Kalung perak itu baru beberapa menit berada di tempat sampah ketika ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Dimas, kepala divisi audit internal Rahardjo Group sekaligus satu dari sedikit orang yang tahu siapa diriku sebenarnya.
Semua bukti sudah lengkap. Transfer ke Shandra, pembelian apartemen, manipulasi laporan proyek, sampai rekening atas nama ibunya. Tapi ada sesuatu yang perlu Ibu Aira lihat.
Sebuah foto menyusul.
Aku memperbesarnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, senyumku menghilang.
Foto tersebut memperlihatkan Aris keluar dari kantor notaris bersama seorang pria bernama Bastian Wijaya. Aku mengenalnya. Bastian bukan investor seperti yang selama ini dikatakan Aris.
Dia broker aset bermasalah.
Aku segera menelepon Dimas.
“Mereka merencanakan apa?”
“Pak Aris berusaha menjual lahan Bogor secepat mungkin. Pembelinya sudah menyiapkan uang muka tiga puluh miliar.”
Aku menatap pintu kamar.
Di lantai bawah terdengar suara Laras tertawa.
“Biarkan transaksi itu berjalan.”
Dimas terdiam.
“Ibu yakin?”
“Justru itu yang aku tunggu.”
Aku menutup telepon.
Aris mengira aku sedang menyiapkan pesta ulang tahun kekasihnya.
Dia tidak tahu aku sedang menyiapkan pemakamannya sebagai pengusaha.
Keesokan harinya, vila kami di Puncak berubah menjadi tempat pesta mewah. Dekorasi bunga putih memenuhi halaman belakang. Lampu-lampu kecil dipasang di antara pepohonan. Sebuah meja panjang menghadap pegunungan yang tertutup kabut.
Shandra datang menjelang sore.
Gaun merahnya terlalu mencolok untuk pesta kantor.
Begitu turun dari mobil, matanya langsung mencari Aris.
“Selamat ulang tahun, Shandra,” sapaku.
Wajahnya sempat membeku.
“Mbak Aira?”
“Kenapa kaget?”
“Nggak. Saya kira Mbak nggak datang.”
Aku tersenyum. “Suamiku merayakan ulang tahun sekretaris kesayangannya. Masa istrinya tidak datang?”
Aris muncul dari belakang.
Tatapan paniknya hanya berlangsung sedetik.
“Ra, kamu jadi datang?”
“Kenapa? Mas tidak senang?”
“Bukan begitu.”
Aku mendekati Shandra lalu memeluknya.
Tubuh perempuan itu kaku.
Dari jarak sedekat itu, aku bisa mencium parfum yang sama seperti aroma yang beberapa kali menempel pada jas Aris.
“Hadiah dari Mas Aris bagus?” bisikku.
Shandra langsung menjauh.
“Hadiah?”
Aku menunjuk jam tangan berlian di pergelangan tangannya.
Wajah Aris pucat.
“Oh, ini…” Shandra buru-buru menutupinya. “Saya beli sendiri.”
“Lima ratus juta?”
Semua orang mendadak diam.
Laras yang sedang mengambil foto menghentikan gerakannya.
Ibu mertuaku menatap Aris.
Aku tertawa kecil.
“Tenang. Aku cuma bercanda.”
Aris ikut tertawa, meskipun suaranya terdengar kering.
Beberapa menit kemudian pesta kembali berjalan.
Mereka mulai merasa aman.
Itulah masalah manusia serakah. Begitu bahaya terlihat menjauh sedikit saja, mereka langsung percaya bahwa mereka kebal.
Menjelang pukul delapan malam, Aris berdiri sambil membawa mikrofon.
“Terima kasih semuanya sudah datang. Malam ini sebenarnya bukan cuma ulang tahun Shandra. Saya juga punya kabar besar.”
Aku duduk tenang sambil memegang segelas jus.
Aris tersenyum lebar.
“Proyek Bogor akhirnya mendapatkan investor. Kesepakatannya selesai sore ini.”
Tepuk tangan terdengar.
Ibu mertuaku paling keras.
“Anak Ibu memang hebat!”
Laras berseru, “Traktir mobil baru lagi dong, Mas!”
Semua tertawa.
Aku ikut bertepuk tangan.
Aris memandangku dengan ekspresi penuh kemenangan.
“Dan semua ini tidak mungkin terjadi tanpa kepercayaan istriku.”
Dia menghampiriku.
“Aira telah memberikan kuasa penuh kepada saya.”
Aku berdiri.
“Benar.”
Aku mengambil mikrofon dari tangannya.
“Karena itu, aku juga menyiapkan hadiah.”
Mata Aris berbinar.
“Hadiah?”
Aku mengangguk kepada Dimas yang berdiri di dekat pintu.
Layar besar yang sebelumnya menampilkan foto ulang tahun Shandra mendadak berubah.
Sebuah dokumen muncul.
Suasana langsung sunyi.
Aku membaca judulnya perlahan.
“Perjanjian pengalihan aset dan pengakuan kewajiban utang pribadi.”
Senyum Aris menghilang.
“Apa ini?”
“Dokumen yang kamu tanda tangani tiga minggu lalu.”
Aris merebut mikrofon.
“Aku nggak pernah tanda tangan dokumen seperti itu!”
“Benarkah?”
Halaman berikutnya muncul.
Tanda tangan Aris terlihat jelas.
Di bawahnya ada rekaman video dari ruang rapat perusahaan.
Dalam video itu, Aris sedang menandatangani tumpukan dokumen tanpa membacanya.
Aku masih ingat hari tersebut.
Dia terlalu sibuk membalas pesan Shandra.
“Ini jebakan!” teriaknya.
“Bukan.”
Aku menatapnya.
“Kamu meminta kuasa penuh atas proyek Bogor. Aku memberikannya. Tapi lahan itu sedang menjadi jaminan atas kewajiban pribadi pihak yang mengelolanya.”
“Omong kosong!”
“Baca halaman empat puluh tujuh.”
Dimas memperbesar klausul tersebut.
Wajah Aris kehilangan warna.
Aku melanjutkan.
“Dan sore tadi, kamu menjual aset yang status hukumnya tidak bisa dialihkan tanpa persetujuan pemilik jaminan.”
Bastian yang sejak tadi berdiri di belakang beberapa tamu mulai bergerak menuju pintu.
Dua petugas keamanan perusahaan menghalanginya.
Aku menoleh kepadanya.
“Mau ke mana, Pak Bastian?”
“Aku tidak ada urusan dengan masalah keluarga kalian.”
“Memang tidak.”
Aku tersenyum.
“Tapi Anda punya urusan dengan tiga puluh miliar yang tadi sore masuk ke rekening Aris.”
Aris memandang Bastian.
“Kamu bilang semuanya aman!”
“Aku juga nggak tahu istrimu menjebak kita!”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
Menjebak.
Kata yang menarik.
Seolah aku yang menyuruh suamiku berselingkuh.
Seolah aku yang menyuruhnya mencuri dana perusahaan.
Seolah aku yang memaksanya mencoba menjual aset keluargaku.
Shandra mulai berjalan mundur.
“Shandra.”
Dia berhenti.
“Mau ke mana?”
“Saya… saya nggak tahu apa-apa, Mbak.”
“Tentu.”
Aku mengambil sebuah map.
“Karena itu apartemen di Jakarta Selatan atas namamu pasti jatuh dari langit.”
Wajahnya pucat.
“Dan transfer delapan ratus juta selama enam bulan terakhir mungkin dikirim peri.”
Aris maju.
“Cukup, Aira!”
“Belum.”
Aku menatapnya.
“Aku bahkan belum sampai bagian terbaik.”
Ibu mertuaku mendadak berdiri.
“Aira, kamu jangan kurang ajar! Bagaimanapun juga Aris itu suamimu!”
Aku menoleh kepadanya.
“Benar, Bu. Dan karena dia suamiku, selama ini aku diam ketika dia membiayai seluruh keluarga menggunakan uang perusahaan.”
“Apa maksudmu?”
Layar kembali berubah.
Transfer demi transfer muncul.
Liburan ke Bali.
Tas mewah.
Tagihan kartu kredit.
Uang muka mobil Laras.
Renovasi rumah ibu mertua.
Semuanya berasal dari rekening operasional perusahaan.
Laras mulai menangis.
“Mbak, aku nggak tahu uangnya dari perusahaan!”
“Aku percaya.”
Dia tampak lega.
“Sampai aku membaca percakapanmu dengan ibumu.”
Tangisnya berhenti.
Layar menampilkan tangkapan layar grup keluarga.
Salah satunya berbunyi, Selama sapi perahan itu masih cinta sama Mas Aris, kita aman.
Laras menutup mulut.
Ibu mertuaku terduduk.
Tidak ada seorang pun berbicara.
Aku mendekati mereka.
“Aku tidak marah karena kalian menikmati uangku.”
Suaraku tetap tenang.
“Aku marah karena kalian menganggap kebaikanku sebagai kebodohan.”
Aris tiba-tiba tertawa.
Awalnya pelan.
Kemudian semakin keras.
Semua orang menatapnya.
“Kamu pikir kamu menang?”
Dia mengeluarkan ponselnya.
“Aku sudah memindahkan sebagian uang ke rekening luar negeri. Bahkan kalau kamu laporkan aku, uang itu nggak akan kembali.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum.
“Rekening Singapura?”
Tawanya berhenti.
“Bank Meridian, nomor akhir 7719?”
Aris membeku.
Aku melanjutkan.
“Atau rekening Hong Kong yang kamu buka memakai perusahaan cangkang Narendra Pacific?”
Tangannya mulai gemetar.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Karena orang yang membantumu membuka perusahaan itu bekerja untukku.”
Pintu vila terbuka.
Seorang pria berjas masuk.
Aris mengenalinya.
“Pak Adrian?”
Pria itu mengangguk sopan.
“Selamat malam, Pak Aris.”
Aris hampir menjatuhkan ponselnya.
Adrian adalah konsultan keuangan yang direkomendasikan kepadanya enam bulan lalu.
Dia juga mantan direktur kepatuhan Rahardjo Group.
“Aira…”
Untuk pertama kalinya, Aris memanggil namaku tanpa kemunafikan.
Hanya ketakutan.
“Sejak kapan?”
Aku memandang laki-laki yang telah kunikahi selama tujuh tahun.
“Aku tahu tentang Shandra sejak delapan bulan lalu.”
Shandra menangis.
Aris menggeleng.
“Kalau kamu tahu, kenapa kamu diam?”
“Karena perselingkuhan tidak cukup.”
“Apa?”
“Kalau aku menceraikanmu delapan bulan lalu, kamu akan pergi sebagai laki-laki yang hanya kehilangan istri kaya.”
Aku mendekatinya.
“Tapi aku ingin tahu seberapa jauh kamu akan berjalan kalau semua pintu kubuka.”
Matanya memerah.
“Jadi semuanya…”
“Mobil Laras.”
Aku mengangguk.
“Vila.”
Aku mengangguk lagi.
“Proyek Bogor.”
“Semua.”
Aris memegang kepalanya.
“Kamu gila.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Jangan gila dulu, Aris.”
Aku mengambil mikrofon yang terjatuh di meja.
“Aku ingin kamu hidup lama untuk menikmati neraka yang kamu ciptakan sendiri.”
Suara sirene terdengar dari luar.
Beberapa orang menoleh ke gerbang vila.
Dua mobil berhenti.
Beberapa petugas bersama tim hukum perusahaan memasuki halaman.
Dimas menyerahkan sebuah map tebal kepada mereka.
Aris mundur.
“Aira, dengar dulu. Kita bisa selesaikan ini berdua.”
“Tujuh tahun aku mendengarkanmu.”
“Aku salah.”
“Benar.”
“Aku bisa berubah.”
“Mungkin.”
Aku menatapnya.
“Tapi bukan sebagai suamiku.”
Shandra tiba-tiba berlutut.
“Mbak Aira, tolong. Saya cuma…”
“Cuma mencintai suamiku?”
Dia menangis.
Aku menggeleng.
“Tidak, Shandra. Kamu mencintai kehidupan yang kamu kira bisa Aris berikan.”
Aku menunjuk jam tangannya.
“Jam itu dibeli menggunakan uang yang dicuri.”
Kemudian aku menatap Aris.
“Dan apartemenmu sudah dikosongkan sore tadi.”
Shandra terbelalak.
“Apa?”
“Apartemen itu dibeli atas nama perusahaan.”
Dia menoleh kepada Aris.
“Mas bilang apartemen itu milikku!”
Aris tidak menjawab.
Wajah Shandra berubah.
“Kamu bohong?”
“Shandra, nanti aku jelaskan.”
Perempuan itu menampar Aris.
Suara tamparannya menggema.
Anehnya, justru pada saat itulah aku merasa semuanya selesai.
Bukan ketika polisi datang.
Bukan ketika bukti ditampilkan.
Melainkan ketika semua orang yang selama ini bersekutu karena uang mulai saling menyalahkan begitu uang itu menghilang.
Tiga bulan kemudian, aku berdiri di balkon kantor pusat Rahardjo Group.
Kasus Aris masih berjalan.
Sebagian asetnya dibekukan. Bastian memilih bekerja sama dengan penyidik. Shandra mengembalikan sejumlah barang yang dibeli menggunakan dana perusahaan dan menjadi saksi.
Laras menjual mobilnya.
Ibu mertuaku tidak pernah menghubungiku lagi.
Aku mengira itulah akhir cerita.
Sampai Dimas masuk ke ruanganku pagi itu.
“Ibu Aira.”
“Ada apa?”
Dia meletakkan sebuah amplop di meja.
“Surat dari Pak Aris.”
Aku tidak membukanya.
“Bakar saja.”
“Ada satu hal yang mungkin perlu Ibu tahu.”
Aku menatapnya.
Dimas mengeluarkan dokumen lain.
“Pak Aris mengakui seluruh perbuatannya. Tapi dalam pemeriksaan terakhir, dia juga menyerahkan bukti tentang seseorang.”
“Siapa?”
Dimas terdiam sebentar.
“Ayah Ibu.”
Dunia seolah berhenti.
“Apa maksudmu?”
“Ternyata perusahaan cangkang yang digunakan Pak Aris pertama kali didirikan bertahun-tahun sebelum dia masuk Rahardjo Group.”
Dia mendorong dokumen itu ke arahku.
Nama pemilik manfaat tercetak di sana.
Pramudita Rahardjo.
Ayahku.
Tanganku terasa dingin.
“Mustahil.”
“Pak Aris mengatakan dia awalnya menemukan perusahaan itu secara tidak sengaja. Setelah mengetahui rahasia tersebut, dia mulai menggunakannya untuk memindahkan uang karena yakin keluarga Rahardjo tidak akan berani melaporkannya.”
Aku membuka surat Aris.
Tulisan tangannya memenuhi satu halaman.
Aku memang serakah, Ra. Aku mengkhianatimu dan pantas menerima akibatnya. Tapi satu hal yang tidak pernah kamu mengerti adalah aku bukan orang pertama yang mencuri dari kerajaan keluargamu. Aku hanya orang bodoh yang mengira rahasia ayahmu bisa melindungiku.
Aku menurunkan surat itu.
Di luar jendela, logo besar Rahardjo Group berkilau terkena matahari pagi.
Selama ini aku berpikir sedang membersihkan rumahku dari para pencuri.
Ternyata aku baru saja membuka pintu pertama.
Ponselku berbunyi.
Ayah menelepon.
Aku menatap namanya cukup lama sebelum mengangkatnya.
“Aira,” katanya pelan. “Ayah dengar kamu sudah menerima dokumennya.”
Aku tidak menjawab.
Kemudian ayah mengatakan sesuatu yang membuat darahku serasa berhenti mengalir.
“Jangan percaya semuanya yang Aris katakan.”
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
“Kenapa?”
Di seberang sana terdengar tarikan napas panjang.
“Karena perusahaan itu bukan dibuat untuk mencuri uang keluarga kita.”
Aku menatap dokumen di meja.
“Lalu untuk apa?”
Suara ayah berubah berat.
“Untuk menyembunyikan uang dari orang yang sebenarnya membangun Rahardjo Group.”
Aku berdiri perlahan.
“Ayah yang membangun perusahaan ini.”
“Tidak, Aira.”
Hening beberapa detik.
Kemudian dia berkata,
“Rahardjo Group sebenarnya milik ibumu.”
Aku tidak mampu menjawab.
Ibuku meninggal ketika aku berusia sembilan tahun.
Sepanjang hidup, aku diberi tahu bahwa beliau hanya seorang ibu rumah tangga.
Ayah melanjutkan dengan suara yang hampir berbisik.
“Kalau kamu benar-benar ingin tahu siapa yang mencuri kerajaan keluargamu, pulanglah malam ini. Dan jangan bawa siapa pun.”
Telepon terputus.
Aku menatap pantulan diriku di kaca.
Untuk pertama kalinya sejak perang melawan Aris dimulai, aku tidak merasa seperti pemburu.
Aku merasa seperti seseorang yang baru menyadari bahwa selama ini dirinya tinggal di tengah sarang yang jauh lebih besar.
Aku mengambil kalung perak pemberian Aris yang ternyata masih kusimpan di laci meja. Entah mengapa malam itu aku tidak benar-benar membuangnya. Aku menggenggam liontin kristalnya, lalu tertawa kecil.
Aku pernah mengira kalung murah itu adalah simbol penghinaan terbesar dalam hidupku.
Ternyata aku salah.
Pengkhianatan Aris hanyalah retakan kecil.
Dan melalui retakan itulah akhirnya aku bisa melihat kebohongan yang selama puluhan tahun tersembunyi di balik nama besar keluargaku.
Aku memasukkan surat Aris ke dalam tas dan berjalan menuju pintu.
Malam nanti aku akan menemui ayah.
Bukan sebagai anak perempuan.
Bukan sebagai pewaris Rahardjo Group.
Tetapi sebagai perempuan yang akhirnya memahami satu hal.
Musuh paling berbahaya bukanlah orang yang terang-terangan mengambil milikmu.
Melainkan orang yang membuatmu percaya bahwa semua yang ada di tanganmu sejak awal memang benar-benar milikmu.
