Ayah lebih menyayangi anak tirinya daripada aku, anak kandungnya sendiri. Saat aku dituduh merusak kebaya kesayangan saudara tiriku, Ayah malah memaksaku memberikan kebaya yang kujahit sendiri. Sakit hati, aku nekat pasang aplikasi kencan buat cari suami agar bisa pergi dari rumah hari itu juga. Eh, tapi yang nyantol malah…

Aku menatap Bu Ratih seperti baru saja mendengar kalimat paling tidak masuk akal sepanjang hidupku.

“Dua juta per hari?” ulangnya pelan.

“Iya. Ayah saya bilang begitu. Sejak Alya tinggal di rumah, uang sakunya selalu dua juta sehari.”

Bu Ratih tidak langsung menjawab. Wajah ramahnya berubah aneh. Ia menatapku cukup lama, seolah sedang memastikan apakah aku bercanda atau benar-benar tidak tahu apa-apa.

“Dokter,” katanya akhirnya, “selama tiga tahun saya kenal Alya, dia sering datang ke toko cuma bawa uang dua puluh ribu. Kadang malah gak pegang uang sama sekali.”

Dadaku serasa ditusuk sesuatu.

“Itu gak mungkin.”

Bu Ratih menghela napas. “Saya juga pernah tanya kenapa dia kerja sampai malam padahal masih kuliah. Alya bilang semua biaya kuliah ditanggung beasiswa. Untuk ongkos, buku, sama makan, dia harus cari sendiri.”

Aku menelan ludah.

“Terus uang dari Ayah?”

“Saya gak pernah dengar soal uang saku dua juta itu.”

Tanganku mulai dingin.

Bu Ratih kemudian menyodorkan amplop cokelat yang tadi ia pegang.

“Ini hasil jahitannya bulan ini. Sekitar empat juta lebih. Sebenarnya harusnya lebih banyak, tapi Alya selalu nolak kalau saya bayar terlalu tinggi. Katanya dia cuma numpang mesin jahit.”

Aku mengambil amplop itu perlahan.

Empat juta.

Jumlah yang mungkin bagi Syifa cuma cukup untuk membeli sepasang sepatu atau satu kali makan mewah dengan teman-temannya.

Tapi bagi Alya, uang itu didapat dari berjam-jam duduk di depan mesin jahit, sepulang kuliah, selama tiga tahun.

“Bu,” suaraku terdengar lebih berat dari biasanya, “Alya pernah cerita soal keluarganya?”

Bu Ratih tampak ragu.

“Sedikit.”

“Cerita apa?”

“Dia pernah bilang kalau di rumahnya ada orang yang lebih percaya anak yang menangis daripada anak yang mencoba menjelaskan.”

Aku tidak bisa menjawab.

Bu Ratih melanjutkan dengan nada hati-hati.

“Dan kebaya yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media sosial kampus itu… sebenarnya desain Alya.”

Kepalaku otomatis terangkat.

“Maksud Ibu?”

“Saya yang lihat dia bikin dari awal. Dia beli kainnya sedikit-sedikit. Sketsanya juga dia gambar sendiri. Jahit malam-malam di toko. Katanya mau dipakai untuk pameran desain kampus.”

Aku merasa lantai koridor rumah sakit bergerak di bawah kakiku.

“Tapi Syifa bilang kebaya itu miliknya.”

Bu Ratih mengernyit.

“Syifa?”

“Adik tiri saya.”

“Oh.”

Ekspresi Bu Ratih langsung berubah.

“Berarti gadis yang datang dua minggu lalu itu Syifa?”

“Datang ke toko?”

“Iya. Dia datang waktu Alya sedang ambil minum. Dia lihat kebaya itu tergantung, lalu terus memotretnya. Saya kira temannya.”

Jantungku berdetak semakin keras.

“Setelah itu?”

“Beberapa hari kemudian Alya datang dengan muka pucat. Katanya kebaya yang masih setengah jadi hilang dari kamarnya.”

Aku mundur satu langkah.

Potongan-potongan kejadian yang selama ini kuanggap sederhana mulai tersusun menjadi gambar yang mengerikan.

Tiga hari lalu, Syifa menangis di ruang keluarga.

Ia menunjukkan sebuah kebaya berwarna biru keabu-abuan yang bagian lengannya robek.

“Alya iri sama aku, Kak,” isaknya waktu itu. “Dia sengaja ngerusak kebaya kesayanganku.”

Ayah langsung menampar Alya.

Aku ada di sana.

Aku melihat semuanya.

Dan yang kulakukan saat Alya mencoba menjelaskan hanyalah berkata, “Udahlah, Alya. Sekali-kali jangan bikin masalah.”

Bahkan saat Alya berteriak bahwa kebaya itu buatannya sendiri, kami semua menganggapnya berbohong.

Ayah malah memaksa Alya memberikan kebaya lain yang ia jahit sendiri sebagai ganti rugi kepada Syifa.

“Kasih yang merah itu ke Syifa!” bentak Ayah. “Anggap saja bayar kerusakan!”

Alya berdiri diam beberapa detik.

Lalu ia menyerahkan kebaya merah itu tanpa menangis.

Saat itulah, mungkin, sesuatu dalam dirinya benar-benar patah.

Aku mengepalkan amplop di tanganku.

“Bu Ratih, saya boleh minta satu hal?”

“Apa, Dok?”

“Kalau Ibu punya foto proses Alya bikin kebaya itu, kirim semuanya ke saya.”

Bu Ratih mengangguk cepat.

Tak sampai sepuluh menit kemudian, ponselku dipenuhi puluhan foto.

Alya sedang menggambar pola.

Alya memotong kain.

Alya menjahit manik-manik.

Bahkan ada foto tanggal tiga bulan lalu, jauh sebelum Syifa mengunggah kebaya itu di Instagram dan mengklaim sebagai desain kolaborasinya dengan seorang butik.

Aku menatap layar dengan napas memburu.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasa takut pulang ke rumah.

Bukan karena Ayah.

Tapi karena aku mulai sadar bahwa mungkin selama bertahun-tahun, aku telah hidup di rumah yang dibangun dari kebohongan.

Aku langsung menelepon bagian administrasi rumah sakit.

“Bu Mira, saya mau tanya. Dulu almarhum Ibu saya, Marissa Handayani, pernah dirawat di sini sekitar enam tahun lalu. Bisa dicek siapa yang melunasi tagihannya?”

Butuh waktu hampir empat puluh menit sampai aku mendapat jawaban.

Dan jawabannya membuatku terduduk.

“Tagihannya lunas dari klaim asuransi, Dok. Tidak ada tunggakan.”

Aku mencengkeram meja.

“Yakin?”

“Iya, Dokter. Bahkan ada pengembalian kelebihan deposit sebesar tiga puluh delapan juta rupiah.”

Aku memejamkan mata.

Jadi utang dua ratus juta itu tidak pernah ada.

Ayah menciptakannya.

Entah untuk apa.

Aku berangkat pulang dengan pikiran yang hampir meledak.

Namun sebelum sampai, aku menerima pesan dari Alya.

Akad jam delapan malam. Jangan terlambat.

Aku melihat jam.

Sudah setengah tujuh.

Ketika mobilku memasuki halaman rumah, suasana sudah kacau.

Ayah berdiri di ruang tengah dengan wajah merah.

Ibu Tiri duduk di sofa sambil memeluk Syifa yang menangis.

Dan Alya berdiri dekat tangga.

Ia memakai dress putih sederhana.

Tidak mewah.

Tidak ada riasan berlebihan.

Hanya wajah yang tenang.

Di sampingnya berdiri seorang pria tinggi sekitar akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan, mengenakan kemeja putih dan celana hitam.

Aku tidak mengenalnya.

“Akhirnya datang juga!” bentak Ayah begitu melihatku. “Kamu dengar apa yang adikmu lakukan? Dia mau nikah sama laki-laki yang baru dikenalnya!”

Aku menatap Alya.

“Dia siapa?”

Alya menjawab datar.

“Calon suamiku.”

Ayah menghentakkan tongkat dekoratif yang dipegangnya ke lantai.

“Kenal dari aplikasi kencan! Baru ketemu hari ini! Gila!”

Aku spontan menatap laki-laki itu.

Ia justru terlihat sangat tenang.

“Nama saya Raka,” katanya. “Saya paham situasinya terlihat tidak masuk akal.”

“Memang gak masuk akal!” bentakku.

Alya tertawa kecil.

“Lucu ya, Kak. Kalian semua baru peduli hidupku masuk akal atau tidak setelah aku mau pergi.”

Aku terdiam.

Ayah menunjuknya.

“Kamu tidak akan keluar dari rumah ini sebelum utang dua ratus juta lunas!”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Utang itu gak ada, Yah.”

Ruangan mendadak sunyi.

Wajah Ayah berubah.

“Apa?”

“Biaya rumah sakit Ibu lunas pakai asuransi. Bahkan ada kelebihan deposit.”

Ibu Tiri langsung menoleh ke arah Ayah.

Syifa berhenti menangis.

Aku melanjutkan.

“Jadi dua ratus juta yang selama ini Ayah tagihkan ke Alya itu uang apa?”

Ayah terlihat kehilangan kata-kata beberapa detik.

“Itu… biaya lain-lain.”

“Biaya apa?”

“Biaya selama ibumu sakit!”

“Buktinya?”

Ayah membanting telapak tangannya ke meja.

“Kamu sekarang membela dia?!”

Aku tertawa hambar.

“Tidak. Saya cuma baru sadar selama ini saya terlalu gampang percaya.”

Aku mengeluarkan amplop dari tas.

“Dan soal uang dua ratus juta, saya akan bilang uang itu dari saya. Sesuai permintaan Alya. Tapi setelah malam ini, Ayah gak punya alasan lagi menahan dia.”

Alya memandangku.

Untuk pertama kalinya, tatapannya sedikit goyah.

Ayah masih ingin membantah, tetapi Syifa tiba-tiba berdiri.

“Kak Dimas, jangan percaya sama dia. Alya cuma mau bikin kita berantem.”

Aku menatap Syifa.

“Terus kebaya biru itu?”

Wajah Syifa memucat.

“Apa?”

Aku membuka foto-foto dari Bu Ratih.

“Ini Alya bikin dari tiga bulan lalu.”

Syifa membeku.

“Foto bisa diedit.”

“Bu Ratih lihat langsung.”

“Dia pasti dibayar Alya!”

Aku mengganti layar.

“Kamu juga datang ke tokonya dua minggu lalu. Ada CCTV.”

Itu sebenarnya belum kukonfirmasi, tapi ekspresi Syifa sudah cukup menjadi jawaban.

Ia menunduk.

“Syifa?”

Ayah memanggil pelan.

“Aku… cuma pinjam.”

Ruangan seketika membeku.

Alya tidak mengatakan apa-apa.

Syifa mulai menangis.

“Aku cuma pinjam, Yah. Aku lihat bagus. Teman-teman kampus selalu bilang Alya berbakat, sedangkan aku gak pernah dianggap serius. Aku cuma mau sekali aja punya karya yang dipuji orang.”

“Terus kenapa kamu bilang Alya merusaknya?” tanyaku.

Syifa menggigit bibir.

“Karena bagian lengannya robek waktu aku pakai fitting.”

Dadaku sesak.

“Jadi kamu merobeknya sendiri.”

Syifa mengangguk.

Ibu Tiri buru-buru memeluknya.

“Dia khilaf, Dimas.”

Aku menatap wanita itu.

“Khilaf selama tiga tahun?”

Wajahnya berubah.

Aku mengangkat ponsel.

“Uang saku Alya dua juta per hari. Ayah selalu bilang uangnya diberikan lewat Ibu.”

Ibu Tiri terdiam.

“Mana uangnya?”

Tidak ada jawaban.

Aku merasa tubuhku mulai gemetar.

“Ibu?”

Akhirnya ia berkata lirih.

“Dipakai untuk kebutuhan rumah.”

Aku tertawa pendek.

“Dua juta sehari?”

“Syifa juga butuh biaya.”

Aku menatap Syifa yang kini menangis semakin keras.

Tiba-tiba Alya berkata pelan.

“Sudah, Kak.”

Aku menoleh.

“Aku gak minta Kakak membongkar semuanya.”

“Alya—”

“Aku cuma mau pergi.”

Nada suaranya tidak marah.

Justru itu yang paling menyakitkan.

“Aku sudah capek berharap ada orang di rumah ini yang percaya sama aku.”

Ayah melangkah maju.

“Kamu pikir nikah sembarangan bakal menyelesaikan semuanya?”

Alya menatap Raka sebentar.

“Entahlah.”

Raka tersenyum tipis.

“Mungkin ini waktunya saya jelaskan sesuatu.”

Semua mata beralih kepadanya.

Ia mengeluarkan dompet, lalu memberikan sebuah kartu nama kepadaku.

Aku membacanya.

Raka Pradana.

Direktur Utama Pradana Textile Group.

Aku spontan menatapnya lagi.

Nama perusahaan itu kukenal.

Salah satu perusahaan tekstil terbesar di Jawa Barat.

“Kamu…” ucapku pelan.

Raka mengangguk.

“Alya memang kenal saya dari aplikasi kencan siang tadi.”

Ayah mendengus.

“Nah, kan!”

“Tapi kami sebenarnya pernah bertemu sebelumnya.”

Alya ikut terkejut.

Raka menatapnya.

“Dua tahun lalu, lomba desain kain nasional di Bandung. Kamu juara dua.”

Mata Alya membesar.

“Kamu juri yang pakai masker?”

Raka tertawa kecil.

“Saya salah satu sponsornya.”

Ia lalu menatap kami.

“Sejak saat itu saya ingat desain Alya. Bahkan perusahaan kami pernah mencoba menghubunginya untuk program magang, tapi emailnya tidak pernah dibalas.”

Alya tampak bingung.

“Aku gak pernah dapat email.”

Aku langsung menoleh ke Ibu Tiri.

Wajahnya semakin pucat.

Raka melanjutkan.

“Ketika profil Alya muncul di aplikasi siang tadi, saya juga kaget. Awalnya saya kira akun palsu. Tapi setelah kami bicara, saya tahu memang dia.”

“Terus kamu langsung mau nikah?” tanyaku.

“Tidak.”

Raka tersenyum.

“Alya yang bilang dia butuh suami hari ini juga.”

Aku hampir tidak percaya.

Alya menutup wajah sebentar karena malu.

“Aku lagi emosi.”

“Dan saya bilang saya bersedia membantu, asalkan keputusan nikah tetap dilakukan secara sadar. Bukan karena tekanan.”

Ayah mendengus.

“Kamu pikir bisa membawa anak saya begitu saja?”

Raka menatap Ayah tenang.

“Saya tidak membawa siapa pun. Alya pergi dengan pilihannya sendiri.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali senyap.

Untuk pertama kalinya, seseorang tidak memperlakukan Alya seperti barang yang bisa dimiliki.

Aku menatap adikku.

Gadis yang selama bertahun-tahun kukira pembuat masalah.

Ternyata masalah terbesar dalam hidupnya justru kami.

Aku berjalan mendekatinya.

“Alya.”

Ia menatapku hati-hati.

Aku menarik napas.

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Tapi rasanya lebih berat daripada apa pun yang pernah kuucapkan.

“Aku tahu maaf gak cukup.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku ada di rumah ini. Aku lihat kamu dimarahin. Aku lihat kamu dipukul. Tapi aku selalu percaya cerita orang lain karena lebih gampang daripada bertanya langsung ke kamu.”

Alya menunduk.

“Aku kakak yang buruk.”

Air mata akhirnya jatuh di pipinya.

“Dulu aku sering nunggu Kakak pulang dari rumah sakit,” katanya pelan.

Dadaku serasa diremas.

“Buat apa?”

“Aku pikir kalau Kakak datang, Kakak bakal bela aku.”

Aku tidak sanggup menjawab.

“Tapi lama-lama aku berhenti nunggu.”

Aku menangis saat itu juga.

Di depan Ayah.

Di depan Syifa.

Di depan semua orang.

Aku, yang selama ini selalu menganggap diriku paling rasional, akhirnya melihat kenyataan yang selama bertahun-tahun kupilih untuk abaikan.

Malam itu akad tetap dilaksanakan.

Bukan di gedung mewah.

Bukan dengan dekorasi megah.

Hanya di ruang tamu kecil rumah Bu Ratih yang bersedia menjadi saksi.

Aku duduk di hadapan Raka sebagai wali Alya.

Tanganku sempat gemetar ketika menjabat tangannya.

Sebelum ijab kabul dimulai, aku berbisik.

“Jangan pernah buat dia merasa sendirian.”

Raka menatapku lurus.

“Saya gak bisa janji hidupnya selalu mudah. Tapi saya bisa janji dia punya hak untuk memilih hidupnya sendiri.”

Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa Alya mungkin tidak sedang kabur.

Ia sedang pulang.

Pulang ke hidup yang akhirnya menjadi miliknya sendiri.

Enam bulan kemudian, sebuah kebaya biru keabu-abuan dipajang di etalase utama pameran mode Jakarta.

Di bawahnya tertulis nama desainer.

Alya Marissa.

Bukan Syifa.

Bukan nama butik orang lain.

Nama Alya sendiri.

Di sampingnya berdiri Raka dengan senyum bangga.

Sedangkan aku menonton dari antara kerumunan.

Saat Alya melihatku, ia tersenyum.

Kecil.

Tapi tulus.

Aku membalas senyumnya sambil menahan sesak di dada.

Tidak semua luka keluarga bisa sembuh dengan permintaan maaf.

Ada luka yang terlalu lama dibiarkan terbuka.

Ada kepercayaan yang harus dibangun kembali sedikit demi sedikit.

Tapi malam ketika Alya nekat mencari suami dari aplikasi kencan demi keluar dari rumah ternyata bukan hari ketika keluarga kami hancur.

Justru hari itulah kebohongan yang selama bertahun-tahun disebut keluarga akhirnya runtuh.

Dan untuk pertama kalinya, Alya benar-benar bebas.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang