Aku disuruh terus beranak pinak, padahal kondisi kami miskin, rumah aja masih ngontrak. Ternyata alasannya adalah….

“Apa?” Aku menatap ibu mertua dengan mulut menganga. “Empat anak saja kita sudah kewalahan, Bu. Ibu masih mau aku punya anak lagi?”

Ibu hanya tersenyum tipis, seolah permintaannya sama sederhananya dengan menyuruhku membeli sebungkus garam.

“Satu lagi saja, Melati.”

“Untuk apa?”

Pertanyaan itu membuat senyumnya menghilang.

“Ya buat teman saudara-saudaranya.”

Aku menggeleng. “Aku gak sanggup, Bu. Kontrakan bulan depan belum tentu bisa dibayar. Uang sekolah Rafi juga belum lunas. Kemarin susu Dinda sampai harus ngutang di warung.”

“Nanti juga ada rezekinya.”

Kalimat itu membuat dadaku panas. Selama ini aku selalu diam setiap kali mendengar ucapan banyak anak banyak rezeki. Tapi kenyataannya, setiap akhir bulan aku yang harus menghitung sisa beras di dalam ember. Aku yang mencampur lebih banyak air ke dalam kuah sayur supaya cukup untuk tujuh orang. Aku pula yang berkali-kali berbohong kepada anak-anak bahwa aku sudah makan agar mereka bisa menghabiskan lauk.

“Rezeki gak datang cuma karena kita punya anak, Bu.”

Wajah ibu mertua berubah.

“Kamu mulai terpengaruh omongan Kuntilanak-Kuntilanak itu?”

“Bukan. Aku cuma mulai berpikir.”

Aku meninggalkannya dan masuk ke kamar.

Malam itu Andre pulang hampir pukul sebelas. Wajahnya kusut dan bajunya berbau asap kendaraan. Setelah makan, aku memberanikan diri membicarakan KB.

“Mas, aku mau pasang KB.”

Sendok di tangannya berhenti.

“Kamu sudah bicara sama Ibu?”

“Kenapa keputusan tentang tubuhku harus selalu dibicarakan sama Ibu?”

Andre menatapku lama.

“Melati…”

“Aku capek, Mas.”

Entah kenapa air mataku langsung jatuh.

“Aku gak bilang aku menyesal punya anak-anak kita. Aku sayang mereka. Tapi aku takut kita gak mampu memberikan kehidupan yang layak.”

Andre mengusap wajahnya.

“Aku akan kerja lebih keras.”

“Sampai kapan? Kamu berangkat sebelum anak-anak bangun dan pulang setelah mereka tidur. Kalau kamu kerja lebih keras lagi, kapan mereka punya ayah?”

Andre terdiam.

Aku menggenggam tangannya.

“Empat cukup, Mas.”

Untuk pertama kalinya selama sebelas tahun pernikahan kami, aku melihat keraguan di mata Andre terhadap ucapan ibunya.

Namun sebelum dia menjawab, suara ibu mertua terdengar dari balik pintu.

“Gak boleh!”

Kami sama-sama terkejut.

Pintu kamar terbuka.

Ibu berdiri di sana dengan wajah pucat.

“Melati gak boleh KB.”

“Bu, ini keputusan aku sama Melati,” ujar Andre pelan.

“Tidak!”

Suara ibu bergetar.

Aku memperhatikannya. Ada sesuatu yang berbeda. Biasanya dia akan marah, membentak, bahkan mengancam. Kali ini justru terlihat ketakutan.

“Kenapa, Bu?” tanyaku.

Ibu menggigit bibir.

“Pokoknya jangan.”

“Kenapa?”

“Gak perlu tahu!”

Dia berbalik dan pergi.

Sejak malam itu, pikiranku dipenuhi pertanyaan.

Mengapa ibu begitu terobsesi agar aku memiliki banyak anak?

Awalnya kupikir karena kesepian setelah ditinggalkan kedua anaknya ke Kalimantan. Tapi semakin kupikirkan, semakin terasa janggal.

Keesokan paginya sebuah kejadian membuat kecurigaanku semakin besar.

Aku sedang membersihkan kamar ibu ketika tanpa sengaja menjatuhkan sebuah tas kain dari lemari. Beberapa lembar kertas berserakan.

Aku segera memungutnya.

Namun tanganku berhenti ketika melihat sebuah amplop putih bertuliskan nama suamiku.

Andre Pratama.

Di bawahnya terdapat logo sebuah kantor hukum.

Aku hampir membukanya ketika suara ibu terdengar.

“Melati!”

Aku tersentak.

Ibu berdiri di pintu.

Wajahnya pucat.

“Itu apa yang kamu pegang?”

“Surat punya Mas Andre.”

Ibu merebutnya begitu cepat.

“Jangan pernah bongkar barang ibu!”

“Tapi kenapa surat Mas Andre ada di lemari Ibu?”

“Bukan urusan kamu.”

Dia memasukkan semua kertas ke dalam tas kemudian mengunci lemarinya.

Seharian aku memikirkan surat itu.

Malamnya aku menceritakannya kepada Andre.

“Kantor hukum?” tanyanya heran.

“Iya.”

“Aku gak pernah menerima surat dari kantor hukum.”

“Makanya aku bingung.”

Andre tampak berpikir.

“Lupakan saja. Mungkin surat lama.”

Namun aku tidak bisa melupakannya.

Dua hari kemudian ibu pergi menghadiri pengajian. Kesempatan itu kugunakan untuk mencari kunci lemari.

Aku tahu tindakanku salah.

Tapi aku merasa ada sesuatu yang selama ini disembunyikan.

Setelah hampir setengah jam mencari, aku menemukan sebuah kunci kecil di bawah kasur.

Tanganku gemetar saat membuka lemari.

Tas kain itu masih ada.

Aku mengambil amplop putih tersebut.

Tanggalnya membuat jantungku berdegup kencang.

Surat itu dikirim delapan tahun lalu.

Isinya jauh lebih mengejutkan.

Nama ayah mertua tercantum di dalamnya.

Ada pula beberapa istilah hukum yang tidak sepenuhnya kupahami.

Namun satu kalimat membuat lututku lemas.

Ahli waris berhak menerima pengalihan aset setelah persyaratan dalam surat wasiat terpenuhi.

Aku membaca berulang kali.

Aset?

Bukankah seluruh kekayaan ayah mertua telah disita untuk membayar utang?

Di bawah surat itu ada salinan dokumen lain.

Sebuah daftar properti.

Tanah.

Ruko.

Saham.

Bahkan sebuah bangunan komersial di Jakarta.

Tanganku dingin.

Nilainya membuatku harus menghitung jumlah nol berkali-kali.

Puluhan miliar rupiah.

Tiba-tiba pintu depan terbuka.

Aku buru-buru memasukkan dokumen itu kembali.

Ibu pulang.

Malam itu aku tidak mengatakan apa pun.

Keesokan harinya aku mendatangi kantor hukum yang tertera di surat.

Aku hanya membawa foto dokumen yang diam-diam kuambil.

Seorang pengacara tua bernama Pak Darmawan menerimaku.

Begitu melihat nama ayah mertua, ekspresinya berubah.

“Kamu istrinya Andre?”

Aku mengangguk.

Pak Darmawan menghela napas panjang.

“Akhirnya ada juga yang datang.”

“Maksud Bapak?”

“Delapan tahun kami menunggu.”

Aku semakin bingung.

Kemudian dia menjelaskan sesuatu yang membuat dunia seolah berhenti.

Ayah mertua ternyata tidak bangkrut.

Cerita tentang utang besar dan penyitaan hanyalah sebagian dari keadaan sebenarnya.

Memang ada perusahaan yang bermasalah setelah beliau meninggal, tetapi sebagian besar aset pribadinya telah dipisahkan dan ditempatkan dalam pengelolaan hukum.

“Kenapa keluarga tidak tahu?”

“Almarhum meminta begitu.”

Pak Darmawan membuka sebuah berkas.

“Beliau tidak percaya kepada dua putra tertuanya.”

Aku langsung teringat kakak-kakak Andre yang menjual rumah nenek mereka.

“Lalu Mas Andre?”

“Justru Andre yang dipilih sebagai penerima utama.”

Aku menutup mulut.

“Kalau begitu kenapa selama ini kami hidup seperti ini?”

Pak Darmawan menatapku aneh.

“Karena persyaratannya belum dilaporkan terpenuhi.”

“Persyaratan apa?”

Dia membalik beberapa halaman.

Kemudian membacanya.

Andre harus telah menikah, memiliki keturunan, dan pada usia tiga puluh lima tahun dapat membuktikan dirinya mampu mempertahankan keluarga tanpa bergantung pada kekayaan warisan.

Aku mengerutkan kening.

“Berarti jumlah anak tidak disebutkan?”

“Tidak.”

Dadaku mendadak sesak.

“Lalu kenapa ibu mertua saya terus memaksa saya punya banyak anak?”

Pak Darmawan diam sesaat.

Kemudian menunjuk paragraf berikutnya.

Ada ketentuan tambahan.

Sebagian aset akan dialihkan menjadi dana perwalian untuk setiap cucu kandung yang lahir dari garis keturunan Andre.

Semakin banyak anak, semakin besar bagian aset keluarga yang terlindungi dalam perwalian tersebut.

Aku membeku.

Sekarang aku mengerti.

Namun ada satu hal yang belum kupahami.

“Kenapa Ibu tidak memberi tahu Andre?”

“Itu yang kami juga tidak tahu. Kami sudah beberapa kali mengirim surat.”

Surat-surat itu rupanya selalu diterima ibu.

Aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.

Malamnya aku menunggu hingga anak-anak tidur.

“Ibu, aku mau bicara.”

Ibu yang sedang melipat pakaian berhenti.

Andre duduk di sebelahku.

Aku meletakkan fotokopi surat di atas meja.

Wajah ibu seketika kehilangan warna.

“Kamu pergi ke kantor itu?”

“Iya.”

Andre mengambil surat tersebut.

Semakin lama membacanya, wajahnya semakin tegang.

“Bu…”

Suaranya bergetar.

“Ini apa?”

Ibu tidak menjawab.

“Bu!”

Andre berdiri.

“Selama ini kita hidup susah. Aku narik angkot dari pagi sampai malam. Anak-anak kadang makan telur satu dibagi berempat. Kenapa Ibu sembunyikan ini?”

Air mata mulai mengalir di pipi ibu.

“Kamu pikir ibu melakukan semua ini karena uang?”

“Lalu karena apa?”

Ibu memandang ke arah kamar tempat keempat anak kami tidur.

“Karena ibu takut.”

“Takut apa?”

Ibu akhirnya menceritakan semuanya.

Setelah ayah meninggal, kedua kakak Andre memang mencoba menguasai kekayaan keluarga. Ketika mengetahui sebagian besar aset justru disiapkan untuk Andre dan keturunannya, mereka marah.

Mereka memaksa ibu menandatangani beberapa dokumen.

Ibu menolak.

Sebagai balasannya, mereka menjual rumah peninggalan kakek dan nenek lalu mengambil uangnya.

“Mereka bilang kalau Andre menerima warisan, mereka akan menggugat dan membuat hidup kalian gak tenang.”

“Terus kenapa Ibu memaksa Melati terus punya anak?” tanya Andre.

Ibu menangis semakin keras.

“Karena dana perwalian anak-anak gak bisa mereka sentuh.”

Aku terdiam.

“Semakin banyak cucu ibu, semakin banyak harta ayahmu yang aman dari kakak-kakakmu.”

Dadaku terasa ditusuk.

Jadi benar.

Ada uang di balik semua ini.

Namun ibu melanjutkan.

“Tapi bukan itu alasan utama ibu.”

Dia berjalan menuju kamarnya lalu kembali membawa sebuah amplop lain.

Tangannya gemetar saat menyerahkannya kepada Andre.

“Surat terakhir ayahmu.”

Andre membukanya.

Tulisan tangan ayahnya memenuhi selembar kertas.

Aku tidak membaca seluruhnya, tetapi Andre membacakan satu bagian dengan suara bergetar.

Ayahnya menulis bahwa kekayaan telah membuat dua anak pertamanya kehilangan rasa keluarga. Karena itu ia tidak ingin Andre mengetahui warisan sebelum membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi suami dan ayah tanpa bergantung pada uang.

Andre terdiam lama.

“Kalau begitu Ibu seharusnya membiarkan syarat itu berjalan. Bukan memaksa kami punya anak.”

Ibu menunduk.

“Ibu salah.”

Itu pertama kalinya selama aku mengenalnya, ibu mengakui kesalahannya.

“Ibu terlalu takut harta itu jatuh ke tangan kakak-kakakmu. Setelah kehilangan rumah, ibu jadi terobsesi memastikan sebanyak mungkin aset masuk ke dana perwalian cucu.”

Aku menangis.

“Bu, anak bukan tempat menyimpan harta.”

Ibu menutup wajahnya.

“Aku yang hamil. Aku yang melahirkan. Aku yang setiap hari memikirkan apakah besok anak-anak bisa makan. Kalau Ibu bilang dari awal, mungkin semuanya berbeda.”

“Maafkan ibu.”

Aku tidak langsung menjawab.

Luka bertahun-tahun tidak mungkin hilang karena satu permintaan maaf.

Seminggu kemudian Andre menemui Pak Darmawan.

Ternyata usia Andre sudah memenuhi ketentuan wasiat beberapa bulan sebelumnya. Setelah melalui verifikasi dan proses administrasi, hak waris itu dapat diproses.

Namun kejutan terbesar justru datang ketika dua kakaknya mengetahui hal tersebut.

Mereka pulang dari Kalimantan.

Mereka datang ke kontrakan kami dengan marah dan menuduh Andre mencuri hak keluarga.

Untuk pertama kalinya aku melihat suamiku berdiri menghadapi mereka tanpa takut.

“Aku gak mengambil milik kalian. Aku cuma menerima apa yang Ayah putuskan.”

“Kita bisa bawa ini ke pengadilan!” bentak kakaknya.

Andre mengangguk.

“Silakan.”

Dia menunjuk Pak Darmawan yang sengaja hadir hari itu.

“Semua dokumennya ada.”

Mereka akhirnya pergi setelah hampir satu jam berdebat.

Beberapa bulan kemudian hidup kami berubah.

Tapi tidak seperti bayanganku.

Andre tidak membeli mobil mewah.

Kami memang pindah dari kontrakan, tetapi hanya ke sebuah rumah sederhana yang cukup memiliki kamar untuk anak-anak.

Sebagian aset tetap dikelola secara profesional. Dana pendidikan keempat anak kami diamankan.

Andre bahkan masih bekerja.

Bukan lagi sebagai sopir angkot, melainkan membuka usaha transportasi kecil bersama beberapa teman sesama sopir.

Suatu sore, ketika aku sedang menyiram tanaman di depan rumah, Bu Susi lewat.

Dia memandangi rumah kami.

“Katanya sekarang kalian kaya?”

Aku tersenyum.

“Alhamdulillah cukup.”

“Terus mau nambah anak lagi?”

Dari dalam rumah terdengar suara ibu mertua.

“Jangan!”

Aku dan Bu Susi sama-sama menoleh.

Ibu keluar sambil menggendong Dinda.

“Empat saja sudah bikin rumah kayak pasar malam.”

Kami tertawa.

Aku menatap ibu.

Hubungan kami memang tidak langsung sempurna. Kadang aku masih mengingat ancamannya dulu. Kadang masih ada kemarahan yang tersisa.

Namun sekarang dia berubah.

Bahkan ketika aku akhirnya memutuskan menggunakan KB setelah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, ibu sendiri yang mengantarkanku.

Dalam perjalanan pulang, ibu tiba-tiba menggenggam tanganku.

“Melati.”

“Hm?”

“Maafin ibu karena dulu memperlakukan kamu seolah tugasmu cuma melahirkan cucu.”

Aku menatapnya.

Matanya berkaca-kaca.

“Ibu terlalu sibuk menyelamatkan harta sampai hampir lupa menjaga manusia yang seharusnya ibu sayangi.”

Aku menggenggam tangannya kembali.

Hari itu aku memahami sesuatu.

Kemiskinan memang bisa membuat manusia takut.

Kekayaan pun bisa membuat manusia kehilangan arah.

Ayah mertua menyembunyikan hartanya karena takut uang menghancurkan anak-anaknya. Ibu mertua memaksaku memiliki banyak anak karena takut kekayaan itu direbut. Kakak-kakak Andre kehilangan keluarga karena mengejar harta.

Dan aku hampir kehilangan hak atas hidupku sendiri karena terlalu takut kehilangan suami.

Pada akhirnya bukan warisan puluhan miliar yang paling mengubah kehidupan kami.

Melainkan keberanian untuk mengatakan cukup.

Cukup hidup dalam ketakutan.

Cukup membiarkan orang lain menentukan tubuh dan masa depanku.

Dan cukup menganggap anak sebagai jalan menuju rezeki.

Karena anak bukan investasi, bukan syarat warisan, dan bukan alat untuk memperbanyak kekayaan.

Mereka adalah manusia yang harus dilahirkan karena benar-benar diinginkan, lalu dibesarkan dengan cinta, tanggung jawab, dan kehidupan yang layak.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi takut mengatakan bahwa empat anak sudah cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang