Bayangkan, mantan yang dulu selingkuh tiba-tiba muncul di depan mata. Karena panik, aku sewa teman kerja buat jadi pacar pura-pura. Eh, si mantan makin ngejar sampai ngajak nikah! Pas aku bilang ‘iya’, adik kandungku datang dan bilang dia hamil anak calon suamiku. Apa yang harus aku lakukan?

Perutku sudah bernyanyi lebih merdu daripada penyanyi dangdut semalam ketika suara motor berhenti di depan rumah. Aku yang sedang berdiri di depan tudung saji kosong langsung menoleh penuh harapan.

Siapa tahu Ibu pulang membawa nasi padang.

Ternyata yang muncul Mas Adnan.

Lebih menyebalkan lagi, dia masuk sambil membawa sebungkus sate dan es teh, lalu berjalan melewatiku tanpa dosa.

“Mas, itu buat siapa?”

“Buat aku.”

“Adikmu kelaparan.”

“Masak.”

“Nggak ada bahan.”

“Beli.”

“Nggak punya uang receh.”

“Transfer.”

“Malas.”

Mas Adnan berhenti dan menatapku datar. “Terus maumu apa?”

“Makan sate itu.”

“Enak aja.”

Belum sempat aku merebut bungkus makanan dari tangannya, sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar rumah.

Aku mengernyit.

Jarang sekali ada mobil semewah itu masuk ke gang rumah kami. Bahkan beberapa anak kecil yang sedang bermain langsung berlari mendekat.

Seorang lelaki turun dari mobil.

Jantungku seperti berhenti sesaat.

Tubuh tinggi itu masih sama. Kulit sawo matang, rambut tertata rapi, kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku. Hanya saja sekarang penampilannya jauh lebih dewasa.

Aku mengenali wajah itu bahkan sebelum dia menoleh.

Riki Anggara.

Mantan paling menyebalkan dalam sejarah hidup Althofunnisa.

Aku refleks mundur.

“Mas!”

“Apa?”

“Itu Riki!”

Mas Adnan mengintip dari jendela. “Oh, iya.”

“Kok santai?”

“Terus aku harus salto?”

Aku memukul lengannya.

Riki sudah berjalan menuju pintu.

Panik membuat otakku bekerja tanpa izin. Aku langsung mengambil ponsel dan menghubungi satu-satunya manusia yang terlintas di kepalaku.

Mas Al.

“Assalamualaikum, Nisa. Tumben telepon. Kangen?”

“Datang ke rumahku sekarang!”

“Kenapa?”

“Darurat.”

“Rumahmu kebakaran?”

“Lebih parah.”

“Apa?”

“Mantanku datang.”

Hening.

Lalu terdengar tawanya.

Aku langsung memutus sambungan.

Ketika Riki masuk, aku berusaha memasang wajah biasa.

“Nisa.”

“Riki.”

Dia tersenyum.

Sialnya, senyum itu masih menyebalkan karena masih bagus.

“Apa kabar?”

“Baik. Kamu?”

“Baik.”

Mas Adnan berdiri di antara kami sambil mengunyah sate seperti penonton sinetron.

Riki menjelaskan bahwa dia baru kembali ke kampung beberapa hari lalu setelah bertahun-tahun membantu mengembangkan usaha keluarganya di Pekalongan. Dia mendapatkan alamat rumahku dari teman SMA.

Aku menjawab seperlunya.

Sampai akhirnya dia mengatakan sesuatu yang membuatku ingin memasukkan kepala ke dalam kulkas.

“Aku dengar bulan depan ada reuni. Kamu datang, kan?”

“Belum tahu.”

“Aku berharap kamu datang.”

“Kenapa?”

Riki menatapku lama.

“Karena aku datang terutama untuk bertemu kamu.”

Aku hampir tersedak ludah sendiri.

Untung suara motor berhenti di depan rumah.

Mas Al muncul dengan kaus hitam dan celana jeans. Rambutnya masih agak berantakan.

“Nisa, katanya darurat?”

Aku berdiri cepat.

Entah setan apa yang merasukiku, aku langsung meraih lengannya.

“Kenalin, Ki. Ini pacarku.”

Mas Al membeku.

Mas Adnan berhenti mengunyah.

Riki kehilangan senyum.

Aku mencubit pinggang Mas Al diam-diam.

Dia akhirnya memahami situasi.

“Oh, iya,” katanya sambil tersenyum kaku. “Saya Alfeandra.”

Riki menjabat tangannya.

Tatapan keduanya bertemu cukup lama.

Sejak hari itu, kebohongan kecilku berubah menjadi masalah besar.

Riki bukannya menjauh.

Dia malah semakin sering muncul.

Kadang datang ke minimarket membeli air mineral yang sebenarnya bisa dia dapatkan di toko sebelah rumahnya. Kadang membeli satu bungkus permen dengan uang seratus ribu hanya supaya punya alasan mengobrol denganku.

Dan setiap kali melihat Mas Al, wajahnya langsung berubah.

Mas Al pun semakin menikmati perannya.

“Sayang, nanti pulang kerja mau makan bakso?”

Aku melotot.

Begitu Riki pergi, langsung kupukul lengannya.

“Siapa yang boleh manggil sayang?”

“Namanya juga pendalaman karakter.”

“Pendalaman karakter kepalamu!”

Anehnya, semakin lama aku justru semakin nyaman dengan sandiwara itu.

Mas Al mengantarku pulang setelah shift malam. Dia menungguku ketika hujan. Kadang membawakan gorengan karena tahu aku sering lupa makan.

Semuanya seharusnya hanya pura-pura.

Namun, ada saat-saat tertentu ketika aku mulai lupa batas antara sandiwara dan kenyataan.

Sampai reuni SMA akhirnya tiba.

Aku yang tadinya bersikeras tidak mau datang justru berubah pikiran setelah teman-teman terus mengirim pesan.

Aku datang bersama Mas Al.

Begitu memasuki restoran tempat reuni berlangsung, beberapa teman langsung memandang kami.

Geng sosialita yang dulu mengejek pekerjaanku bahkan langsung menghampiri.

“Nisa? Kamu datang juga?”

“Iya. Kenapa? Harus pakai undangan kerajaan?”

Mereka tertawa kecil.

Salah satu dari mereka melihat Mas Al.

“Pacarmu?”

Mas Al merangkul bahuku santai.

“Iya.”

Aku hampir menginjak kakinya.

Namun, semua perhatian berubah ketika Riki datang.

Dia mengenakan setelan gelap dan terlihat berbeda dari Riki yang kukenal saat SMA.

Aku baru mengetahui malam itu bahwa bisnis batik keluarganya berkembang pesat. Mereka bahkan sudah memasok produk ke beberapa jaringan hotel dan butik.

Mendadak teman-teman yang dulu biasa saja kepadanya menjadi sangat ramah.

Aku tidak peduli.

Sampai Riki meminta mikrofon.

“Aku sebenarnya datang malam ini karena ada sesuatu yang belum selesai sejak bertahun-tahun lalu.”

Ruangan mulai hening.

Perasaanku tidak enak.

Riki berjalan ke arahku.

“Nisa, dulu aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku.”

Aku menahan napas.

“Aku mengkhianati orang yang paling tulus mencintaiku.”

Dia berhenti tepat di depanku.

“Aku tidak datang untuk meminta kamu melupakan semuanya. Aku hanya ingin kesempatan membuktikan bahwa aku sudah berubah.”

Kemudian dia berlutut.

Orang-orang langsung bersorak.

Aku terpaku ketika dia mengeluarkan sebuah cincin.

“Nisa, maukah kamu menikah denganku?”

Dunia seperti berhenti.

Aku melihat Mas Al.

Wajahnya berubah.

Tidak ada senyum jahil seperti biasanya.

“Nisa,” bisiknya, “jangan jawab karena tekanan orang.”

Entah mengapa perkataannya justru membuat pikiranku semakin kacau.

Riki pernah menjadi cinta pertamaku. Lelaki yang pernah membuatku membayangkan pernikahan ketika kami masih terlalu muda untuk memahami arti kesetiaan.

Mungkin manusia memang bisa berubah.

Mungkin kesempatan kedua tidak selalu salah.

Aku menarik napas.

“Iya.”

Sorakan memenuhi ruangan.

Namun, di tengah tepuk tangan itu, kulihat Mas Al berjalan keluar tanpa mengatakan apa pun.

Dadaku mendadak terasa kosong.

Dua bulan kemudian, persiapan pernikahan berjalan cepat.

Keluargaku bahagia. Terutama Ibu yang sudah lama ingin melihatku menikah.

Riki pun berubah menjadi sosok yang sangat perhatian.

Setidaknya di depanku.

Namun, ada satu hal yang mengganggu.

Mas Al mulai menjaga jarak.

Di minimarket, dia hanya bicara soal pekerjaan.

Tidak ada lagi candaan.

Tidak ada lagi ajakan makan bakso.

Tidak ada lagi panggilan “sayang” yang dulu membuatku kesal.

Suatu malam, aku memberanikan diri bertanya.

“Kamu marah?”

“Nggak.”

“Bohong.”

Mas Al sedang menyusun barang di rak. Tangannya berhenti.

“Nisa, aku cuma sedang belajar tahu posisi.”

“Maksudnya?”

Dia menatapku.

“Dulu aku pikir menjadi pacar pura-puramu cuma permainan.”

Aku diam.

“Ternyata aku terlalu serius memainkan perannya.”

Jantungku berdetak keras.

Namun, sebelum aku sempat menjawab, dia tersenyum tipis.

“Sudahlah. Kamu sudah memilih.”

Dia pergi ke gudang.

Aku berdiri sendirian.

Untuk pertama kalinya, aku bertanya pada diriku sendiri.

Apakah aku menerima Riki karena benar-benar mencintainya?

Atau hanya karena ingin membuktikan bahwa perempuan yang pernah dia khianati sekarang masih layak diperjuangkan?

Pertanyaan itu belum terjawab ketika tiga hari sebelum acara lamaran keluarga, seseorang datang ke rumah.

Adikku, Alya.

Dia kuliah di kota dan jarang pulang.

Wajahnya pucat.

Matanya sembap.

“Nisa, aku perlu bicara.”

Kami masuk kamar.

Begitu pintu tertutup, Alya langsung menangis.

“Aku hamil.”

Tubuhku membeku.

“Apa?”

Dia menutup wajah.

Aku memeluknya meskipun pikiranku kacau.

“Siapa ayahnya?”

Alya semakin terisak.

“Nisa, maafin aku.”

“Aku tanya siapa?”

Dia mengangkat wajah.

“Riki.”

Rasanya seperti ada petir menyambar tepat di atas kepalaku.

Aku berdiri.

“Jangan bercanda.”

“Aku nggak bercanda.”

Alya menjelaskan bahwa dia mengenal Riki hampir setahun sebelum Riki kembali mendekatiku. Mereka bertemu di kota tempat Alya kuliah. Riki mengaku tidak memiliki pasangan.

Hubungan itu berlangsung beberapa bulan.

Setelah Riki mulai mendekatiku lagi, dia perlahan menjauhi Alya.

Alya baru mengetahui pertunanganku setelah melihat foto yang dikirim Ibu.

“Aku sudah mencoba menghubunginya,” katanya. “Dia bilang semuanya sudah selesai.”

“Terus kehamilanmu?”

“Dia bilang belum tentu anaknya.”

Tanganku gemetar.

Lelaki yang mengaku berubah ternyata melakukan hal yang jauh lebih buruk.

Malam itu juga aku menghubungi Riki.

“Datang ke rumah.”

“Nisa, sudah malam.”

“Sekarang.”

Mungkin dia mendengar sesuatu dari suaraku karena dua puluh menit kemudian mobilnya berhenti di depan rumah.

Riki masuk.

Begitu melihat Alya, wajahnya berubah.

“Nisa, aku bisa jelaskan.”

Plak.

Tamparanku mendarat di pipinya.

“Jelaskan.”

Riki mengaku pernah berhubungan dengan Alya, tetapi bersikeras hubungan mereka sudah berakhir sebelum dia melamarku.

“Aku serius sama kamu.”

Aku tertawa pahit.

“Serius?”

“Nisa, aku salah.”

“Dulu Andin. Sekarang adikku sendiri.”

“Aku nggak tahu Alya adikmu waktu pertama kenal.”

“Setelah tahu?”

Dia terdiam.

Itulah jawabannya.

Aku melepaskan cincin dari jariku dan meletakkannya di meja.

“Pernikahan batal.”

Riki langsung panik.

“Nisa, jangan ambil keputusan saat emosi.”

“Aku justru baru sadar setelah bertahun-tahun dibodohi.”

Dia mencoba mendekat.

Aku mundur.

“Keluar.”

“Nisa.”

“Keluar dari rumahku!”

Bapak yang sejak tadi menahan amarah akhirnya berdiri dan menyuruh Riki pergi.

Riki masih berusaha menghubungiku selama beberapa hari.

Aku memblokir semuanya.

Namun, masalah belum selesai.

Aku marah kepada Alya.

Sangat marah.

Ada bagian dalam diriku yang merasa dikhianati adik sendiri.

Sampai suatu malam aku mendengar Alya menangis bersama Ibu.

“Alya nggak tahu Kak Nisa masih punya hubungan apa pun dengan Riki, Bu. Riki bilang masa lalunya sudah selesai.”

Aku berhenti di balik pintu.

“Alya takut pulang karena tahu Kak Nisa mau menikah sama dia. Tapi kalau Alya diam, Kak Nisa akan menikahi laki-laki yang sama.”

Saat itulah kemarahanku runtuh.

Yang bersalah bukan Alya karena pernah mempercayai orang yang salah.

Aku pun pernah melakukan hal yang sama.

Keesokan paginya aku memeluk adikku.

“Kita hadapi semuanya sama-sama.”

Alya menangis di bahuku.

Riki akhirnya diminta bertanggung jawab terhadap konsekuensi perbuatannya, tetapi Alya menolak menikah hanya karena tekanan.

“Aku nggak mau menikah dengan laki-laki yang nggak bisa dipercaya hanya demi menutupi malu,” katanya.

Aku mendukung keputusannya.

Beberapa minggu kemudian aku kembali bekerja seperti biasa.

Mas Al sedang menyusun kardus ketika aku datang.

“Mas Al.”

“Hm?”

“Aku sudah nggak jadi nikah.”

Tangannya berhenti.

“Aku tahu.”

“Dari siapa?”

“Sekampung tahu.”

Aku mendengus.

Memang benar. Informasi di kampung lebih cepat daripada internet.

Aku berdiri di sampingnya.

“Dulu kamu bilang terlalu serius memainkan peran.”

Mas Al langsung salah tingkah.

“Lupakan.”

“Nggak bisa.”

“Nisa.”

“Sekarang aku yang mau serius.”

Dia menatapku.

Untuk pertama kalinya, Mas Al yang biasanya banyak bicara justru kehilangan kata-kata.

“Aku nggak mau jadi pelarian,” katanya akhirnya.

“Kamu bukan pelarian.”

“Terus?”

Aku tersenyum.

“Orang yang selama ini ternyata selalu ada di tempat yang benar.”

Mas Al masih diam beberapa detik.

Kemudian dia mengambil satu bungkus mi instan dari rak.

“Kalau begitu, kita mulai dari hal sederhana.”

“Apa?”

“Bayar ini.”

Aku melotot.

“Katanya romantis!”

“Romantis boleh. Utang minimarket jangan.”

Aku tertawa untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu.

Setahun kemudian, aku kembali berdiri di sebuah ruangan yang dipenuhi teman-teman SMA.

Reuni lagi.

Bedanya, kali ini aku datang tanpa rasa minder.

Aku masih bekerja di minimarket milik Haji Sodiq, bahkan sekarang dipercaya mengelola cabang keduanya bersama Mas Al.

Aku tidak memakai pakaian mahal.

Tidak membawa tas bermerek.

Tidak pula datang untuk membuktikan apa pun.

Mas Al berjalan di sampingku.

Di jari manisku ada cincin sederhana.

Kami baru menikah dua minggu sebelumnya.

Seseorang bertanya kepadaku, “Nisa, akhirnya nikah sama Mas Al juga?”

Aku tersenyum.

“Iya.”

“Padahal dulu katanya cuma pacar pura-pura.”

Mas Al langsung menyahut, “Makanya jangan terlalu mendalami peran. Bisa keterusan sampai akad.”

Semua tertawa.

Aku ikut tertawa.

Di seberang ruangan, aku sempat melihat Riki.

Dia datang sendirian.

Tatapan kami bertemu.

Namun, kali ini tidak ada marah.

Tidak ada sakit hati.

Tidak ada keinginan membuktikan bahwa hidupku lebih bahagia daripada hidupnya.

Aku hanya mengangguk kecil lalu berpaling.

Saat itulah aku memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku mengira kemenangan terbesar setelah dikhianati adalah membuat orang yang pernah menyakitiku menyesal kehilangan diriku.

Ternyata bukan.

Kemenangan sebenarnya adalah ketika namanya tidak lagi mampu mengubah suasana hatimu.

Ketika kau tidak membutuhkan penderitaannya untuk merasa bahagia.

Ketika kau akhirnya memilih orang yang menghargaimu, bukan orang yang baru mengejarmu setelah kehilanganmu.

Mas Al menggenggam tanganku.

“Mikirin apa?”

Aku menatap suamiku.

“Nggak ada.”

“Yakin?”

“Yakin.”

Aku tersenyum dan menggenggam tangannya lebih erat.

Dulu aku menyewa seorang teman kerja untuk menjadi pacar pura-pura karena takut terlihat kalah di depan mantan.

Aku tidak pernah menyangka sandiwara konyol itu justru mempertemukanku dengan satu kenyataan yang selama ini berdiri tepat di depan mata.

Kadang orang yang paling tepat tidak datang dengan mobil mewah, cincin mahal, atau janji besar.

Kadang dia cuma datang naik motor, memakai kaus seadanya, lalu bertanya apakah kita sudah makan.

Dan ternyata, orang seperti itulah yang akhirnya terasa seperti rumah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang