“Dokter, saya mohon… hentikan semua alat bantu medis istri saya. Akhiri penderitaannya. Kami sudah ikhlas…”

Hasil laboratorium itu datang dua hari kemudian, tepat pukul enam lewat empat puluh pagi.

Dr. Seto bahkan belum sempat menghabiskan kopi ketika dr. Kevin masuk ke ruangannya dengan wajah pucat dan sebuah map merah di tangan.

“Dok,” katanya pendek.

Hanya satu kata, tetapi cukup membuat dr. Seto langsung berdiri.

“Sudah keluar?”

Kevin mengangguk, lalu menyerahkan lembar hasil pemeriksaan.

Beberapa detik setelah membaca baris demi baris laporan itu, wajah dr. Seto berubah keras.

Tablet yang diberikan Sari kepada Siska memang bukan obat yang diresepkan rumah sakit. Di dalamnya terdapat kombinasi senyawa yang dapat menekan fungsi saraf dan memperburuk kelemahan otot jika diberikan dalam dosis kecil secara berulang dalam jangka panjang.

Bukan racun yang langsung membunuh.

Justru itulah yang membuatnya mengerikan.

Seseorang telah merancang agar kondisi Siska terlihat seperti komplikasi penyakit lama yang tidak pernah membaik.

“Lima tahun…” bisik Kevin. “Kalau benar obat ini diberikan selama lima tahun…”

“Tubuhnya dibuat tetap lemah.”

Kevin menelan ludah.

“Berarti semua keterlambatan pemulihan Bu Siska selama ini bukan kebetulan.”

Dr. Seto tidak menjawab.

Di dalam kepalanya, potongan-potongan kejanggalan mulai menyatu.

Catatan obat yang tampak sempurna.

Sari yang selalu meminta menangani Siska sendiri.

Adrian yang berkali-kali menolak pemindahan perawat.

Dan yang paling mencurigakan, permintaan Adrian beberapa hari lalu.

Dokter, saya mohon hentikan semua alat bantu medis istri saya.

Kalimat itu kini terasa jauh berbeda.

“Kevin,” ucap dr. Seto perlahan. “Jangan beri tahu siapa pun soal hasil ini.”

“Termasuk pihak manajemen?”

“Untuk saat ini, hanya direktur medis dan tim hukum rumah sakit. Kita harus bergerak diam-diam.”

Kevin menatapnya.

“Dokter curiga Adrian akan mencoba sesuatu?”

Dr. Seto menatap keluar jendela.

“Aku takut dia sudah mulai kehabisan kesabaran.”

Ketakutan itu terbukti lebih cepat daripada yang mereka duga.

Sore harinya, Adrian datang ke rumah sakit bersama seorang pengacara.

Ia mengenakan setelan abu-abu mahal, berjalan dengan wajah muram seorang suami yang seolah sudah terlalu lama menderita.

“Dokter Seto,” katanya sambil duduk di ruang konsultasi, “saya ingin membicarakan keputusan keluarga.”

Dr. Seto menatapnya tenang.

“Keputusan apa?”

Adrian menghela napas panjang.

“Saya sudah lima tahun melihat istri saya seperti ini. Tidak bicara. Tidak bergerak. Tidak mengenali siapa pun.”

Di sampingnya, pengacara membuka map.

“Saya rasa sudah waktunya kami menghentikan tindakan medis yang hanya memperpanjang penderitaan.”

Dr. Seto menyilangkan tangan.

“Secara medis, Bu Siska tidak berada dalam kondisi mati batang otak.”

Adrian langsung mengerutkan kening.

“Tapi dia juga tidak hidup normal.”

“Beliau bernapas spontan. Organ vitalnya berfungsi. Dan beberapa pemeriksaan terbaru menunjukkan respons neurologis yang sebelumnya tidak terlihat.”

Ucapan terakhir itu membuat wajah Adrian berubah sepersekian detik.

Sangat singkat.

Namun dr. Seto melihatnya.

“Respons?” tanya Adrian.

“Ya.”

“Apa maksud Dokter?”

“Kami masih melakukan evaluasi.”

Adrian terdiam.

Lalu tersenyum tipis.

“Dokter jangan memberi harapan palsu kepada keluarga.”

“Saya tidak memberi harapan palsu. Saya menyampaikan fakta medis.”

Suasana ruangan langsung berubah dingin.

Adrian akhirnya bangkit.

“Baiklah. Saya akan kembali setelah berdiskusi dengan keluarga.”

Saat pintu tertutup, dr. Kevin yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan mendekat.

“Dia takut.”

Dr. Seto mengangguk.

“Dan orang yang takut biasanya membuat kesalahan.”

Malam itu juga, kesalahan pertama terjadi.

Sari masuk ke kamar Siska lebih lambat dari biasanya. Tidak membawa baki obat. Tidak mengenakan ekspresi ramah.

Ia duduk di kursi samping ranjang dan menatap Siska cukup lama.

“Kamu benar-benar keras kepala,” bisiknya.

Siska tidak bergerak.

Namun di balik kelopak mata yang tertutup, kesadarannya tetap penuh.

Selama bertahun-tahun ia mendengar semuanya.

Percakapan Adrian melalui telepon.

Tawa Sari di tengah malam.

Rencana penjualan aset.

Pembicaraan mengenai surat kuasa.

Bahkan suara mereka berdua ketika mengira dirinya sudah tidak mampu memahami apa pun.

Tubuhnya memang seperti penjara.

Tetapi pikirannya tidak pernah mati.

Dan beberapa bulan terakhir, setelah dr. Seto diam-diam mengubah pola pemberian obat serta mulai membatasi akses Sari, sedikit demi sedikit kekuatan pada jari dan kelopak matanya mulai kembali.

Rahasia itulah yang belum diketahui Adrian.

Sari mendekat.

“Mas Adrian bilang dokter mulai curiga.”

Ia menatap wajah Siska.

“Kalau saja kamu menyerah dari dulu, semuanya pasti lebih mudah.”

Jari telunjuk Siska bergerak sangat kecil di bawah selimut.

Sari tidak menyadarinya.

“Aku capek, tahu,” lanjutnya. “Lima tahun pura-pura merawatmu. Lima tahun menunggu.”

Ia tertawa kecil.

“Tapi sebentar lagi semuanya selesai.”

Pintu kamar tiba-tiba terbuka.

Sari langsung berdiri.

Tania muncul sambil membawa tas sekolah.

“Tante?”

Wajah Sari seketika berubah lembut.

“Sayang, kok datang malam-malam?”

“Aku mau lihat Mama.”

Sari tersenyum.

“Tentu.”

Tania mendekati ranjang.

Entah mengapa, malam itu ia merasa ada sesuatu yang berbeda.

Ia menggenggam tangan ibunya.

“Mama…”

Siska mendengar suara putrinya.

Suara yang selama ini menjadi alasan terbesar baginya untuk bertahan.

“Mama, maafin Tania.”

Sari menoleh cepat.

Tania menundukkan kepala.

“Aku jarang datang. Aku bahkan sering kesel sama Mama karena rasanya Mama cuma tidur terus.”

Sari berusaha tertawa.

“Jangan bicara begitu, Sayang.”

Tania tidak menjawab.

Ia terus menggenggam tangan Siska.

Kemudian sesuatu terjadi.

Jari telunjuk Siska bergerak.

Sekali.

Tania membeku.

Ia menatap tangan ibunya.

“Mama?”

Sari langsung mendekat.

“Ada apa?”

“Jarijarinya bergerak.”

Wajah Sari pucat.

“Itu refleks.”

Namun ketika Tania berkata, “Mama, kalau Mama dengar aku, gerakkan lagi,” jari itu bergerak untuk kedua kalinya.

Napas Tania tercekat.

“Mama dengar aku…”

Sari segera menarik tangan Tania.

“Kita panggil dokter.”

Tetapi suaranya terdengar terlalu tegang.

Tania mulai curiga.

Keesokan paginya, dr. Seto melakukan pemeriksaan neurologis tertutup.

Siska berhasil memberikan respons sederhana menggunakan gerakan jari.

Satu kali untuk tidak.

Dua kali untuk ya.

Ketika dr. Seto bertanya apakah ia dapat memahami percakapan, jarinya bergerak dua kali.

Kevin sampai menutup mulutnya sendiri.

“Bu Siska…” bisiknya.

Mata dr. Seto berkaca-kaca.

“Apakah Ibu tahu siapa yang memberikan obat asing itu?”

Dua gerakan.

“Apakah Sari?”

Dua gerakan.

“Apakah suami Ibu terlibat?”

Ruangan menjadi sunyi.

Lalu jari Siska bergerak.

Dua kali.

Sejak saat itu, semuanya berubah.

Pihak rumah sakit menghubungi kepolisian secara tertutup. Rekam medis diamankan. Catatan pembelian obat diperiksa. Telepon rumah sakit ditelusuri.

Namun bukti terbesar justru datang dari tempat yang tak terduga.

Tania.

Gadis itu datang menemui dr. Seto tanpa sepengetahuan ayahnya.

“Aku mau kasih sesuatu.”

Ia mengeluarkan sebuah flashdisk.

“Apa ini?”

“Rekaman dari rumah.”

Ternyata beberapa bulan sebelumnya, Tania pernah memasang kamera kecil di ruang kerja ayahnya karena mencurigai Adrian sering mengambil uang tabungannya tanpa izin.

Ia tidak pernah menyangka kamera itu akan merekam hal lain.

Dr. Seto menyalakan rekaman tersebut.

Di layar terlihat Adrian dan Sari berdiri di ruang kerja.

Suara mereka jelas.

“Kalau dia meninggal sebelum surat kuasa perusahaan sepenuhnya berpindah, prosesnya malah rumit,” kata Adrian.

Sari menjawab, “Makanya aku pertahankan kondisinya. Tidak sadar, tidak pulih, tapi hidup.”

“Berapa lama lagi?”

“Sampai semua dokumen selesai.”

Adrian memeluknya.

“Setelah itu?”

Sari tersenyum.

“Setelah itu kita tidak perlu menunggu lagi.”

Tangan Tania bergetar hebat saat video diputar.

“Aku pikir Tante Sari sayang sama aku.”

Air matanya jatuh.

“Aku bahkan pernah berharap dia menikah sama Papa.”

Dr. Seto menatapnya dengan iba.

“Tania, kamu dimanipulasi.”

“Tapi aku juga jahat sama Mama.”

“Tidak.”

Tania menggeleng.

“Aku percaya semua cerita Papa. Katanya Mama dulu terlalu sibuk kerja. Katanya Mama tidak peduli sama aku.”

Ia menangis.

“Padahal Mama bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri.”

Hari penangkapan Adrian terjadi tiga hari kemudian.

Polisi sengaja menunggu karena membutuhkan satu bukti tambahan berupa transaksi keuangan antara Adrian dan pemasok obat ilegal.

Adrian datang ke rumah sakit seperti biasa.

Sari berada di kamar Siska.

Mereka tidak tahu ruangan itu sudah diawasi dari luar.

“Kita harus mempercepat semuanya,” kata Adrian.

Sari terlihat gelisah.

“Dokter Seto membatasi akses obat.”

“Makanya aku bilang, selesaikan saja.”

Sari menatapnya.

“Sekarang?”

Adrian mengangguk.

“Dokumen terakhir sudah selesai ditandatangani pengacara.”

Sari terlihat ragu untuk pertama kalinya.

“Mas… kalau sampai ketahuan…”

“Kita sudah terlalu jauh.”

Saat itulah pintu terbuka.

Beberapa petugas polisi masuk bersama dr. Seto dan dr. Kevin.

Wajah Adrian seketika kosong.

Sari mundur hingga tubuhnya menabrak meja.

“Apa ini?”

Salah seorang petugas menunjukkan identitas.

“Saudara Adrian dan Saudari Sari, kami meminta kalian ikut untuk pemeriksaan terkait dugaan pemberian obat ilegal dan percobaan menguasai aset dengan cara melawan hukum.”

Adrian langsung menoleh kepada dr. Seto.

“Dokter, ini fitnah!”

Namun suara lain terdengar.

“Papa.”

Adrian membeku.

Tania berdiri di pintu.

Wajah gadis itu basah oleh air mata.

“Kamu ngapain di sini?”

Tania mengangkat flashdisk.

“Aku sudah dengar semuanya.”

Wajah Adrian kehilangan warna.

“Tania, dengarkan Papa.”

“Lima tahun.”

Suara Tania pecah.

“Lima tahun Papa bikin aku percaya Mama sudah tidak punya perasaan.”

Adrian melangkah maju.

“Tania…”

“Jangan dekat-dekat.”

Kalimat itu membuat Adrian berhenti.

Untuk pertama kalinya, pria yang selalu merasa mampu mengendalikan semuanya terlihat benar-benar kalah.

Sari juga mulai menangis.

“Tania, Tante bisa jelaskan.”

Tania menatapnya dingin.

“Jangan panggil aku sayang lagi.”

Sari terdiam.

“Semua kata manis Tante ternyata dibeli dari penderitaan Mama.”

Polisi membawa mereka pergi.

Namun kejutan terbesar belum berakhir.

Dua minggu setelah obat asing sepenuhnya dihentikan, kondisi Siska membaik lebih cepat daripada yang diperkirakan.

Ia mulai mampu membuka mata lebih lama.

Lalu menggerakkan tangan.

Kemudian mengucapkan suara-suara pendek dalam terapi.

Hari ketika kata pertamanya akhirnya terdengar, Tania sedang duduk di samping ranjang sambil membacakan pesan-pesan lama dari ponselnya.

“Mama, kalau Mama capek, aku bisa lanjut besok.”

Bibir Siska bergerak.

Sangat pelan.

“Tania…”

Gadis itu langsung membeku.

“Mama?”

Siska mengucapkannya sekali lagi.

“Tania.”

Tangis Tania pecah.

Ia memeluk ibunya dengan hati-hati.

“Maafin aku, Ma.”

Siska belum mampu berkata panjang.

Ia hanya menggerakkan tangan dan menyentuh rambut putrinya.

Beberapa bulan kemudian, setelah menjalani terapi intensif, kemampuan bicara Siska perlahan kembali.

Suatu sore ia duduk di kursi roda menghadap jendela rumah sakit.

Dr. Seto berada di sampingnya.

“Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan sejak lama,” kata dokter itu.

Siska tersenyum tipis.

“Apa?”

“Bagaimana Ibu bisa menahan tablet itu waktu malam tersebut?”

Siska terdiam beberapa detik.

“Karena saya sudah tahu mereka mencoba membuat saya tidak pernah pulih.”

Dr. Seto menatapnya.

“Sejak kapan Ibu sadar?”

Jawaban Siska membuatnya terpaku.

“Sejak tahun pertama.”

Dr. Seto hampir tidak percaya.

“Empat tahun?”

Siska mengangguk.

“Saya mendengar semuanya.”

“Lalu kenapa Ibu tidak memberi tanda?”

Air mata tipis muncul di sudut matanya.

“Saya mencoba.”

Ia menatap kedua tangannya.

“Tapi tubuh saya tidak bisa mengikuti pikiran saya.”

Dr. Seto terdiam.

Siska kemudian menoleh ke arah pintu.

Tania berdiri di sana membawa bunga.

Senyum Siska berubah hangat.

“Selama bertahun-tahun saya bertahan bukan karena perusahaan, rumah, atau harta.”

“Lalu?”

“Karena setiap kali saya hampir menyerah, saya ingat anak saya masih berada di rumah bersama mereka.”

Tania mendengar kalimat itu.

Ia langsung berjalan cepat dan memeluk ibunya.

Siska memejamkan mata.

Lima tahun hidupnya telah dirampas.

Pernikahannya hancur.

Tubuhnya disiksa oleh pengkhianatan orang-orang yang paling dekat dengannya.

Namun pada akhirnya, Adrian gagal mendapatkan hal yang paling ia inginkan.

Seluruh saham utama perusahaan ternyata sejak lama telah ditempatkan Siska dalam sebuah trust keluarga yang hanya dapat diwariskan kepada Tania setelah putrinya mencapai usia tertentu.

Adrian tidak pernah memiliki hak penuh atas perusahaan itu.

Selama lima tahun, ia merencanakan kejahatan demi harta yang sejak awal tidak pernah bisa ia miliki.

Ironi itu menjadi pukulan terakhir baginya.

Sedangkan Sari kehilangan lisensi keperawatannya dan harus menghadapi proses hukum bersama Adrian.

Siska sendiri memilih tidak kembali memimpin perusahaan.

Ia menyerahkan operasional kepada jajaran profesional dan menggunakan sebagian besar waktunya untuk menjalani terapi serta membangun kembali hubungannya dengan Tania.

Pada suatu pagi, ketika matahari masuk melalui jendela besar ruang rehabilitasi, Tania membantu ibunya berdiri dengan alat bantu.

Siska berhasil mengambil satu langkah.

Lalu satu langkah lagi.

Tania menangis sambil tertawa.

“Mama bisa.”

Siska tersenyum.

“Bukan sendiri.”

Ia menggenggam tangan putrinya.

“Kita bisa.”

Dan setelah lima tahun hidup dalam tubuh yang dipaksa diam, Siska akhirnya memahami satu hal.

Ada orang-orang yang mengira seseorang yang tidak mampu bicara berarti tidak mampu mengetahui kebenaran.

Ada yang mengira kelemahan berarti kekalahan.

Namun mereka lupa bahwa selama seseorang masih memiliki alasan untuk bertahan, diam bukan berarti menyerah.

Kadang-kadang, orang yang tampak paling tidak berdaya justru sedang mengumpulkan kekuatan untuk menjadi saksi terakhir dari kehancuran orang-orang yang mengkhianatinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang