BELI RUMAH RP27 MILIAR UNTUK ORANG TUA, MERTUA MALAH MENGUSIR MEREKA DAN MENJUAL PROPERTI SAYA! MEREKA TIDAK TAHU NAMA SIAPA YANG TERCANTUM DI SERTIFIKAT

Rian mencoba tersenyum, tetapi senyum itu justru membuat Maya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar penyewaan vila tanpa izin.

“Maya, kita bisa bicarakan ini di dalam,” katanya pelan. “Tidak perlu mempermalukan keluarga di depan orang banyak.”

Maya menatapnya beberapa detik.

“Mempermalukan keluarga?”

Dia menunjuk ke arah gudang tempat ayah dan ibunya tinggal.

“Orang tuaku tidur di sana selama hampir dua bulan, sementara orang asing membayar jutaan rupiah untuk tidur di kamar yang kubangun untuk mereka. Dan sekarang kamu bicara soal mempermalukan keluarga?”

Wajah Rian memucat.

Sastro hendak mengatakan sesuatu, tetapi Maya menggenggam tangan ayahnya.

“Bapak jangan bicara dulu. Sekarang biar Maya yang urus.”

Lastri, ibu Maya, berdiri di samping suaminya dengan mata sembap. Sejak tadi perempuan berusia enam puluh dua tahun itu hanya diam.

Maya menatap ibunya.

“Kenapa Ibu tidak menelepon Maya?”

Lastri menunduk.

“Rian bilang kamu sedang mengurus proyek besar di Singapura. Dia bilang kalau kami mengganggumu, pekerjaanmu bisa bermasalah.”

Maya perlahan menoleh kepada suaminya.

Rian langsung menggeleng.

“Aku cuma tidak mau kamu stres.”

“Lalu telepon Bapak dan Ibu?”

Lastri menjawab sebelum Rian sempat bicara.

“Nomor kami diblokir dari ponselmu.”

Dada Maya seperti dihantam sesuatu.

Dia segera mengeluarkan ponsel, membuka daftar nomor yang diblokir, lalu menemukan dua nama yang membuat jemarinya gemetar.

Bapak.

Ibu.

Keduanya memang ada di sana.

“Aku tidak pernah memblokir mereka.”

Rian semakin gugup.

“Mungkin tidak sengaja.”

Maya menatapnya tajam.

“Ponselku sering kamu pegang ketika aku tidur.”

“Maya, jangan menuduh sembarangan.”

“Cukup.”

Suara Maya tidak keras, tetapi membuat Rian terdiam.

Endang yang sejak tadi berdiri di teras tiba-tiba melangkah maju.

“Sudahlah. Mau sampai kapan ribut begini? Kalau memang kamu tidak suka orang tuamu tinggal di gudang, bawa saja mereka pergi.”

Maya menatap ibu mertuanya.

“Pergi dari rumah mereka sendiri?”

Endang tersenyum sinis.

“Rumah mereka sendiri dari mana?”

Dia masuk ke dalam vila dan kembali membawa sebuah map cokelat.

Map itu dilemparkan ke meja.

“Sebaiknya kamu lihat ini sebelum merasa paling berkuasa.”

Rian langsung panik.

“Bu!”

Namun terlambat.

Endang mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

“Rumah ini sudah dijual.”

Lastri menutup mulutnya.

Sastro membeku.

Maya justru semakin tenang.

“Kepada siapa?”

“Pak Surya. Pengusaha dari Jakarta. Harganya tiga puluh dua miliar.”

Beberapa tamu yang masih berada di halaman mulai berbisik.

Maya mengambil dokumen itu.

Ada surat perjanjian jual beli.

Ada tanda tangan Rian.

Ada tanda tangan Endang sebagai saksi.

Dan ada bukti pembayaran uang muka sebesar lima miliar rupiah.

Maya membaca semuanya tanpa berkata apa pun.

Rian mendekat.

“Maya, dengar. Aku bisa menjelaskan.”

“Kapan?”

“Tiga minggu lalu.”

“Kenapa kamu menjualnya?”

Rian menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya, wajah lelaki itu berubah.

Tidak lagi memelas.

Tidak lagi berpura-pura takut.

Ada kejengkelan yang selama ini dia sembunyikan.

“Karena kita butuh uang.”

“Kita?”

“Bisnisku sedang bermasalah.”

Maya mengerutkan dahi.

Setahu Maya, Rian memiliki perusahaan distribusi bahan bangunan yang berjalan cukup baik.

“Seberapa bermasalah?”

Rian tidak menjawab.

Endang yang menjawab.

“Anakku rugi hampir sebelas miliar. Kalau tidak segera dibayar, perusahaan bisa bangkrut.”

Maya tertawa kecil.

“Jadi kalian menjual rumah orang tuaku?”

“Rumah itu dibeli setelah kalian menikah,” balas Endang. “Artinya Rian juga punya hak.”

Maya menatapnya lama.

Kemudian dia bertanya satu hal sederhana.

“Ibu sudah melihat sertifikat rumah ini?”

Endang terdiam sesaat.

“Tidak perlu. Rian suamimu.”

Maya mengangguk perlahan.

Itulah jawaban yang dia tunggu.

Suara mobil terdengar dari luar pagar.

Sebuah SUV hitam berhenti.

Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun turun bersama dua orang pria berkemeja rapi.

Endang langsung tersenyum.

“Nah, kebetulan Pak Surya datang.”

Rian justru terlihat semakin pucat.

Pak Surya berjalan masuk sambil membawa map.

“Pak Rian, saya datang untuk membicarakan pelunasan. Notaris saya bilang ada masalah dengan dokumen.”

Endang langsung menyela.

“Masalah apa? Semua sudah beres.”

Pak Surya tidak menjawab.

Dia melihat Maya.

“Anda Ibu Maya Prameswari?”

Maya mengangguk.

Pak Surya menghela napas.

“Kalau begitu, saya rasa kita semua perlu duduk.”

Endang mulai kehilangan kesabaran.

“Kenapa harus duduk? Kami sudah tanda tangan. Tinggal pelunasan.”

Pak Surya membuka mapnya.

“Saya tidak bisa melunasi properti yang penjualnya bukan pemilik.”

Halaman vila mendadak sunyi.

Rian memejamkan mata.

Endang menatap Pak Surya seperti tidak memahami kalimatnya.

“Maksud Bapak?”

Pak Surya mengeluarkan salinan sertifikat.

“Sertifikat Hak Milik atas tanah dan bangunan ini tercatat atas nama Ibu Maya Prameswari.”

Endang menoleh tajam kepada Rian.

“Kamu bilang rumah ini atas nama kalian berdua!”

Rian tidak menjawab.

Maya mengambil salinan sertifikat itu.

Namun Pak Surya belum selesai.

“Dan ada hal lain.”

Dia menunjuk satu bagian dokumen.

“Properti ini dibeli Ibu Maya menggunakan dana pribadi yang secara administratif telah dapat ditelusuri sumbernya. Semua dokumen transaksi asli juga dipegang pemilik.”

Maya mengingat semuanya.

Tujuh tahun bekerja di perusahaan teknologi.

Bonus tahunan yang tidak pernah dia habiskan.

Investasi yang dia cairkan.

Saham perusahaan rintisan yang dia jual.

Dia membeli rumah itu bukan untuk investasi.

Dia membelinya karena suatu malam ayahnya pernah berkata sambil bercanda bahwa sebelum meninggal, dia ingin melihat laut setiap pagi.

Maya menghabiskan hampir seluruh tabungannya untuk mewujudkan kalimat sederhana itu.

Ternyata selama Maya menjalani proyek selama berbulan-bulan di luar kota, Rian mengubah hadiah itu menjadi bisnis.

Lebih buruk lagi, dia mencoba menjualnya.

Pak Surya menatap Rian.

“Uang muka lima miliar yang saya transfer sekarang menjadi persoalan serius.”

Rian langsung mendekat.

“Saya akan mengembalikannya.”

“Dengan uang apa?”

Pertanyaan itu membuat Rian terdiam.

Maya memperhatikan wajah suaminya.

Kemudian sebuah pikiran muncul.

“Pendapatan vila selama ini masuk ke mana?”

Tidak ada jawaban.

Maya mengeluarkan ponselnya.

“Berapa kamar yang disewakan?”

Salah seorang pegawai vila yang berdiri tidak jauh dari sana menjawab gugup.

“Sebelas kamar, Bu.”

“Sudah berapa lama?”

“Hampir empat bulan.”

Maya menatap Rian.

“Empat bulan?”

Rian memalingkan wajah.

Pegawai itu melanjutkan.

“Biasanya penuh saat akhir pekan, Bu. Pak Rian juga menyewakan untuk acara perusahaan.”

Maya merasa mual.

Selama empat bulan terakhir, dia berkali-kali mentransfer uang kepada Rian karena suaminya mengaku kesulitan membayar cicilan perusahaan.

Ternyata pada saat yang sama, Rian memperoleh uang dari rumah miliknya.

“Rekening mana yang menerima pembayaran?”

Pegawai itu menyebut sebuah rekening perusahaan yang tidak dikenal Maya.

Endang tiba-tiba berkata, “Itu perusahaan saya.”

Maya menatapnya.

Semuanya akhirnya tersusun.

Endang bukan sekadar ikut menikmati rumah itu.

Dia ikut menjalankan bisnisnya.

Maya mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.

“Pak Aditya, saya perlu bantuan. Tolong datang ke alamat yang saya kirim. Bawa semua dokumen pembelian Villa Coral dan laporan yang kemarin kita bahas.”

Rian langsung mendekat.

“Laporan apa?”

Maya tidak menjawab.

Tiga puluh menit kemudian, seorang pria berkacamata tiba bersama seorang perempuan muda membawa laptop.

Pak Aditya adalah pengacara yang selama bertahun-tahun menangani investasi Maya.

Dia membuka laptop dan memperlihatkan sejumlah transaksi.

“Bu Maya meminta kami memeriksa keuangannya dua minggu lalu karena ada beberapa transfer yang menurut beliau tidak wajar.”

Rian menatap Maya.

“Jadi kamu sudah mencurigaiku?”

“Awalnya tidak.”

Maya menggeleng.

“Aku hanya heran kenapa perusahaanmu selalu membutuhkan uang meski katanya terus mendapat proyek.”

Pak Aditya melanjutkan.

Dana dari penyewaan vila ternyata masuk ke perusahaan milik Endang. Sebagian kemudian dipindahkan ke rekening perusahaan Rian.

Tetapi ada transaksi lain.

Transfer rutin ke sebuah apartemen mewah di Jakarta Selatan.

Pembayaran mobil.

Tagihan kartu kredit.

Dan uang muka sebuah rumah kecil.

Semua atas nama seorang perempuan bernama Clara Wijaya.

Maya menatap layar tanpa berkedip.

“Siapa Clara?”

Rian tidak menjawab.

Endang pun tiba-tiba diam.

Maya langsung memahami keheningan itu.

“Kalian berdua tahu?”

Lastri memegang bahu putrinya.

“Maya…”

Maya menarik napas.

Anehnya, dia tidak menangis.

Setelah pengkhianatan datang bertubi-tubi, rasa sakitnya justru berubah menjadi sesuatu yang dingin.

Rian akhirnya berkata, “Aku bisa menjelaskan soal Clara.”

“Tidak perlu.”

“Maya, hubungan kami tidak seperti yang kamu pikir.”

“Aku bilang tidak perlu.”

Maya menatapnya.

“Karena masalah kita sekarang bukan cuma pernikahan.”

Dia menunjuk dokumen penjualan.

“Kamu mencoba menjual properti yang bukan milikmu.”

Lalu menunjuk laporan keuangan.

“Kamu mengambil keuntungan dari properti itu tanpa persetujuanku.”

Rian mulai panik.

“Kamu mau melaporkan suamimu sendiri?”

Maya tersenyum tipis.

“Lucu.”

“Apa?”

“Ketika mengambil uangku, aku istrimu. Ketika membutuhkan modal, aku istrimu. Ketika memakai rumah orang tuaku, aku istrimu.”

Maya berhenti.

“Tapi ketika orang tuaku dibuang ke gudang, kamu lupa bahwa mereka adalah orang tua dari istrimu.”

Rian terdiam.

Endang mendekat.

“Kamu jangan keterlaluan, Maya. Bagaimanapun Rian suamimu.”

Sastro tiba-tiba tertawa kecil.

Semua orang menoleh.

Lelaki tua itu berjalan menuju meja kayu dekat jendela.

Dia mengusap permukaannya perlahan.

“Dulu saya pikir anak saya terlalu boros membeli rumah semahal ini.”

Matanya berkaca-kaca.

“Saya bilang, buat apa Bapak sama Ibu rumah besar? Rumah kecil juga cukup.”

Maya menunduk.

Sastro menatap Rian.

“Tapi sekarang saya paham. Harga rumah bukan masalahnya.”

Dia menggenggam tangan Maya.

“Yang mahal itu kepercayaan.”

Maya akhirnya menangis.

Bukan karena kehilangan Rian.

Melainkan karena baru menyadari berapa lama orang tuanya menahan penderitaan agar tidak mengganggu hidupnya.

Hari itu, Villa Coral ditutup sementara.

Semua tamu menerima pengembalian uang. Pak Surya memilih menyelesaikan persoalan uang muka melalui jalur hukum dengan Rian. Sementara Pak Aditya mulai mengurus laporan mengenai penggunaan dan upaya pengalihan properti tanpa persetujuan Maya.

Rian berkali-kali mencoba menghubungi Maya.

Tidak pernah dijawab.

Endang bahkan datang ke apartemen Maya seminggu kemudian.

Perempuan itu menangis.

Untuk pertama kalinya, tidak ada kesombongan dalam suaranya.

“Maya, tolong Rian. Kalau Pak Surya melanjutkan perkara, hidup anak saya bisa hancur.”

Maya menatapnya tenang.

“Waktu Ibu mengusir orang tua saya ke gudang, apakah Ibu pernah memikirkan hidup mereka?”

Endang terdiam.

Maya menutup pintu.

Tiga bulan kemudian, papan Villa Coral diturunkan.

Namun Maya tidak menjual rumah itu.

Dia juga tidak menjadikannya tempat tinggal pribadi.

Sastro dan Lastri justru meminta sesuatu yang tidak pernah Maya duga.

“Rumah sebesar ini terlalu sepi kalau cuma untuk kami berdua,” kata Lastri.

Akhirnya mereka mengubah sebagian bangunan menjadi rumah singgah bagi keluarga pasien dari luar kota yang kesulitan mencari tempat tinggal sementara.

Kamar nomor tujuh tetap menjadi kamar Lastri.

Meja kayu dekat jendela tetap menjadi milik Sastro.

Dan mawar putih di halaman belakang kembali dirawat.

Suatu sore, Maya duduk bersama ayahnya memandang laut.

Sastro sedang memperbaiki sebuah jam tua.

“Bapak marah sama Maya?”

“Kenapa?”

“Karena Maya terlambat tahu.”

Sastro tersenyum.

“Orang tua tidak membesarkan anak supaya anak merasa bersalah seumur hidup.”

Dia memasang kembali penutup jam.

“Kami cuma ingin kamu belajar satu hal.”

“Apa?”

Sastro menyerahkan jam itu kepada Maya.

“Kalau jam rusak, kita bisa mengganti mesinnya.”

Dia menatap putrinya.

“Tapi kalau seseorang berkali-kali merusak kepercayaanmu, jangan habiskan hidup hanya untuk memperbaikinya.”

Maya menggenggam jam itu.

Dari halaman belakang terdengar suara Lastri tertawa bersama beberapa keluarga yang baru datang.

Rumah seharga dua puluh tujuh miliar itu akhirnya menjadi sesuatu yang jauh berbeda dari rencana awal.

Bukan vila.

Bukan investasi.

Bukan simbol kekayaan.

Maya menatap sertifikat yang tersimpan di dalam map di sampingnya.

Nama yang tercantum di sana memang namanya.

Namun setelah semua yang terjadi, Maya akhirnya memahami bahwa kepemilikan paling berharga tidak pernah tertulis di atas selembar sertifikat.

Karena rumah bisa direbut.

Uang bisa dicuri.

Tanda tangan bisa dipalsukan.

Tetapi orang yang masih menggenggam tanganmu ketika seluruh hidupmu runtuh, merekalah tempat pulang yang sebenarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang