“Kamu cuma ibu tirinya, sedangkan dia ibu kandungnya. Jadi, mengalahlah!”
Kalimat itu keluar dari mulutku sendiri tiga hari lalu. Saat mengucapkannya, aku merasa sedang membela sesuatu yang benar. Aku bahkan tidak menyadari bahwa pada saat yang sama, aku sedang menghancurkan perempuan yang selama sebelas tahun menjaga keluargaku tanpa pernah meminta pengakuan apa pun.
Namaku Arga. Nadia adalah istriku. Sherin adalah putriku dari pernikahan pertama.
Dan perempuan yang kusebut sebagai ibu kandung Sherin adalah Laras, mantan istriku yang menghilang ketika Sherin baru berusia dua tahun.
Sebelas tahun kemudian, Laras tiba-tiba kembali.

Dengan air mata, penyesalan, dan cerita bahwa selama ini keadaanlah yang memaksanya pergi.
Sherin langsung menerimanya.
Aku pun percaya.
Hanya Nadia yang terlihat berhati-hati.
Dan karena kehati-hatiannya itulah kami menuduhnya cemburu.
Aku masih berdiri di depan kamar Nadia yang kosong ketika suara pintu depan terbuka.
“Papa?”
Sherin baru pulang.
Gadis berusia tiga belas tahun itu berjalan masuk sambil membawa beberapa kantong belanja. Di belakangnya muncul Laras dengan pakaian mahal dan senyum lebar.
“Kok Papa sudah pulang?” tanya Sherin.
Mataku tertuju pada kantong-kantong belanja di tangan mereka.
“Dari mana?”
“Mall. Mama beliin aku sepatu.”
Sherin tersenyum bahagia sambil memeluk Laras.
Entah kenapa pemandangan itu justru membuat dadaku terasa tidak nyaman.
“Arga, jangan pasang wajah begitu,” ujar Laras sambil tertawa. “Sekali-sekali anakmu dimanjakan.”
“Uangnya dari mana?”
Senyum Laras berubah tipis.
“Ya ampun. Baru segitu saja ditanya.”
Sherin langsung memasang wajah kesal.
“Papa kenapa, sih? Waktu Mama Nadia masih di sini, Papa juga enggak pernah ribut soal uang.”
Nama Nadia membuat ruangan mendadak sunyi.
“Jangan panggil dia Mama lagi,” kata Laras pelan.
Sherin menoleh.
Laras tersenyum dan membelai rambutnya.
“Sekarang Mama sudah kembali.”
Aku melihat perubahan kecil di wajah Sherin. Hanya sepersekian detik, tetapi aku menangkapnya.
Dia tidak menjawab.
Malam itu, aku tidak bisa tidur.
Sekitar pukul sebelas, ponselku berbunyi. Pesan dari bank.
Ada transaksi kartu tambahan sebesar dua puluh delapan juta rupiah.
Aku langsung duduk.
Kartu itu dulu kuberikan kepada Nadia untuk kebutuhan rumah tangga. Tetapi Nadia hampir tidak pernah menggunakannya untuk kepentingan pribadi.
Setelah dia pergi, kartu itu tertinggal di laci.
Aku membuka aplikasi bank.
Tiga hari terakhir sudah ada transaksi hampir enam puluh juta.
Aku keluar kamar dan menemukan Laras sedang duduk di dapur sambil memainkan ponselnya.
“Laras.”
Dia terkejut.
“Kartu kreditku ada sama kamu?”
Wajahnya berubah.
“Oh, itu.”
“Dari mana kamu ambil?”
“Sherin kasih.”
Aku menatapnya.
“Kenapa kamu pakai tanpa izin?”
Laras berdiri.
“Arga, aku ini ibu anakmu. Aku cuma beli beberapa kebutuhan Sherin.”
“Dua puluh delapan juta untuk kebutuhan Sherin?”
“Jangan mulai menghitung-hitung uang denganku.”
“Aku cuma bertanya.”
Dia mendekat.
“Dulu Nadia bisa pakai uangmu, kenapa aku enggak?”
“Nadia istriku.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Laras langsung diam.
Aku pun terdiam.
Baru saat itulah aku sadar bahwa selama beberapa hari terakhir, aku terus berbicara seolah Nadia sudah bukan bagian dari hidupku. Padahal secara hukum, secara kenyataan, perempuan itu masih istriku.
Laras tersenyum sinis.
“Kalau begitu, kenapa kamu mengusirnya demi aku?”
Aku tidak mampu menjawab.
Keesokan paginya, aku pergi ke rumah sakit tempat Nadia bekerja.
Aku baru tahu dia mengambil cuti panjang.
“Dokter Nadia tidak memberi tahu mau ke mana, Pak,” kata petugas administrasi.
“Nomornya?”
“Nomornya masih sama.”
Aku sudah menelepon puluhan kali.
Tidak pernah diangkat.
Saat hendak pergi, seorang dokter bernama Raka menghampiriku.
“Kamu suaminya Nadia?”
Aku mengangguk.
Tatapannya dingin.
“Nadia pernah bilang sesuatu tentang Laras?”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Raka membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto.
Di dalam foto itu terlihat Laras sedang duduk di sebuah kafe bersama seorang pria.
Tanggalnya dua minggu sebelum Laras muncul di rumah kami.
“Siapa pria itu?”
“Namanya Dimas.”
Aku merasa tengkukku dingin.
“Hubungannya dengan Laras?”
Raka menatapku beberapa detik sebelum menjawab.
“Suaminya.”
Dunia seolah berhenti.
“Apa?”
“Mereka menikah empat tahun lalu.”
Aku merampas ponsel itu hampir tanpa sadar.
“Enggak mungkin.”
“Nadia menemukan ini setelah Laras mendekati Sherin.”
Aku mengangkat kepala.
“Kenapa Nadia enggak bilang?”
“Dia mencoba.”
Seketika aku teringat malam pertengkaran kami.
Nadia berdiri di ruang keluarga sambil memegang sebuah amplop.
“Mas, aku minta kamu jangan langsung percaya sama Laras. Ada sesuatu yang perlu kamu lihat.”
Tapi aku bahkan tidak membuka amplop itu.
Sherin menangis karena merasa Nadia ingin memisahkannya dari ibu kandungnya.
Dan aku marah.
“Kamu cuma ibu tirinya, dan dia ibu kandungnya. Jadi, mengalahlah!”
Wajah Nadia saat itu tidak marah.
Justru terlalu tenang.
“Baik,” katanya. “Aku mengalah.”
Aku baru memahami arti kalimat itu sekarang.
“Di mana Nadia?” tanyaku.
Raka menggeleng.
“Kalaupun aku tahu, aku enggak yakin punya hak memberitahumu.”
Aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.
Begitu masuk rumah, aku mendengar suara Laras dari ruang kerja.
Dia sedang menelepon seseorang.
“Tenang saja. Sertifikatnya belum aku dapat.”
Langkahku berhenti.
“Arga masih curiga.”
Aku mendekat perlahan.
“Kalau rumah ini sudah atas nama Sherin, urusannya lebih gampang.”
Jantungku berdegup keras.
Aku membuka pintu.
Laras terlonjak.
Ponselnya hampir jatuh.
“Ngomong sama siapa?”
“Teman.”
“Dimas?”
Wajahnya seketika pucat.
Untuk pertama kalinya, Laras tidak punya jawaban.
Aku meletakkan foto yang dikirim Raka di atas meja.
“Empat tahun menikah?”
Laras menatap foto itu lama.
Kemudian sesuatu yang mengejutkanku terjadi.
Dia tertawa.
“Jadi Nadia menyelidikiku?”
“Jawab aku!”
“Ya. Aku menikah sama Dimas.”
Aku merasa darah naik ke kepala.
“Lalu kenapa kamu datang ke sini?”
“Karena aku ibu Sherin.”
“Jangan bohong!”
Laras menatapku tajam.
“Baik. Kamu mau kebenaran?”
Dia mengambil tasnya.
“Dimas punya utang. Banyak. Aku tahu rumah ini sebagian akan menjadi milik Sherin kalau sesuatu terjadi padamu. Aku cuma butuh kamu mengubah beberapa dokumen.”
Aku nyaris tidak percaya mendengarnya.
“Kamu memanfaatkan anakmu sendiri?”
“Jangan sok suci, Arga. Kamu juga memanfaatkan Nadia.”
Aku membeku.
“Apa maksudmu?”
“Kamu menikahi perempuan itu karena butuh seseorang menjaga Sherin. Jangan bilang kamu enggak tahu.”
Aku ingin menyangkal.
Tapi tidak bisa.
Pada tahun-tahun pertama pernikahan, memang itulah yang kulakukan.
Aku sibuk membangun perusahaan. Nadia yang mengantar Sherin sekolah, menemaninya demam, menghadiri pertemuan orang tua, mengajari matematika, bahkan tidur di lantai kamar Sherin ketika anak itu takut petir.
Aku menerima semuanya seolah itu kewajibannya.
Laras berjalan keluar.
Namun sebelum mencapai pintu, seseorang berdiri di sana.
Sherin.
Wajah anakku pucat.
Tangannya gemetar.
“Jadi Mama pulang karena rumah?”
Laras terdiam.
“Sherin, dengarkan Mama.”
“Jawab!”
Aku belum pernah mendengar Sherin berteriak seperti itu.
Laras mencoba mendekat, tetapi Sherin mundur.
“Aku anak Mama atau jalan buat dapat uang?”
“Bukan begitu.”
Sherin menangis.
“Keluar.”
“Sherin.”
“Keluar!”
Laras akhirnya pergi.
Malam itu Sherin mengunci diri di kamar.
Aku duduk di depan pintunya hampir satu jam.
Lalu terdengar suaranya.
“Pa.”
“Iya?”
“Kenapa Mama Nadia enggak pulang?”
Pertanyaan itu terasa seperti pisau.
“Papa enggak tahu.”
“Papa cari dia.”
Aku menunduk.
“Papa sudah cari.”
Pintu terbuka sedikit.
Mata Sherin bengkak.
“Aku jahat sama Mama Nadia.”
Aku memeluknya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, putriku menangis di dadaku seperti anak kecil.
“Aku bilang dia bukan mamaku,” isaknya. “Padahal waktu aku sakit, yang tidur di rumah sakit Mama Nadia. Waktu aku pertama menstruasi, aku telepon Mama Nadia. Waktu aku takut masuk SMP, aku juga cerita sama dia.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Karena setiap kalimat Sherin juga sedang mengadiliku.
Dua minggu berlalu.
Tidak ada kabar dari Nadia.
Sampai sebuah amplop datang.
Surat gugatan cerai.
Tanganku gemetar ketika membacanya.
Di dalamnya juga ada surat untuk Sherin.
Bukan surat panjang.
Nadia hanya menulis bahwa menjadi ibu bagi Sherin adalah salah satu bagian terbaik dalam hidupnya. Bahwa hubungan mereka tidak membutuhkan darah untuk menjadi nyata. Tetapi Nadia juga meminta Sherin belajar bahwa mencintai seseorang bukan berarti berhak menyakitinya lalu berharap orang itu akan selalu menunggu.
Sherin menangis semalaman.
Aku akhirnya mengetahui Nadia berada di Yogyakarta setelah Raka memberitahuku bahwa dia pindah sementara untuk bergabung dengan sebuah program kesehatan ibu dan anak.
Aku pergi ke sana.
Aku menemukan Nadia di sebuah kafe kecil dekat rumah sakit.
Dia sedang duduk bersama seorang pria.
Raka.
Mereka tertawa.
Aku berhenti beberapa meter dari meja mereka.
Untuk pertama kalinya aku melihat Nadia tertawa selepas itu.
Selama menjadi istriku, aku bahkan lupa kapan terakhir kali melihat wajahnya sebahagia itu.
Nadia melihatku.
Senyumnya menghilang.
“Mas Arga?”
“Aku perlu bicara.”
Raka berdiri.
Namun Nadia menyentuh lengannya.
“Enggak apa-apa.”
Gerakan kecil itu menusukku lebih dalam daripada yang kuduga.
Aku duduk di hadapannya.
“Laras sudah pergi.”
Nadia hanya mengangguk.
“Kamu benar tentang semuanya.”
“Aku enggak datang ke sini untuk mendengar itu.”
“Aku minta maaf.”
Nadia menatapku.
“Aku tahu.”
“Aku ingin kamu pulang.”
Dia tersenyum kecil.
“Pulang ke mana?”
“Rumah kita.”
“Rumah itu enggak pernah benar-benar jadi rumahku, Mas.”
Aku terdiam.
“Aku punya kamar sendiri. Punya jadwal sendiri. Bahkan dalam keluargaku sendiri, aku selalu harus ingat bahwa posisiku bisa digantikan kapan saja oleh kata ibu kandung.”
“Nadia…”
“Sebelas tahun aku enggak pernah minta Sherin memilih aku. Tapi sekali Laras datang, kalian memintaku mundur.”
Air mataku hampir jatuh.
“Sherin merindukanmu.”
“Aku juga merindukan Sherin.”
“Kalau begitu pulang.”
Nadia menggeleng.
“Aku bisa tetap menyayanginya tanpa kembali menjadi istrimu.”
Saat itulah aku melihat cincin kecil di jari manis tangan kanannya.
Aku menatap Raka.
Nadia mengikuti arah pandanganku.
“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Entah kenapa aku merasa lega.
“Tapi mungkin suatu hari nanti bisa seperti yang kamu pikirkan,” lanjutnya.
Dadaku langsung kosong.
Nadia berdiri.
“Aku pernah menunggumu memilihku, Mas. Bertahun-tahun. Sekarang aku memilih diriku sendiri.”
Perceraian kami selesai enam bulan kemudian.
Nadia tidak pernah kembali menjadi istriku.
Namun dia tetap hadir dalam hidup Sherin.
Kadang mereka makan bersama. Kadang Sherin menginap di apartemennya. Nadia bahkan tetap datang ketika Sherin memenangkan lomba debat pertamanya.
Dua tahun kemudian, Sherin pulang dari sekolah membawa sebuah undangan.
Dia meletakkannya di depanku.
Undangan pernikahan Nadia dan Raka.
Aku menatap nama mereka cukup lama.
“Papa sedih?” tanya Sherin.
Aku tersenyum tipis.
“Sedikit.”
Sherin menggenggam tanganku.
“Aku mau datang.”
“Datanglah.”
“Papa?”
Aku menarik napas.
“Aku juga datang.”
Di hari pernikahan itu, aku melihat Nadia berjalan dengan senyum yang tidak pernah bisa kuberikan kepadanya.
Sherin berdiri di sampingku sambil menangis bahagia.
Setelah acara selesai, dia menghampiri Nadia dan memeluknya erat.
“Selamat, Ma.”
Nadia membeku.
Aku pun demikian.
Selama ini Sherin selalu memanggilnya Mama Nadia.
Untuk pertama kalinya, hanya satu kata itu yang keluar.
Ma.
Nadia menangis sambil memeluk Sherin.
Dan saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu yang seharusnya kupahami sejak lama.
Menjadi ibu bukan tentang siapa yang melahirkan lebih dulu.
Menjadi keluarga bukan tentang siapa yang memiliki hubungan darah.
Keluarga adalah orang yang memilih tetap tinggal ketika hidup menjadi sulit, yang merawat tanpa menghitung balasan, dan yang mencintai bahkan ketika tidak ada kewajiban untuk melakukannya.
Dulu aku meminta Nadia mengalah karena kupikir dia hanyalah ibu tiri.
Dia benar-benar mengalah.
Dia pergi.
Namun pada akhirnya, justru aku yang kehilangan.
Sebab ketika aku akhirnya menyadari betapa berharganya perempuan itu, Nadia sudah menemukan seseorang yang tidak pernah memintanya mengalah hanya untuk mendapatkan tempat di dalam sebuah keluarga.
