhenti bergerak.

Aris menatap perempuan tua di hadapannya tanpa berkedip. Beberapa detik sebelumnya ia masih yakin bahwa semua ini hanyalah cerita seseorang yang ingin memanfaatkan nama besar keluarganya. Namun sekarang, keyakinan itu mulai retak.

“Adik saya?” suara Aris terdengar serak. “Saya tidak pernah punya adik.”

Bu Ratna menunduk sambil menggenggam foto tua itu.

“Itulah yang ayahmu ingin kamu percaya.”

Rina berdiri beberapa langkah dari mereka. Kemarahan karena baru saja dipecat sudah tidak lagi penting. Ia bisa melihat tangan Aris mengepal, bukan karena marah, melainkan karena sedang berusaha mempertahankan seluruh kenyataan yang selama hampir tiga puluh tahun diyakininya.

Bu Ratna kemudian mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari kantong plastiknya. Kertasnya sudah menguning dan sudutnya hampir robek.

Di dalamnya terdapat salinan surat kelahiran seorang bayi perempuan.

Nama ibu tercantum Ratna Wulandari.

Nama ayah tercantum Handoko Baskoro.

Tanggal kelahirannya 14 November 1996.

Nama bayi itu membuat Rina mendadak pucat.

Nadia Baskoro.

“Ibu saya pernah merawat seorang bayi bernama Nadia di sebuah klinik kecil di Malang tahun 1996,” kata Rina lirih.

Bu Ratna langsung mengangkat wajah.

“Apa nama ibumu?”

“Sulastri.”

Amplop itu terlepas dari tangan Bu Ratna.

Ia menutup mulutnya, lalu menangis.

“Sulastri…”

Aris memandang mereka bergantian.

Bu Ratna menjelaskan bahwa setelah diusir dari rumah, ia pergi ke Malang dalam keadaan hamil. Handoko mengetahui keberadaannya beberapa bulan kemudian. Saat persalinan, orang-orang suruhan Handoko datang ke klinik. Bu Ratna yang masih lemah diberi tahu bahwa bayinya mengalami komplikasi dan harus dipindahkan ke rumah sakit lain.

Bayi itu tidak pernah kembali.

Ketika Bu Ratna mencoba mencari, Handoko menunjukkan surat kematian bayi tersebut.

Namun beberapa tahun kemudian, Bu Ratna mengetahui bahwa surat itu palsu.

Sejak saat itu ia mencari Nadia.

“Kenapa Ayah melakukan semua itu?” Aris bertanya.

Bu Ratna memandangnya lama.

“Karena perusahaan Baskoro bukan sepenuhnya milik ayahmu.”

Aris membeku.

Menurut Bu Ratna, modal pertama perusahaan konstruksi Baskoro berasal dari keluarga Ratna. Ayah Ratna memiliki perusahaan bahan bangunan di Gresik. Setelah menikah, Handoko mengembangkan bisnis tersebut menggunakan aset keluarga istrinya.

Ketika ayah Ratna meninggal, sebagian besar saham diwariskan kepada Ratna dan anak-anaknya.

Jika Ratna tetap menjadi istri Handoko, kendali perusahaan tidak pernah bisa sepenuhnya berada di tangan Handoko.

Maka Handoko menyingkirkannya.

Aris menggeleng keras.

“Cukup.”

Ia berbalik dan berjalan menuju mobil.

Rina mengejarnya.

“Pak Aris.”

“Saya bilang cukup!”

Aris berhenti.

Matanya merah.

“Selama dua puluh sembilan tahun saya datang ke makam kosong setiap tanggal kematian ibu saya. Saya bicara kepada batu nisan itu. Saya cerita tentang sekolah saya, kuliah saya, perusahaan saya. Sekarang kalian meminta saya percaya bahwa semua itu kebohongan?”

Tidak ada yang menjawab.

Aris masuk ke mobil dan pergi.

Namun sebelum meninggalkan taman, ia tidak jadi memecat Rina.

Malam itu, rumah besar di Citraland terasa berbeda.

Aris duduk sendirian di ruang makan.

Di hadapannya ada kursi kosong yang selama bertahun-tahun tidak boleh disentuh siapa pun.

Dulu Handoko selalu berkata kursi itu milik ibunya.

“Biarkan kosong,” pesan Handoko. “Supaya kamu selalu ingat ibumu.”

Sekarang Aris menyadari betapa kejamnya kalimat tersebut.

Ia masuk ke ruang kerja mendiang ayahnya dan membuka lemari arsip yang tidak pernah disentuh sejak Handoko meninggal dua tahun sebelumnya.

Hampir tiga jam ia mencari.

Tidak ada apa pun.

Sampai Aris menemukan sebuah laci kecil yang terkunci di belakang rak buku.

Ia memanggil teknisi keesokan paginya.

Di dalam laci itu terdapat beberapa dokumen perusahaan, kuitansi lama, surat pengalihan saham, dan satu map hitam bertuliskan RW.

Ratna Wulandari.

Tangan Aris gemetar saat membukanya.

Ada laporan seseorang yang mengikuti Bu Ratna selama bertahun-tahun.

Alamat tempat tinggal.

Tempat kerja.

Foto dari kejauhan.

Bahkan catatan mengenai siapa saja yang pernah membantunya.

Ayahnya tidak pernah kehilangan jejak Bu Ratna.

Handoko tahu persis di mana mantan istrinya berada.

Di halaman terakhir terdapat instruksi singkat kepada seorang pengacara.

Pastikan Ratna tidak pernah bertemu Aris.

Aris menutup map itu.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menangis bukan karena merindukan ayahnya, tetapi karena merasa seluruh hidupnya telah dibangun oleh seseorang yang tidak pernah benar-benar ia kenal.

Sore itu ia menemui Bu Ratna.

Tidak ada mobil mewah atau sopir.

Aris datang sendiri.

Bu Ratna masih berada di bangku taman yang sama.

Aris duduk di sebelahnya.

Mereka diam cukup lama.

“Apa makanan favorit saya waktu kecil?” tanya Aris tiba-tiba.

Bu Ratna tersenyum dalam tangis.

“Nasi goreng tanpa daun bawang. Kalau ada daun bawang sedikit saja, kamu pilah satu per satu.”

Aris menunduk.

“Kalau takut petir?”

“Kamu sembunyi di bawah meja makan sambil membawa mobil-mobilan merah.”

Aris mulai menangis.

Bu Ratna tidak langsung memeluknya.

Ia hanya meletakkan tangannya di bangku, tepat di antara mereka.

Perlahan, Aris menggenggam tangan itu.

Untuk pertama kalinya setelah dua puluh sembilan tahun, seorang anak kembali menyentuh tangan ibunya.

Namun persoalan Nadia belum selesai.

Rina pulang ke Malang akhir pekan berikutnya untuk menemui ibunya, Sulastri.

Ketika nama Nadia disebutkan, perempuan berusia enam puluh tahun itu langsung terdiam.

“Akhirnya hari ini datang juga,” katanya.

Sulastri membuka lemari dan mengambil sebuah kotak besi.

Ia menceritakan bahwa pada November 1996, sebuah klinik tempatnya bekerja menerima Bu Ratna dalam kondisi lemah. Setelah persalinan, dua pria datang membawa surat pemindahan pasien.

Namun Sulastri curiga.

Sebelum bayi dibawa, seorang dokter bernama dr. Surya diam-diam mengganti gelang identitas bayi.

Ia takut bayi itu akan dihilangkan.

Rencana itu berhasil sebagian.

Orang-orang Handoko membawa bayi lain yang memang akan dirujuk ke rumah sakit.

Sementara Nadia disembunyikan selama beberapa hari.

Tetapi Handoko segera mengetahui penipuan tersebut.

“Dokter Surya membawa Nadia pergi sebelum mereka kembali,” kata Sulastri.

“Ke mana?”

“Saya tidak tahu. Tapi sebelum pergi, dia memberikan ini.”

Sulastri menyerahkan secarik kertas.

Di sana tertulis sebuah nama.

Yayasan Pelita Kasih, Batu.

Aris, Rina, dan Bu Ratna mendatangi yayasan tersebut dua hari kemudian.

Bangunannya sudah berubah menjadi pusat pendidikan anak.

Seorang pengurus lama bernama Pak Daniel masih menyimpan arsip tahun 1990-an.

Setelah mencari hampir dua jam, mereka menemukan catatan bayi perempuan yang dititipkan pada 19 November 1996.

Namanya bukan Nadia.

Namanya diubah menjadi Nadin.

Anak itu kemudian diadopsi oleh pasangan asal Surabaya.

Aris menatap alamat keluarga pengadopsi.

Ia merasa pernah membaca nama itu.

Keluarga Prasetyo.

Pencarian berikutnya jauh lebih mudah.

Nadin Prasetyo sekarang berusia 29 tahun dan bekerja sebagai dokter umum di sebuah klinik di Surabaya.

Ketika mereka datang, Aris hampir kehilangan kata-kata.

Perempuan yang keluar dari ruang pemeriksaan itu memiliki mata yang sangat mirip dengan Bu Ratna.

Bu Ratna menangis bahkan sebelum sempat memperkenalkan diri.

Nadin tentu tidak langsung percaya.

Ia meminta tes DNA.

Aris menyetujuinya.

Dua minggu kemudian, hasil laboratorium keluar.

Probabilitas hubungan biologis antara Bu Ratna dan Nadin sebagai ibu dan anak lebih dari 99 persen.

Nadin membaca hasil itu berulang kali.

Kemudian ia memandang Bu Ratna.

“Jadi selama ini Ibu mencari saya?”

“Hampir tiga puluh tahun.”

Nadin memeluknya.

Tangisan Bu Ratna memenuhi ruangan.

Aris berdiri beberapa langkah di belakang mereka.

Ia tersenyum, tetapi matanya basah.

Nadin kemudian berjalan kepadanya.

“Kita kakak adik?”

Aris mengangguk.

Nadin tersenyum kecil.

“Berarti saya boleh minta traktir kopi seumur hidup.”

Semua orang tertawa di tengah air mata.

Namun kejutan terbesar muncul ketika dokumen warisan keluarga Ratna diperiksa.

Ternyata Handoko memang telah memindahkan sebagian saham secara ilegal menggunakan tanda tangan palsu.

Aris bisa saja menyembunyikan fakta tersebut.

Tidak seorang pun selain mereka yang mengetahuinya.

Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.

Namun Aris memilih mengembalikan hak kepemilikan kepada Bu Ratna dan Nadin.

“Perusahaan ini tidak boleh terus berdiri di atas kebohongan,” katanya di hadapan jajaran direksi.

Keputusan itu membuat beberapa anggota keluarga besar Baskoro marah.

Namun Aris tidak berubah pikiran.

Tiga bulan kemudian, rumah besar di Citraland kembali dipenuhi orang.

Bukan untuk rapat perusahaan.

Bukan untuk pesta bisnis.

Mereka makan malam bersama.

Bu Ratna duduk di kursi yang selama hampir tiga puluh tahun dibiarkan kosong.

Di sebelahnya duduk Nadin.

Rina dan Bagas juga diundang.

Sebelum makan, Aris berdiri sambil membawa secangkir kopi.

Ia berjalan mendekati Rina.

“Saya masih punya utang permintaan maaf kepada kamu.”

Rina tersenyum.

“Sudah saya maafkan, Pak.”

“Tapi saya tetap ingin tahu satu hal. Kenapa waktu itu kamu terus membantu Ibu saya padahal kamu sendiri tidak punya banyak uang?”

Rina memandang Bu Ratna.

“Karena ibu saya selalu bilang, kita tidak perlu menjadi kaya untuk membuat seseorang merasa tidak sendirian.”

Aris terdiam.

Kalimat sederhana itu menghantamnya lebih keras daripada semua dokumen yang ditemukan selama beberapa bulan terakhir.

Keesokan paginya, pukul 07:15, Aris datang ke Taman Bungkul.

Namun kali ini bukan untuk mengikuti Rina.

Ia membawa empat gelas kopi.

Satu untuk Rina.

Satu untuk Bu Ratna.

Satu untuk Nadin.

Dan satu untuk dirinya sendiri.

Mereka duduk di bangku yang sama tempat semuanya bermula.

Aris kemudian mengeluarkan foto masa kecilnya dan menyerahkannya kepada Bu Ratna.

“Simpan saja,” kata Bu Ratna. “Itu milikmu.”

Aris menggeleng.

“Bukan.”

Ia meletakkan foto tersebut di antara mereka.

“Ini milik kita.”

Bu Ratna tersenyum.

Di kejauhan, Rina memperhatikan mereka sambil menggenggam tangan Bagas.

Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa segelas kopi sederhana telah membuka kebohongan keluarga yang terkubur hampir tiga puluh tahun.

Aris pernah mengira kekayaan berarti mampu mengendalikan segala sesuatu.

Perusahaan.

Rumah.

Pekerja.

Bahkan siapa yang boleh menggunakan kopi di dapurnya.

Namun akhirnya ia memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan ayahnya.

Kadang-kadang, hal paling berharga yang bisa diberikan seseorang bukan uang, rumah, atau warisan.

Melainkan sepuluh menit untuk duduk di samping seseorang yang merasa telah dilupakan dunia.

Dan jika pagi itu Rina memilih berjalan melewati seorang nenek tua tanpa berhenti, Aris mungkin akan menghabiskan seluruh hidupnya menjaga satu kursi kosong untuk seorang ibu yang sebenarnya masih hidup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang