Mantanku bilang dokter spesialis itu terlalu tinggi levelnya untuk bidan sepertiku. Beberapa detik kemudian, sang dokter keluar dan memanggilku dengan panggilan kesayangan.

Wajah Alvino masih terbayang di kepalaku bahkan ketika aku sudah berdiri di depan nurse station, membolak-balik status pasien dengan tangan yang bergerak lebih cepat daripada pikiranku.

“Gendis, kamu kenapa?” tanya Mbak Rara, perawat senior yang sedang mengetik laporan di komputer. “Mukamu merah banget.”

“Panas, Mbak.”

“AC dua puluh derajat.”

“Panas batin.”

Mbak Rara langsung menahan tawa. Aku mengambil empat status pasien obstetri yang harus divisite, lalu menjepitnya di dada.

“Dokter Dirandra nunggu di lift,” kataku.

Jari Mbak Rara yang sedang mengetik mendadak berhenti.

“Dokter Dirandra?”

“Iya.”

“Yang tinggi, mukanya kayak nggak pernah punya cicilan itu?”

Aku menatapnya.

“Mbak.”

“Apa? Aku cuma memastikan.”

Aku hendak pergi ketika Mbak Rara memanggil lagi.

“Eh, Ndis.”

Aku menoleh.

“Dia tadi nyariin kamu sebelum poli mulai.”

Langkahku terhenti.

“Nyariin aku?”

“Iya. Tanya, ‘Bidan Gendis masuk hari ini?’ Aku jawab masuk. Terus dia bilang, ‘Bagus.’ Cuma gitu.”

Jantungku seperti jatuh satu lantai.

Aku tertawa kecil untuk menutupi rasa aneh yang tiba-tiba memenuhi dada.

“Paling butuh data pasien.”

“Paling.”

Nada Mbak Rara jelas tidak percaya.

Aku memutuskan kabur sebelum perempuan itu mulai membuat teori konspirasi.

Dirandra sudah berdiri di depan lift ketika aku tiba. Tangannya masuk ke saku jas putih, wajahnya datar seperti biasa. Begitu melihatku datang, matanya melirik jam tangan.

“Satu menit empat puluh detik.”

Aku mengerjap.

“Hah?”

“Kamu bilang jangan lelet. Ternyata lumayan.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kamu ngitung?”

“Dokter harus teliti.”

Pintu lift terbuka. Kami masuk.

Hanya ada kami berdua.

Begitu pintu tertutup, aku langsung menyenggol lengannya dengan map pasien.

“Gula Jawa?”

Dirandra menoleh santai.

“Apa?”

“Kamu sengaja, kan?”

“Apanya?”

“Jangan pura-pura amnesia. Kamu manggil aku Gula Jawa di depan Alvino!”

Sudut bibirnya bergerak sedikit.

Aku langsung menunjuknya.

“Nah. Senyum. Berarti sengaja.”

Dia menahan senyum, lalu menatap angka lantai yang bergerak naik.

“Aku cuma memanggil nama lama.”

“Nama lama apanya? Itu julukan waktu kita kecil!”

“Karena kamu suka nyolong gula merah di dapur nenek.”

“Aku nggak nyolong.”

“Kamu sembunyi di bawah meja sambil makan satu potong.”

“Itu namanya menikmati masa kecil.”

Dirandra akhirnya tertawa pendek.

Suara itu membuatku diam.

Sudah sangat lama aku tidak mendengarnya tertawa seperti itu.

Dirandra bukan orang asing.

Kami tumbuh di kampung yang sama di Solo. Rumah neneknya bersebelahan dengan rumah nenekku. Waktu kecil kami sering bersepeda bersama, bertengkar karena layangan, lalu berdamai gara-gara es lilin.

Dia empat tahun lebih tua dariku.

Ketika aku masuk SMA, Dirandra sudah kuliah kedokteran di Jakarta. Setelah itu dia melanjutkan spesialis obstetri dan ginekologi, lalu mengambil fellowship di Melbourne.

Kami makin jarang bertemu.

Sampai tiga hari lalu dia muncul di rumah sakit tempatku bekerja sebagai dokter pengganti Dokter Haris.

Dan sekarang, dia baru saja mempermalukan sekaligus menyelamatkanku di depan mantan pacarku.

“Dia mantanmu?” tanyanya tiba-tiba.

Lift berhenti di lantai tiga.

Aku keluar lebih dulu.

“Iya.”

“Yang selingkuh?”

Aku menoleh tajam.

“Kok kamu tahu?”

“Bu Rini.”

Aku memejamkan mata.

Tentu saja.

Ibuku dan ibunya masih berteman baik. Berita tentang kehidupanku mungkin berpindah dari Solo ke Jakarta lebih cepat daripada internet fiber optik.

“Kamu nggak usah ikut campur,” kataku.

“Aku belum ikut campur.”

“Tadi itu apa?”

“Menjemput staf untuk visite.”

“Pakai Gula Jawa?”

“Kebetulan lidahku terpeleset.”

Aku mendengus.

Pembohong.

Visite berjalan normal selama hampir satu jam. Dirandra bekerja jauh berbeda dari kesan dinginnya. Pada pasien, dia sabar. Dia mendengar sampai selesai, menjelaskan dengan bahasa sederhana, bahkan beberapa kali membungkuk agar sejajar dengan pasien yang sedang duduk.

Aku memperhatikan tanpa sadar.

Ada satu pasien bernama Ibu Lastri, usia tiga puluh delapan tahun, hamil anak pertama setelah sebelas tahun menikah. Tekanan darahnya tinggi dan dia harus dirawat untuk observasi.

“Saya takut, Dok,” katanya sambil memegang perut.

Dirandra menarik kursi.

“Takut itu wajar, Bu. Tapi kita jangan kalah sama takut. Yang bisa kita kontrol sekarang adalah tekanan darah, istirahat, obat, dan pemeriksaan janin.”

“Anak saya aman?”

“Kita sedang menjaga supaya ibu dan bayi tetap aman.”

Dia tidak memberikan janji kosong.

Aku menyukai itu.

Keluar dari kamar Ibu Lastri, Dirandra tiba-tiba berkata, “Kamu masih sama.”

“Apa?”

“Kalau gugup, ujung map kamu diremas.”

Aku menunduk.

Benar. Sudut map pasien yang kupegang sudah kusut.

“Kamu perhatiin dari kapan?”

“Dari dulu.”

Aku belum sempat membalas ketika ponselku bergetar.

Pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Jangan terlalu percaya sama dokter itu. Kamu nggak tahu kenapa dia sebenarnya datang ke rumah sakit ini.

Aku berhenti berjalan.

Dirandra menoleh.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Aku memasukkan ponsel ke saku.

Namun, beberapa detik kemudian masuk foto.

Dirandra sedang berdiri bersama seorang perempuan cantik berambut panjang di depan sebuah gedung rumah sakit di luar negeri. Perempuan itu memegang lengannya dengan akrab.

Di bawah foto ada pesan lain.

Dokter spesialis itu sudah punya pasangan. Jangan mimpi ketinggian.

Aku langsung tahu siapa pengirimnya.

Alvino.

Konyol.

Aku tidak sedang bermimpi apa pun.

Setidaknya itulah yang kukatakan pada diriku sendiri.

Siang itu aku bertemu Alvino lagi di kantin. Aku sedang membeli teh ketika dia duduk tanpa izin di depanku.

“Kamu masih sama ya,” katanya.

“Apa?”

“Mudah terpesona.”

Aku meletakkan gelas.

“Kalau tujuanmu datang ke sini cuma mau ganggu hidupku, mending cari rumah sakit lain.”

Alvino terkekeh.

“Aku cuma kasih peringatan.”

“Aku nggak butuh.”

“Gendis, dunia dokter beda sama dunia bidan.”

Aku menatap matanya lurus.

“Dan?”

“Kamu tahu keluarga Dirandra siapa?”

Aku diam.

“Bapaknya pemilik jaringan klinik. Kakaknya konsultan di Singapura. Dia sekolah luar negeri. Kamu?”

Dia menunjuk seragamku dengan dagu.

“Bidan rumah sakit swasta. Ayahmu pensiunan guru. Ibumu jual katering rumahan.”

Aku mengepalkan tangan di bawah meja.

Dulu kalimat seperti itu akan melukaiku.

Dua tahun lalu, ketika kami masih pacaran, Alvino sering bercanda tentang pekerjaanku.

Katanya bidan cuma perawat persalinan.

Katanya penghasilanku tidak akan pernah menyamai orang di bidang marketing medis.

Aku menertawakan semuanya karena mengira itu candaan.

Sampai suatu hari aku menemukan dia berselingkuh dengan supervisor regionalnya sendiri.

Saat ketahuan, dia malah berkata aku terlalu sibuk dengan pasien sampai lupa menjadi perempuan.

Butuh waktu lama bagiku untuk mengerti bahwa penghinaan yang dibungkus candaan tetaplah penghinaan.

Aku berdiri.

“Mas Alvino.”

Dia menatapku.

“Aku nggak pernah malu jadi bidan.”

Senyumnya hilang sedikit.

“Aku ada saat seorang ibu takut melahirkan. Aku pegang tangannya. Aku bantu dia bernapas. Aku ikut menjaga dua nyawa sekaligus. Kalau menurutmu pekerjaan itu rendah, masalahnya bukan pada profesiku.”

Aku mengangkat gelas.

“Masalahnya ada di cara kamu melihat manusia.”

Aku pergi meninggalkannya.

Sore hari, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Ibu Lastri tiba-tiba mengalami kejang.

Alarm berbunyi.

Orang-orang berlari.

Aku yang kebetulan paling dekat langsung masuk kamar. Tekanan darahnya melonjak. Kondisinya berubah cepat menjadi emergensi obstetri.

“Panggil dokter!” teriakku.

Perawat lain berlari.

Aku mengatur posisi pasien dan memastikan jalan napas sambil terus memanggil namanya.

Beberapa detik kemudian Dirandra masuk.

Wajah santainya lenyap.

“Gendis, laporan.”

Aku menyebutkan tekanan darah, usia kehamilan, hasil observasi terakhir, obat yang sudah diberikan.

Dia langsung mengambil keputusan.

“Kita siapkan tindakan segera. Hubungi kamar operasi.”

Semua bergerak cepat.

Tidak ada ruang untuk takut.

Tidak ada waktu untuk berpikir soal Alvino.

Aku hanya mengikuti protokol, membantu tim, menjaga keluarga pasien tetap mendapat informasi.

Di lorong menuju ruang tindakan, suami Ibu Lastri menangis.

“Dok, tolong istri saya.”

Dirandra berhenti sebentar.

“Kami akan lakukan yang terbaik.”

Tangannya menepuk bahu pria itu.

Lalu kami masuk.

Hampir dua jam kemudian, ibu dan bayinya berhasil distabilkan.

Saat aku keluar, kakiku terasa lemas.

Aku duduk di bangku lorong.

Dirandra keluar beberapa menit kemudian, melepas penutup kepalanya.

Dia duduk di sebelahku.

Untuk beberapa saat kami hanya diam.

“Kamu bagus tadi,” katanya.

“Kerja tim.”

“Gendis.”

“Hm?”

“Kamu bagus.”

Aku menatapnya.

Tidak ada candaan.

Tidak ada nada menggoda.

Hanya penghargaan.

Entah kenapa dua kata sederhana itu terasa lebih menyentuh dibanding semua pujian yang pernah diberikan Alvino selama tiga tahun kami berpacaran.

“Terima kasih,” jawabku pelan.

Dirandra menyandarkan kepala ke dinding.

“Makanya aku kesal dengar orang bilang kamu beda level sama dokter.”

Aku langsung menoleh.

“Kamu dengar?”

“Semua.”

“Dari awal?”

“Hampir.”

Wajahku panas.

“Kenapa nggak langsung keluar?”

“Aku penasaran kamu bakal lempar map atau nggak.”

Aku memukul lengannya pelan.

“Nyebelin.”

Dia tertawa.

Aku ragu sebentar sebelum bertanya, “Perempuan di foto itu siapa?”

Dia menoleh cepat.

“Foto?”

Aku menunjukkan pesan Alvino.

Dirandra membaca, lalu tertawa begitu keras sampai seorang perawat yang lewat menoleh.

“Kenapa?”

“Itu dr. Helena.”

“Terus?”

“Dia sudah menikah.”

Dadaku terasa sedikit lega, dan aku membenci diriku karena menyadarinya.

Dirandra melanjutkan, “Sama perempuan.”

Aku tersedak ludah sendiri.

Dia masih tertawa.

“Alvino bahkan stalking yang benar aja nggak bisa.”

Aku memelototinya.

“Kamu jangan senang dulu. Aku nanya bukan karena cemburu.”

“Aku nggak bilang kamu cemburu.”

“Tatapanmu bilang.”

“Perasaanmu saja.”

Keesokan harinya masalah baru muncul.

Manajer pelayanan memanggilku.

Di ruangannya sudah ada kepala keperawatan dan bagian SDM.

Aku langsung merasa tidak enak.

“Gendis,” kata Bu Ratna, “kami menerima laporan bahwa kamu bersikap tidak profesional terhadap tamu perusahaan farmasi kemarin.”

Aku membeku.

“Tamu?”

“Saudara Alvino.”

Tentu saja.

Dia melaporkanku.

“Katanya kamu mengeluarkan kata-kata tidak pantas dan memanfaatkan kedekatan dengan dokter untuk mempermalukannya.”

Aku menarik napas.

“Ada saksi?”

“Katanya beberapa detailer melihat.”

Pintu ruangan tiba-tiba diketuk.

Dirandra masuk.

Semua orang berdiri.

“Maaf, Dok,” kata Bu Ratna. “Kami sedang ada evaluasi staf.”

“Saya tahu.”

Dia meletakkan sebuah flashdisk di meja.

“Makanya saya datang.”

Bu Ratna tampak bingung.

“Apa ini?”

“Rekaman CCTV koridor poliklinik.”

Jantungku berdetak keras.

Dirandra menarik kursi.

“Sebelum rumah sakit memberi teguran kepada tenaga medis, sebaiknya lihat siapa yang menghalangi jalan siapa.”

Rekaman diputar.

Terlihat jelas Alvino berkali-kali memblokir jalanku.

Tidak ada suara, tapi gesturnya cukup.

Lalu muncul rekaman kamera kantin.

Aku tidak tahu ada CCTV tepat di sudut itu.

Bu Ratna menonton sampai selesai.

Ekspresinya berubah.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kami akan klarifikasi dengan pihak vendor.”

Aku baru hendak mengucapkan terima kasih ketika Dirandra mengeluarkan satu dokumen lagi.

“Ada satu hal tambahan.”

Dia menyerahkannya kepada Bu Ratna.

“Saya meminta bagian pengadaan memeriksa akses sales representative itu.”

Wajah Bu Ratna berubah serius.

“Ada apa?”

“Dia beberapa kali masuk area staf tanpa izin dan meminta informasi jadwal dokter.”

Aku menatap Dirandra.

Dia ternyata memperhatikan lebih banyak dari yang kukira.

Dua hari kemudian, Alvino dilarang melakukan kunjungan promosi sementara sampai evaluasi vendor selesai.

Dia menungguku di area parkir sore itu.

Kali ini wajahnya tidak arogan.

“Kamu puas?”

Aku menatapnya.

“Apa maksudmu?”

“Kamu bikin aku hampir kehilangan kerja.”

“Aku nggak melakukan apa-apa.”

“Dokter itu yang melakukan semuanya karena kamu.”

Aku menghela napas.

“Mas, kamu dibatasi karena tindakanmu sendiri.”

Dia tertawa pahit.

“Hebat. Sekarang udah berani.”

“Aku dari dulu berani. Cuma dulu aku terlalu sayang sama kamu sampai sering memilih diam.”

Wajahnya berubah.

“Gendis.”

“Apa?”

“Aku sebenarnya masih—”

“Jangan.”

Satu kata itu keluar sebelum dia menyelesaikan kalimat.

Aku menatapnya untuk terakhir kali tanpa marah.

Dan ternyata, tidak marah jauh lebih melegakan.

“Aku sudah selesai dua tahun lalu. Cuma butuh waktu sampai hari ini untuk benar-benar sadar.”

Aku berjalan pergi.

Di dekat pintu lobi, Dirandra berdiri sambil memegang dua gelas kopi.

Dia menyodorkan satu kepadaku.

“Gula aren.”

Aku menatap label gelas.

“Kamu serius?”

“Cocok buat Gula Jawa.”

Aku ingin protes, tapi akhirnya tertawa.

Kami berjalan ke taman kecil belakang rumah sakit.

Ada sesuatu yang sejak beberapa hari lalu menggangguku.

“Dir.”

“Hm?”

“Kenapa kamu sebenarnya datang ke sini?”

Dia berhenti.

Aku ikut berhenti.

“Kamu dokter spesialis tetap di rumah sakit besar. Nggak mungkin cuma iseng jadi pengganti beberapa hari.”

Wajahnya berubah sedikit.

Untuk pertama kalinya, Dirandra tampak gugup.

Dia menatap kopi di tangannya.

“Aku memang diminta menggantikan Dokter Haris.”

“Terus?”

“Tapi aku yang mengajukan diri.”

“Kenapa?”

Dia mengangkat wajah.

“Karena aku tahu kamu kerja di sini.”

Aku terdiam.

Suara kendaraan dari jalan besar terdengar jauh.

“Apa?”

“Waktu Bu Rini cerita kamu batal menikah dua tahun lalu, aku hampir pulang.”

Jantungku berdegup makin cepat.

“Tapi waktu itu aku masih fellowship.”

Dia tersenyum kecil.

“Aku pikir kalau pulang cuma buat datang lalu pergi lagi, itu egois.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Dirandra merogoh saku jasnya, lalu mengeluarkan sesuatu.

Bukan cincin.

Bukan benda romantis.

Sebuah bungkus kecil gula merah.

Aku menatapnya lama.

“Ini apaan?”

“Nenekmu kasih waktu aku pulang ke Solo bulan lalu.”

Aku tertawa tidak percaya.

“Katanya dulu ada anak perempuan yang suka nyolong gula dari dapurnya.”

“Aku sudah bilang itu bukan nyolong.”

“Katanya juga anak perempuan itu sekarang terlalu sibuk menjaga orang lain sampai lupa menjaga hatinya sendiri.”

Mataku mendadak panas.

Dirandra menarik napas.

“Aku nggak datang buat menyelamatkan kamu, Gendis. Kamu nggak butuh diselamatkan.”

Dia menatapku lurus.

“Aku cuma datang karena sejak dulu, aku selalu ingin berdiri di samping kamu. Kalau sekarang kamu belum siap, aku bisa tunggu. Kalau ternyata kamu nggak pernah punya perasaan yang sama, aku juga akan terima.”

Aku menatap pria yang dulu sering menarik kepang rambutku saat kecil, yang sekarang berdiri di hadapanku dengan jas putih dan ekspresi paling serius yang pernah kulihat.

Tiba-tiba aku tertawa.

Dirandra mengernyit.

“Kenapa?”

“Alvino kemarin bilang dokter spesialis terlalu tinggi levelnya buat bidan sepertiku.”

Wajah Dirandra berubah dingin.

“Dia bilang begitu?”

Aku mengangguk.

Dia mendekat satu langkah.

“Kalau begitu, dia salah konsep.”

“Konsep apa?”

“Hubungan manusia bukan sistem kasta rumah sakit.”

Aku tertawa lagi.

Dirandra tersenyum.

“Dokter, bidan, perawat, petugas kebersihan, pasien. Semua punya peran. Gelar bukan ukuran siapa yang pantas berdiri di samping siapa.”

Aku menunduk menatap gula merah di tanganku.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa tidak sedang dinilai.

Bukan dari pekerjaanku.

Bukan dari keluargaku.

Bukan dari statusku.

Aku hanya dilihat sebagai Gendis.

“Dir.”

“Hm?”

“Aku belum tahu jawabannya.”

Dia mengangguk.

“Tidak apa-apa.”

“Tapi kalau kamu mau ngajak aku makan malam…”

Alisnya naik.

“…aku mungkin bisa mempertimbangkan.”

Dirandra tersenyum lebar.

Senyum yang sangat berbeda dari wajah dingin yang dikenal seluruh rumah sakit.

“Besok?”

“Besok aku jaga malam.”

“Lusa.”

“Lusa aku pulang ke Solo.”

“Aku antar.”

Aku meliriknya.

“Kamu agresif juga.”

“Dua puluh tahun kenal kamu. Masa aku harus mulai dari perkenalan lagi?”

Aku baru akan membalas ketika ponselnya berbunyi.

Dirandra mengangkat.

“Iya, Bu.”

Aku bisa mendengar suara perempuan dari seberang meski tidak jelas.

Wajahnya berubah pasrah.

“Iya, sudah ketemu.”

Aku mulai curiga.

“Belum, Bu. Jangan sekarang.”

Aku menyipitkan mata.

Dia menjauh sedikit.

“Iya, Bu Rini. Gendis ada di sini.”

Mataku membesar.

Itu ibuku.

“Dirandra!”

Dia langsung mematikan telepon.

Aku menatapnya tajam.

“Kalian kongkalikong?”

“Tidak.”

“Bohong.”

“Sedikit.”

Aku mengejarnya sambil mengangkat map pasien yang masih kubawa.

Dirandra lari sambil tertawa.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku tertawa sampai perutku sakit.

Dan saat itu aku akhirnya mengerti sesuatu.

Kemenangan terbesarku bukan membuat Alvino terdiam.

Bukan pula ketika seorang dokter spesialis memanggilku dengan panggilan kesayangan di depannya.

Kemenangan terbesarku adalah ketika aku tidak lagi membutuhkan siapa pun untuk membuktikan bahwa aku berharga.

Aku tetap Gendis.

Seorang bidan.

Seorang perempuan yang pernah diremehkan, dikhianati, dan dibuat meragukan dirinya sendiri.

Tapi sekarang aku tahu, level seseorang tidak pernah ditentukan oleh gelar di depan namanya.

Melainkan oleh bagaimana dia memperlakukan orang lain ketika tidak ada keuntungan yang bisa didapatkan darinya.

Dan mungkin, hanya mungkin, laki-laki yang sejak kecil memanggilku Gula Jawa itu memang datang bukan untuk menaikkan level hidupku.

Dia datang karena sejak awal, dia tidak pernah menganggap kami berada di level yang berbeda.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang