Aku disuruh terus beranak pinak, padahal kondisi kami miskin, rumah aja masih ngontrak. Ternyata alasannya adalah….

Aku langsung menatap Aldi, memastikan aku tidak salah dengar.

“Dikeluarkan? Hendrik?”

“Iya, Bu. Bukan cuma Hendrik. Tiga temannya juga,” jawab Aldi sambil meletakkan tas. “Tadi pagi kepala sekolah masuk kelas. Katanya mereka tidak boleh sekolah di sana lagi.”

Arka yang biasanya pendiam ikut mengangguk cepat.

“Ayahnya Hendrik datang, Bu. Marah-marah banget. Sampai satpam dipanggil.”

Dadaku mendadak berdebar.

Kemarin kepala sekolah sendiri mengatakan kepadaku bahwa pihak sekolah tidak bisa berbuat banyak karena keluarga Hendrik merupakan donatur terbesar. Lalu bagaimana mungkin dalam waktu semalam semuanya berubah?

Aku menoleh ke arah ibu mertua yang sedang menyuapi Aurora di ruang tengah.

“Ibu dengar?”

“Dengar apa?” tanyanya santai.

“Hendrik dikeluarkan dari sekolah.”

“Oh.”

Cuma itu reaksinya.

Aku semakin curiga.

“Ibu gak kaget?”

“Kenapa harus kaget? Anak nakal memang seharusnya dihukum.”

“Tapi kemarin sekolah takut sama bapaknya.”

Ibu mertua mengangkat bahu. “Mungkin kepala sekolahnya baru dapat hidayah.”

Jawabannya terdengar masuk akal, tetapi entah kenapa wajahnya terlihat terlalu tenang.

Sore itu suamiku, Andre, pulang seperti biasa dengan sepeda motor tuanya. Kemejanya basah oleh keringat. Sudah hampir delapan tahun Andre bekerja sebagai teknisi pendingin ruangan dengan penghasilan yang tidak menentu.

Kadang ia membawa pulang dua ratus ribu rupiah. Kadang hanya seratus ribu. Bahkan pernah tiga hari berturut-turut pulang tanpa membawa uang karena pelanggan belum membayar.

Aku menceritakan kejadian di sekolah.

Bukannya terkejut, Andre justru terdiam.

“Mas?”

“Hmm?”

“Kok reaksimu sama seperti Ibu?”

“Memangnya aku harus salto?”

Aku mendengus.

“Serius, Mas. Kemarin kepala sekolah bilang gak bisa melakukan apa-apa. Sekarang tiba-tiba Hendrik dikeluarkan.”

Andre membuka sepatu.

“Ya bagus dong.”

“Tapi aneh.”

“Melati.”

“Iya?”

“Kadang hidup memang begitu. Gak semua hal harus kamu cari tahu.”

Kalimat itu justru membuat rasa penasaranku semakin besar.

Dua hari kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan kontrakan kami.

Aku yang sedang menjemur pakaian sampai membeku melihatnya.

Mobil seperti itu rasanya salah alamat kalau berhenti di gang sempit tempat kami tinggal.

Seorang pria berkemeja rapi turun bersama seorang perempuan.

“Apakah ini rumah Ibu Melati?”

“Iya.”

Pria itu mengulurkan kartu nama.

“Kami dari sekolah Aldi dan Arka.”

Jantungku langsung berdebar.

“Ada masalah lagi, Pak?”

“Tidak. Kami datang untuk menyampaikan permohonan maaf resmi.”

Aku mempersilakan mereka masuk.

Ibu mertua sedang duduk di ruang tengah sambil mengupas mangga. Begitu melihat kedua tamu tersebut, tangannya sempat berhenti.

Hanya sepersekian detik.

Namun aku melihatnya.

Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai pengurus yayasan yang menaungi sekolah anak-anakku.

“Kami sudah melakukan pemeriksaan internal. Ternyata kasus perundungan terhadap Aldi dan Arka bukan pertama kali terjadi. Beberapa guru mengetahui, tetapi memilih diam.”

Aku menelan ludah.

“Karena ayah Hendrik donatur?”

Ia mengangguk pelan.

“Kepala sekolah juga telah diberhentikan.”

“Apa?”

Aku benar-benar kehilangan kata-kata.

Bukan hanya Hendrik yang dikeluarkan. Kepala sekolahnya juga diberhentikan.

“Kami juga mengembalikan seluruh biaya pendidikan Aldi dan Arka selama ini.”

Ia meletakkan sebuah amplop di meja.

Tanganku langsung dingin.

“Kenapa dikembalikan?”

“Mulai semester ini, seluruh biaya pendidikan mereka ditanggung yayasan sampai lulus.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Kenapa?”

Pria itu terlihat ragu sebelum menjawab.

“Itu keputusan pimpinan.”

“Pimpinan siapa?”

Ia melirik ibu mertua.

Dan sekali lagi, hanya sepersekian detik.

Tetapi aku melihatnya.

Setelah mereka pergi, aku langsung menutup pintu.

“Ibu.”

“Hm?”

“Mereka tadi kenal Ibu?”

Ibu mertua tetap mengupas mangga.

“Mana ibu tahu.”

“Tadi mereka lihat Ibu.”

“Kalau ada manusia di dalam rumah ya dilihat.”

Aku menyipitkan mata.

“Ibu menyembunyikan sesuatu?”

Pisau kecil di tangannya berhenti.

Kemudian ia menatapku.

“Ibu cuma menyembunyikan mangga supaya gak dihabiskan cucu-cucu.”

Aku hampir tertawa, tetapi rasa curigaku tidak hilang.

Keanehan berikutnya terjadi seminggu kemudian.

Pemilik kontrakan datang membawa map.

Aku langsung panik karena kukira ia hendak menagih pembayaran lebih cepat.

“Pak, kontrakannya baru jatuh tempo dua bulan lagi.”

“Saya bukan mau nagih.”

“Terus?”

Ia menyerahkan map kepadaku.

“Mulai bulan depan kalian gak perlu bayar.”

Aku menatapnya kebingungan.

“Kenapa?”

“Rumah ini sudah dibeli.”

“Dibeli siapa?”

Pemilik kontrakan menggaruk kepalanya.

“Katanya pembelinya gak mau disebutkan.”

Aku merasa bulu kudukku berdiri.

Malamnya aku menunggu Andre pulang.

Begitu ia masuk, langsung kuletakkan map itu di hadapannya.

“Jelaskan.”

Andre membacanya.

Wajahnya berubah.

“Mas tahu sesuatu.”

“Enggak.”

“Jangan bohong.”

Andre menatap ibunya.

Ibu mertua sedang menonton televisi sambil memangku Aurora.

“Bu,” panggil Andre.

“Apa?”

“Kayaknya sudah waktunya.”

Ibu mertua mematikan televisi.

Untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya benar-benar serius.

“Besok ikut ibu.”

“Ke mana?”

“Sudah. Jangan banyak tanya.”

Keesokan paginya sebuah mobil datang menjemput kami.

Bukan mobil biasa.

Ada sopir berseragam yang membukakan pintu untuk ibu mertua.

Aku sampai tidak berani bertanya.

Kami melaju menuju kawasan Jakarta Selatan sebelum berhenti di depan sebuah gedung perkantoran tinggi.

Begitu ibu mertua turun, petugas keamanan langsung membungkukkan badan.

“Selamat pagi, Ibu.”

Aku menoleh kepada Andre.

“Mas…”

Andre hanya tersenyum kecil.

Kami naik menuju lantai paling atas.

Begitu pintu lift terbuka, belasan pegawai berdiri menyambut.

“Selamat pagi, Ibu Ratih.”

Langkahku berhenti.

Ratih adalah nama ibu mertuaku.

Seorang perempuan membawa kami memasuki ruang rapat besar.

Di dinding terpampang logo perusahaan yang rasanya pernah kulihat di mana-mana.

Kusuma Sentosa Group.

Aku langsung teringat sesuatu.

“Wirawan Kusuma…”

Nama ayah Hendrik.

Ibu mertua duduk di kursi utama.

“Wirawan itu keponakan ibu.”

Aku merasa kakiku kehilangan tenaga.

“Apa?”

“Ayahnya Wirawan adalah kakak ibu.”

Ibu mertua lalu membuka sebuah map.

“Perusahaan ini awalnya didirikan ayah ibu. Setelah beliau meninggal, kepemilikannya dibagi kepada anak-anaknya. Ibu mendapat saham paling besar.”

Aku memandang Andre.

“Jadi… kalian kaya?”

Andre menghela napas.

“Keluarga Ibu kaya. Aku memilih keluar.”

“Kenapa?”

Ibu Ratih yang menjawab.

“Karena ibu.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Dulu ibu terlalu mengatur hidup Andre. Ibu menentukan sekolahnya, pekerjaannya, bahkan perempuan yang harus dia nikahi.”

Ia menatapku.

“Ketika Andre memilih kamu, ibu menentang.”

Aku tertegun.

Selama ini aku tidak pernah tahu.

“Andre menyerahkan seluruh fasilitasnya. Mobil, rumah, kartu kredit, bahkan jabatan di perusahaan. Dia bilang lebih baik hidup sederhana daripada membiarkan istrinya diperlakukan sebagai orang yang tidak pantas masuk keluarga kami.”

Mataku mulai panas.

Aku menatap suamiku.

Lelaki yang selama ini pulang dengan sepeda motor tua, memperbaiki AC dari rumah ke rumah, ternyata pernah memiliki kehidupan yang sama sekali berbeda.

“Tapi kenapa Ibu tinggal bersama kami?”

Ibu Ratih tersenyum getir.

“Karena ibu kalah oleh kesombongan sendiri.”

Beberapa tahun setelah pernikahan kami, kesehatan suaminya menurun. Setelah beliau meninggal, Ibu Ratih merasa hidupnya kosong. Andre adalah anak satu-satunya, tetapi hubungan mereka telah telanjur renggang.

“Waktu Aldi lahir, ibu datang hanya ingin melihat cucu. Kamu malah membuatkan ibu teh dan memanggil ibu seolah tidak pernah ada masalah.”

Aku terdiam.

Aku memang tidak pernah tahu bahwa ia pernah menentang pernikahan kami.

“Sejak saat itu ibu malu.”

Air mata mulai memenuhi matanya.

“Ibu punya rumah besar, tapi pulang ke sana rasanya seperti masuk hotel kosong. Di rumah kontrakan kalian, ibu tidur berhimpitan, dengar anak menangis, rebutan kamar mandi, makan tempe… tapi untuk pertama kalinya ibu merasa punya rumah.”

Aku menggenggam tangannya.

Namun satu pertanyaan masih mengganjal.

“Terus kenapa Ibu memaksaku punya empat anak?”

Ibu Ratih menunduk.

Untuk pertama kalinya perempuan keras kepala itu terlihat rapuh.

“Ibu memang salah.”

Ia menarik napas.

“Setelah ayah Andre meninggal, ibu sadar uang sebanyak apa pun gak bisa menggantikan keluarga. Andre anak tunggal. Sejak kecil dia kesepian. Ibu takut cucu ibu mengalami hal yang sama.”

“Tapi sampai mengancam bunuh diri?”

Wajahnya langsung malu.

“Itu bodoh. Ibu minta maaf.”

Aku hampir tertawa sekaligus menangis.

“Berarti bukan karena warisan atau syarat perusahaan?”

“Bukan.”

“Bukan karena setiap cucu dapat saham?”

“Bukan.”

“Terus?”

Ibu Ratih menggenggam tanganku.

“Karena ibu egois. Ibu terlalu bahagia punya cucu.”

Jawaban sederhana itu justru membuat dadaku sesak.

“Tapi setelah Aurora lahir, dokter bilang kondisi tubuhmu harus dijaga. Andre cerita kamu pakai IUD. Ibu tahu.”

Aku membelalak.

“Ibu tahu?”

“Tahu.”

“Kenapa masih minta cucu lagi?”

“Bercanda.”

“Bercanda apanya? Aku sampai merinding!”

Semua orang di ruangan tertawa.

Namun tawaku berhenti ketika pintu ruang rapat terbuka.

Seorang pria masuk dengan wajah pucat.

Aku mengenalinya.

Wirawan Kusuma.

Ayah Hendrik.

Begitu melihat Ibu Ratih, ia langsung menundukkan kepala.

“Tante…”

“Duduk.”

Wirawan menurut.

Ibu Ratih meletakkan beberapa dokumen di meja.

“Kamu memakai sumbangan perusahaan untuk menekan sekolah?”

Wirawan tidak menjawab.

“Anakmu merundung cucuku berkali-kali. Kepala sekolah membiarkannya karena kamu mengancam menghentikan donasi.”

“Tante, saya bisa jelaskan.”

“Yang lebih menarik, kamu rupanya memakai nama perusahaan untuk kepentingan pribadi.”

Wajah Wirawan semakin pucat.

Barulah aku mengerti.

Hendrik tidak dikeluarkan hanya karena ibu mertuaku meminta.

Kasus perundungan itu justru membuka penyalahgunaan wewenang yang dilakukan ayahnya.

“Aku gak akan menghukum anak kecil karena kesalahan ayahnya,” kata Ibu Ratih. “Hendrik dipindahkan karena sekolah itu sudah tidak sehat untuknya maupun korban-korbannya. Dia tetap berhak sekolah. Tapi kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu sendiri.”

Hari itu Wirawan dicopot dari jabatannya sambil menunggu audit internal selesai.

Dalam perjalanan pulang, kepalaku masih terasa penuh.

Aku memandangi ibu mertua yang duduk di sebelahku.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Bu.”

“Apa lagi?”

“Katanya Ibu punya emas 65 kilogram.”

Andre langsung tertawa.

Ibu Ratih memasang wajah polos.

“Kan sudah ibu bilang. Mas Andre.”

Aku mencubit lengan suamiku.

“Berarti benar dong. Mas Andre memang emasnya Ibu.”

Ibu Ratih tersenyum.

“Dulu iya.”

“Sekarang?”

Ia menatap empat cucunya yang duduk berdesakan di kursi belakang.

“Sekarang emas ibu sudah bertambah.”

Beberapa bulan kemudian kami pindah.

Bukan ke mansion milik Ibu Ratih.

Bukan pula ke apartemen mewah perusahaan.

Kami pindah ke rumah sederhana yang dibeli Andre dari tabungannya sendiri setelah menerima tawaran menjadi kepala teknisi di salah satu perusahaan keluarga. Ia tetap menolak jabatan direktur yang ditawarkan ibunya.

“Aku mau anak-anak tahu ayahnya bekerja,” katanya.

Aku pun mulai membuka usaha katering kecil dari rumah. Untuk pertama kalinya, Ibu Ratih tidak melarangku.

Ia bahkan menjadi pelanggan paling menyebalkan karena selalu meminta diskon.

Suatu sore Bu Ratna dan Bu Susi datang ketika aku sedang menyiram tanaman.

Mata mereka langsung tertuju pada mobil yang berhenti di depan rumah.

Ibu Ratih turun sambil membawa kantong plastik berisi rambutan.

“Melati,” bisik Bu Ratna. “Itu mobil siapa?”

“Punya kantor ibu mertua.”

Bu Susi mendekat.

“Ibu mertuamu kerja apa?”

Belum sempat aku menjawab, sopir turun dan berkata dengan sopan, “Bu Ratih, besok rapat komisaris dimajukan pukul sembilan.”

Wajah kedua tetanggaku langsung berubah.

“Komisaris?”

Ibu Ratih menoleh kepadaku, lalu sengaja berkata keras-keras.

“Melati, besok temani ibu ke toko emas, ya.”

Aku hampir tersedak.

“Mau beli apa, Bu?”

“Anting.”

Kemudian ia menatap Bu Ratna dan Bu Susi.

“Yang kemarin dijual buat beli seragam cucu ibu.”

Kedua perempuan itu langsung terdiam.

Aku menahan tawa sampai mereka pergi.

Malamnya, ketika anak-anak sudah tidur, aku duduk bersama Ibu Ratih di teras.

“Bu, aku mau bilang sesuatu.”

“Apa?”

“Aku tetap gak mau punya anak lagi.”

Ia langsung tertawa.

“Siapa juga yang menyuruh?”

“Dulu Ibu.”

“Dulu ibu kurang kerjaan.”

Aku tertawa.

Ia lalu menyandarkan kepala di bahuku.

Aku baru memahami sesuatu.

Selama bertahun-tahun aku mengira kemiskinan adalah masalah terbesar dalam keluarga kami. Ternyata keluarga yang memiliki terlalu banyak uang pun bisa kehilangan hal yang jauh lebih mahal.

Kedekatan.

Waktu.

Dan keberanian untuk meminta maaf.

Aku juga akhirnya mengerti mengapa ibu mertuaku rela kehilangan anting terakhir pemberian orang tuanya hanya agar Aldi dan Arka memiliki seragam baru.

Bukan karena ia tidak mampu membeli seribu seragam.

Ia hanya telah belajar bahwa menjadi keluarga bukan tentang seberapa banyak harta yang bisa diberikan.

Melainkan tentang apa yang rela kita lepaskan ketika orang yang kita sayangi membutuhkan kita.

Dan mengenai empat anak yang dulu terus ia paksa agar kulahirkan?

Sampai sekarang Ibu Ratih masih sering bercanda ingin cucu kelima.

Bedanya, sekarang aku sudah punya jawaban.

“Kalau Ibu mau bayi lagi, Ibu aja yang hamil.”

Biasanya ia langsung melempar bantal ke arahku sambil mengomel.

Lalu rumah kami kembali dipenuhi tawa.

Suara yang ternyata jauh lebih berharga daripada emas 65 kilogram sekalipun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang